
Pagi hari pun datang, Prabu Jabang Wiyagra terbangun dari tidurnya. Dia membuka jendela kamarnya dan melihat ke arah matahari yang begitu cerah. Dia menatap ke seluruh ruangan kamarnya. Mencari keberadaan istrinya yang sudah tidak berada disana.
Dia melihat dua orang pelayan perempuan yang sedang berjaga di depan pintu kamarnya beserta dua orang prajurit. Prabu Jabang Wiyagra pun memanggil kedua pelayan perempuan itu untuk masuk ke kamarnya.
“Dimana Dinda Ratu Anindya?”
“Gusti Ratu...”
“Aku disini Kanda.”
Tiba-tiba Ratu Ayu Anindya masuk ke kamar itu sembari membawakan sarapan untuk Prabu Jabang Wiyagra. Dan kedua pelayan itu pun langsung pergi dari tempat itu dan menutup kembali pintu kamarnya.
“Aku pikir Dinda sedang ada di taman. Biasanya pagi hari seperti ini Dinda sedang menyirami tanaman kesayangan Dinda.”
“Tidak untuk pagi ini. Para pelayan yang menggantikannya.”
“Dan Dinda sendiri yang memasak untukku?”
“Iya Kakanda. Dinda rindu dengan masa-masa sulit kita beberapa tahun lalu. Di masa-masa sulit itu ada saja kenangan indah yang masih Dinda ingat sampai sekarang. Salah satunya adalah memasak makanan kesukaaan Kanda.”
“Terima kasih Dinda.”
Prabu Jabang Wiyagra pun menyantap dengan lahap masakan yang dibuat oleh istrinya. Sudah lama sekali dia tidak merasakan nikmatnya masakan dari istrinya. Karena semenjak Kerajaan Wiyagra Malela berdiri, Prabu Jabang Wiyagra selalu memakan makanan yang disediakan oleh para pelayan saja.
Begitu juga dengan Ratu Ayu Anindya. Semenjak menjadi seorang ratu, dia tidak pernah lagi memasak untuk suaminya. Jangankan memasak, mendatangi dapur saja dia sudah sangat jarang sekali, karena para pelayan sudah selalu siap dengan makanan mereka saat mereka berdua terbangun.
Saat sedang menikmati makanannya, Prabu Jabang Wiyagra tiba-tiba ingat dengan satu hal. Kalau ini sudah pagi dan sudah berganti hari.
“Ya Tuhan! Dinda! Kanda baru ingat!"
__ADS_1
“Pasti Kanda ingat dengan Patih Kinjiri, iyakan?”
Prabu Jabang Wiyagra pun terkejut, karena Ratu Ayu Anindya bisa mengerti apa yang ada dipikirannya sekarang.
“Bagaimana Dinda bisa tahu?”
“Tenang Kakanda. Patih Kinjiri sudah menceritakan semuanya kepada Dinda. Dia membawa kabar yang sangat-sangat baik. Jadi, sekarang habiskan dulu makanannya. Setelah itu, bersiap-siap untuk bertemu dengannya.”
“Dinda yakin kalau Patih Kinjiri membawa kabar baik?”
“Iya Kanda. Dia sudah memberitahu semuanya kepada Dinda.”
“Tidak ada kabar buruk?”
“Tidak ada Kanda. Percayalah.”
“Iya Dinda.”
Memang, Prabu Jabang Wiyagra tidak mengharapkan adanya kabar buruk, tapi dengan mengetahui kalau itu sebuah pertempuran yang besar, membuatnya jadi ragu-ragu.
Dia menyantap makanannya dengan sangat lahap. Dia ingin segera tahu, kabar baik apa yang dibawakan oleh Patih Kinjiri untuknya. Karena sudah sehari semalam pertempuran itu berlangsung.
Dan yang membuat Prabu Jabang Wiyagra ragu kalau semuanya baik-baik saja adalah, karena yang menjadi lawan utama dari Prabu Bujang Antasura adalah Gabah Lanang, yang telah menaklukkan beberapa kerajaan kecil di wilayah Kerajan Antasura.
Selesai makan, Prabu Jabang Wiyagra pun segera membersihkan dirinya, dan bersiap untuk menemui Patih Kinjiri. Dia berpakaian rapi seperti biasanya, tapi kali ini lebih simpel, karena dia sudah tidak sabar menemui Patih Kinjiri yang sudah menunggunya sedari tadi.
Di ruangan itu, sudah ada Maha Patih Putra Candrasa, Patih Kinjiri, Sang Maha Guru, para Patih yang lainnya, dan juga tujuh pendekar. Prabu Jabang Wiyagra duduk disinggasananya. Dia kemudian mulai membuka pembicaraan.
“Aku sudah menunggu kabar dari Patih Kinjiri. Dan baru pagi ini Patih Kinjiri datang untuk melaporkan semuanya. Berita apa yang kamu bawa Patih Kinjiri?”
__ADS_1
“Mohon maaf Gusti Prabu, yang hamba bawa ini adalah sebuah kabar yang baik. Sangat-sangat baik. Namun sepertinya, ada baiknya kalau Gusti Prabu mau mendengarkan cerita yang sangat panjang dari hamba.”
“.....Agar Gusti Prabu dapat memahami semua yang terjadi disana.”
“Yah. Tentu saja Patih-ku. Ceritakanlah semuanya.”
“Begini Gusti Prabu....”
Patih Kinjiri pun mulai menceritakan semuanya dari awal, dan alasan kenapa dia tidak memberikan laporan apa pun sampai pagi hari ini. Patih Kinjiri melihat semua yang ada disana dengan sangat jelas dan gamblang. Kalau tempat itu benar-benar sudah kacau balau.
Waktu itu, Gabah Lanang berusaha keras dengan segala kemampuannya untuk mengalahkan para Patih yang jumlahnya ratusan. Dia berusaha terus menerus sampai tenaganya habis dan dia tidak mampu lagi melawan mereka.
Namun Gabah Lanang berhasil membunuh sebagian besar dari para Patih itu. Dan hanya menyisakan tiga puluh orang saja. Mereka semua pun dalam keadaan yang sama-sama terluka parah, seperti Gabah Lanang.
Karena melihat Gabah Lanang yang sudah tidak berdaya, Prabu Bujang Antasura pun menarik para Patih yang tersisa. Kemudian dia maju bersama dengan para raja yang ikut dalam pertempuran itu. Dia sudah menggabungkan kekuatan untuk menewaskan Gabah Lanang yang sudah sekarat dan tidak bisa melawan.
Tetapi sebuah keajaiban datang kepada Gabah Lanang. Ditya Kalana secara mengejutkan hadir dalam pertarungan itu, dan berhasil mencegah Prabu Bujang Antasura, saat dia akan membunuh Gabah Lanang.
Ditya Kalana yang sekarang sudah berbeda dengan yang dulu. Dari pakaian yang ia kenakan pun sudah berubah. Tubuhnya sudah bertambah kekar, dan ilmu sudah bertambah tinggi.
Ditya Kalana juga memiliki sebuah pedang pusaka, dan pedang pusaka itu memiliki daya magis yang amat sangat dahsyat. Sehingga para raja yang ikut dalam pertarungan itu pun dibuat kewalahan, termasuk Prabu Bujang Antasura.
Para raja yang bertarung melawan Ditya Kalana pun kemudian mengeluarkan senjata pusaka mereka masing-masing. Namun itu masih belum cukup untuk mengalahkan Ditya Kalana.
Memang, Ditya Kalana sempat terluka dilengan kirinya, tapi itu tidak menghalanginya untuk kembali melakukan perlawanan. Bahkan dia semakin gencar melakukan serangan demi serangan.
Sehingga, satu persatu dari para raja pendukung Prabu Bujang Antasura pun mati. Dan hanya menyisakan Prabu Bujang Antasura seorang diri.
Prabu Bujang Antasura melarang para pasukannya untuk membantunya dalam pertarungan itu, karena dia sudah bosan seharian hanya menonton tanpa melakukan apa-apa.
__ADS_1
Prabu Bujang Antasura juga mengeluarkan senjata pusaka yang ia miliki berupa sebuah cambuk berwarna emas. Dia juga menggabungkan semua jurus yang ia miliki dengan cambuk pusakanya itu.
Pertarungan dua orang sakti itu pun berlangsung cukup lama. Dan diawal-awal pertarungan, mereka sama-sama kuat dan sama-sama masih bisa bertahan. Tapi itu hanya diawal.