
"Bagaimana dengan semua pertahanan kita Panglima Galang Tantra?" Tanya Prabu Jabang Wiyagra kepada Panglima Galang Tantra.
"Semuanya sudah diatur dengan baik Gusti Prabu. Kita hanya perlu menunggu kedatangan musuh-musuh kita."
"Ya. Siapkan dirimu dengan baik, Panglima. Mereka akan membunuhmu, karena Kamu adalah mantan anggota kelompok Satrio Luhur. Kamulah yang terbaik dari yang terbaik sekarang ini. Aku khawatir, kalau kamu akan dijadikan sasaran utama Ratna Malangi dan pasukannya."
"Hamba akan berusaha sebaik mungkin, Gusti Prabu. Ratna Malangi jelas menaruh dendam kepada hamba. Karena hamba-lah yang menyebabkan kematian kakaknya, Ganda Ruwo."
"Semua itu terjadi bukan karena salahmu sepenuhnya, Panglima. Tetapi perlu dimaklumi kalau Ratna Malangi menaruh dendam kepadamu. Jahat apapun Ganda Ruwo, dia tetaplah kakaknya. Apalagi Ratna Malangi memang mewarisi kejahatan yang dilakukan oleh Ganda Ruwo."
"Benar Gusti Prabu. Menurut Gusti Prabu, hamba harus bagaimana saat menghadapinya nanti?"
"Kita lihat saja bagaimana situasinya nanti, Panglima. Keadaan bisa saja berubah dari perkiraan kita. Ratna Malangi lawan yang benar-benar berat untuk kita semua. Walaupun dia berada sangat jauh denganku, tapi aku bisa merasakan kehadirannya, dan juga kekuatannya yang sangat dahsyat."
__ADS_1
Panglima Galang Tantra terdiam menunduk mendengar ucapan Prabu Jabang Wiyagra. Dalam benaknya, kalau Prabu Jabang Wiyagra saja bisa merasakan kekuatan besar yang dimiliki oleh Ratna Malangi dari kejauhan, maka sudah bisa dipastikan kalau Ratna Malangi benar-benar bukan orang sembarangan. Dia memiliki sesuatu yang lebih, dari apa yang dipikirkan oleh Panglima Galang Tantra selama ini.
Prabu Jabang Wiyagra tidak mungkin salah dengan apa yang ia pikirkan. Walaupun apa yang dikatakan oleh Prabu Jabang Wiyagra membuat Panglima Galang Tantra merasakan takut, tetapi Panglima Galang Tantra yakin kalau Prabu Jabang Wiyagra bisa mengatasi semuanya. Prabu Jabang Wiyagra kalau memiliki cara untuk menyelesaikan sebuah masalah. Walaupun terkadang cara yang digunakan oleh Prabu Jabang Wiyagra terkesan nyeleneh, tapi Prabu Jabang Wiyagra jarang sekali gagal menyelesaikan masalah yang besar.
Semua keadaan di Kerajaan Wiyagra Malela selalu bisa terkondisi di tangan Prabu Jabang Wiyagra. Seberat apapun beban yang dipikul oleh Prabu Jabang Wiyagra, dia selalu berusaha kuat demi orang-orang yang ia cintai.
*
*
*
Semua raja-raja berkumpul, dan membuat tenda-tenda di wilayah Ibu Kota Wiratirta. Begitu juga para pasukan yang masing-masing mereka bawa. Seluruh pasukan Prabu Jabang Wiyagra yang berasal dari berbagai penjuru, berkumpul menjadi satu di Ibu Kota Wiratirta. Lengkap dengan senjata masing-masing yang mereka bawa di tangan mereka. Dan setiap kerajaan memiliki ciri-cirinya masing-masing, dalan hal persenjataan.
__ADS_1
Bahkan ada salah satu kerajaan yang berada di bawah pemerintahan Prabu Jabang Wiyagra, yang kebanyakan dari anggota pasukannya menggunakan kapak sebagai senjata utama mereka. Ada lagi yang menggunakan panah, pedang, tombak, dan bahkan sebuah tongkat besi. Dan kalau dihitung, jumlah keseluruhan para anggota pasukan yang ada di Ibu Kota Wiratirta mencapai satu juta lebih.
Belum lagi dengan para pasukan elit milik Prabu Jabang Wiyagra, yang tidak diketahui Berapa jumlah pastinya. Hal itu juga menjadi salah satu strategi yang dimiliki oleh Prabu Jabang Wiyagra. Yang dimana jumlah para pasukannya tidak bisa dihitung secara pasti oleh musuh-musuhnya. Bahkan Ratna Malangi sendiri juga belum mengetahui secara pasti jumlah pasukan yang dimiliki oleh Kerajaan Wiyagra Malela.
Ratna Malangi hanya bermodalkan insting dan tebakan. Karena dia tidak bisa mendapatkan jumlah yang pasti. Namun hal itu tidak ia katakan kepada para pengikut dan pasukannya. Jika Ratna Malangi mengatakan yang sebenarnya, maka mental para pasukannya akan menjadi lemah dan goyah. Sehingga pertempuran itu akan sangat sulit untuk dimenangkan oleh Ratna Malangi. Dan sebenarnya, Ratna Malangi sendiri juga merasa khawatir dengan hasil pertempuran ini.
Ratna Malangi tidak memiliki strategi yang baik untuk menghadapi para pasukan Kerajaan Wiyagra Malela. Karena Ratna Malangi kalau pasukannya sudah lebih dari cukup untuk melakukan penyerangan secara besar-besaran. Ratna Malangi memang tidak pernah memiliki strategi yang bagus dalam menghadapi musuh-musuhnya. Para pasukannya yang kuat, ia gunakan begitu saja dalam penyerangan, tanpa adanya strategi yang pasti.
Dan dalam situasi seperti sekarang ini, baik Ratna Malangi ataupun Prabu Jabang Wiyagra juga sedang menunggu-nunggu kedatangan musuh mereka masing-masing. Prabu Jabang Wiyagra tidak mau mengorbankan para pasukannya untuk melakukan penyerangan secara besar-besaran. Begitu juga dengan Ratna Malangi, semakin ke sini, dia merasa semakin ragu untuk melakukan serangan kepada Prabu Jabang Wiyagra. Karena dia tidak mengetahui secara pasti kesaktian yang dimiliki oleh Prabu Jabang Wiyagra.
Apalagi setelah dia mendengar kalau Sang Maha Guru juga turun tangan langsung untuk membantu Prabu Jabang Wiyagra dan seluruh pendukungnya. Untuk Sang Maha Guru sendiri, Ratna Malangi sudah mengetahui seberapa besar kekuatan yang Sang Maha Guru miliki. Sang Maha Guru yang sekarang, dengan yang dulu, sangatlah jauh berbeda. Sekarang Sang Maha Guru sudah jauh lebih sakti. Karena sering melakukan Tapa Brata, dan banyak melakukan tirakat-tirakat yang lainnya.
Entah pengaruh macam apa yang membuat hati dan pikiran Ratna Malangi menjadi goyah. Padahal sebelumnya Dia sangat bernafsu untuk menghabisi Prabu Jabang Wiyagra. Ratna Malangi juga sudah mempersiapkan para pasukannya dengan matang. Ribuan pasukannya sudah berbaris di halaman sebuah padepokan yang menjadi tempat tinggal Ratna Malangi dan para pengikutnya selama ini. Namun hanya untuk keluar saja, Ratna Malangi sudah merasakan keraguan yang sangat besar.
__ADS_1
Ratna Malangi mulai meragukan kekuatan yang ada di dalam dirinya sendiri. Hal itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Ratna Malangi adalah sosok yang kejam dan tidak tahu belas kasihan. Siapapun yang menjadi musuhnya, maka akan mati di tangannya. Tidak ada satupun musuh Ratna Malangi yang bisa hidup. Dan tak akan ada satu orang pun yang akan lolos dari kejarannya. Tetapi untuk saat ini, justru situasi seakan berbalik kepadanya. Ratna Malangi sendirilah yang justru merasa kalau Prabu Jabang Wiyagra sedang mengejarnya.
Padahal, hingga saat ini Prabu Jabang Wiyagra masih menunggunya di istana Kerajaan Wiyagra Malela. Seluruh pasukan meriam Kerajaan Wiyagra Malela juga sudah bersiap di setiap jengkal benteng pertahanan yang mengelilingi wilayah Ibu Kota dan sekitarnya. Ribuan pasukan meriam sudah siap menggempur habis pasukan musuh yang akan datang. Sambutan hangat itu hanyalah hadiah awal. Masih banyak lagi yang akan diberikan kepada Ratna Malangi setelah nanti pertempuran dimulai.