DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 360


__ADS_3

"Apa kamu tidak ingat dosa apa saja yang sudah kamu lakukan saudaraku?" Tanya Eyang Badranaya kepada Sura Panjaga, atau Buta Karang.


"Yang aku ingat hanyalah, saat di mana kau memberikan nama busuk ini kepadaku." Jawab Buta Karang.


Nama Buta Karang adalah nama yang diberikan oleh Eyang Badranaya kepada Sura Panjaga, pada saat Sura Panjaga mendapatkan hukumannya. Buta \= Tidak melihat. Karang \= Batu Karang. Dan Batu Karang itu sangat keras. Bahkan mampu menghancurkan sebuah kapal. Sehingga diberikanlah nama Buta Karang kepada Sura Panjaga. Yang kurang lebih maksudnya adalah, Sura Panjaga adalah orang yang dibutakan oleh kekuasaan. Yang memiliki hati dan pikiran yang sangat keras. Sulit mendengarkan nasehat-nasehat baik dari orang lain. Bahkan dari orang-orang terdekatnya sendiri. Begitu juga dengan para jiwa-jiwa raja yang ada di dalamnya.


Mereka memiliki sifat yang sama. Yaitu buta dan keras. Sehingga nama tersebut sangat pantas diberikan kepada Sura Panjaga dan para antek-anteknya. Yang sekarang dikenal dengan Buta Karang. Semua itu adalah hukuman untuk orang-orang yang serakah. Nama memang hanyalah sebuah nama. Tetapi sebuah nama pasti memiliki arti dan maknanya sendiri. Seperti halnya Buta Karang ini. Padahal, para raja tersebut memiliki nama-nama yang sangat indah. Begitu juga dengan Sura Panjaga. Sura \= Bulan Suro. Panjaga \= Penjaga atau Penyelamat. Yang maksudnya adalah, orang yang lahir di bulan Suro atau Sura, yang menjadi seorang penjaga ataupun seorang penyelamat.


Namun nama indah tersebut ia rusak dengan perilakunya sendiri. Padahal, nama itu nama yang sangat indah. Dan memiliki makna yang mendalam. Andaikan saja Sura Panjaga mampu mengendalikan dirinya, mungkin dia tidak akan berakhir seperti ini. Hidup, tapi mati. Eyang Badranaya hanya bisa menarik nafas panjang, ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Buta Karang. Ia sebenarnya merasa sangat bersalah karena telah memberikan nama itu. Tetapi, di sisi lain Eyang Badranaya juga sangat kecewa kepada saudara seperguruannya tersebut. Padahal, dulu Sura Panjaga adalah orang yang baik. Bahkan Sura Panjaga cenderung tidak menyukai hal-hal yang berbau kekerasan. Dia adalah orang yang sangat cinta damai.


Sayangnya, setelah mendapatkan kekuatan yang besar, Sura Panjaga menjadi tamak. Dia juga menjadi gila akan kekuasaan. Semua hal di dunia ini ingin ia miliki sendiri. Tanpa ada satupun orang yang bisa menandinginya. Sura Panjaga terpengaruh dengan perilaku buruk dari orang-orang yang dekat dengan dirinya. Karena konon katanya, Sura Panjaga ini memiliki kedekatan dengan kelompok bandit. Kelompok bandit tersebut selalu berusaha menghasut Sura Panjaga dengan berbagai macam cara. Salah satunya adalah, mereka menghasut dengan cara menampakkan penderitaan mereka kepada Sura Panjaga. Dan menyalahkan pemerintahan pada masa itu. Sehingga Sura Panjaga pun akhirnya terpengaruh. Dia sampai berniat melakukan pemberontakan.


Memang, pads zaman itu banyak sekali raja-raja di Tanah Jawa yang juga gelap mata, dan tidak mempedulikan rakyatnya. Tapi tidak semua raja yang ada di Tanah Jawa seperti itu. Masih banyak orang-orang baik di antara mereka. Masih ada raja yang peduli terhadap rakyatnya. Masih banyak. Banyak sekali. Sayangnya yang dilihat Sura Panjaga dan kelompoknya kala itu hanyalah raja-raja yang tamak dan jahat. Dia tidak melihat dari sisi yang lainnya. Akibatnya, dia jadi mudah terhasut dengan sesuatu. Setelah itu, Sura Panjaga pun berpura-pura menjadi abdi dari salah satu kerajaan. Yang dipimpin oleh raja yang tamak. Tujuannya hanya satu, yaitu menggulingkan pemerintahan dari dalam. Singkatnya, tujuannya itupun tercapai. Bahkan Sura Panjaga berhasil mendapatkan tahtanya.


Sura Panjaga memberikan kedamaian dan kemakmuran kepada rakyatnya. Walaupun dia hanya seorang raja kecil, yang memimpin kerajaan lokal, tapi Sura Panjaga berhasil membuat sebuah perubahan yang besar. Namun perubahan besar ini membuatnya tergoda untuk membuat berbagai macam perubahan-perubahan yang lainnya. Sura Panjaga berniat menaklukkan seluruh kerajaan yang ada di Tanah Jawa ini. Masih dengan cara yang sama, yaitu mengabdikan dirinya kepada raja-raja yang ada di Tanah Jawa. Sura Panjaga berpura-pura membela mereka dengan segenap kekuatannya. Lalu kembali menghancurkannya dari dalam. Dan berkali-kali pula dia berhasil melakukannya.


Lama kelamaan, sifatnya berubah menjadi serakah. Dia yang sebelumnya melakukan perlawanan kepada raja-raja yang serakah, justru sekarang dia bergabung dengan mereka. Untuk mendapatkan lebih banyak lagi kekayaan dan kedudukan. Nama Sura Panjaga sudah terkenal di mana-mana. Semua orang tahu bagaimana kekuatan yang ia miliki. Tak ada satupun orang yang berani melawannya. Semakin hari, jumlah pasukannya pun semakin bertambah. Dia juga memiliki berbagai persenjataan yang lengkap. Sehingga membuat musuh-musuhnya berpikir ribuan kali untuk melawan kehendaknya. Hal itu kemudian memancing perpecahan di dalam kelompoknya sendiri. Membuat banyak orang mulai meninggalkan dirinya, dan tidak pernah mau peduli lagi dengannya.


Layaknya seseorang yang sedang kesetanan, Sura Panjaga membunuh semua orang yang dulu menjadi pendukungnya. Karena mereka semua telah dianggap sebagai pengkhianat. Bagai kacang yang lupa dengan kulitnya. Sura Panjaga tidak ingat dengan jasa orang-orang yang telah membantunya sejauh ini. Awalnya dia hanyalah seorang pendekar yang membela komplotan bandit, dan tidak ada satupun orang yang mengenal namanya. Dia hanyalah orang biasa yang tidak punya apa-apa. Namun kini, namanya terkenal di mana-mana. Dia ditakuti, dikagumi, dan juga sangat disegani. Semua orang tunduk kepada perintahnya. Sebagai seorang raja kecil, dia mampu mengalahkan raja-raja besar.


Ketamakan dan keserakahannya, telah membuat dirinya terjebak dalam lubang kesesatan. Bahkan Sura Panjaga tidak lagi menganggap Badranaya sebagai saudara seperguruannya. Banyak sekali orang yang datang untuk mengingatkannya, tapi dia tetap tidak peduli. Dia sudah dibutakan oleh kekuasaan dan kejayaan. Dia tidak ingat bagaimana susahnya dulu bersama dengan saudara-saudara seperguruannya. Hingga pada puncaknya, Eyang Badranaya bersama dengan saudara-saudara seperguruannya pun sepakat untuk membela para raja yang masih tersisa di Tanah Jawa. Melindungi raja-raja yang adil dan bijaksana, dari serangan yang dilakukan oleh Sura Panjaga saat itu. Sehingga memicu perang yang lebih besar.


Secara perlahan Sura Panjaga dan para pendukungnya pun kalah dalam pertempuran. Mereka mulai kewalahan menghadapi para raja yang dibantu oleh Eyang Badranaya dan saudara-saudaranya. Sekarang, saat ini, Sura Panjaga sudah tidak memiliki apa-apa lagi. Yang awalnya manusia baik-baik, kini dia telah diubah menjadi makhluk paling terkutuk. Sura Panjaga dan Eyang Badranaya sama-sama masih ingat semua kenangan buruk yang pernah mereka alami. Namun Sura Panjaga seperti sudah mati rasa. Dia tidak mau lagi mengingat, masa di mana sebelum dia menjadi makhluk terkutuk seperti sekarang ini.


"Dengar Badranaya. Aku tidak akan pernah kembali seperti dulu lagi. Aku menjadi seperti ini juga karena sebuah ketidakadilan yang aku dapatkan. Di saat orang-orang bisa melepaskan rindu dengan keluarga mereka, aku hanya bisa menangis meratapi nasibku. Aku tidak memiliki siapa-siapa. Aku sendirian. Terbelenggu dengan pahitnya rasa kesepian. Apa kamu tahu bagaimana rasanya? Badranaya? Rasanya sangatlah menyakitkan." Ucap Sura Panjaga.


"Saudaraku. Kita semua memiliki masalah kita masing-masing. Tapi tidak sepantasnya kita menaruh dendam dan kebencian, kepada takdir yang sudah ditentukan oleh alam. Sang Hyang Tunggal memberikan ujian itu kepadamu, agar dirimu menjadi jauh lebih kuat. Ingatlah saudaraku, dulu kamu adalah orang yang sangat baik. Bahkan, menyakiti hewan saja kamu tidak mau. Ingatlah masa-masa itu saudaraku. Lawanlah para jiwa-jiwa serakah yang ada di dalam tubuhmu itu. Jangan dengarkan apa kata mereka." Jawab Eyang Badranaya.


Namun Sura Panjaga tetap membantah hal tersebut. Dia tetap peguh pada pendiriannya. Dia ingin membalas dendam atas kekalahan yang sudah pernah ia rasakan. Penderitaan yang ia alami semasa hidupnya, ia jadikan sebuah alasan, untuk melakukan balas dendam.


"Sudahlah. Aku tidak mau lagi mengingat masa laluku. Sekarang adalah sekarang. Aku adalah musuhmu sekarang. Jadi, lawanlah aku sebagai musuhmu, seperti sebelumnya. Aku bukan lagi saudaramu seperti dahulu." Kata Sura Panjaga.


Hati Eyang Badranaya benar-benar terasa sakit mendengar hal itu. Untuk kesekian kalinya, Eyang Badranaya harus kembali melawan saudara seperguruannya sendiri. Beliau sudah hidup selama ratusan tahun. Dan selama itu pula beliau harus bersiap-siap untuk menyambut kedatangan Sura Panjaga. Setiap saat beliau berdoa kepada Sang Hyang Tunggal, agar mencabut kutukan tersebut. Eyang Badranaya berharap kalau jiwa-jiwa serakah yang ada dalam diri Sura Panjaga bisa terbebas, dan melanjutkan perjalanan mereka ke alam baka. Begitu juga dengan Sura Panjaga sendiri, yang tidak pernah bisa masuk ke alam keabadian. Kutukan itu telah menahannya selama ratusan tahun. Dia tidak bisa melakukan apa-apa, selain meratapi nasib buruk yang telah menimpa dirinya.


"Aku sudah pernah menyangka kalau kita akan berakhir seperti ini. Dulu kita adalah saudara. Tapi sekarang, kita adalah musuh, seperti yang telah kamu katakan. Maafkan aku saudaraku. Kali ini aku tidak akan menahan diriku lagi. Aku akan melawanmu dengan segala kekuatan yang aku miliki. Aku harap, ini adalah pertarungan terakhir kita. Aku tidak mau ada pertarungan lagi. Aku! Akan mengakhiri semua penderitaanmu ini!" Ucap Eyang Badranaya dengan tegasnya.


"Ya! Itupun kalau kau bisa!" Jawab Sura Panjaga sembari mengeluarkan sebuah tombak kecil dari dalam tubuhnya.


Tombak itu berukuran pendek, hanya setengah lengan tangan orang dewasa. Sedangkan Eyang Badranaya mengeluarkan dua buah keris pusaka yang memiliki kekuatan yang sangat luar biasa. Saat itu tanah bergetar hebat. Semua orang yang ada di sana menyingkir dari tempat pertarungan tersebut. Maha Patih Lare Damar membawa pergi Prabu Jabang Wiyagra dan yang lainnya dari sana. Pertarungan ini adalah sebuah pertarungan besar, antara dua orang sakti yang sama-sama memiliki kehidupan abadi. Seperti yang telah dikatakan oleh Eyang Badranaya sebelumnya. Beliau tidak akan menahan dirinya lagi. Eyang Badranaya akan menyerang Buta Karang dengan segenap kekuatan yang ia miliki di dalam dirinya.


Buta Karang, atau Sura Panjaga, mulai melancarkan serangannya kepada Eyang Badranaya. Dengan tombak pusaka tersebut, Buta Karang berusaha keras agar bisa melukai tubuh Eyang Badranaya. Tetapi karena mereka berdua sama-sama hebatnya, Eyang Badranaya juga bisa menghindari serangannya diberikan oleh Buta Karang. Begitu pula sebaliknya. Buta Karang juga mampu menghindari setiap serangan yang diberikan oleh Eyang Badranaya. Pertarungan yang luar biasa dahsyat tersebut, telah menyebabkan berbagai macam bencana alam di sekitarnya. Bahkan, beberapa tempat yang ada di sekitaran wilayah tersebut, mulai tergenangi banjir, dan terjadi banyak sekali tanah longsor di beberapa tempat.


Langit telah berubah menjadi semakin gelap. Laksana malam hari telah tiba. Padahal, semua orang pun tahu, waktu itu masih siang hari, dan seharusnya langit sedang cerah. Namun, pertarungan sengit antara Eyang Badranaya dengan Sura Panjaga benar-benar telah merubah keadaan di tempat tersebut. Semua orang yang tinggal di daerah itu, berlarian kesana kemari menyelamatkan diri mereka masing-masing. Eyang Badranaya mengetahui peristiwa tersebut. Beliau juga tahu apa resiko yang akan ditanggung oleh orang-orang di sekitar tempat itu. Namun, Eyang Badranaya juga tidak bisa terus-menerus menahan diri, dan membiarkan Buta Karang abadi dengan kejahatannya. Lebih baik mengorbankan segelintir orang, demi untuk menyelamatkan semua orang.


Mungkin hal itu memang terkesan kejam. Tapi itulah hal terbaik yang bisa beliau lakukan. Eyang Badranaya sudah tidak lagi memiliki cara yang lain. Kutukan yang ada di dalam tubuh Buta Karang sangatlah kuat. Kalau dibiarkan terus-menerus, maka Buta Karang akan semakin mengganas. Dia bahkan bisa membunuh jutaan orang yang ada di Tanah Jawa ini. Membuat kerusakan dan kekacauan di semua tempat. Yang jauh lebih mengerikan adalah, Buta Karang pasti akan menghisap jiwa semua orang, agar dia bisa hidup jauh lebih lama lagi. Kalau Eyang Badranaya tidak menghentikannya dari sekarang, maka orang yang mati akan jauh lebih banyak lagi. Tanah Jawa bisa menjadi satu-satunya tanah yang terkutuk. Karena kejahatan dibiarkan melenggang begitu saja.


"Buta Karang! Aku tidak akan menahan diriku lagi! Jangan salahkan aku kalau aku harus membunuhmu hari ini juga!" Ucap Eyang Badranaya dalam pertarungan tersebut.


Buta Karang juga tidak mau kalah dengan Eyang Badranaya. Dia masih terus berusaha untuk menghantam tubuh Eyang Badranaya.


"Kamu tidak akan pernah bisa membunuhku sampai kapanpun! Ingat Badranaya! Aku abadi! Aku tidak bisa mati!"


"Kita buktikan saja nanti!" Tegas Eyang Badranaya.


Eyang Badranaya kembali melancarkan serangannya kepada Buta Karang. Buta Karang sangat kewalahan menghadapi kekuatan yang dimiliki oleh Eyang Badranaya.


Dalam hatinya ia berkata,


"Aku tidak menyangka kalau Badranaya akan sekuat ini. Dia benar-benar ingin membunuhku sekarang. Aku harus lebih berhati-hati lagi menghadapinya."


Buta Karang lalu berusaha untuk menggunakan tipu muslihatnya, agar bisa mempengaruhi pikiran Eyang Badranaya. Namun Eyang Badranaya sudah tahu taktik tersebut. Dalam keadaan yang terdesak, Buta Karang pasti akan menggunakan kemampuan itu untuk mencoba mempengaruhi jalan pemikirannya. Buta Karang kembali mengingatkan Eyang Badranaya tentang masa lalunya. Kisah sedih dan bahagia yang telah dilalui oleh Eyang Badranaya, mencoba untuk ia munculkan kembali, dalam pikiran Eyang Badranaya. Tetapi Eyang Badranaya berhasil melindungi dirinya dari pengaruh Buta Karang. Beliau tetap bisa fokus untuk menghadapi Buta Karang. Bahkan dengan mudahnya, Eyang Badranaya bisa menghalau semua serangan dari Buta Karang.


Buta Karang yang memang memiliki dendam kesumat kepada Eyang Badranaya, tentunya merasa sangat terhina. Dia sudah kalah puluhan kali. Dan selama ia hidup di dunia ini, sebagai roh gentayangan, Buta Karang hanya ingin melakukan satu hal. Yaitu membunuh Eyang Badranaya. Sebuah cita-cita bodoh yang tidak akan pernah tercapai sampai kapanpun juga. Eyang Badranaya adalah makhluk ciptaan yang diberi sebuah kekuatan luar biasa oleh Yang Maha Kuasa. Semua itupun ia dapatkan dengan laku tirakat selama bertahun-tahun. Berbeda dengan Buta Karang, yang menghabiskan waktunya hanya untuk mencari harta, serta mendapatkan tahta. Yang sekarang membelenggu dirinya. Memaksanya untuk melakukan hal yang tidak bisa diterima oleh manusia lainnya.


*


*


Prabu Jabang Wiyagra menatap dengan sayu kepada Eyang Badranaya dan Buta Karang yang masih terus saling menyerang satu sama lain. Mereka berdua tidak berhenti sedikitpun. Seakan tidak memiliki rasa lelah. Berbeda dengan dirinya yang sekarang tidak bisa membantu Eyang Badranaya, karena sudah dalam keadaan yang sangat lemah. Serangan yang dikeluarkan oleh Buta Karang kepada Maha Patih Kumbandha, telah membuat dirinya kehilangan banyak sekali tenaga dalam. Semua pasukannya berada di sampingnya, untuk memastikan beliau dalam keadaan yang baik-baik saja. Tiba-tiba Prabu Jabang Wiyagra menangis. Tanpa ada seorangpun yang tahu, apa yang telah ia tangisi. Prabu Jabang Wiyagra menatap keadaan tempat di sekelilingnya, dengan pandangan penuh kekhawatiran.

__ADS_1


"Kenapa semuanya harus berjalan seperti ini?"


"....Kapan kita semua bisa hidup tenang tanpa peperangan?" Ucap Prabu Jabang Wiyagra.


Maha Patih Lare Damar dan Prabu Putra Candrasa tertunduk mendengar ucapan Prabu Jabang Wiyagra. Selama ini, Tanah Jawa selalu saja dilanda peperangan. Seakan tidak ada waktu satu hari pun bagi orang-orang di dalamnya, untuk berdamai dengan keadaan. Setiap orang yang telah berhasil menjadi seorang raja, pasti akan memulai peperangan yang baru. Prabu Jabang Wiyagra, dia pun menjadi salah seorang raja yang memulai peperangan tersebut. Bedanya, Prabu Jabang Wiyagra memiliki tujuan yang baik. Dan tidak hanya menuruti hawa nafsunya sendiri. Dia memperjuangkan keadilan bagi semua orang. Agar di Tanah Jawa ini tidak ada lagi yang namanya penindasan dan perbudakan.


"Gusti Prabu. Kita tidak bisa mengendalikan semuanya. Setiap hal di dunia ini berjalan sesuai dengan apa yang telah ditetapkan oleh Sang Hyang Wenang. Peperangan dan permusuhan akan selalu terjadi di dunia ini. Dan kita hanyalah manusia biasa, Gusti Prabu." Ucap Mbah Kangkas, yang sudah berada di sana.


"Mbah Kangkas? Bagaimana kamu bisa berada di tempat ini? Aku memerintahkan untuk menjaga istana Wiyagra Malela."


"Mohon ampun Gusti Prabu. Hamba tidak akan bisa berdiam diri saja, menunggu kabar baik datang dari Gusti Prabu. Hamba sudah bersumpah setia kepada Gusti Prabu. Maka, apapun yang terjadi kepada Gusti, akan menjadi tanggung jawab hamba nantinya. Hamba harap, Gusti Prabu tidak melarang hamba, untuk membantu Gusti Prabu pulih, dari rasa sakit yang Gusti Prabu rasakan." Jawab Mbah Kangkas.


"Sudahlah Mbah. Mungkin ini adalah hari terakhirku berada di dunia ini. Aku sudah melakukan banyak sekali kesalahan. Dan aku tidak mau mengulanginya lagi. Lagipula, aku sudah memiliki seorang pewaris tahta yang akan meneruskan perjuanganku di Kerajaan Wiyagra Malela. Kamu tahu itukan? Mbah Kangkas?"


"Ya. Hamba mengetahuinya, Gusti Prabu. Namun, untuk mengalahkan Buta Karang, atau Sura Panjaga, Gusti Prabu juga harus membantu Eyang Badranaya. Hamba yakin, Gusti Prabu tidak akan suka kalau tempat ini hancur berantakan."


Prabu Jabang Wiyagra lalu menatap dengan tajam ke arah Mbah Kangkas. Prabu Jabang Wiyagra sudah tahu apa yang akan dilakukan oleh Mbah Kangkas kepada dirinya.


"Apa kamu yakin? Abdi setiaku?" Tanya Prabu Jabang Wiyagra.


Semua orang pun bertanya-tanya, dengan apa yang diucapkan oleh Prabu Jabang Wiyagra. Namun, di antara Prabu Jabang Wiyagra dan Mbah Kangkas, mereka berdua sudah saling memahami satu sama lain. Dengan mata yang berkaca-kaca, Mbah Kangkas mengatakan satu hal yang membuat semua orang terkejut.


"Hamba siap mengorbankan diri hamba, Gusti Prabu. Hamba akan menyalurkan semua tenaga dalam yang ada di dalam tubuh hamba kepada Gusti Prabu Jabang Wiyagra. Izinkan hamba, Gusti."


Mbah Kangkas lalu memegang kedua pundak Prabu Jabang Wiyagra. Prabu Jabang Wiyagra hanya terdiam, tanpa melakukan apa-apa. Apa yang dilakukan oleh Mbah Kangkas, sudah menjadi keputusannya sendiri. Prabu Jabang Wiyagra tidak bisa melarangnya, karena itu sebuah pengorbanan yang sangat besar. Kalau Prabu Jabang Wiyagra tidak menerima pengorbanan yang dilakukan Mbah Kangkas, maka Prabu Jabang Wiyagra tidak akan bisa membantu Eyang Badranaya, menghadapi Buta Karang. Prabu Jabang Wiyagra berusaha tegar dan tetap kuat. Karena hari ini, dia akan kehilangan sosok yang sangat peduli kepada dirinya, untuk selama-lamanya. Mbah Kangkas sudah seperti orang tua kandung bagi Prabu Jabang Wiyagra sendiri. Banyak hal-hal baik dan bijak, yang Prabu Jabang Wiyagra pelajari dari sosok Mbah Kangkas.


Tiba-tiba, Mbah Kangkas membaca sebuah mantra. Tanpa menunggu lagi, Mbah Kangkas langsung menyalurkan seluruh tenaga dalamnya kepada Prabu Jabang Wiyagra. Secara perlahan, tubuh Prabu Jabang Wiyagra mulai sehat kembali. Tubuhnya bahkan sekarang terasa jauh lebih ringan daripada sebelumnya. Sedangkan sesuatu yang mengejutkan telah terjadi kepada Mbah Kangkas. Tubuh Mbah Kangkas secara perlahan-lahan mulai mengecil. Mengecil dan terus mengecil. Hingga ada puncaknya, tubuh Mbah Kangkas pun berubah menjadi sangat-sangat kecil seukuran telapak tangan Prabu Jabang Wiyagra. Tubuh Mbah Kangkas benar-benar telah mengering sepenuhnya. Dan tidak ada satupun orang yang menyangka, kalau hal itu akan terjadi. Kecuali Prabu Jabang Wiyagra, yang memang sudah lebih dulu mengetahui semuanya.


Ternyata, sebelum Prabu Jabang Wiyagra berangkat ke tempat ini, Mbah Kangkas telah berpesan, kalau akan ada musuh besar yang harus dihadapi oleh Prabu Jabang Wiyagra dan para pasukannya. Dia adalah Buta Karang. Yang memiliki kesaktian di atas rata-rata. Bahkan kesaktiannya hampir setara dengan Eyang Badranaya. Pada saat itu, Mbah Kangkas sudah sangat mengkhawatirkan keadaan Prabu Jabang Wiyagra. Bahkan Mbah Kangkas terus berusaha melarang Prabu Jabang Wiyagra, untuk tidak pergi ke tempat ini. Namun, sebagai seorang raja, Prabu Jabang Wiyagra tidak mau membiarkan pasukannya berjalan sendiri, tanpa ada kehadirannya. Keputusan itu jelas tidak akan berani dibantah oleh Mbah Kangkas. Karena hal itu akan dianggap sebagai sesuatu yang sangat tidak sopan.


Namun, di sinilah Mbah Kangkas mengutarakan semuanya kepada Prabu Jabang Wiyagra. Jika Prabu Jabang Wiyagra sampai terluka, ataupun mengalami masalah, maka Mbah Kangkas akan datang ke tempat ini, dengan mengorbankan dirinya sendiri. Mbah Kangkas sebenarnya sudah tahu, jika Prabu Jabang Wiyagra akan menghadapi masalah yang sangat besar. Apa yang dilakukan oleh Buta Karang kepada Maha Patih Kumbandha, ternyata hanyalah sebuah jebakan untuk Prabu Jabang Wiyagra. Buta Karang memang sengaja memancing Prabu Jabang Wiyagra, untuk mengeluarkan semua kemampuannya. Dengan begitu, Buta Karang bisa menyerap tenaga dalam yang dimiliki oleh Prabu Jabang Wiyagra. Untuk menambah kekuatannya menjadi lebih besar.


Karena Buta Karang juga sudah tahu, kalau Eyang Badranaya sudah mengawasinya dari kejauhan. Dan di dalam lagi akan datang ke tempat ini. Jebakan itupun berhasil membuat Prabu Jabang Wiyagra masuk ke dalamnya. Yang membuat sebagian besar tenaga dalam milik Prabu Jabang Wiyagra terhisap ke dalam tubuh Buta Karang. Buktinya, Buta Karang memiliki kekuatan yang lebih, untuk menghadapi Eyang Badranaya. Padahal, pada pertarungan sebelum-sebelumnya, Buta Karang tidak pernah menyerang seganas ini. Tapi sekarang, dia bahkan berhasil mengimbangi kekuatan yang dimiliki Eyang Badranaya. Sehingga memaksa Eyang Badranaya mengeluarkan semua kemampuan yang ada di dalam dirinya. Dan membuatnya harus menggunakan banyak tenaga dalam.


"Sekaranglah waktunya." Ucap Prabu Jabang Wiyagra.


Prabu Jabang Wiyagra berdiri dari tempatnya. Dia membalut jasad Mbah Kangkas yang telah mengecil, dengan kain bajunya yang telah beliau sobek.


"Nggih Kakang Prabu."


Semua orang yang ada di sana merasa sangat terpukul dengan kepergian Mbah Kangkas secara mendadak. Mbah Kangkas sudah berjasa besar untuk kemajuan Kerajaan Wiyagra Malela. Namun, apa yang dilakukan Mbah Kangkas adalah sebagai bentuk pengorbanan atas kesetiaannya kepada Prabu Jabang Wiyagra. Jasad Mbah Kangkas memang sudah mati. Tapi tidak dengan jiwanya. Dia akan terus menaungi Kerajaan Wiyagra Malela, sampai kapanpun juga. Mbah Kangkas tidak akan pernah mati di hati Sang Maha Raja. Karena sampai kapanpun, Prabu Jabang Wiyagra akan selalu ingat dengan jasa-jasa Mbah Kangkas.


"Buta Karang! Hadapi aku sekarang!" Teriak Prabu Jabang Wiyagra.


Eyang Badranaya tersenyum kepada Prabu Jabang Wiyagra. Karena pada akhirnya, Prabu Jabang Wiyagra telah kembali, dan siap untuk menghadapi musuhnya. Takdir ini, adalah takdir yang harus dijalani oleh Prabu Jabang Wiyagra sebagai seorang raja besar. Karena sebagai seorang raja besar, Prabu Jabang Wiyagra harus mampu membuktikan kepada semua orang, kalau dia mampu mempertahankan kehormatannya sebagai seorang raja. Juga harus membuktikan, kalau dia bisa menjaga rakyatnya dengan baik. Prabu Jabang Wiyagra-lah yang akan menjadi penentu kemenangan dari pertarungan ini. Kemenangan yang beliau raih dalam pertempuran ini, akan membawa dampak besar bagi Kerajaan Wiyagra Malela. Juga untuk semua orang yang ada di Tanah Jawa.


*


*


"Hoo.. Kamu sudah kembali, Jabang Wiyagra. Aku sudah tidak sabar lagi, membuktikan apakah takdir itu memang benar atau tidak. Selama ini, kamulah yang menjadi takdir atas kematianku. Tapi aku tidak pernah mempercayainya. Karena raja-raja sebelum dirimu pun, mereka sudah mati di tanganku." Ucap Buta Karang.


"Aku bukanlah mereka, Buta Karang. Aku adalah aku. Jika memang benar Yang Maha Kuasa telah menakdirkan aku sebagai perantara dari kematianmu, maka dengan senang hati aku akan menjalankannya." Jawab Prabu Jabang Wiyagra.


Buta Karang menjadi semakin geram. Sudah puluhan raja yang adil dan bijaksana ia bunuh. Tetapi kali ini, dia merasakan ada satu hal yang sangat berbeda, dari dalam diri Prabu Jabang Wiyagra. Dia seperti enggan untuk menatap kedua mata Prabu Jabang Wiyagra. Dalam pandangan mata batinnya, Buta Karang bisa melihat dengan jelas, kalau Prabu Jabang Wiyagra dilindungi oleh para raja-raja di Tanah Jawa ini, yang sudah dibunuh oleh Buta Karang di masa lalu. Buta Karang juga melihat keberadaan Mbah Kangkas. Tepat di samping kanan Prabu Jabang Wiyagra. Hal itu membuatnya cemas. Bahkan jauh lebih cemas, daripada saat dia berhadapan dengan Eyang Badranaya.


Prabu Jabang Wiyagra mengambil posisi kuda-kuda. Beliau bersiap untuk menghadapi segala sesuatu yang akan dilakukan oleh Buta Karang kepadanya. Prabu Jabang Wiyagra meyakinkan dirinya, bahwa dialah yang menjadi takdir kematian dari Buta Karang. Prabu Jabang Wiyagra terus berdoa tanpa henti kepada Yang Maha Kuasa. Beliau berharap, semua ini bisa diakhiri, hari ini juga. Karena sudah banyak sekali korban berjatuhan di tangan Buta Karang. Dan tidak ada satupun dari mereka yang menjadi takdir kematian Buta Karang. Mereka semua tewas di tangan Buta Karang, dengan cara yang sangat mengenaskan. Bahkan, jasad mereka tidak pernah ditemukan hingga masa sekarang. Dikarenakan Buta Karang menyembunyikan jasa para raja tersebut.


Tujuan Buta Karang menyembunyikan jasad mereka adalah, agar tidak ada satupun orang yang merawat pemakaman mereka. Tak hanya itu, jika jasad para raja-raja sebelum Prabu Jabang Wiyagra tidak ditemukan, maka selamanya arwah mereka akan terus bergentayangan. Dan Buta Karang ingin mereka merasakan apa yang selama ini telah ia rasakan. Namun hal itu justru telah berubah menjadi senjata makan tuan. Karena Buta Karang harus kembali berhadapan dengan musuh-musuh yang berasal dari masa lalunya. Sedangkan dia sendiri sudah tidak lagi memiliki kekuatan apa-apa, selain mengandalkan jiwa-jiwa tersesat, yang sekarang bersemayam di dalam tubuhnya.


"Baiklah. Ayo kita mulai!" Ucap Buta Karang.


Prabu Jabang Wiyagra langsung menyerang Buta Karang dengan sepenuh kekuatannya. Dibantu oleh jiwa orang-orang yang telah mati di tangan Buta Karang. Eyang Badranaya pun mundur ke belakang, beliau menyerahkan pertarungan itu sepenuhnya kepada Prabu Jabang Wiyagra. Karena itu sudah menjadi takdir yang harus dijalani oleh Prabu Jabang Wiyagra, sebelum dia benar-benar menjadi seorang raja besar. Selama ini, Prabu Jabang Wiyagra mendapatkan gelar seorang raja besar, berkat para pendukungnya yang banyak, dan jumlah pasukannya yang tidak terhitung. Namun secara resmi, Prabu Jabang Wiyagra belum pernah diangkat sebagai seorang raja besar di Tanah Jawa ini.


Prabu Jabang Wiyagra melompat ke sana kemari, menyerang dengan semua jurus-jurus bela diri yang ia miliki. Buta Karang hanya bisa menghindar, tanpa bisa melakukan perlawanan. Hingga sampailah di suatu titik, Prabu Jabang Wiyagra berhasil memukul perut Buta Karang dengan sangat keras. Buta Karang pun langsung terbungkuk, dan bertekuk lutut di hadapan Prabu Jabang Wiyagra. Tak puas dengan serangan tersebut, Prabu Jabang Wiyagra langsung menendang kepala Buta Karang dengan sangat keras. Walaupun Buta Karang masih tetap berada di tempatnya, tapi tendangan dari Prabu Jabang Wiyagra membuat kepalanya merasakan sakit yang luar biasa. Bahkan, pandangan mata Buta Karang mulai mengabur. Dia tidak bisa melihat dengan jelas Prabu Jabang Wiyagra.


Buta Karang mencoba mengeluarkan ilmu kesaktiannya, untuk membalas serangan dari Prabu Jabang Wiyagra. Namun, dengan cepat Prabu Jabang Wiyagra langsung membalikkan keadaan. Buta Karang yang mencoba mengeluarkan Ajian Brajamusti, langsung dihantam oleh Prabu Jabang Wiyagra dengan Ajian Gelap Ngampar. Tentu saja Ajian Gelap Ngampar jauh lebih kuat dibandingkan dengan Ajian Brajamusti. Karena dalam jangkauan yang sangat-sangat dekat, Buta Karang pun tidak bisa menghindari serangan tersebut. Tubuhnya langsung terlempar jauh dari tempat pertarungan itu. Dan untuk pertama kalinya, selama ratusan tahun, Buta Karang akhirnya mengeluarkan darah dari dalam tubuhnya.


Seketika semua orang yang ada di sana, termasuk Eyang Badranaya sendiri pun dibuat terkejut melihat hal tersebut. Karena selama mengalami pertarungan dengan Buta Karang, baru kali ini Buta Karang mengeluarkan darah dari dalam tubuhnya. Darah yang keluar dari dalam tubuh Buta Karang berwarna hitam pekat. Buta Karang pun panik setelah menyadari, kalau sekarang dia sudah terluka parah. Padahal, Buta Karang tidak pernah sekalipun mengeluarkan darah. Dia bahkan sangat sulit untuk dilukai. Tetapi setelah berhadapan dengan Prabu Jabang Wiyagra, kemampuan yang dimiliki oleh Buta Karang benar-benar telah menurun. Dia tidak lagi kuat seperti sebelumnya. Ditambah dengan ilmu yang ia miliki, seperti tidak berpengaruh apa-apa kepada Prabu Jabang Wiyagra.

__ADS_1


Untuk pertama kalinya, kedua mata Buta Karang berkaca-kaca. Dia menatap dengan haru kepada Prabu Jabang Wiyagra.


"Apakah kamu akan memaafkanku? Jabang Wiyagra?" Tanya Buta Karang.


Prabu Jabang Wiyagra terdiam sejenak. Beliau menatap ke arah langit yang mulai menampakkan sinarnya.


"Aku memaafkanmu, atas pukulan yang telah kamu berikan kepadaku. Tapi atas kematian jutaan orang, itu bukan lagi urusanku. Itu masalah yang harus kamu selesaikan dengan Sang Hyang Wenang. Dia-lah yang berhak atas segala hal yang telah kamu lakukan kepada mereka. Aku tidak memiliki kuasa atas dirimu. Mintalah maaf kepada-Nya. Mungkin saja, Dia masih bisa memaafkanmu." Jawab Prabu Jabang Wiyagra.


Buta Karang tertunduk lesu mendengar jawaban itu. Setelah hidup selama ratusan tahun, baru sekarang dia menyesali semua perbuatannya. Jiwa-jiwa serakah dan sesat yang ada di dalam dirinya, terus mempengaruhi Buta Karang untuk melakukan kejahatan. Namun dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Prabu Jabang Wiyagra tahu, kalau Buta Karang sebenarnya ingin terlepas dari kutukan yang telah membelenggunya selama ratusan tahun ini. Hanya saja, kesalahan yang dilakukan oleh Buta Karang terlalu berat untuk dimaafkan. Sehingga sulit bagi dirinya untuk lepas dari kutukan itu.


"Ya. Kamu benar, Jabang Wiyagra. Aku harus menyelesaikan urusanku sendiri. Apa yang telah aku lakukan selama ini memang salah. Tapi, bolehkah aku meminta satu permintaan kepadamu? Aku yakin kalau ini adalah akhir dari semuanya. Aku sudah terluka parah. Dan sekarang aku dalam keadaan lemah. Sudah pasti aku akan mati hari ini. Aku mohon." Ucap Buta Karang memelas.


"Apa?"


"Jagalah tanah kelahiranku dengan baik. Meskipun aku adalah orang yang jahat, tetapi aku sangat mencintai tanah kelahiranku. Maukah kamu melakukan itu? Jabang Wiyagra?"


"Aku tidak mau berjanji. Tapi aku akan berusaha."


Buta Karang pun mengangguk. Tanda dia sudah mengerti. Prabu Jabang Wiyagra juga tersenyum kepada Buta Karang, untuk pertama kalinya. Tidak hanya itu saja, Buta Karang juga meminta maaf kepada Eyang Badranaya.


"Maafkan aku, karena telah mengecewakanmu, saudaraku. Aku selalu memimpikan, kita bis berkumpul seperti dulu lagi. Tapi, sekarang keadaan sudah berbeda. Aku harap, kamu tidak akan melupakanku."


Eyang Badranaya menangis mendengar ucapan Buta Karang. Bahkan karena tangisan tersebut, langit tiba-tiba menurunkan hujannya.


"Ya. Aku tidak akan pernah melupakanmu, Sura Panjaga. Selamanya kamu adalah saudaraku."


"Terima kasih. Sekarang, mari kita selesaikan ini Jabang Wiyagra." Ucap Buta Karang.


"Silahkan." Prabu Jabang Wiyagra memberikan kesempatan kepada Buta Karang untuk bangkit.


Buta Karang pun kembali melancarkan serangannya kepada Prabu Jabang Wiyagra, dengan sisa-sisa kekuatannya. Meskipun sudah sangat lemah, dan tidak bisa lagi mengimbangi kekuatan Prabu Jabang Wiyagra, tetapi Buta Karang tidak berhenti melakukan serangan. Dia terus berusaha mengeluarkan ilmu kesaktian yang ia miliki. Akibatnya, perlahan-lahan tubuhnya mulai terkikis. Mulai dari rambutnya yang rontok, tubuhnya yang mengecil, kulitnya yang mengelupas, sampai daging-daging yang berceceran di tanah, hingga menyisakan bagian-bagian tulangnya saja. Dalam keadaan seperti itu, Buta Karang masih terus berusaha untuk menyerang Prabu Jabang Wiyagra.


Prabu Jabang Wiyagra dan Eyang Badranaya menangis melihat keadaan Buta Karang yang sudah sangat tersiksa. Karena dalam keadaan yang sudah seperti itu, Buta Karang masih belum mati. Dia bahkan masih sanggup untuk mengucapkan beberapa kata kepada Prabu Jabang Wiyagra. Buta Karang memberikan berbagai macam petuah kepada Prabu Jabang Wiyagra, yang pernah dia pelajari dari gurunya. Sembari bertarung, Prabu Jabang Wiyagra berusaha mengingat semua yang diucapkan oleh Buta Karang kepada dirinya. Pertarungan itu berlangsung dengan sangat dahsyat. Sampai mampu memporak-porandakan tempat tersebut.


Hingga pada akhirnya, Prabu Jabang Wiyagra mengeluarkan satu pukulan keras, yang mengenai dada Buta Karang, yang sekarang hanya tersisa tulang belulangnya saja. Pukulan tersebut langsung merontokkan tubuh Buta Karang, yang sudah menjadi tengkorak. Mendapatkan pukulannya sangat menyakitkan, Buta Karang pun berteriak sangat keras. Baru kali ini dia mendapatkan pukulan sesakit itu. Bahkan, pukulan yang dilayangkan oleh Prabu Jabang Wiyagra membuat jiwa-jiwa terkutuk yang ada di dalam tubuh Buta Karang, seketika keluar. Mereka semua terlempar ke berbagai arah. Membuat tempat itu mengalami kebakaran yang sangat besar. Sekalipun dalam cuaca yang sedang hujan deras, api yang sangat-sangat besar itu tidak bisa mati.


Sedangkan Buta Karang sendiri, secara perlahan tubuhnya mulai menghilang. Bahkan tidak ada satupun bagian tubuhnya yang tersisa di tempat tersebut. Buta Karang benar-benar telah lenyap dari muka bumi ini. Bersama dengan jiwa-jiwa tersesat yang ada di dalam tubuhnya. Namun, Buta Karang masih belum benar-benar pergi. Karena dalam detik-detik terakhir kepergiannya, Buta Karang atau Sura Panjaga, menyampaikan sebuah pesan penting kepada Prabu Jabang Wiyagra. Pesan itu adalah, permintaan maaf Sura Panjaga kepada guru besarnya. Karena semasa beliau ada, Sura Panjaga tidak mau mendengarkan nasihat-nasihat baik dari guru besarnya tersebut.


"Sampaikan pesanku ini kepada guru, saudaraku." Ucap Sura Panjaga.


Selepas itu, Prabu Jabang Wiyagra langsung memerintahkan kepada semua orang, untuk meninggalkan tempat ini. Karena akan datang sebuah bencana besar, yang meruntuhkan tempat tersebut.


"Semuanya! Pergi dari sini! Tempat ini akan hancur!" Perintah Prabu Jabang Wiyagra kepada semua orang.


Saat itu juga, Eyang Badranaya langsung membawa Semua orang pergi dari tempat tersebut. Dengan penuh perasaan yang berkecamuk. Karena beliau baru saja kehilangan saudara seperguruannya. Selama ratusan tahun ini, Eyang Badranaya selalu berharap, kalau Sura Panjaga bisa kembali ke jalan yang benar. Namun dosa-dosa yang dilakukan oleh Sura Panjaga sangatlah besar. Sehingga membuatnya sulit untuk mendapatkan pengampunan. Eyang Badranaya langsung membawa semua orang ke Gunung Khayangan. Agar mereka semua aman, dari bencana besar yang akan segera terjadi. Sedangkan Prabu Jabang Wiyagra menyusul mereka dari arah belakang.


Ternyata, Prabu Jabang Wiyagra melihat sebuah kalung dan gelang yang pernah dipakai oleh Sura Panjaga. Sehingga beliau mengambil gelang dan kalung tersebut, sebagai kenang-kenangan. Setelah itu barulah Prabu Jabang Wiyagra pergi meninggalkan tempat itu. Terlihat, sebuah pemandangan yang sangat-sangat mengerikan. Tempat pertarungan itu berubah dengan waktu sekejap. Yang disebabkan oleh tanah longsor dan juga kebakaran hebat. Sebuah bencana yang sangat tidak wajar. Karena unsur api, air, dan tanah, seakan tengah bertarung, dan bercampur menjadi satu bentuk kekuatan yang maha dahsyat.


Lalu bagaimana dengan Ratna Malangi?


Mengapa dia tidak terlihat semenjak pertarungan Prabu Jabang Wiyagra dan Sura Panjaga dimulai?


Ternyata, diam-diam Ratna Malangi sudah melarikan diri dari tempat itu. Dia berusaha menyelamatkan diri, tepat sebelum Prabu Jabang Wiyagra melawan Sura Panjaga pada pertempuran akhir. Ratna Malangi sudah memperkirakan kekalahan Sura Panjaga, sejak Eyang Badranaya tiba di sana. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi sejauh mungkin. Apalagi perhatian Sura Panjaga juga teralihkan dengan kedatangan Eyang Badranaya. Memberikan kesempatan yang luas kepada Ratna Malangi. Dengan begitu, Prabu Jabang Wiyagra masih memiliki musuh, yang suatu hari nanti akan menuntut balas atas kekalahannya. Yaitu Ratna Malangi. Yang sudah pasti akan kembali, untuk menyerang Prabu Jabang Wiyagra.


Meskipun Prabu Jabang Wiyagra sudah memikirkan hal tersebut, tapi saat ini beliau tidak terlalu memikirkannya. Prabu Jabang Wiyagra ingin fokus kepada hal lain, yang bisa mengembangkan kekuatan Kerajaan Wiyagra Malela. Agar saat Ratna Malangi kembali kepadanya, Prabu Jabang Wiyagra sudah benar-benar siap untuk menghadapinya. Karena tidak menutup kemungkinan, akan datang musuh yang jauh lebih kuat dan lebih besar lagi, dari Sura Panjaga, dan juga Ratna Malangi. Masih banyak orang yang ingin menguasai Kerajaan Wiyagra Malela. Karena Kerajaan Wiyagra Malela adalah kerajaan yang besar dan sangat kaya raya. Yang tentunya akan menjadi sasaran empuk bagi orang-orang yang serakah. Entah sampai kapan peperangan ini akan berakhir. Pastinya, untuk beberapa waktu ke depan, Kerajaan Wiyagra Malela berada dalam kondisi aman.


...........TAMAT..........


Bagian akhir :


1). Setelah pertempuran besar dengan semua musuh-musuhnya, Prabu Jabang Wiyagra kembali ke Kerajaan Wiyagra Malela. Begitu juga dengan Ratu Ayu Anindya. Yang sekarang telah melahirkan seorang putra. Yang berarti, Prabu Jabang Wiyagra akan memiliki seorang putra mahkota.


2). Sebagai tanda terima kasihnya kepada Mbah Kangkas, Prabu Jabang Wiyagra membuat sebuah patung yang sangat besar di halaman istana Kerajaan Wiyagra Malela, yang sama persis dengan Mbah Kangkas, secara fisik.


3). Keberadaan Panglima Galang Tantra, Panglima Dara Gending, dan para pendekar, sampai saat ini masih belum ditemukan. Bahkan, Mangku Cendrasih pun ikut hilang kabar. Jejaknya tak dapat ditemukan. Sekalipun murid-muridnya telah mencari ke berbagai tempat.


4). Kerajaan Wiyagra Malela menjadi satu-satunya kerajaan terbesar yang ada di Tanah Jawa. Dan menguasai berbagai macam bidang. Kerajaan Wiyagra Malela banyak melahirkan orang-orang cerdas dan berbakat. Sehingga terkenal ke berbagai negara.


...****************...

__ADS_1


Pesan : Ingat! Perang bisa terjadi di mana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja. Kekuasaan memiliki kemampuan untuk membutakan pandangan. Bagi yang rakus, kekuasaan adalah tujuan. Namun bagi waras, kekuasaan adalah titipan dan godaan. Sekian dan Terima Gaji. Salam sehat. Salam Waras.


__ADS_2