
Para prajurit yang berjaga di depan pintu penjara, juga merasa penasaran apa yang telah terjadi kepada Jiramani dan Mahendra. Sehingga secara bergantian, mereka pun mengintip melalui sebuah teropong yang ada di sana. Dan di saat itulah mereka melihat sebuah adegan yang benar-benar mengerikan. Yang dimana Jiramani telah memakan habis tangan kanan Mahendra. Padahal Prabu Jabang Wiyagra saja belum lama pergi meninggalkan penjara tersebut. Yang berarti Jiramani sudah benar-benar berada dalam kondisi lapar dan haus yang sangat luar biasa. Dan tidak bisa lagi ditahan.
Jiramani dengan lahapnya memakan tangan kanan Mahendra. Tanpa peduli kalau sekarang Mahendra sedang menjerit-jerit kesakitan. Mahendra juga mengeluarkan banyak darah dari tubuhnya. Namun Jiramani sama sekali tidak memperdulikan hal tersebut. Bahkan setiap kali ada darah yang mengucur dari tubuh Mahendra, Jiramani pasti akan langsung menjilatinya. Jiramani semakin menggila, saat dia juga dengan kejamnya mencongkel mata kanan Mahendra hanya dengan tangan kanannya. Mahendra langsung bereaksi. Dia sudah tidak tahan dengan semua rasa sakit yang ia rasakan.
Sehingga dengan sekuat tenaga, ia mencoba untuk memukul Jiramani dengan tangan kirinya. Namun apa yang dilakukan, tetap tidak bisa memberikan efek apapun kepada Jiramani. Jiramani bahkan semakin gencar untuk mengambil seluruh bagian tubuh Mahendra, sedikit demi sedikit. Mulut Jiramani sudah dipenuhi dengan darah yang terus mengalir dari tubuh Mahendra. Para prajurit yang melihat hal tersebut bahkan sampai mual dan muntah. Mereka tidak pernah sekalipun melihat hal menjijikan itu. Selama menjaga penjara tersebut, mereka tidak pernah berani mengintip apa yang terjadi kepada para tahanan yang ada di sana.
Namun hari ini, rasa penasaran mereka begitu besar. Sehingga mereka secara bergantian melihat apa yang dilakukan oleh Jiramani dan Mahendra. Mereka semua yang melihat apa yang terjadi di dalam, benar-benar sangat menyesali tindakan bodoh mereka. Mereka tidak pernah menyangka, kalau para tahanan yang ada di dalam penjara bawah tanah tersebut, bisa melakukan hal itu kepada teman mereka sendiri. Jiramani benar-benar seperti hewan buas. Dia mencabik-cabik tubuh Mahendra tanpa ampun. Sekarang Mahendra sudah berada dalam kondisi sekarat. Bahkan bisa dipastikan, sebentar lagi Mahendra akan mati di tangan sahabatnya.
__ADS_1
Setelah merasa cukup puas dengan apa yang ia lakukan, barulah di sini Jiramani mulai menyadari apa yang telah terjadi. Jiramani berteriak terkejut, seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat di depan kedua matanya. Jadi pada dasarnya, Jiramani sama sekali tidak tega melakukan hal tersebut. Namun kebenciannya kepada Mahendra yang begitu besar, membuatnya menjadi lupa daratan. Dan antara sadar dan tidak sadar, Jiramani telah memakan tangan kanan Mahendra, dan mencongkel mata kanannya. Dan, Ya! Rasa lapar harus di dalam dirinya seperti hilang dan lenyap begitu saja.
Jiramani sudah tidak lagi merasakan haus dan lapar, setelah dia melahap beberapa bagian tubuh sahabatnya itu. Namun Jiramani masih belum bisa percaya dengan apa yang sudah ia lakukan kepada Mahendra. Andaikan rasa haus dan lapar itu tidak begitu dalam dirinya, mungkin Jiramani tidak akan sampai hati melakukan hal tersebut. Rasa lapar dan haus benar-benar telah mematikan akal sehatnya, meskipun hanya sesaat. Tetapi di sinilah Jiramani mulai menyadari satu hal. Dan secara perlahan, akal sehat yang ada di dalam dirinya benar-benar sudah hilang. Karena di sini Jiramani menyadari sesuatu.
"Kalau dia dalam keadaan yang sehat dan kuat, dia juga pasti akan melakukan hal yang sama kepadaku. Aku yakin itu. Aku yakin." Ucap Jiramani sembari tertawa terbahak-bahak.
Mahendra hanya bisa merintih. Dia berusaha meminta pertolongan kepada Jiramani, untuk menghentikan semua kegilaannya itu. Namun Jiramani hanya tertawa dan menatap Mahendra dengan tatapan yang seperti menghina dan merendahkan Mahendra. Semua yang telah Mahendra lakukan kepada Jiramani seakan berbalik kepada dirinya. Dulu Mahendra kuat dan ditakuti. Tapi sekarang, Mahendra sendirilah yang justru takut kepada Jiramani. Dia seakan iblis di dalam diri sahabatnya itu. Bahkan, apa yang Mahendra lakukan kepada Jiramani sama sekali tidak sebanding dengan apa yang ia dapatkan.
__ADS_1
Jiramani bahkan meluapkan semua kekesalannya kepada Mahendra saat itu juga. Dia mengatakan semua yang selama ini ia simpan di dalam pikiran dan hatinya. Dengan penuh kebencian, Jiramani mengatakan kalau dia begitu membenci apa yang sudah dilakukan oleh Mahendra kepada dirinya selama ini. Ternyata Jiramani tidak pernah suka dengan apa yang dilakukan oleh Mahendra selama ini. Namun Jiramani tidak pernah bisa melakukan perlawanan, karena Mahendra jauh lebih kuat dibandingkan dirinya. Karena Mahendra adalah anak didik kesayangan dari Ki Gendalastra. Sekaligus anak angkatnya yang menjadi orang pertama, yang ada di Padepokan Ageng Maja Lingga.
Tentu Mahendra jauh lebih berpengalaman dalam hal apapun, dibandingkan dengan Jiramani, yang merupakan orang kedua di Padepokan Ageng Maja Lingga. Tetapi semua keadaan sudah berubah sekarang. Jiramani-lah yang sekarang memegang penuh keadaan di dalam penjara ini. Sedangkan Mahendra sekarang tengah menanggung semua penderitaan yang ia ciptakan sendiri. Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima sempat menjenguk mereka berdua di penjara tersebut. Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima begitulah perihatin dengan keadaan mereka.
Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima sudah meminta keringanan kepada Prabu Jabang Wiyagra, agar tidak terlalu kejam menghukum Jiramani dan Mahendra. Namun Prabu Jabang Wiyagra tetap pada keputusan awalnya. Prabu Jabang Wiyagra tidak mau memberikan kesempatan kedua kepada Jiramani dan Mahendra, karena kesalahan mereka berdua sudah terlalu fatal. Akibat perbuatan mereka berdua, banyak sekali orang yang harus mengalami penderitaan dan kesengsaraan. Karena akibat bentrokan antara Padepokan Ageng Singo Negoro dan Padepokan Ageng Maja Lingga, banyak juga rakyat yang menjadi korban.
Banyak orang yang kehilangan rumah dan juga tempat usaha mereka. Banyak juga warga yang sampai sekarang masih trauma dan tidak mau kembali ke rumah mereka, meskipun rumah mereka sudah diperbaiki. Karena mereka melihat dengan jelas apa yang terjadi kepada murid-murid Padepokan Ageng Singo Negoro dan Padepokan Ageng Maja Lingga. Bentrokan tersebut membuat banyak sekali orang yang dirugikan. Banyak orang yang mulai mencari tempat lain untuk mendirikan rumah-rumah mereka yang baru. Mereka takut, karena dua padepokan besar itu sering kali bentrok dan sulit sekali untuk didamaikan. Walaupun mereka berdua sudah dipersatukan, tetapi banyak pihak yang tetap saja tidak setuju dengan hal itu. Karena mereka sudah terlalu sering mendapatkan kerugian dari bentrokan antara kedua padepokan besar tersebut.
__ADS_1