
"Kita harus segera meninggalkan tempat ini. Kita tidak akan mampu menghadapi pasukan Prabu Jabang Wiyagra. Lihatlah, Nyai Patri Asih juga sudah kewalahan menghadapi lawan-lawannya." Ucap salah seorang pengikut Patri Asih kepada temannya.
"Kita sudah tidak bisa ke mana-mana lagi. Kalau kita tidak mengalahkan pasukan Prabu Jabang Wiyagra, maka kita juga tidak memiliki kesempatan untuk pergi. Kita semua juga sudah bersumpah setia kepada Nyai Patri Asih. Pantang bagi kita untuk melanggarnya."
"Perse-tan dengan sumpah! Aku sudah muak dengan semua ini. Aku akan pergi dari tempat ini! Aku sudah tidak peduli lagi!" Ucap orang itu sembari pergi dari sana.
Dia mencoba menerobos barisan pasukan Prabu Jabang Wiyagra. Awalnya semua usaha laki-laki itu berjalan dengan baik, hingga pada akhirnya ia harus tewas, dengan satu kali sabetan pedang, yang berasal dari salah satu anggota Pasukan Maha Wira. Kepala orang itu langsung menggelinding, dengan batang lehernya langsung memancurkan darah yang sangat banyak. Suasana di tempat itu benar-benar sangat mengerikan. Semua orang saling serang satu sama lain. Bahkan, para pengikut setia Patri Asih, sudah tidak peduli lagi kepada pimpinan mereka, yaitu Patri Asih sendiri.
Yang mereka pikirkan adalah, bagaimana caranya agar bisa bebas dari tempat ini, tanpa harus dikejar oleh pasukan Prabu Jabang Wiyagra. Tapi itu hal yang sangat sulit untuk mereka lakukan. Kemanapun mereka semua pergi, pasti para pasukan Prabu Jabang Wiyagra akan langsung menyergap mereka. Apalagi jumlah pasukan yang dimiliki oleh Prabu Jabang Wiyagra, jauh lebih banyak dari pasukan Patri Asih. Sehingga bisa dengan mudah menangkap orang-orang yang ingin melarikan diri dari tempat ini. Mayat pun sudah berkelimpangan di mana-mana. Dan bahkan banyak orang yang kehilangan anggota tubuh mereka. Kebanyakan adalah para pengikut setia Patri Asih.
Kekuatan mereka tidak sebanding dengan kekuatan pasukan Prabu Jabang Wiyagra. Terutama jika mereka harus melawan para anggota Pasukan Bara Jaya. Yang terkenal sebagai kesatuan pasukan yang paling sadis. Para anggota Pasukan Bara Jaya sama sekali tidak peduli dengan tangisan dan juga teriakan dari para pengikut setia Patri Asih, yang meminta untuk diampuni. Para anggota Pasukan Bara Jaya terus menerus menyerang mereka tanpa ampun, secara membabi buta. Beberapa dari mereka dibiarkan hidup, tapi dengan keadaan fisik yang sudah cacat. Membuat mereka tidak bisa lagi melawan.
Setelah sebagian besar pasukannya habis, Patri Asih baru mulai bisa mengendalikan dirinya. Dia bisa menghindari semua serangan yang diberikan oleh para abdi setia Prabu Jabang Wiyagra. Walaupun dia tidak bisa melawan, tapi setidaknya dia masih bisa selamat dari berbagai macam serangan yang ia dapatkan. Kemudian Patri Asih mulai membaca sebuah mantra. Entah mantra macam apa yang ia baca. Tapi setelah Patri Asih membaca mantra tersebut, terjadilah sebuah guncangan hebat. Membuat semua pasukan yang sedang bertarung pun menjadi takut. Sampai mereka berhenti bertarung.
Prabu Jabang Wiyagra mulai membuka kedua matanya, lalu memerintahkan seluruh pasukannya untuk mundur ke posisinya.
__ADS_1
"Semuanya mundur! Cepat!" Perintah Prabu Jabang Wiyagra kepada seluruh pasukannya.
Setelahnya suasana menjadi sangat hening. Kemudian, langit yang ada di tempat ini menjadi lebih gelap. Jauh lebih gelap daripada sebelumnya. Membuat semua orang yang ada di sana menjadi cemas. Prabu Jabang Wiyagra memperingatkan semua orang untuk tetap berdoa untuk keselamatan mereka. Karena musuh yang mereka hadapi kali ini jauh lebih besar dan jauh lebih kuat.
"Kendalikan amarah kalian. Dan tetaplah berdoa kepada Yang Maha Kuasa. Musuh yang akan kita hadapi kali ini bukanlah musuh sembarangan. Dia bernama Buta Karang." Ucap Prabu Jabang Wiyagra.
"Buta Karang? Siapakah dia Romo Prabu?" Tanya Prabu Sura Kalana.
Lalu Prabu Jabang Wiyagra menatap ke arah Prabu Putra Candrasa. Tanda kalau Prabu Jabang Wiyagra menginginkan Prabu Putra Candrasa untuk menjelaskan semuanya.
"....Pertarungan ini, pasti akan memakan banyak korban. Baik dari pihak kita, ataupun pihak musuh. Buta Karang akan menghisap seluruh jiwa kita, kalau kita memiliki kebencian dan kemarahan yang besar. Namun, Buta Karang bisa dikalahkan jika kita mampu mengendalikan diri kita. Dan selama puluhan tahun, tidak ada satupun orang yang mampu membangkitkan sosok Buta Karang." Jelas Prabu Putra Candrasa.
"Jadi, Patri Asih?"
"Ya. Prabu Sura Kalana. Dia adalah anak dari sosok Buta Karang itu. Dia memang lahir dari rahim seorang manusia. Tapi ayahnya adalah titisan dari sosok Buta Karang. Manusia setengah iblis yang selama bertahun-tahun menyamarkan dirinya menjadi manusia biasa."
__ADS_1
Semua orang yang ada di sana pun terdiam. Banyak orang yang mengetahui tentang sosok Buta Karang itu, karena makhluk itu adalah makhluk legenda. Dan sudah diceritakan secara turun temurun. Namun, di masa pemerintahan Prabu Jabang Wiyagra, sosok Buta Karang tidak lagi ramai diperbincangkan oleh masyarakat. Banyak orang yang sudah mulai melupakan sosok legenda Buta Karang. Dulu, saat Buta Karang masih bisa berjalan bebas di atas tanah, banyak sekali bencana yang terjadi di Tanah Jawa ini. Buta Karang pada saat kumpulan jiwa-jiwa orang-orang yang serakah. Yang dihukum oleh Sang Maha Kuasa. Mereka akan terus hidup hingga akhir dunia nanti.
Kalaupun sosok Buta Karang berhasil dikalahkan, suatu hari nanti Buta Karang akan bangkit kembali. Karena sampai kapanpun, keturunan Buta Karang akan selalu ada. Dan dia akan datang untuk membuat bencana di seluruh Tanah Jawa. Bahkan Buta Karang bisa membuat bencana di Tanah Asing, asalkan ada yang bisa membantunya. Buta Karang suka menggoda manusia, dengan memberikan apa saja yang mereka inginkan, tanpa harus menyediakan tumbal. Hal ini yang kemudian memancing orang-orang untuk datang meminta pertolongan kepada dirinya. Tapi, ketika orang tersebut akan mati, Buta Karang akan langsung menghisap jiwa orang tersebut. Dan selamanya akan membuat sebuah orang itu terperangkap dalam tubuh Buta Karang.
Orang itu akan menjadi budaknya, untuk selama-lamanya. Mereka akan selalu menjadi abdi abadi dari Buta Karang. Karena bagi siapa yang memuja Buta Karang, maka dia sudah terlepas dari Tuhannya. Orang itu tidak akan lagi diterima oleh bumi. Selamanya orang tersebut akan menjadi teman setia Buta Karang, sampai ke neraka. Setelah Prabu Putra Candrasa menceritakan semuanya, Buta Karang pun muncul dengan wujud yang sangat-sangat mengerikan. Kepulan asap tebal menyelimuti seluruh tubuhnya, yang tinggi besar, dengan mata yang merah menyala. Seperti api yang menjilat-jilat. Para pasukan Patri Asih yang masih hidup, berusaha untuk lari dari tempat tersebut.
Namun, mereka tidak memiliki kesempatan untuk hal itu. Karena dengan cepat, Buta Karang langsung menghisap jiwa mereka semua. Hanya menyisakan jasad mereka yang sudah tak bernyawa. Tubuh mereka langsung menghitam seperti terbakar.
"Kenapa?! Kenapa kau menghabisi seluruh pasukanku?!" Patri Asih begitu terkejut, ketika Buta Karang menghabisi semua pasukannya.
"Aku adalah rajamu. Maka aku berhak atas apapun yang ada di dalam dirimu. Termasuk mereka." Jawab Buta Karang.
"Tidak! Kau sudah mengkhianati janjimu!" Ucap Patri Asih sembari menunjuk Buta Karang.
Buta Karang merasa tidak terima dengan hal itu. Secara mengejutkan, Buta Karang langsung masuk ke dalam tubuh Patri Asih, melalui mulutnya yang terbuka lebar. Patri Asih berteriak kesakitan, saat merasakan Buta Karang mulai menguasai seluruh tubuhnya. Patri Asih akan dijadikan wadah oleh Buta Karang, untuk menghadapi Prabu Jabang Wiyagra dan pasukannya. Padahal, Patri Asih begitu setia kepada Buta Karang. Tapi Buta Karang sama sekali tidak mempedulikan hal tersebut. Sekarang Buta Karang sudah menguasai tubuh Patri Asih sepenuhnya. Patri Asih berubah menjadi sosok yang sangat menyeramkan. Hidung dan telinganya meruncing. Kedua matanya merah menyala. Lalu keluarlah dua taring yang sangat besar dari mulutnya. Menandakan kalau Buta Karang dan Patri Asih sekarang telah sepenuhnya menyatu.
__ADS_1
Semua orang yang ada di sana menjadi semakin khawatir, termasuk Prabu Jabang Wiyagra sendiri. Karena Buta Karang memiliki kesaktian yang sangat luar biasa. Tak hanya itu saja, Buta Karang juga akan memancing amarah, dendam, dan kebencian yang ada di dalam diri seseorang. Karena perasaan-perasaan semacam itulah yang nantinya akan digunakan Buta Karang untuk melemahkan kekuatan musuhnya. Dengan adanya dendam dan kebencian dalam diri seseorang, maka orang itu sudah bisa dikuasai oleh Buta Karang. Seperti halnya Patri Asih, yang membenci Buta Karang, setelah dia melihat seluruh pasukannya dibantai habis tanpa disisakan satupun.