DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 313


__ADS_3

"Keputusanku untuk menyatukan Padepokan Ageng Singo Negoro dan Padepokan Ageng Maja Lingga sudah bulat. Aku ingin kedua padepokan besar tersebut secara resmi dipimpin oleh Ki Jangkung Sapu Jagat. Dengan adanya Ki Jangkung, tidak akan ada lagi yang berani melakukan kecurangan." Ucap Prabu Jabang Wiyagra kepada Mbah Kangkas.


"Benar Gusti Prabu. Hamba akan mempersiapkan segala hal yang dibutuhkan untuk peresmiannya. Hamba juga mengundang beberapa raja-raja lokal yang ada di wilayah Kerajaan Wiyagra Malela. Namun, untuk beberapa raja-raja lokal yang letaknya jauh dari istana Kerajaan Wiyagra Malela, tentunya tidak bisa hadir Gusti Prabu." Kata Mbah Kangkas.


"Ya. Tidak apa-apa. Yang terpenting harus ada perwakilan. Ini adalah hal yang sangat penting untuk mereka semua, yang ada di bawah kekuasaanku. Meskipun peresmian Kota Maja Negoro diadakan di istana Kerajaan Wiyagra Malela, tetapi aku ingin sebagian pasukan kita tetap berjaga di wilayah Kota Maja Lingga dan Kota Singo Negoro."


"Baik Gusti Prabu."


Prabu Jabang Wiyagra sudah memutuskan untuk mempersatukan Kota Maja Lingga dan Kota Singo Negoro, menjadi Kota Maja Negoro. Dengan bergabungnya dua kota besar tersebut, maka Padepokan Ageng Singo Negoro dan Padepokan Ageng Maja Lingga pun akan bergabung menjadi satu. Di bawah kepemimpinan Ki Jangkung Sapu Jagat. Dalam peresmian Kota Maja Negoro, Prabu Jabang Wiyagra juga ingin sekaligus meresmikan kelompok Maha Wira.

__ADS_1


Pasukan baru tersebut adalah para pendekar yang ikut dalam penyerangan ke Kerajaan Panca Warna, bersama dengan Panglima Bayu Kusuma dan juga Panglima Dala Bima. Hanya saja sekarang calon anggotanya harus dikurangi dua orang, yaitu Jiramani dan Mahendra. Karena mereka berdua ketahuan berkhianat, dan sekarang berada di dalam penjara. Akhirnya, dengan terpaksa posisi mereka berdua harus diganti oleh Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Bayu Kusuma.


Sehingga kekuasaan kelompok Pasukan Maha Wira dipegang penuh oleh Prabu Jabang Wiyagra. Sebelum para pendekar tersebut dimasukkan secara resmi ke dalam kelompok Pasukan Maha Wira, mereka akan dipastikan terlebih dahulu kesetiaan dan kejujurannya. Prabu Jabang Wiyagra ingin memastikan semua orang yang masuk ke dalam Pasukan Maha Wira benar-benar bersih dari segala macam tindak kejahatan. Karena Prabu Jabang Wiyagra tidak mau kalau sampai ada lagi orang-orang seperti Jiramani dan Mahendra.


Prabu Jabang Wiyagra memerintahkan kepada Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima, agar mereka berdua memastikan kalau para pendekar tersebut tidak terlibat atau berhubungan dengan para kelompok bandit. Apalagi sampai berhubungan dengan Patri Asih dan kelompoknya. Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima akhirnya mengumpulkan mereka semua di perbatasan Kota Maja Lingga dan Kota Singo Negoro. Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima mengungkapkan apa yang telah dikatakan oleh Prabu Jabang Wiyagra, kepada semua pendekar yang ada di sana.


"Kami tidak mau kalau sampai kasus seperti Jiramani dan Mahendra sampai terjadi lagi. Karena jika hal semacam itu sampai terjadi dua kali, maka kelompok Pasukan Maha Wira akan secara resmi dibubarkan. Dan semua orang yang ada di dalamnya akan mendapatkan hukuman berat." Ucap Panglima Bayu Kusuma kepada para pendekar.


Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima bisa memaklumi hal tersebut. Karena para pendekar ini bukanlah lawan yang seimbang untuk Mahendra dan Jiramani, yang merupakan anak kesayangan dari guru besar mereka. Hanya saja Panglima Bayu Kusuma masih sangat kecewa dengan adanya kejadian pengkhianatan tersebut. Panglima Bayu Kusuma sama sekali tidak menyangka kalau hal itu akan terjadi kepada Ki Gendalastra dan padepokannya.

__ADS_1


Panglima Bayu Kusuma, yang menjadi seorang pimpinan besar di wilayah Kota Maja Lingga, merasa sangat bersalah kepada semua orang yang ada di Padepokan Ageng Maja Lingga. Karena dia sudah teledor dalam mengawasi wilayahnya sendiri. Dia bahkan merasa sangat malu kepada Prabu Jabang Wiyagra, setelah mengetahui kabar tersebut. Jiramani dan Mahendra telah mengambil kesempatan dalam kesempitan. Karena sepulangnya Panglima Bayu Kusuma dari tugasnya, Panglima Bayu Kusuma sudah pasti langsung beristirahat di keratonnya.


Panglima Bayu Kusuma selalu menganggap bahwa semuanya akan baik-baik saja. Apalagi kala itu Mahendra dan Jiramani sudah tidak terdengar lagi melakukan kekacauan ataupun kerusuhan. Padahal, Jiramani dan Mahendra masih melakukannya secara sembunyi-sembunyi, tanpa diketahui oleh Panglima Bayu Kusuma, ataupun Ki Gendalastra sendiri. Sehingga tidak bisa disalahkan, kalau Panglima Bayu Kusuma sama sekali tidak mengetahui peristiwa pembunuhan kejam tersebut.


Apalahi setelah Mahendra dan Jiramani dengan gagah berani, bertarung dengan sengit melawan pasukan Intan Senggani di Kerajaan Panca Warna. Mereka sama sekali tidak menunjukkan gelagat yang mencurigakan. Dan tidak akan ada satu orang pun yang menyangka, kalau Jiramani dan Mahendra sudah membunuh Ki Gendalastra, guru besar mereka sendiri. Bahkan mereka berdua juga menunjukkan sikap yang sangat santun kepada Panglima Bayu Kusuma. Mereka bersikap seolah-olah mereka adalah orang yang sangat jujur dan setia.


Padahal, dibalik penampilan mereka yang rapi, tersimpan kebusukan yang sangat luar biasa. Yang tidak ada satupun orang mengetahuinya. Panglima Bayu Kusuma sempat merasa kecewa kepada semua orang yang ada di Padepokan Ageng Maja Lingga. Karena setelah ditelisik lebih dalam, ternyata banyak sekali para bandit yang lahir dari padepokan besar tersebut. Dan mereka semua tersebar ke berbagai wilayah yang ada di bawa kekuasaan Prabu Jabang Wiyagra. Mereka juga bergerak di wilayah-wilayah terpencil, yang sangat sulit untuk dijangkau.


Sudah pasti para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela tidak akan mengetahui hal tersebut. Karena wilayah-wilayah terpencil sangat jarang mereka kunjungi. Bukan karena para prajurit itu tidak mau. Tetapi akses jalan menuju wilayah-wilayah terpencil itu memang sangatlah sulit. Dan tidak semua orang bisa sampai ke sana dengan selamat. Ada yang bisa sampai ke sana, tapi tidak pernah kembali sampai sekarang. Sudah pasti semua itu adalah ulah dari anak buah Mahendra, yang tidak mau kalau rahasianya terbongkar.

__ADS_1


Setelah tertangkapnya Jiramani dan Mahendra, banyak sekali kelompok-kelompok bandit yang mulai memecah diri mereka. Banyak yang sudah tertangkap, dan juga sebagian lagi ada yang menyerahkan diri mereka kepada para prajurit istana Kerajaan Wiyagra Malela. Karena mereka takut mendapatkan hukuman yang berat dari Prabu Jabang Wiyagra. Namun peraturan tetaplah sebuah peraturan, Prabu Jabang Wiyagra tidak akan memberikan keringanan sedikitpun kepada mereka. Karena seorang penjahat, tetaplah seorang penjahat.


__ADS_2