DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 119


__ADS_3

Setelah berjalan begitu lama Maha Patih Putra Candrasa menemukan ada sebuah Keraton, yang dijaga oleh beberapa pasukan yang menggunakan tombak, ditangan mereka dan juga pedang dipinggang mereka. Mereka semua jumlahnya mencapai ratusan. Dan di Keraton tersebut juga banyak sekali senjata-senjata berat.


Mereka seperti sedang mempersiapkan sesuatu. Entah untuk pertempuran ataupun peperangan besar. Tidak lama kemudian muncullah seseorang dari dalam, yang mungkin saja pimpinan dari para pasukan itu. Karena terlihat dari pakaian dan senjata yang dibawanya, dia adalah seorang petarung.


Maha Patih Putra Candrasa terpelan mencoba mendekat ke Keraton tersebut. Namun dua puluh orang penjaga tiba-tiba menyadari keberadaan Maha Patih Putra Candrasa, yang sedang bersembunyi di semak-semak. Mereka pun langsung menangkap Maha Patih Putra Candrasa, dan membawanya ke hadapan pimpinan mereka.


Maha Patih Putra Candrasa sengaja tidak melakukan perlawanan, karena dia ingin tahu lebih banyak apa yang terjadi di tempat ini. Sang pimpinan pasukan tersebut tidak menyebutkan namanya. Tetapi Indah bagaimana sang pimpinan langsung mengenali siapa Maha Patih Putra Candrasa.


Dia juga memberikan hormat dengan membungkukkan badan dan menaruh tangannya didada. Hal itu juga dilakukan oleh para pasukannya yang kalau itu sedang mengepung Maha Patih Putra Candrasa. Maha Patih Putra Candrasa kemudian dilepaskan dan dibiarkan masuk ke dalam Keraton.


"Aku minta maaf atas kelancangan pasukanku. Mereka belum mengenali siapa dirimu Maha Patih." Ucap sang pimpinan.


"Tidak apa-apa aku bisa memakluminya. Aku hanya ingin masuk ke dalam dan menemui pemimpinmu." Ucap Maha Patih Putra Candrasa.


Padahal pada waktu itu Maha Patih Putra Candrasa masih bingung, dan tidak tahu siapa pimpinan yang ada di dalam Keraton tersebut. Dia hanya berusaha untuk menenangkan dirinya, dan bersikap seolah-olah dia sudah pernah datang ke tempat ini. Padahal ini baru pertama kalinya dia datang berkunjung ke tempat ini.


Dan saat sudah sampai ke dalam Keraton, ternyata pimpinan dari Keraton tersebut adalah seorang perempuan. Perempuan itu bernama Nyai Sukma Jaya.


"Aku adalah Sukmajaya, pimpinan dari Keraton ini. Dan aku sudah pernah mendengar soal dirimu. Prabu Jabang Wiyagra sudah menyampaikan semuanya kepadaku."

__ADS_1


"....Tapi aku tahu kalau kamu bertanya-tanya, apa sebenarnya tujuanmu dikirim ke tempat ini. Benarkan?" Ucap Nyai Sukma Jaya.


Nyai Sukma Jaya memiliki paras yang sangat cantik. Kulitnya putih bersih, matanya berwarna biru menyala, seperti mata serigala. Hidungnya mancung, rambutnya hitam pekat, dan memiliki panjang sampai ke punggung. Nyai Sukma Jaya juga menggunakan mahkota kecil di kepalanya.


Nyai Sukma Jaya menceritakan semuanya kepada Maha Patih Putra Candrasa. Kalau tujuan Prabu Jabang Wiyagra mengirim dirinya ke tempat ini adalah, untuk membantu pasukan Nyai Sukma Jaya untuk melawan musuh-musuhnya. Nyai Sukma Jaya juga menyinggung soal Prabu Kalarang.


Nyai Sukma Jaya mengetahui kalau Maha Patih Putra Candrasa sudah bertemu dengan seseorang yang berpakaian serba hitam.


"Pasti dia mengatakan semua kebohongan itu kepadamu, kalau Prabu Kalarang adalah raja jin yang sangat kejam kepada musuh-musuhnya."


"Bagaimana Nyai bisa tahu tentang hal itu?" Tanya Maha Patih Putra Candrasa.


Nyai Sukma Jaya menjelaskan kalau seorang laki-laki yang berbaju serba hitam itu adalah sosok bangsa jin yang sangat mengerikan. Dan telah menguasai tempat tersebut sejak lama. Dia juga memiliki pasukan yang digunakan untuk mempengaruhi pikiran dari Maha Patih Putra Candrasa.


Orang-orang berbaju putih, langit yang berubah menjadi merah, hawa panas dan hawa dingin yang dirasakan oleh Maha Patih Putra Candrasa, adalah akibat dari ulah Jin yang jahat itu, yang dilakukan bersama semua teman-temannya. Sehingga Semua kebohongannya menjadi tampak nyata.


Banyak orang yang sudah terjebak, lalu menjadi budak di tempat tersebut. Mereka terus menerus bergentayangan, karena tidak bisa menemukan jalan pulang. Dan selamanya mereka akan ada di sana. Kecuali jika tempat itu sudah dibersihkan secara total.


Dan untuk kali ini, Maha Patih Putra Candrasa bisa mempercayai apa yang diucapkan oleh Nyai Sukma Jaya. Tidak seperti laki-laki berpakaian serba hitam sebelumnya. Yang sejak awal saja, Maha Patih Putra Candrasa sudah mencurigai laki-laki itu, kalau dia bukanlah orang yang baik.

__ADS_1


Salah satu alasan mengapa Maha Patih Putra Candrasa tidak bisa menggunakan ilmu kesaktiannya adalah, karena Maha Patih Putra Candrasa mengalami halusinasi yang sangat berat. Sehingga pikirannya tidak terkontrol dengan baik. Secara sadar ataupun tidak, Maha Patih Putra Candrasa tidak benar-benar mengeluarkan kesaktiannya pada waktu itu.


Maha Patih Putra Candrasa hanya melakukan gerakan-gerakan yang aneh dan membaca apa yang tidak jelas. Sehingga tidak memberikan efek apapun. Namun setelah Maha Patih Putra Candrasa meminum air yang diberikan oleh orang berpakaian serba hitam tersebut, pikiran Maha Patih Putra Candrasa sudah terbebas kembali.


Itulah mengapa laki-laki berpakaian serba hitam langsung masuk ke dalam rumahnya, setelah tidak lama dia memberikan minuman kepada Maha Patih Putra Candrasa. Karena wujud laki-laki tersebut sudah berubah menjadi makhluk yang mengerikan.


Dan kalau saja Maha Patih Putra Candrasa mau masuk ke dalam rumahnya, Maha Patih Putra Candrasa akan langsung disergap, dan dihabisi di rumah tersebut. Maha Patih Putra Candrasa mungkin saja bisa lolos dan selamat dari laki-laki itu, tapi belum tentu dia bisa keluar dari tempat ini.


Karena kemanapun Maha Patih Putra Candrasa pergi, para bangsa jin jahat itu akan terus mengganggu pikiran dan perasaannya. Nyai Sukma Jaya sebenarnya sudah mengirim seseorang untuk memberikan arahan kepada Maha Patih Putra Candrasa, untuk tetap berjalan lurus ke depan tanpa mempedulikan apapun.


Dan utusan dari Nyai Sukma Jaya itu adalah seorang laki-laki yang berpakaian serba putih, dan menunjuk ke arah belakang dari Maha Patih Putra Candrasa. Sayangnya kondisi Maha Patih Putra Candrasa kala itu masih bingung, dan dipenuhi dengan pertanyaan. Sehingga pikirannya berjalan-jalan tak tentu arah.


Bahkan Maha Patih Putra Candrasa baru sadar, kalau jalan yang lebar yang ia lihat sebenarnya hanyalah hutan-hutan rimbun. Sedangkan di hutan-hutan itu hanya ada jalan setapak, yang mengarah lurus ke Keraton ini. Itulah kenapa laki-laki yang berpakaian serba putih menuju ke arah yang sangat lurus.


Tujuannya agar Maha Patih Putra Candrasa tidak tersesat dan tidak melenceng dari jalur yang dilewatinya. Namun Maha Patih Putra Candrasa terkena godaan dari jin laknat itu. Sehingga jam melewati jalan yang salah. Dan rumah yang ia lihat hanyalah sebuah pohon yang sangat besar, yang menjadi tempat tinggal dari jin itu.


Setelah Nyai Sukma Jaya memberitahukan semuanya kepada Maha Patih Putra Candrasa, Nyai Sukma Jaya lalu menugaskan Maha Patih Putra Candrasa untuk ikut dengan pimpinan pasukannya, menuju ke tempat penyerangan. Dan tempat tersebut adalah, tempat dimana para jin dari aliran hitam berkumpul.


Maha Patih Putra Candrasa diminta untuk mengalahkan para pimpinan mereka, agar bisa memenangkan penyerangan tersebut. Sehingga Nyai Sukma Jaya bisa memiliki kesempatan untuk merubah tempat yang sudah menjebak ratusan orang, termasuk Maha Patih Putra Candrasa.

__ADS_1


Maha Patih Putra Candrasa pun akhirnya setuju dan berangkat bersama rombongan pasukan Nyai Sukma Jaya yang sudah bersiap siaga di halaman Keraton. Sedangkan Nyai Sukma Jaya tetap akan berada di Keraton ini, karena ini adalah tempat teraman untuk dirinya. Tidak ada satupun bangsa jin beraliran hitam yang bisa masuk ke tempat ini.


__ADS_2