DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 348


__ADS_3

Dua Minggu Kemudian...


Hingga saat ini, Patri Asih masih belum mengetahui, kalau semua rencana yang telah ia buat, sekarang telah diketahui oleh Prabu Jabang Wiyagra. Patri Asih juga belum tahu, kalau Bajur dan kelompoknya sudah melarikan diri dari tempatnya. Bajur dan kelompoknya ini memang termasuk kelompok yang sangat kecil. Sehingga mereka mudah luput dari pengawasan Patri Asih dan para pengikutnya. Kesempatan yang sangat bagus bagi Bajur, untuk selamat dari kejaran para pengikut setia Patri Asih. Setelah terjadi kekacauan di markas besar milik Patri Asih, masih ada beberapa pendekar yang selamat. Mereka yang selamat, mengamankan diri mereka ke wilayah pedesaan dan perkotaan. Yang tidak masuk ke dalam wilayah kekuasaan Patri Asih.


Tapi tetap saja, mereka memilih untuk berpindah-pindah tempat, dari satu wilayah ke wilayah yang lainnya. Meskipun Patri Asih tidak berkuasa di wilayah tersebut, tapi dia memiliki mata-matanya juga di beberapa wilayah penting, yang ada di Kerajaan Wiyagra Malela. Maka dari itu, Bajur bersikeras ingin cepat bertemu dengan Prabu Jabang Wiyagra, beberapa hari yang lalu. Tujuannya adalah untuk membongkar semua rahasia yang disembunyikan oleh Patri Asih dan para pengikut setianya. Bajur benar-benar membeberkan sepenuhnya apa yang akan dilakukan oleh Patri Asih, kepada Prabu Jabang Wiyagra. Dia tidak melewatkan satupun rahasia yang ada pada diri Patri Asih. Fakta mengejutkan pun akhirnya terungkap. Kalau Patri Asih ternyata memiliki akses untuk masuk ke Kerajaan Wiyagra Malela.


Dia memiliki orang-orang kepercayaan yang ada di dalam istana Kerajaan Wiyagra Malela. Tugas mereka adalah untuk mengawasi pergerakan yang dilakukan oleh Prabu Jabang Wiyagra dan para pendukungnya. Selama ini, Prabu Jabang Wiyagra memang telah mencurigai beberapa orang pejabat yang ada di istananya. Namun, Prabu Jabang Wiyagra tidak memiliki bukti yang cukup kuat untuk memberikan hukuman kepada mereka. Namun, Bajur telah membeberkan semuanya secara detail. Dia juga memberikan bukti-bukti kuat kepada Prabu Jabang Wiyagra. Selama ini, Bajur telah menyimpan beberapa barang bukti, yang ia simpan di dalam sebuah tas kain yang selalu ia bawa, kemanapun dia pergi. Bajur tidak pernah meninggalkan tas itu. Karena banyak sekali bukti-bukti kuat yang ia simpan di sana.


Bajur menyimpan banyak sekali surat yang dikirimkan oleh para pengikut Patri Asih, yang ada di dalam Kerajaan Wiyagra Malela. Dari mulai cara menulis, tinta dan kulit yang digunakan sebagai media tulis, semuanya hanya ada di dalam Kerajaan Wiyagra Malela. Yang artinya, mata-mata Patri Asih bukanlah orang bodoh. Dia termasuk orang terpelajar, dan sudah tinggal sangat lama di dalam istana Kerajaan Wiyagra Malela. Sehingga dia bisa mempelajari banyak hal. Salah satunya dalam membaca dan menulis. Kecurigaan Prabu Jabang Wiyagra semakin bertambah, saat beberapa orang pejabat tidak setuju dengan adanya Bajur dan anak buahnya, di istana tersebut. Kalau bukan karena hal itu, lalu karena alasan apalagi? Kenapa mereka tidak suka dengan keberadaan Bajur di tempat ini? Sedangkan dia tidak bermasalah.


Bajur berbincang dengan Prabu Jabang Wiyagra di ruangan pribadinya, tanpa ada satu orang pun yang boleh masuk ke sana. Selain Bajur dan anak buahnya saja. Walaupun Bajur dan kelompoknya adalah komplotan bandit, tetapi Bajur dan anak buahnya adalah orang-orang yang jujur. Mereka memberikan informasi apa adanya tanpa dikurangi ataupun ditambahi, sedikitpun. Bajur dan anak buahnya juga merasa sangat berterima kasih kepada Prabu Jabang Wiyagra, karena sudah mau menerimanya di istana ini. Padahal, Bajur sempat ditahan di halaman istana, oleh para Pasukan Maha Wira yang sedang berjaga di istana tersebut. Tapi Bajur dan anak buahnya sama sekali tidak menyerah. Mereka memasak masuk ke dalam. Dan langsung mencari di mana keberadaan Prabu Jabang Wiyagra.


Hal yang sangat luar biasa, yang telah dilakukan oleh Bajur dan anak buahnya. Bajur tidak takut untuk mengungkapkan sebuah kebenaran. Sekalipun nyawanyalah yang harus dipertaruhkan. Bahkan saat ini, para Pasukan Maha Wira dan Pasukan Bara Jaya berkumpul di dalam istana Kerajaan Wiyagra Malela. Mereka khawatir, kalau sampai Bajur dan anak buahnya melakukan tindakan kejahatan kepada Prabu Jabang Wiyagra. Tidak ada satupun orang di istana ini yang percaya kepada Bajur, kecuali Prabu Jabang Wiyagra sendiri. Bajur dianggap remeh oleh semua orang yang ada di dalam istana ini. Tapi hal itu bisa dipatahkan, setelah Prabu Jabang Wiyagra dan Bajur keluar dari ruangan pribadinya. Prabu Jabang Wiyagra keluar dalam keadaan yang aman dan baik-baik saja.

__ADS_1


Semua orang yang berjaga di dalam istana pun merasa tenang, karena tidak terjadi sesuatu kepada Prabu Jabang Wiyagra.


"Kenapa kalian semua berkumpul di sini? Kenapa kalian tidak berjaga di luar?" Tanya Prabu Jabang Wiyagra kepada para Pasukan Maha Wira dan Pasukan Bara Jaya yang berkumpul di dekat ruangan tersebut bersama Maha Patih Lare Damar.


"Mohon maaf Kakang Prabu. Hamba dan para pengawal hanya ingin memastikan keadaan Kakang Prabu. Kami khawatir kalau sampai terjadi sesuatu." Jawab Maha Patih Lare Damar.


"Kenapa Maha Patih? Apa kamu tidak bisa membaca bagaimana hati dan pikiran orang ini? Dia adalah orang yang jujur. Bahkan, semua anak buahnya pun mengikuti kejujurannya."


"Ya. Terima kasih. Aku baik-baik saja. Sekarang, Bajur ini adalah saudara Kalian juga. Dia juga telah menyelamatkan Kerajaan Wiyagra Malela dari orang-orang licik, yang berusaha merusak kedamaian kerajaan ini."


"Maksud Kakang Prabu?" Tanya Maha Patih Lare Damar.


Perasaannya tiba-tiba saja tidak enak. Maha Patih Lare Damar sudah bersiap untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Prabu Jabang Wiyagra. Namun Prabu Jabang Wiyagra kemudian mengajaknya untuk masuk ke dalam ruangan pribadinya.

__ADS_1


"Ikutlah denganku ke dalam. Dan kalian, berikan saudara-saudara kalian ini pakaian dan makanan yang layak. Paham?"


"Paham Gusti Prabu."


Setelah itu, Prabu Jabang Wiyagra dan Maha Patih Lare Damar masuk ke dalam ruangan pribadi raja. Prabu Jabang Wiyagra kalau mengungkapkan semua yang terjadi di istana ini, kepada Maha Patih Lare Damar. Maha Patih Lare Damar merasa sangat marah dan geram, dengan ulah orang-orang yang ingin menghancurkan Kerajaan Wiyagra Malela dari dalam. Tetapi Prabu Jabang Wiyagra melarang Maha Patih Lare Damar, untuk tidak bertindak sendiri. Maha Patih Lare Damar diperintahkan untuk memimpin Pasukan Maha Wira dan Pasukan Bara Jaya, untuk menangkap seluruh pejabat istana, yang melakukan tindakan pengkhianatan, kepada Sang Maha Raja, Prabu Jabang Wiyagra. Karena jumlahnya lebih dari sepuluh orang, maka Maha Patih Lare Damar membutuhkan pasukan untuk menangkap mereka.


"Lakukan secara mendadak. Sebarkan seluruh pasukan di segala tempat, yang ada di istana ini. Jangan biarkan satupun dari mereka lolos. Ini daftar namanya." Perintah Prabu Jabang Wiyagra sembari memberikan daftar nama-nama para pejabat yang melakukan pengkhianatan.


"Ingat! Jangan sisakan satupun dari mereka. Habisi mereka semua. Tapi jangan sampai keluarga mereka tahu. Tutup mulut. Dan hilangkan sama bukti."


"Baik Kakang Prabu. Hamba laksanakan!"


"Ya!"

__ADS_1


__ADS_2