
Tidak ada satu pun orang yang ada di Kerajaan Jalukan Paksa yang mengira kalau akan ada penyerangan besar-besaran dari Kerajaan Antasura. Semua orang yang ada di Kerajaan Jalukan Paksa sedang berpesta.
Mereka semua sedang merayakan keberhasilan mereka karena telah menaklukkan sebagian kerajaan yang ada di wilayah Kerajaan Besar Antasura. Seperti biasanya, selalu ada perempuan, dan selalu ada minuman.
Mereka semua berpesta karena sekarang Kerajaan Jalukan Paksa sudah menjadi kerajaan besar yang sebentar lagi akan mengambil alih seluruh wilayah Kerajaan Antasura.
Tapi sepertinya, semua harapan itu akan pupus. Karena sekarang, pasukan Kerajaan Antasura, dan kerajaan-kerajaan yang ada dibawahnya sudah sampai di perbatasan Kerajaan Jalukan Paksa.
Pasukan dari Kerajaan Antasura langsung melakukan penyerangan secara membabi buta, setelah mereka sampai di perbatasan. Mereka menyerang dengan segala kekuatan yang mereka miliki.
Dalam waktu singkat, dua kerajaan kecil yang dibawah kepemimpinan Kerajaan Jalukan Paksa sudah hancur lebur, karena senjata raksasa yang mereka gunakan untuk menyerang kerajaan itu.
Prabu Bujang Antasura sudah tidak peduli dengan mantan para pendukungnya itu. Dia menganggap mereka sebagai pengkhianat, karena sudah berpindah haluan dan lebih memilih untuk bergabung dengan Kerajaan Jalukan Paksa.
Mereka semua dibunuh dan dibakar hidup-hidup. Malam yang meriah itu berubah menjadi sangat mencekam. Tidak ada satu pun orang yang dibiarkan hidup, bahkan semua desa dihancurkan sampai tak tersisa.
Kepulan asap melambung ke atas. Dengan warna merah yang menyoroti langit, sehingga semua orang yang melihat kejadian itu pun menjadi panik dan berusaha keluar dari rumah mereka.
Namun di kerajaan besarnya, Prabu Tunggal Digdaya sama sekali belum menyadari hal itu. Bahkan sampai pagi hari tiba. Tidak ada satu pun orang yang menyadari adanya penyerangan.
Orang-orang yang ada di istana juga tidak mendapatkan laporan apa pun, karena setiap tempat yang diinjak oleh Prabu Bujang Antasura pasti dibakar sampai tak tersisa.
Entah sudah berapa ribu orang yang mati pada malam itu. Jumlahnya sudah tidak terhitung.
Prabu Bujang Antasura dan pasukannya terus bergerak ke istana Kerajaan Jalukan Paksa. Mereka terus menyerang dan menyerang setiap wilayah Kerajaan Jalukan Paksa tanpa henti.
__ADS_1
Pasukan Kerajaan Antasura secara bergantian melakukan penyerangan, sehingga tidak ada jeda sedikit pun dalam serangan besar-besaran itu. Posisi mereka sudah sangat dekat dengan Kerajaan Jalukan Paksa.
Barulah disini para pasukan dari Kerajaan Jalukan Paksa mulai kepanikan. Mereka memukul bedug, tanda kalau istana sedang berada dalam keadaan genting. Semua orang pun keluar dari dalam istana, termasuk Prabu Tunggal Digdaya.
Maha Patih Tunggal Jagad langsung memerintahkan semua pasukannya untuk bersiap di benteng mereka, untuk mencegah pasukan dari Kerajaan Antasura. Tapi para prajurit istana itu hanya memiliki persenjataan seadanya. Karena mereka belum memiliki persenjataan seperti yang dimiliki oleh Kerajaan Antasura.
“Ada apa ini Maha Patih?!” Teriak Prabu Tunggal Digdaya.
“Mohon ampun Gusti Prabu. Kerajaan Antasura menyerang kita. Mereka membawa semua persenjataan dan seluruh pasukan yang mereka miliki.”
“Panggil bantuan! Cepat!”
“Maaf Gusti Prabu, sepertinya semua kerajaan yang mendukung kita juga sudah dibersihkan terlebih dahulu. Mereka terlihat sudah mengalami pertempuran panjang, Gusti Prabu.”
“Baik Gusti Prabu!”
Maha Patih Tunggal Jagad kemudian membawa sebagian pasukannya untuk menyerang pasukan Kerajaan Antasura secara langsung. Sedangkan sebagiannya lagi diperintahkan untuk menghalau pasukan Kerajaan Antasura jika sampai ada yang berhasil menerobos barisan pasukan Maha Patih Tunggal Jagad di barisan depan.
Jumlah pasukan Maha Patih Tunggal Jagad jelas tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pasukan Prabu Bujang Antasura yang jumlahnya sangat-sangat banyak.
“Ketapel! Tembak mereka semua!” Perintah Prabu Bujang Antasura.
Dengan cepat, para pasukan ketapel raksasa itu langsung menaruh batu-batu berukuran besar di pelontarnya. Dan sekali lesatan, baru berukuran besar itu sudah membuat puluhan pasukan Maha Patih Tunggal Jagad langsung ambruk bersama kuda mereka.
Serangan itu juga dilanjut dengan ratusan batu yang dilontarkan dengan puluhan ketapel raksasa. Dan hal itu membuat para prajurit dari Maha Patih Tunggal Jagad ketakutan. Bahkan ada beberapa dari mereka yang berusaha melarikan diri. Tapi jelas tidak berhasil, karena batu-batu yang dilesatkan menimpa mereka.
__ADS_1
Maha Patih Tunggal Jagad akhirnya memerintahkan pasukannya untuk menjaga jarak, supaya tidak banyak orang yang mati. Mereka masih terus berusaha menuju ke posisi musuh. Namun mereka juga dihadang oleh ribuan pasukan bertombak yang menjatuhkan kuda-kuda mereka.
Maha Patih Tunggal Jagad pun berhasil dijatuhkan dari kudanya. Dia langsung menarik pedang yang ada dipinggannya dan menyerang semua pasukan yang terus berusaha menyerangnya juga.
Jumlah mereka yang sangat banyak membuatnya kewalahan. Dia sulit melawan karena dia terus menerus dikepung dan dijepit oleh para prajurit tombak itu. Dia bahkan tidak memiliki kesempatan untuk mengeluarkan ilmunya, karena posisinya yang sangat sulit.
Sedangkan pasukannya juga sudah banyak yang mati dan mereka jelas tidak akan mampu menghadang gelombang pasukan Prabu Bujang Antasura yang terus menyerang tanpa henti.
Ditambah lagi dengan pasukan ketapel raksasa dan pelontar panah yang sekarang sudah mulai menyerang istana. Istana Kerajaan Jalukan Paksa yang baru dibangun itu jelas mengalami kehancuran parah, akibat serangan batu-batu besar dan juga jutaan panah terus menghujani tempat itu.
Melihat istana yang baru dibangunnya itu hancur, Prabu Tunggal Digdaya pun marah besar. Apalagi semua prajurit yang menjaga benteng istana juga sudah tewas semuanya, karena terkena batu-batu raksasa dan juga puluhan panah yang menancap ditubuh mereka.
Bahkan para raja yang mendukung Prabu Tunggal Digdaya juga sudah mati bersama para abdi istana yang lain, akibat serangan besar-besaran itu. Dan sekarang, hanya menyisakan Prabu Tunggal Digdaya sendiri.
Maha Patih Tunggal Jagad juga sudah kelelahan karena menghadapi pasukan yang jumlahnya ribuan. Dia juga mendapatkan serangan gabungan dari para patih Kerajaan Antasura. Sehingga dia tidak mampu lagi untuk melakukan perlawanan.
Setelah benteng beserta istana Kerajaan Jalukan Paksa hancur, serangan ketapel raksasa dan pelontar panah pun dihentikan. Dan sekarang, Prabu Bujang Antasura sudah menjambak kepala Maha Patih Tunggal Jagad untuk dipenggal dengan sebuah pedang yang ada ditangannya.
Prabu Tunggal Digdaya yang melihat hal itu pun tidak bisa berbuat banyak, karena dia masih harus memikirkan keselamatannya sendiri. Pasukan dari Kerajaan Antasura masih terlalu banyak untuk dia hadapi. Semua pasukan di kerajaannya pun sudah habis, beserta seluruh pejabat istana yang ada.
Dengan berat hati, dia terpaksa harus membiarkan Maha Patih Tunggal Jagad mati ditangan Prabu Bujang Antasura. Dengan sekali tebas, kepala Maha Patih Tunggal Jagad pun langsung putus. Setelahnya, kepala itu ditendang ke arah Prabu Tunggal Digdaya oleh Prabu Bujang Antasura.
“Hey Antasura! Kalau kau memang pemberani, hadapi aku! Satu lawan satu!” Teriak Prabu Tunggal Digdaya kepada Prabu Bujang Antasura.
Namun Prabu Bujang Antasura tahu, kalau itu hanyalah pancingan saja. Dia sudah bisa menebak seberapa besar kesaktian yang dimiliki oleh Prabu Tunggal Digdaya atau Gabah Lanang. Jadi, sebelum berhadapan dengan Prabu Tunggal Digdaya, Prabu Bujang Antasura ingin membuat Prabu Tunggal Digdaya kelelahan terlebih dahulu.
__ADS_1