DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 132


__ADS_3

"Aku ingin semua penjagaan di istana diperketat, begitu juga dengan semua wilayah-wilayah penting yang ada di Kerajaan Wiyagra Malela. Beritahu juga kerajaan yang ada dibawah pimpinanku untuk bersiap siaga setiap saat."


"....Karena aku tidak akan memberitahukan kapan aku akan memulai penyerangan ke Kerajaan Wesi Kuning. Siapkan semua pasukan dan persenjataan dari sekarang. Aku akan melakukan serangan secara mendadak." Ucap Prabu Jabang Wiyagra.


Semua rencana penyerangan sudah diatur oleh Prabu Jabang Wiyagra, bersama dengan Sang Maha Guru, dan juga Maha Patih Putra Candrasa. Sedangkan untuk pertahanan di dalam istana, akan dipegang sepenuhnya oleh Lare Damar dan seluruh pasukan Prabu Jabang Wiyagra yang berasal dari Gunung Khayangan.


Nyai Sukma Jaya juga turut membantu Prabu Jabang Wiyagra, dengan menambahkan jumlah pasukan Kerajaan Wiyagra Malela. Nyai Sukma Jaya memiliki pasukan jin yang bisa dia panggil sewaktu-waktu dia membutuhkannya. Bahkan Nyai Sukma Jaya juga memiliki ilmu yang bisa menundukkan bangsa lelembut.


Dengan ilmu yang dimilikinya, Nyai Sukma Jaya akan mengerahkan pasukan lelembut sebanyak yang ia bisa untuk menyerang para pasukan Prabu Bawesi. Nyai Sukma Jaya sempat ikut dalam rapat rahasia yang hanya dilakukan oleh Prabu Jabang Wiyagra, Maha Patih Putra Candrasa, Sang Maha Guru, dan juga Lare Damar.


Dia mengatakan kepada Prabu Jabang Wiyagra, kalau dia bisa membuat para pasukan Prabu Bawesi kehilangan kendali. Dengan cara, memanggil semua pasukan bangsa lelembut yang ia miliki untuk merasuki para pasukan Kerajaan Wesi Kuning di setiap penyerangan.


Dengan begitu, akan ada pertarungan antar pasukan Kerajaan Wesi Kuning. Sehingga Prabu Bawesi dengan terpaksa harus membunuh pasukannya sendiri. Dan yang paling penting adalah, 'Pasukan Emas' pimpinan Maha Patih Galangan.


Kalau 'Pasukan Emas' bisa dipengaruhi seperti pasukan yang lainnya, maka Prabu Jabang Wiyagra memiliki kesempatan besar untuk menaklukkan wilayah-wilayah penting dari Kerajaan Wesi Kuning. Bahkan Prabu Jabang Wiyagra bisa menaklukkan Kerajaan Wesi Kuning dengan mudah.


Rencana itu juga disetujui oleh Sang Maha Guru. Karena sekuat dan sesakti apa pun Prabu Bawesi, dia merasa sangat kerepotan, kalau harus menghadapi pasukannya sendiri. Dan hanya itu nilai yang tidak dimiliki oleh Prabu Bawesi.


Walaupun Prabu Bawesi juga memiliki pasukan lelembut, tapi dia tidak akan bisa mengeluarkan pasukan Nyai Sukma Jaya dari tubuh pasukannya sendiri. Dengan begitu, kekuatan pasukan dari Kerajaan Wesi Kuning akan berkurang drastis.


Prabu Jabang Wiyagra juga tidak perlu mengorbankan banyak sekali pasukan dalam penyerangan itu. Para pasukan yang ia bawa bisa ditugaskan di tempat lain yang belum ditaklukkan. Sehingga waktu untuk menaklukkan Kerajaan Wesi Kuning akan berjalan jauh lebih cepat.


Para pasukan lembut milik Nyai Sukma Jaya juga memiliki kalian dalam mencuri, menyembunyikan, dan juga menimbun emas. Sedangkan emas adalah penghasilan terbesar milik Kerajaan Wesi Kuning. Kalau pendapatan mereka ditekan, maka mereka akan mudah untuk ditaklukan.


Prabu Jabang Wiyagra dan yang lainnya juga menyetujui rencana tersebut. Karena Prabu Jabang Wiyagra memang sedang membutuhkan banyak sekali pasukan. Bukan hanya untuk penyerangan, tetapi juga pasukan untuk pertahanan. Karena perang kali ini, Prabu Jabang Wiyagra akan turun langsung dan menghadapi Prabu Bawesi.


Istana tentu saja akan rentan terhadap penyusupan dan penyerangan, selama Prabu Jabang Wiyagra pergi. Apalagi saat ini Patih Kinjiri dan juga para pendekar kelompok Mangku Cendrasih masih bertugas di benteng pertahanan untuk merebut seluruh wilayah kekuasaan Kerajaan Gelap Ngampar. Yang setengahnya sudah berhasil dikuasai.

__ADS_1


Patih Kinjiri dan para pendekar yang ada dibawah pimpinannya, saat ini sedang berkonsentrasi untuk kembali membangun benteng-benteng pertahanan di seluruh wilayah yang sudah ditaklukan. Dan Jumlah pasukannya pun semakin hari semakin bertambah banyak. Karena banyak sekali prajurit Kerajaan Gelap Ngampar yang menyerah.


Kalaupun mereka melakukan perlawanan, perlawanan mereka akan sia-sia saja, karena mereka tidak memiliki pemimpin yang kuat yang bisa mengarahkan mereka dalam hal peperangan. Sisa-sisa pasukan Kerajaan Gelap Ngampar dan Kerajaan Mangkon Rogo sekarang sudah banyak yang berpihak kepada Patih Kinjiri.


Karena sudah tidak lagi memiliki seorang pemimpin, wilayah dari dua kerajaan besar tersebut sangat mudah untuk ditunjukkan. Begitu juga dengan orang-orangnya yang mulai bisa menerima Patih Kinjiri sebagai pemimpin mereka saat ini. Sebagian rakyat dari dua kerajaan besar tersebut juga sudah melakukab sumpah secara serempak.


Mereka semua sudah bersumpah untuk setia kepada Kerajaan Wiyagra Malela, terutama kepada Prabu Jabang Wiyagra. Sedangkan sisa-sisa para pemberontak ataupun bandit, yang sempat diikutkan ke dalam peperangan, sekarang sudah mulai bersembunyi, dari satu tempat ke tempat yang lain agar mereka tetap bisa selamat dari kejaran Patih Kinjiri dan pasukannya.


......................


Seperti biasanya, Prabu Bawesi selalu berlatih di halaman istana setiap pagi. Prabu Bawesi terus-menerus melatih ilmu bela diri dan ilmu kanuragannya agar semakin meningkat. Di tempat latihan yang sangat luas itu, Prabu Bawesi benar-benar menunjukkan kemampuannya.


Awalnya Prabu Bawesi hanya mengancurkan kendi dan kayu yang sangat tebal, lalu disusul dengan menghancurkan sebuah batu yang sangat besar, tanpa menyentuh batu tersebut. Prabu Bawesi memang memiliki tempat latihannya sendiri, dikarenakan ukuran tubuhnya yang sangat besar.


Dalam sekali latihan, Prabu Bawesi bisa membuat tanah-tanah di sekitarnya menjadi retak. Bahkan tapak kaki Prabu Bawesi bisa meninggalkan bekas yang jelas pada tanah yang ia injak.


Para pengawalnya pun datang berbondong-bondong mendengar panggilan dari raja mereka.


"Hamba Gusti Prabu!"


"Bereskan tempat ini sekarang."


"Baik Gusti Prabu."


Prabu Bawesi lalu duduk bersila di sebuah pendopo untuk menikmati makanan dan minuman yang sudah disediakan oleh para pelayan. Dia melihat ke sekelilingnya, menatap dinding-dinding besar yang mengelilingi seluruh istananya yang sangat mewah dan megah.


Istana yang ia bangun dengan susah payah, dan kerajaan yang ia bangun dengan darah, sekarang sudah menjadi kerajaan besar yang sangat ditakuti. Prabu Bawesi lalu memanggil Maha Patih Galangan untuk menemaninya berbincang di Pendopo ini.

__ADS_1


"Pengawal! Katakan pada Maha Patih Galangan untuk menghadapku sekarang juga."


"Baik Gusti Prabu."


Salah pengawal yang menemani Prabu Bawesi di Pendopo itu pun langsung bergegas menuju ke ruangan pribadi Maha Patih Galangan.


"Mohon maaf Gusti Patih, hamba datang menyampaikan pesan." Ucap si pengawal.


"Ada apa pengawal?"


"Gusti Patih diminta untuk menghadap Gusti Prabu Bawesi di Pendopo tempat latihan."


"Ya. Terimakasih." Jawab Maha Patih Galangan.


Badannya yang tegap badan perkasa berjalan pelan menuju Pendopo tempat latihan yang dimaksud. Disana Prabu Bawesi sudah menunggunya dengan memegang sebuah cawan yang berisi minuman kesukaannya. Prabu Bawesi suka sekali meminum air jeruk yang diperas. Dan juga kue buatan para pelayannya.


"Hamba menghadap, Gusti Prabu." Ucap Maha Patih Galangan.


"Duduklah Maha Patih. Ada masalah penting yang harus aku bicarakan sekarang."


"Baik Gusti Prabu."


Prabu Bawesi menjelaskan kekhawatirannya kepada Maha Patih Galangan. Prabu Bawesi selama ini sudah mempelajari Kerajaan Wiyagra Malela, dan juga Prabu Jabang Wiyagra. Dia khawatir kalau sampai ada perselisihan antara Kerajaan Wesi Kuning dengan Kerajaan Wiyagra Malela.


Prabu Bawesi ingin mengutus Maha Patih Galangan ke Kerajaan Wiyagra Malela. Dan bertemu dengan Prabu Jabang Wiyagra, untuk membicarakan sebuah masalah penting yang kemungkinan besar akan menjadi pemicu peperangan antara dua kerajaan besar ini.


Maha Patih Galangan jelas tidak bisa menolak perintah Prabu Bawesi. Namun dia merasa ragu kalau harus pergi ke Kerajaan Wiyagra Malela. Karena Kerajaan Wiyagra Malela terdengar sangat kejam dan tidak berperasaan. Apalagi kalau sudah menyangkut soal penindasan.

__ADS_1


Karena selama ini, Prabu Bawesi sudah memperbudak banyak sekali orang di pertambangan, yang menimbulkan ribuan korban. Jelas itu akan menjadi alasan kuat bagi Prabu Jabang Wiyagra, kalau dia benar-benar ingin melakukan penyerangan. Padahal, Prabu Bawesi memiliki alasan kuat kenapa dia melakukan hal itu. Caranya memang salah, tapi bukan berarti tujuannya juga salah.


__ADS_2