
Di kerajaannya, Prabu Barajang sedang melakukan pertemuan dengan para raja-raja besar yang menjadi pendukungnya. Ada Prabu Pancaran, dari Kerajaan Pancanaka. Ratu Mekar Senggani, dari Kerajaan Panca Warna. Prabu Sora Gadang dari Kerajaan Segoro Geni. Prabu Sangga Manik, dari Kerajaan Sangga Bumi. Dan ada juga Prabu Gala Ganda dari Kerajaan Putra Bathara.
Mereka semua berkumpul di istana Kerajaan Bala Bathara, untuk membahas strategi penyerangan mereka ke Kerajaan Wiyagra Malela. Beberapa dari mereka merasa ragu untuk melakukan serangan besar-besaran itu. Mereka semua takut, kalau sampai mereka kalah dalam peperangan melawan Prabu Jabang Wiyagra, beserta seluruh pasukannya.
Namun Prabu Barajang berusaha meyakinkan mereka semua yang berkumpul di sana, kalau mereka jauh lebih hebat daripada sebelumnya. Prabu Jabang Wiyagra dianggap jauh lebih lemah sekarang. Alasan itu diperkuat dengan jumlah pasukan Prabu Jabang Wiyagra yang sudah berkurang. Hal itu sudah pasti, karena Prabu Jabang Wiyagra baru saja menyerang Kerajaan Wesi Kuning.
Sama halnya dengan musuh-musuh Prabu Jabang Wiyagra yang lain, Prabu Barajang juga menganggap remeh kekuatan pasukan Kerajaan Wiyagra Malela. Yang tidak ia ketahui, kalau keberhasilan Prabu Jabang Wiyagra dalam menaklukkan Kerajaan Wesi Kuning, adalah berkat bantuan dari Pangeran Rawaja Pati, yang kala itu berubah wujud menjadi seekor naga raksasa.
Namun dalam pikiran Prabu Barajang, Prabu Jabang Wiyagra melakukan serangan secara besar-besaran, dengan jumlah pasukan yang melebihi pasukan Prabu Bawesi. Karena selama ini, Prabu Jabang Wiyagra terkenal dengan pasukannya yang sangat banyak, dan tersebar di segala tempat. Sedangkan untuk kekuatan yang lain, jarang sekali ada musuh yang mengetahuinya.
Prabu Barajang juga sedang berusaha mencari orang yang mengetahui kelemahan Prabu Jabang Wiyagra. Tapi sampai saat ini dia belum menemukannya. Kalau dia bisa mengetahui kelemahan Prabu Jabang Wiyagra, maka barulah dirinya bisa memiliki kesempatan besar untuk menggapai kemenangan. Tapi semua itu hanyalah sebatas impian.
__ADS_1
"Aku berjanji kepada kalian semua, kalau aku akan memberikan wilayah penambangan yang ada di bekas Kerajaan Wesi Kuning, secara merata. Kita semua akan mendapatkan hasil yang sama. Bagaimana?" Tanya Prabu Barajang kepada mereka semua.
"Apakah kamu yakin kalau kita bisa memenangkan peperangan ini? Prabu Barajang?" Tanya Ratu Mekar Senggani.
Prabu Barajang sebenarnya sangat tidak menyukai keberadaan Ratu Mekar Senggani di kerajaannya. Namun karena dia memerlukan banyak sekali bantuan, mau tidak mau dia harus mengundangnya untuk datang ke istana ini. Hal yang paling tidak disukai oleh Prabu Barajang dari Ratu Mekar Senggani adalah sifatnya yang suka mengejek, dan meremehkan kerajaan-kerajaan yang lain.
Padahal kalau dilihat-lihat, Kerajaan Panca Warna yang dipimpin oleh Ratu Mekar Senggani tidaklah bisa melebihi kerajaan-kerajaan yang lain. Hanya saja, Ratu Mekar Senggani memiliki sebuah pasukan khusus, yang terkenal sangat mematikan. Dan semua anggota pasukan khusus itu adalah perempuan. Mereka sangat ditakuti karena suka memakan daging manusia.
Begitu juga dengan Ratu Mekar Senggani. Dia suka sekali mandi dengan darah perempuan yang masih perawan. Hal itu dilakukan karena Ratu Mekar Senggani menganut ilmu hitam yang dapat membuatnya tetap muda, sekalipun di usianya yang sudah sangat tua. Kegilaan Ratu Mekar Senggani tidak hanya sampai di situ saja. Dia bahkan sering melakukan hubungan dewasa dengan Maha Patihnya sendiri.
Apalagi sekarang sudah ada Maha Patih Baruncing, yang mampu memuaskan hasratnya. Jadi dia merasa tidak memerlukan lagi seorang suami. Selama Maha Patih Baruncing tetap hidup, maka kebutuhan biologis Ratu Mekar Senggani akan tetap terpenuhi. Dulu, sebelum ada Maha Patih Baruncing, Ratu Mekar Senggani selalu membunuh setiap pemuda yang selesai berhubungan dengannya, karena ia tidak pernah merasa puas.
__ADS_1
Namun semenjak dia menemukan laki-laki yang bisa memuaskannya, yaitu Maha Patih Baruncing, Ratu Mekar Senggani sudah tidak lagi melakukan hal itu. Pakannya tidak mau dekat dengan laki-laki lain, selain Maha Patih Baruncing. Ratu Mekar Senggani tidak pernah merasa malu berhubungan dengan abdinya sendiri. Sekalipun itu dilakukan di depan para abdinya yang lain.
Bahkan dari kabar yang beredar, Ratu Mekar Senggani suka melakukan hubungan badan bersama dengan para pelayannya. Dia mengajak para pelayan perempuan untuk menemaninya, saat ia sedang berhubungan badan dengan Maha Patih Baruncing. Dan itu ia lakukan hampir setiap hari. kegiatan menjijikan itu dilakukan atas dasar penghormatan kepada Ratu Mekar Senggani.
Yang lebih mengherankan adalah, banyak sekali para gadis yang dengan sukarela mengabdi kepada Ratu Mekar Senggani, hanya sekedar untuk menjadi pemuas nafsunya saja. Karena faktanya, Ratu Mekar Senggani bukan hanya gila kepada laki-laki. Tetapi dia juga gila kepada sesama perempuan. Bahkan tidak jarang juga perempuan yang sudah berumah tangga, rela meninggalkan keluarganya hanya untuk mengabdi kepada Ratu Mekar Senggani.
Memang, Ratu Mekar Senggani tidak menyengsarakan rakyatnya seperti para pemimpin yang lain. Ratu Mekar Senggani pakan suka sekali membantu rakyatnya yang sedang kesulitan. Sehingga dia benar-benar dicintai oleh rakyatnya sendiri. Tetapi, semua kebaikan itu jelas ada maksudnya. Ratu Mekar Senggani ingin mendapatkan kekuatan dan perlindungan yang besar. Yaitu rakyatnya sendiri.
Karena kalau rakyat sudah mencintai pemimpinnya, maka mereka akan rela mengorbankan apapun, sekalipun harga diri mereka. Tanpa mempedulikan resiko yang akan mereka tanggung ke depannya. Dan hal itu sudah berjalan di Kerajaan Panca Warna selama bertahun-tahun. Ratu Mekar Senggani berhasil membuat rakyatnya tunduk, dengan cara yang sangat-sangat halus.
Bahkan, sekalipun Ratu Mekar Senggani melakukan hal yang menyimpang, rakyatnya tetap akan membela dirinya. Walaupun tidak semua rakyatnya seperti itu, tetapi kebanyakan rakyat Kerajaan Panca Warna memiliki sifat yang hampir sama dengan Ratu Mekar Senggani. Dikarenakan Ratu Mekar Senggani selalu bisa menemukan celah untuk mempengaruhi rakyatnya sendiri, agar mengikuti apa yang ia yakini.
__ADS_1
Kecintaan rakyat Kerajaan Panca Warna terhadap Ratu Mekar Senggani semakin besar, saat Ratu Mekar Senggani memerintahkan para pasukannya untuk membangun sebagian besar rumah orang-orang yang miskin. Kala itu, Kerajaan Panca Warna baru saja berdiri. Jelas semua rakyatnya merasa senang karena mendapatkan bantuan. Ditambah Ratu Mekar Senggani juga mendoktrin semua rakyatnya.
Ratu Mekar Senggani menyebarkan ajaran yang sangat sesat. Rakyat yang tidak tahu apa-apa, jelas mengikutinya begitu saja. Apalagi Ratu Mekar Senggani adalah ratunya ilmu hitam. Jadi dia bisa menggunakan ilmu yang ia miliki, untuk mempengaruhi pemikiran orang lain. Sehingga siapapun yang sudah terkena pengaruhnya, maka akan sangat sulit disembuhkan. Kecuali mereka dibawa keluar dari wilayah Kerajaan Panca Warna.