
Beberapa hari kemudian,
Prabu Jabang Wiyagra pagi itu sedang duduk di taman bersama dengan Ratu Ayu Anindya. Mereka sedang bergurau dan berbagi cerita satu sama lain.
Karena beberapa hari sebelumnya, Prabu Jabang Wiyagra sempat menginap di beberapa tempat, saat dia berkunjung ke Kerajaan Antasura.
Untuk kesekian kalinya, Ratu Ayu Anindya harus ditinggal karena Prabu Jabang Wiyagra masih harus bolak-balik ke Kerajaan Antasura untuk mengetahui perkembangan Prabu Bujang Antasura.
Saat Prabu Jabang Wiyagra dan Ratu Ayu Anindya sedang berbincang, datanglah seorang pelayan. Pelayan itu memberitahu, kalau Patih Kinjiri sudah pulang ke istana dan ingin bertemu dengan Prabu Jabang Wiyagra.
Prabu Jabang Wiyagra dan Ratu Ayu Anindya pun langsung berlalu dari tempat itu, menuju ke ruang singsana Prabu Jabang Wiyagra. Seperti biasanya, disana sudah ada para abdi istana yang sudah menunggunya. Termasuk Patih Kinjiri.
Patih Kinjiri pulang dengan membawa sebuah kendi. Katanya, kendi berukuran kecil itu berisi air yang dicampur dengan daun dan bunga. Air itulah yang nantinya harus digunakan untuk membasuh seluruh tubuh Prabu Bujang Antasura.
Namun disinilah akhirnya semuanya terkuak, kalau Lare Damar harus tetap tinggal di Gunung Khayangan, karena dia harus menjalankan syarat yang sudah dia sepakati dengan Eyang Badranaya.
“Apa syaratnya? Sehingga Lare Damar harus tinggal disana Patih?” Tanya Prabu Jabang Wiyagra.
Patih Kinjiri pun menceritakan semuanya dari awal. Kalau Lare Damar ingin mendapatkan obatnya, maka dia harus mau dinikahkan dengan anak angkat Eyang Badranaya.
Anak angkat Eyang Badranaya adalah si pendekar perempuan yang mampu memecah raganya menjadi sembilan. Sekaligus orang yang telah berhasil mengalahkan mereka berdua.
Nama si pendekar perempuan yang sakti mandraguna itu adalah Roro Pengasih. Nyai Roro Pengasih sudah hidup ratusan tahun di Gunung Khayangan. Dulu, dia hanyalah perempuan biasa, yang hidup di sebuah desa.
Pada waktu itu, ada segerombolan bandit yang menyerang desanya, dan menculik para gadis untuk dijadikan budak nafsu mereka. Tapi Nyai Roro Pengasih melawan dan membunuh salah satu dari mereka.
Setelah itu, Nyai Roro Pengasih melarikan diri ke sebuah hutan, dan bersembunyi di hutan itu selama berhari-hari. Dan di dalam hutan itu dia menemukan sebuah gua.
__ADS_1
Di gua itulah dia berdoa kepada Yang Maha Kuasa, selama berbulan-bulan tanpa henti. Dia meminta keadilan atas kematian kedua orang tuanya, sekaligus keadilan untuk dirinya yang hampir menjadi korban nafsu bejat para bandit.
Karena selama hidupnya, Nyai Roro Pengasih adalah orang yang sangat taat dan tidak pernah bersentuhan dengan laki-laki manapun, kecuali ayah kandungnya sendiri.
Sehingga karena sebuah sentuhan laki-laki, dia sudah merasa kalau dirinya sudah dikotori. Dan atas kesabarannya itu, Nyai Roro Pengasih diberi sebuah petunjuk.
Dia harus pergi ke sebuah tempat, yang sekarang tempat itu menjadi gunung berapi, yaitu Gunung Khayangan. Dan disanalah dia dipertemukan dengan Eyang Badranaya. Dan berguru kepadanya.
Eyang Badranaya sangat senang, karena dia dihadirkan seorang tamu yang sangat bersih hatinya, dan lurus jalannya. Sehingga tanpa pikir panjang, Eyang Badranaya menjadikan Nyari Roro Pengasih sebagai anaknya.
Sudah ratusan tahun Nyai Roro Pengasih tetap tabah dalam penantiannya, menantikan pasangan hidup yang benar-benar tulus, tabah, dan sabar dalam menghadapi apa pun.
Dan saat Lare Damar datang kesana, terasa semua doa-doa Nyai Roro Pengasih terjawab.
Karena selama ini, sudah ribuan orang yang datang ke Gunung Khayangan, dan hanya Lare Damar dan Patih Kinjiri-lah yang berhasil sampai ke puncak.
Nyai Roro Pengasih sudah jatuh cinta kepada Lare Damar saat pertama kali ia melihatnya. Tapi Lare Damar sama sekali tidak mengetahui, kalau Nyai Roro Pengasih diam-diam menaruh hati kepadanya.
Tapi hal tersebut tidak berlaku untuk Eyang Badranaya dan juga Nyai Roro Pengasih. Mereka berdua melihat Lare Damar dari sifatnya, bukan dari fisiknya. Karena fisik seseorang mudah untuk dirubah.
Dan benar saja, saat Lare Damar sudah sah menjadi suami dari Nyai Roro Pengasih, secara ajaib fisiknya berubah. Benar-benar berubah dan sangat tidak masuk akal. Bahkan Patih Kinjiri sampai saat ini masih tidak percaya dengan apa yang dia lihat disana.
Lare Damar seketika berubah menjadi pemuda yang tampan dan gagah perkasa. Badannya tinggi dan kekar. Dan hal itu pun tidak pernah disangka-sangka, sekali pun oleh Lare Damar sendiri.
Namun tak hanya sebatas menikah saja, sesekali Lare Damar harus pergi ke Gunung Khayangan untuk menjenguk istrinya. Dan hal itu harus rutin ia lakukan setelah empat puluh hari, dari hari pernikahannya.
Karena Lare Damar sendiri juga tidak mungkin tinggal di Gunung Khayangan. Dia masih harus melanjutkan pengabdiannya kepada Prabu Jabang Wiyagra. Lare Damar diperbolehkan kembali ke istana setelah empat puluh hari.
__ADS_1
Prabu Jabang Wiyagra yang mendengar itu sama sekali tidak terkejut atau pun heran, karena dia sudah mengetahui apa yang akan terjadi kepada Lare Damar. Hanya saja dia tidak menyangka, kalau jodohnya adalah orang yang sudah mengalahkannya dalam pertarungan.
“Lantas kenapa kamu merasa sedih Patih Kinjiri?” Tanya Prabu Jabang Wiyagra.
“Maaf Gusti Prabu. Lare Damar mengajarkan hamba banyak hal. Kesabaran, ketabahan, ketaatan kepada Yang Maha Kuasa. Semuanya dia ajarkan kepada hamba.”
“......Kami melewati banyak hal saat perjalanan menuju ke Gunung Khayangan. Dan itu sangat membekas dan memiliki kesan yang luar biasa untuk hamba.”
“......Tapi hamba benar-benar tidak menyangka, kalau pada akhirnya hamba harus pulang sendirian.” Jawab Patih Kinjiri.
“Patihku, Lare Damar sedang memenuhi takdirnya. Begitu juga dirimu. Dirimulah yang harusnya menyembuhkan Prabu Bujang Antasura.”
“....Takdir Lare Damar adalah memastikan dirimu sampai ke puncak dengan keadaan baik-baik saja. Pada waktunya, dia pun akan kembali ke istana ini.”
“Nggih Gusti Prabu.”
Setelah itu, Prabu Jabang Wiyagra memerintahkan Patih Kinjiri dan Maha Patih Putra Candrasa untuk berangkat ke Kerajaan Antasura. Karena obat itu sangat-sangat dibutuhkan disana.
Maha Patih Putra Candrasa dan Patih Kinjiri pun langsung berangkat ke Kerajaan Antasura untuk menyerahkan obat untuk Prabu Bujang Antasura. Mereka berdua menggunakan ilmu kanuragan untuk mempersingkat perjalanan.
Di istananya, Prabu Bujang Antasura dan Prabu Bagas Candramawa masih terus bersabar menunggu dari Patih Kinjiri dan Lare Damar. Prabu Bujang Antasura masih belum tahu kalau obat yang ia butuhkan sedang dalam perjalanan.
Sakit yang terus menjangkit membuat Prabu Bujang Antasura mulai menyadari banyak hal. Dia belajar bagaimana rasanya menjadi orang yang sabar dan tabah dengan keadaan.
Prabu Bujang Antasura bersyukur, karena dia masih diberi kesempatan oleh Yang Maha Kuasa untuk menyadari semua kesalahannya.
Andai saja dia tidak sakit, dan waktu pertarungan itu dia mati, sudah pasti pintu neraka jahanam terbuka lebar untuk dirinya.
__ADS_1
Namun dengan sakit yang ia derita, ia memiliki banyak sekali kesempatan untuk memperbaiki kesalahan-kesalahannya di masa lalu. Terutama kesalahannya kepada rakyatnya sendiri.
Pada dasarnya, tidak ada satu pun makhluk di dunia ini yang mampu menghapus kesalahannya. Karena kesalahan hanya bisa ditebus. Dan hanya bisa ditebus dengan kebaikan.