DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : Episode 56


__ADS_3

Setelah mereka berdua melewati ujian pertama, mereka berdua pun sampai di sebuah tempat. Disana terdapat dua rumah kecil yang ukuran, dan bentuk rumahnya pun sama.


Di antara dua rumah kecil itu, ada seorang laki-laki yang sedang meminum air kelapa. Laki-laki itu menghalangi jalan yang akan dilewati oleh Patih Kinjiri dan Lare Damar.


Dia menatap ke arah Patih Kinjiri dan Lare Damar dengan tersenyum. Laki-laki itu kemudian berkata kepada mereka, kalau mereka ingin lewat, maka mereka harus masuk ke dalam kedua rumah itu.


Mereka harus memakan semua makanan yang ada di dua rumah itu, dan kalau makanannya tidak mereka makan, maka mereka akan mati. Jika semua makanannya habis tanpa sisa, mereka juga akan mati.


Kalau makanannya mereka lebihkan, maka mereka pun akan mati. Jadi, mereka harus memutar otak bagaimana caranya bisa melewati ujian itu. Mereka berdua kemudian setuju untuk masuk ke rumah yang sebelah kiri terlebih dahulu.


Disana sudah tersedia makanan yang sangat lezat, dan begitu banyak. Semua makanan itu disediakan di atas meja makan. Dan sudah ada dua kursi yang melengkapi meja makan itu.


Lare Damar dan Patih Kinjiri duduk di kursi itu. Mereka saling berfikir satu sama lain, apa yang akan mereka lakukan pada makanan ini. Karena semua pilihan mereka serba salah.


“Lare Damar, ujian macam apa ini. Semua pilihan yang ada menjebak kita berdua.”


“Tenang. Pasti ada cara untuk memecahkan masalah ini.”


Lare Damar menaruh kedua tangannya di atas meja, dia memegangi sendok makanan yang terbuat dari kayu. Dia sama sekali tidak selera dengan semua makanan yang ada dihadapannya. Padahal dia sudah lapar.


Hal itu juga sama dirasakan oleh Patih Kinjiri. Perutnya sudah keroncongan. Tapi semua makanan lezat itu tidak mengundang nafsu makannya sama sekali. Bahkan untuk menyentuhnya saja dia tidak mau.


“Ha! Aku tahu!” Ucap Lare Damar.


“Apa?”

__ADS_1


Tidak ada yang tahu apa yang mereka lakukan di dalam. Termasuk si laki-laki yang ada di tengah jalan itu. Dia sudah yakin, kalau mereka berdua pasti akan mati.


Namun, tiba-tiba Lare Damar dan Patih Kinjiri keluar dari rumah itu. Dan mereka melanjutkan kembali ke rumah sebelah kanan. Hal itu membuat si laki-laki heran.


“Hey! Jangan senang dulu. Yang ini jauh lebih berat!” Ucap laki-laki itu.


Lare Damar dan Patih Kinjiri hanya tersenyum kepada laki-laki itu. Laki-laki berbadan kurus itu sepertinya kesal melihat keberhasilan mereka di rumah yang pertama.


Tapi dia masih tetap yakin, kalau yang satu ini, Patih Kinjiri dan Lare Damar akan mati, karena mereka tidak memiliki pilihan apa pun. Selain menjadi mayat di tempat ini.


Tetapi sungguh sangat mengejutkan, lagi-lagi Lare Damar dan Patih Kinjiri keluar dengan penuh percaya diri. Laki-laki itu pun langsung berdiri dan melotot ke arah mereka berdua.


“Pasti kalian berbuat curang!”


“Apa?! Cepat jawab!” Bentak laki-laki itu.


Lare Damar pun menjawab, kalau dia dan Patih Kinjiri sudah merasa cukup dengan apa yang mereka dapatkan hari ini. Yang pertama adalah keselamatan. Dan yang kedua, makanan di kedua rumah itu bukanlah makanan mereka.


Tidak ada pemilik rumah yang menyambut mereka dan menawarkan makanan itu kepada mereka, jadi mereka memutuskan untuk tidak menyentuhnya sedikit pun.


Cara yang mereka lakukan di rumah yang pertama berhasil, makanan seketika lenyap dari meja makan, setelah Lare Damar mengatakan sebuah kalimat.


Kalimat itu berbunyi,


“Wahai makanan, pemberian Yang Maha Kuasa. Engkau bukanlah hakku. Dan bukanlah hak siapa pun. Maka aku tidak akan memakanmu dan tidak pula membuangmu.”

__ADS_1


“.....Kembalilah kepada Sang Pencipta, seperti saat pertama kali engkau hadir di rumah yang megah ini.”


Dan kalimat itu juga diucapkan oleh Patih Kinjiri di rumah yang kedua. Sehingga sekarang tidak ada makanan atau apa pun di dua rumah kecil itu. Kecuali, rumah kosong tak berpenghuni.


“Kalian berdua memang cerdik. Biasanya orang-orang yang datang ke tempat ini akan melahapnya sampai habis tanpa sisa. Mereka tidak berfikir, kalau makanan yang mereka makan bisa membunuh diri mereka sendiri.” Ucap si laki-laki.


“Ya. Kami hanya berusaha semampu kami. Dan sekarang tidak ada makanan. Maka kami tidak akan memakan atau membuang makanan apa pun.” Jawab Patih Kinjiri.


Orang itu pun memuji kesabaran dan ketabahan mereka berdua. Sama seperti manusia kera, si laki-laki juga memberikan mereka sebuah hadiah yang sangat spesial untuk mereka berdua.


Si laki-laki memberikan sebuah kemampuan baru kepada mereka berdua. Si laki-laki memegang dada mereka dan menyalurkan ilmunya kepada Patih Kinjiri dan Lare Damar.


Ilmu itu adalah ilmu yang bisa mereka gunakan untuk berbicara dengan tumbuhan dan hewan. Sehingga mereka berdua bisa mengerti dan memahami bahasa tumbuhan dan hewan secara fasih.


Dengan kemampuan tersebut, mereka akan mudah menemukan jalan menuju tempat yang mereka tuju. Mereka bisa bertanya kepada tumbuhan dan hewan yang mereka temui di tempat ini.


Setelah berpamitan, si laki-laki pun menghilang dari tempat tersebut. Begitu juga dengan dua rumah kecil yang ada disana. Tempat itu kini berubah menjadi pepohonan dan rerumputan.


Mereka berdua pun akhirnya kembali melanjutkan perjalanan. Semakin mereka jauh naik ke atas, maka ujian yang mereka lewati akan semakin berat dan semakin membuat mereka kebingungan.


Itulah kenapa jarang sekali orang yang bisa datang ke tempat ini bisa selamat. Karena kebanyakan dari mereka lebih menuruti hawa nafsu mereka tanpa memikirkan bagaimana resikonya.


Sedangkan Patih Kinjiri dan Lare Damar selalu menghadapi setiap ujian yang ada di depan mereka dengan penuh kesabaran dan ketabahan. Mereka juga tidak lupa berdoa setiap kali mereka akan melanjutkan kembali perjalanan mereka.


Mereka berdua selalu bertukar fikiran, sehingga sesulit apa pun ujian yang mereka hadapi di tempat itu, mereka selalu kuat dan berhasil menghadapinya dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2