DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 229


__ADS_3

Para pasukan yang ada di perbatasan Kota Karta Mulya sudah mengetahui kalau akan ada penyerangan ke wilayah tersebut. Mereka semua sudah bersiap dengan senjata di tangan mereka masing-masing. Namun, kali ini mereka hanya akan melakukan serangan dari jarak jauh dengan senjata meriam dan panah saja. Mereka tidak boleh melakukan kontak langsung dengan musuh


Karena jika mereka melakukan kontak langsung dengan musuh, maka mereka semua bisa habis tanpa sisa, karena jumlah mereka tidak seberapa dibandingkan dengan musuh-musuh yang mereka hadapi. Prabu Barajang sudah mengirimkan beberapa pasukannya yang dipimpin oleh para Patih untuk melakukan penyerangan. Mereka menggunakan manjanik untuk menyerang pasukan penjaga benteng perbatasan.


Setelah dikira cukup, para Patih langsung memerintahkan para pasukan manjanik untuk melakukan serangan.


"Mulai penyerangan!" Perintah salah seorang Patih kepada pasukannya.


Suara terompet dan bedug berbunyi di seluruh tempat. Baik di tempat pasukan Kerajaan Bala Bathara, ataupun di benteng perbatasan. Semua pasukan yang ada riuh ke sana kemari untuk menggunakan semua senjata meriam yang ada di sana. Para pasukan yang jumlahnya hanya dua ratus orang itu harus berhadapan dengan ratusan pasukan manjanik yang sudah mulai melakukan penyerangan.


"Bertahan! Terus lawan mereka! Tembak terus!" Perintah salah seorang Patih yang ada di benteng perbatasan.


Pasukan yang ada di benteng perbatasan tersebut terus-menerus menembakkan meriam meriam mereka. Pasukan manjanik Prabu Barajang dibuat sangat kerepotan menghadapi para pasukan penjaga benteng perbatasan itu. Dikarenakan beberapa senjata manjani sudah hancur, beserta para prajurit yang menggunakan senjata tersebut. Walaupun jarak tembakan senjata manjanik bisa mencapai jarak yang sangat jauh, tetapi tingkat akurasinya masih kalah dengan senjata meriam.


Apalagi senjata mancanegara ini cukup merepotkan karena harus dikendalikan oleh beberapa orang. Senjata ketapel raksasa tersebut harus diisi dengan batu terlebih dahulu, yang batunya berukuran sangat besar, dan akan sulit jika hanya diangkat oleh satu orang saja. satu senjata menjadi membutuhkan lebih dari lima orang. Sedangkan senjata meriam hanya diperlukan dua orang saja, itupun untuk meriam berukuran besar.

__ADS_1


Sedangkan untuk senjata-senjata meriam yang berukuran kecil, masih mampu dikendalikan oleh satu orang. Jadi, pasukan manjanik Prabu Barajang benar-benar kesulitan untuk menghadapi para pasukan meriam itu. Prabu Barajang juga tidak berani melakukan penyerangan secara langsung, kalau senjata-senjata meriam itu masih berada di sana. Prabu Barajang akan mengerahkan pasukan lagi, jika para pasukan yang mengendalikan senjata meriam itu sudah habis.


Dalam penyerangan kali ini, dia tidak mau ambil resiko, dengan mengorbankan banyak pasukannya hanya untuk menghadapi segelintir orang. Prabu Barajang benar-benar dihadapkan kepada kesabaran yang luar biasa. Karena kalau sampai dia terpancing dan melakukan penyerangan secara besar-besaran, bisa dipastikan sama pasukannya yang akan habis di tempat itu, oleh para pasukan meriam-meriam penjaga benteng perbatasan ini.


Prabu Barajang lalu memberikan perintah kepada Maha Patih Kana Raga untuk pergi bersama beberapa orang Patih dan prajurit, untuk bergerak sedikit demi sedikit, ke area benteng perbatasan. Maha Patih Kana Raga berusaha untuk mengelak dan menolak perintah tersebut, karena itu akan sangat membahayakan dirinya sendiri. senjata-senjata meriam itu menyerang dengan cara bergiliran.


Kalau Maha Patih Kana Raga menerobos masuk ke sana, dia akan menemukan banyak sekali kesulitan. Maha Patih Kana Raga harus pintar-pintar dalam menghindari setiap serangan dari senjata-senjata meriam itu.


"Maha Patih, aku ingin kamu pergi ke sana dengan beberapa orang Patih dan juga prajurit. Aku percaya kamu bisa melakukannya. Karena kalau terus-menerus seperti ini, para pasukan manjanik akan habis." Perintah Prabu Barajang.


"Mohon ampun Gusti Prabu. Hamba harus menolak perintah ini. Mengerahkan pasukan ke sana, sekalipun jumlahnya sedikit, itu akan membunuh mereka semua, Gusti Prabu. Senjata-senjata meriam itu menyerang secara bergiliran, sehingga serangannya tidak pernah berhenti Gusti." Jawab Maha Patih Kana Raga.


"Apa yang dikatakan oleh maha Patih Kana Raga memang benar Gusti Prabu. kalau Gustu Prabu mengerahkan para pasukan ke sana sekarang, maka seluruh pasukan Gusti Prabu akan habis, sedikit demi sedikit." Mbah Gagang mencoba untuk melindungi Maha Patih Kana Raga.


"Kalau begitu, aku akan mengerahkan jumlah pasukan yang sangat banyak. Dengan berbagai macam pasukan yang aku kirimkan ke benteng perbatasan itu, para pasukan yang berjaga di sana akan kewalahan menghadapi kedatangan kita. Awalnya aku pun ragu untuk melakukannya, tapi keraguan itulah yang membuat kita terhenti di tempat ini." Ucap Prabu Barajang sembari meninggalkan Maha Patih Kana Raga dan Mbah Gagang.

__ADS_1


Mbah Gagang dan Maha Patih Kana Raga seperti mendapatkan berlian, dikarenakan Prabu Barajang sudah terpancing oleh ambisinya sendiri untuk sesegera mungkin menaklukkan Kerajaan Wiyagra Malela. Mbah Gagang dan Maha Patih Kana Raga merasa sangat senang kalau Prabu Barajang benar-benar melakukannya. Karena mereka berdua akan memiliki banyak kesempatan untuk menghabisi Prabu Barajang.


Prabu Barajang sendiri mulai berpidato untuk memberikan semangat kepada para pasukannya. Yang pada ujungnya, dia ingin mengerahkan seluruh pasukannya untuk menyerang dan menggempur habis semua pasukan pertahanan, yang ada di benteng perbatasan Kota Karta Mulya. Prabu Barajang sudah tidak sabar lagi ingin sekali berkuasa di Kerajaan Wiyagra Malela, yang ditinggal sangat megah dan mewah.


"Pasukanku! Yang gagah! Dan pemberani!"


Prabu Barajang berpidato di atas kuda kesayangannya dengan penuh semangat, agar para pasukannya juga merasakan semangat dalam diri mereka.


"Aku tidak bisa menjamin bahwa kalian semua bisa pulang dalam keadaan hidup! Tapi apa yang kalian lakukan di tempat ini adalah untuk memperjuangkan harga diri Kerajaan Bala Bathara! Untuk memperjuangkanmasa depan yang sejahtera! Yang sudah menanti kalian di depan mata!"


"....Dan sekalipun kalian semua mati di tempat ini! Orang tua kalian! Keluarga kalian! Anak-anak kalian! Dan istri-istri kalian! Yang akan menikmati masa depan cerah itu! dan Untuk mewujudkannya! Berjuanglah bersamaku!" Ucap Prabu Barajang sembari bergerak menuju ke depan.


Hal itu pun akhirnya disusul oleh para pasukannya yang lain. Para pasukan Prabu Barajang begitu bersemangat, karena sekarang raja mereka sudah berani turun tangan secara langsung. Maha Patih Kana Raga dan Mbah Gagang hanya tersenyum melihat perilaku Prabu Barajang, yang mereka anggap seperti anak kecil. Karena bagi mereka berdua, sikap seperti itu tidak menunjukkan aura seorang pahlawan sama sekali.


Justru, dengan sikap Prabu Barajang yang berusaha untuk berani di depan pasukannya akan membuatnya kalah. Prabu Barajang tidak memiliki kemampuan lebih, tanpa pasukan yang ada di belakangnya. Prabu Barajang akan menggunakan para pasukannya, untuk melindungi dirinya sendiri. Agar dia bisa sampai ke dalam benteng perbatasan, dan menghabisi semua pasukan penjaga yang ada di sana.

__ADS_1


__ADS_2