
Penyergapan besar-besaran yang dilakukan oleh Prabu Putra Candrasa dan pasukannya di pertambangan emas tersebut, membuat pasukan Prabu Barajang yang lainnya, menjadi ketar-ketir untuk melanjutkan serangan mereka ke wilayah musuh. Karena jumlah mereka sekarang sudah berkurang sangat banyak.
Mendengar kalau sebagian pasukan bantuannya tewas di Pertambangan emas, Ratu Mekar Senggani langsung mendatangi istana Kerajaan Bala Bathara, untuk menemui Prabu Barajang. Di sana Ratu Mekar Senggani langsung marah-marah, dan mengeluarkan sumpah serapahnya, kepada Prabu Barajang.
Dia sangat-sangat kecewa kepada Prabu Barajang, karena sudah melanggar kesepakatan yang telah mereka buat. Padahal pasukan yang dikirimkan oleh Ratu Mekar Senggani adalah pasukan-pasukan yang terbaik. Mereka semua sangat berpengalaman dalam hal pertempuran.
Tetapi karena perintah konyol dari Prabu Barajang, sekarang mereka semua sudah tewas tak tersisa. Dan tidak ada satupun kelompok pasukan yang mau mengambil mayat mereka, di pertambangan emas tersebut. Karena tempat itu masih sangat rawan dengan serangan musuh.
Prabu Barajang hanya bisa terdiam menunduk mendengar sumpah serapah dari Ratu Mekar Senggani. Dia bahkan tidak mendengarkan ucapan siapapun, termasuk ucapan Maha Patih Salara. Orang yang sangat ia percaya, yang sudah lama menjadi Maha Patih, sekaligus penasehatnya.
Prabu Barajang benar-benar tertekan, setelah mendengar kalau semua pasukannya yang ada di wilayah perbatasan mati tak tersisa. Dan hanya menyisakan para pasukan yang ada di belakang garis perbatasan. Yang jumlahnya tidak seberapa kalau dibandingkan dengan pasukan Prabu Putra Candrasa.
Prabu Barajang lalu pergi meninggalkan ruang singgasananya, menuju kamar pribadinya. Meninggalkan Ratu Mekar Senggani yang terus saja mengoceh kepadanya. Ya benar-benar sudah tidak peduli dengan apapun. Keadaan ini semakin membuatnya takut akan Prabu Jabang Wiyagra.
Karena dalam benaknya, Prabu Putra Candrasa saja bisa sehebat itu, apalagi dengan Prabu Jabang Wiyagra sendiri. Sudah pasti dia akan kalah telak kalau berhadapan dengan Prabu Jabang Wiyagra secara langsung. Ditambah dengan strateginya yang selalu gagal. Dan sangat mudah ditebak oleh musuh.
Kekalahan pasukannya di pertempuran, akan sangat membekas dalam diri Prabu Barajang. Prabu Barajang melampiaskan semua kesalahannya dengan membanting semua barang apa saja yang ada di dalam kamar pribadinya itu. dirinya dipenuhi dengan kemarahan dan juga kesedihan yang sangat mendalam.
__ADS_1
Selama ini Prabu Barajang tidak pernah melakukan kebodohan semacam ini. Karena dia tidak pernah mengotori tangannya sendiri, dan lebih sering bermain di belakang layar. Tetapi hari ini harus menerima kenyataan, bahwa dia benar-benar orang yang sangat bodoh, payah dan sudah tidak pantas lagi disebut sebagai seorang raja.
Prabu Barajang hanya bisa menangis, dan tidak tahu lagi harus berbuat apa. Prabu Barajang seakan hampir gila, setelah dia mendengar kabar bahwa pasukannya kalah. Walaupun masih ada yang hidup, tetapi tetap saja hal itu tidak akan membuatnya senang. Apalagi emas yang ia mimpi-mimpikan sama sekali tidaklah nyata.
Semua emas yang ada di sana hanyalah tipuan untuk memancing Prabu Barajang dan pasukannya datang ke tempat itu. Andaikan saja Prabu Barajang tetap pada rencana pertama, mungkin sekarang dia sudah menguasai beberapa pertambangan emas. Karena sekalipun dia kalah di tangan Prabu Jabang Wiyagra, dia tetap mendapatkan banyak keuntungan.
Tetapi semuanya sudah terlanjur. Jadi tidak bisa memutar kembali waktu yang sudah ia lewati. Dia hanya bisa menerima semuanya. Apapun keadaannya sekarang, semua akibat ulahnya sendiri. Kalau dia fokus kepada sasarannya, tentu hasilnya tidak akan sehancur ini. Walaupun mungkin dia tetap akan kalah, tapi setidaknya dia masih memiliki banyak harapan untuk bisa menang.
Sekarang, jangankan untuk menang. Untuk mengembalikan kembali jumlah pasukannya saja dia tidak tahu harus bagaimana. Karena setelah dia kalah dalam peperangan, tentu saja orang-orang akan semakin membencinya. Karena kebanyakan pasukannya berasal dari para pemuda yang dipaksa untuk bergabung. Kalau tidak ada paksaan, Prabu Barajang belum tentu memiliki pasukan.
Belum lagi dengan para raja yang sudah mendukungnya. Mereka jelas akan sangat kecewa. Bahkan, mereka bisa mendeklarasikan perang kepada Prabu Barajang, karena sudah mengingkari janji-janjinya. Pertempuran kemarin hanyalah pertempuran kecil yang belum ada apa-apanya. Belum sampai kepada peperangan besar. Dia masih harus menghadapi gelombang serangan balasan dari Prabu Jabang Wiyagra dan pasukannya.
Bagi siapa saja yang berani lewat tanpa adanya surat izin, maka akan langsung dibantai. Sekalipun itu sesama prajurit Kerajaan Wiyagra Malela. Karena jalur rahasia itu sangatlah penting. Di tempat itu juga banyak sekali 'Jebakan Tikus', yang bisa membunuh siapa saja, jika tidak mengerti mana jalur yang aman, dan mana jalur yang berbahaya.
Strategi yang diatur oleh Prabu Putra Candrasa benar-benar membuat semua musuh Prabu Jabang Wiyagra harus berfikir keras untuk membalas serangan balasan yang sudah mulai dilancarkan. Para musuh Prabu Jabang Wiyagra sudah tidak memiliki cukup kekuatan untuk menahan gelombang pasukan Prabu Jabang Wiyagra yang jumlahnya mencapai jutaan.
Kalau dihitung dengan para bangsa lelembut yang membantunya, maka Prabu Jabang Wiyagra memiliki setidaknya dua juta pasukan berani mati. Dan para anggota pasukan itu sangat berbahaya, lebih berbahaya dari semua pasukan yang ada di seluruh kerajaan di Tanah Jawa ini. Tidak akan ada satupun orang yang mampu menahan mereka, kalau mereka sudah memegang pedang di tangan mereka.
__ADS_1
Kekhawatiran itu tidak hanya dirasakan oleh Prabu Barajang saja, tetapi juga oleh raja-raja yang lainnya. Terutama dengan Ratu Mekar Senggani. Walaupun dia didampingi oleh Maha Patih Baruncing, tapi tetap saja dia tidak bisa tenang. Setelah kembali ke istananya, Ratu Mekar Senggani langsung marah-marah kepada semua orang yang ada di istananya. Terutama dengan Maha Patih Baruncing.
Ratu Mekar Senggani menyalahkan kematian para pasukannya, kepada para abdinya yang ia anggap bodoh, karena tidak mengawasi pergerakan Prabu Barajang dengan baik.
"Apa saja yang kalian kerjakan?! Ha?! Bagaimana bisa pasukan-pasukan terbaikku mati begitu saja! Di tangan satu orang! Kalian dengar?! Satu orang!"
".....Kalau saja kalian mengawasi si raja kepa-rat itu dengan baik, semuanya tidak akan berjalan seperti ini! Sekarang apa yang akan kita lakukan?! Apa yang akan kita lakukan?!" Ucap Ratu Mekar Senggani sembari memukuli para Patih dan para punggawa yang ada di ruangan singgasana itu.
Para abdinya hanya diam tanpa perlawanan. Mereka tidak mungkin melawan ratu mereka sendiri. Apalagi jasa Ratu Mekar Senggani sangatlah besar untuk mereka. Mereka benar-benar merasa malu, karena telah mengecewakan Ratu Mekar Senggani yang sudah berkorban banyak hal untuk semua orang yang ada di kerajaannya. Salah satu dari mereka kemudian memberanikan diri untuk mengatakan semua yang terjadi.
"Mohon maaf ampun Gusti Ratu. Prabu Barajang sebenarnya hendak menjalankan rencana pertama, tetapi karena dia termakan berita bohong yang sengaja disebarkan oleh Prabu Putra Candrasa, tentang bongkahan emas, dia berubah pikiran. Dan diam-diam mengalihkan semua pasukannya ke pertambangan, tanpa memberitahu siapapun. Termasuk Maha Patihnya sendiri." Ucap salah seorang Patih.
"Benar Gusti Ratu. Semua itu bukan sepenuhnya kesalahan kami, Prabu Barajang-lah yang seharusnya disalahkan atas semua musibah yang terjadi Gusti Ratu." Ujar yang lainnya.
"Perse-tan! Sekarang kalian semua persiapkan semua pasukan kita! Cepat atau lambat, pasti pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela akan sampai ke wilayah kita! Sekarang!" Perintah Ratu Mekar Senggani.
Semua orang langsung bergegas pergi dari sana. Termasuk Maha Patih Baruncing. Namun seperti biasanya, saat sedang banyak beban pikiran, Ratu Mekar Senggani pasti akan membutuhkan belaian dari Maha Patih Baruncing. Di saat-saat seperti ini, mereka masih sempat-sempatnya untuk berhubungan badan. Layaknya permaisuri dan raja.
__ADS_1
Suara-suara desa-han mereka terdengar ke hampir semua ruangan yang ada di istana itu. Mereka berdua benar-benar telah hanyut, dan tidak lagi mempedulikan lagi segala hal yang ada di sekitar mereka. Semua orang yang ada di sana sudah menganggap hal itu sebagai hal yang biasa. Karena Ratu Mekar Senggani akan selalu mencari kesempatan untuk bisa bercinta dengan Maha Patih Baruncing.