
Akhirnya, tibalah hari penghakiman kesembilan musuh besar Prabu Jabang Wiyagra. Suasana di halaman istana begitu ramai dengan orang-orang yang ingin melihat hukuman pancung para tahanan yang sudah lama berada di penjara bawah tanah. Dan ada sepuluh algojo yang tidak diketahui siapa wajahnya, yang telah siap memenggal kepala kesembilan tahanan besar tersebut.
"Wahai semua rakyat Kerajaan Wiyagra Malela! Aku Prabu Jabang Wiyagra! Hari ini memutuskan untuk menghukum semua musuhku! Di hadapan kalian semua!" Ucap Prabu Jabang Wiyagra dengan lantang di hadapan semua orang.
Kesembilan orang yang ada di hadapannya hanya bisa pasrah. Mereka menangis, gemetar, dan tidak ada satupun dari mereka yang bisa melakukan perlawanan. Dan yang sangat mengejutkan adalah, mereka semua yang sebelumnya sudah gila, hari ini, detik ini, mereka semua sadar, dan bahkan mereka memohon-mohon kepada Prabu Jabang Wiyagra untuk tidak dihukum pancung.
Namun Prabu Jabang Wiyagra sama sekali tidak mempedulikan ucapan mereka. Prabu Jabang Wiyagra sudah sangat geram dengan apa yang telah mereka lakukan. Prabu Jabang Wiyagra kembali melanjutkan pidatonya,
"Ingat! Ini adalah peringatan bagi siapa saja yang dengan berani menggunakan kekuasaannya untuk menindas orang lain! Aku tidak akan pandang bulu untuk mengadili siapa saja yang berani berbuat kekacauan! Apalagi menyangkut Kerajaan Wiyagra Malela!"
Semua orang yang ada di sana bersorak. Mereka semua benar-benar merasa puas dengan keputusan Prabu Jabang Wiyagra yang menjatuhkan hukuman pancung kepada musuh-musuhnya. Selama ini semua orang sudah menunggu untuk waktu yang lama. Mereka sudah tidak sabar melihat para algojo memotong-motong bagian tubuh kesembilan penjahat besar itu.
Sepuluh orang algojo, berbadan tinggi besar, dengan pedang yang besar pula di genggaman mereka. Semua wajah mereka tertutupi dengan topeng. Pakaian mereka serba hitam. Bahkan tinggi badan mereka pun sama. Sehingga sangat sulit untuk dikenali. Atas perintah Prabu Jabang Wiyagra, para algojo pun bersiap dengan mengangkat tinggi-tinggi pedang mereka.
Kepala dari sembilan orang itu diletakkan pada sebuah batu berbentuk persegi. Kedua tangan mereka diikat dengan rantai, di sebuah tiang besi. Leher mereka diganjal dengan sebuah kayu, agar kepala mereka tidak bisa bergerak. Semua algojo menunggu perintah dari Prabu Jabang Wiyagra untuk melayangkan pedang mereka.
Tapi pada saat Prabu Jabang Wiyagra mengatakan "Hantam!", tiba-tiba ada suara keributan di luar gerbang istana. Saat itu juga para Pasukan Bara Jaya langsung keluar dari markas mereka yang ada di dalam istana, menuju gerbang istana. Kekacauan itu terjadi di gerbang istana paling pertama, atau paling ujung. Di sana sudah ada ribuan orang yang sedang bertarung dengan para prajurit istana.
Entah bagaimana caranya mereka bisa sampai di tempat ini. Padahal seluruh penjagaan di wilayah Kerajaan Wiyagra Malela sudah diperketat. Namun orang-orang seperti mereka justru masih bisa memasuki wilayah Kerajaan Wiyagra Malela. Bahkan yang mengherankan adalah, mereka semua bisa masuk ke wilayah istana, tanpa diketahui oleh siapapun.
Akibat kekacauan itu, Prabu Jabang Wiyagra sempat menunda. Tapi itu hanya berlangsung beberapa saat, setelah Prabu Jabang Wiyagra memanggil Panglima Dara Gending dan juga Pasukan Bara Jaya. Para Pasukan Bara Jaya yang ada di istana langsung keluar untuk menghadang para penyerang tersebut. Kemudian, hukuman pancung kepada sembilan orang musuh besar Kerajaan Wiyagra Malela itu kembali dijalankan.
__ADS_1
Dimulai dari Gabah Lanang, yang menjadi musuh pertama Prabu Jabang Wiyagra yang paling berpengaruh. Sang Algojo langsung mengayunkan pedangnya, dan...
Sraaanggggg!!!
Craaaatttt!!!
Sekali tebas, kepala Gabah Lanang langsung menggelinding dari batang lehernya. Kedelapan orang lainnya berteriak histeris. Pedang yang digunakan oleh Sang Algojo benar-benar sangat tajam dan nampak mengerikan. Apalagi pedang itu sudah dipenuhi dengan cipratan darah Gabah Lanang yang sudah menyembur ke segala arah. Ditambah lagi Sang Algojo langsung memotong-motong tubuh Gabah Lanang menjadi beberapa bagian.
Kemudian lanjut kepada tahanan yang kedua, yaitu Prabu Suta Rawaja. Prabu Suta Rawaja berteriak kepada Prabu Jabang Wiyagra, dia memohon ampun sembari terus merengek agar tidak dihukum.
"Prabu Jabang Wiyagra! Aku mohon kepadamu! Aku berjanji! Aku berjanji akan berubah! Aku rela menjadi budakmu! Tapi.. Tol....."
Tiba-tiba Sang Algojo langsung menebas kepala Prabu Suta Rawaja. Dan hasilnya sama, kepala itu langsung menggelinding dengan bebas. Darah bercipratan ke tubuh Sang Algojo, dan langsung membasahi seluruh tubuhnya. Semua orang yang melihat hal itu sama sekali tidak merasakan takut sedikitpun. Mereka bahkan sangat senang, karena dua musuh besar Kerajaan Wiyagra Malela, sekarang hanya tinggal nama.
"Maha Raja! Ampunilah hambamu ini!" Teriak Maha Patih Jogo Rogo.
Prabu Jabang Wiyagra justru menjadi semakin kesal dan marah. Bahkan karena saking kesalnya, Prabu Jabang Wiyagra mengambil pedang Sang Algojo. Dengan kedua tangannya sendiri, Prabu Jabang Wiyagra langsung menebas kepala Maha Patih Jogo Rogo. Dan di sinilah semua orang kembali bersorak, dan membangga-banggakan nama besar Prabu Jabang Wiyagra. Karena tidak malu untuk mengotori tangannya sendiri.
"Hidup Maha Raja! Gusti Prabu Jabang Wiyagra!"
"Hidup!"
__ADS_1
"Hidup Gusti Prabu Jabang Wiyagra!"
Teriak semua orang yang ada di tempat itu.
Prabu Jabang Wiyagra kembali menyerahkan pedangnya kepada Sang Algojo. Dengan baju yang masih dipenuhi dengan darah, Prabu Jabang Wiyagra kembali duduk di kursinya, untuk melihat tahanan yang lain diberi hukuman. Di saat-saat terakhir inilah para tahanan mulai sadari dengan apa yang telah mereka berbuat. Mereka benar-benar sudah menyesali semuanya. Meskipun sudah terlambat, mereka tetap meminta maaf kepada Prabu Jabang Wiyagra atas apa yang telah mereka lakukan.
Prabu Jabang Wiyagra hanya jam dan menatap tajam ke arah keenam tahanan yang masih tersisa. Yang keempat, adalah giliran Prabu Garan Darang. Prabu Garan Darang mengucapkan beberapa patah kata dengan suara yang serak,
"Maafkan aku... Gusti Prabu Jabang Wiyagra... Dan terimakasih untuk semuanya."
Setelah mengucapkan kata-kata itu, nasib Prabu Garan Darang berakhir sama seperti yang lainnya. Para tahanan yang lain hanya bisa diam serta berdoa kepada Yang Maha Kuasa, memohon pengampunan atas semua kesalahan mereka selama ini. Dan berdoa adalah satu-satunya hal terakhir yang bisa mereka lakukan. Karena setelah ini mereka tidak akan pernah ada lagi di dunia ini. Mereka akan pulang tanpa nama. Dan orang-orang akan melupakan mereka semua.
Selanjutnya adalah Aji Guruh, yang kemudian disusul dengan Kebo Walik. Setelah dua orang itu tinggal tersisa Maha Patih Baruncing, Maha Patih Raseksa, dan juga Ditya Kalana. Karena kedua orang Maha Patih itu adalah orang yang sangat penting, maka yang melakukan eksekusi adalah Maha Patih Kumbandha. Maha Patih Kumbandha diberi perintah secara langsung oleh Prabu Jabang Wiyagra untuk mengeksekusi mereka berdua.
Maha Patih Kumbandha lalu menetas kedua kepala orang itu hanya dengan sekali tebas. Sekali tebas, dua nyawa langsung melayang. Dan sekarang, tersisalah satu orang. Yaitu Ditya Kalana. Ditya Kalana hanya bisa menangis sesenggukan melihat nasib kedelapan orang yang sudah meninggalkannya terlebih dahulu. Sekaligus dia pun meratapi nasibnya yang akan sangat-sangat buruk, yang tidak pernah sekalipun ia inginkan di dalam hidupnya.
Prabu Sura Kalana lalu berdiri dan mengambil sebuah pedang yang diberikan oleh Prabu Jabang Wiyagra. Terlihat kalau ekspresi wajah Prabu Sura Kalana begitu datar dan tidak menunjukkan rasa belas kasihan sedikitpun kepada adiknya sendiri. Prabu Sura Kalana lalu berkata kepada Ditya Kalana,
"Adikku, kalau saja kau mau berubah, mungkin nasibmu tidak akan berakhir buruk seperti mereka. Maafkan aku, adikku. Aku harus melakukannya." Prabu Sura Kalana menarik nafasnya dalam-dalam dan mencoba menguatkan dirinya.
Biar bagaimanapun, Ditya Kalana adalah adiknya sendiri. Prabu Sura Kalana sebenarnya masih sangat berharap akan ada sebuah keajaiban yang bisa menyelamatkan Ditya Kalana. Tapi takdir berkata lain. Kenyataan tidak sesuai harapan. Saat Prabu Sura Kalana mengayunkan pedangnya ke leher Ditya Kalana, cipratan darah mengenai wajahnya. Prabu Sura Kalana cara terkejut langsung membuka kedua matanya yang sempat ia tutup, karena secara bersamaan dia juga sedang berdoa untuk Ditya Kalana, saat dia mengayunkan pedang di tangannya.
__ADS_1
Prabu Sura Kalana melihat sendiri bagaimana kepala Ditya Kalana yang menggelinding ke hadapan semua orang. Dan dengan jelas pula dia melihat, semua orang yang langsung meludahi kepala Ditya Kalana. Walaupun sedikit merasakan sakit hati di dalam dirinya, namun Prabu Sura Kalana tetap berusaha tegar, dan menerima kenyataan, bahwa adiknya memang pantas diperlakukan seperti itu. Bahkan hukuman pancung ini tidaklah cukup untuk menebus semua kesalahannya.