DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 156


__ADS_3

Walau pun Patih Kinjiri tidak melihat secara langsung keadaan Prabu Bawesi, tetapi Patih Kinjiri tahu bagaimana situasi di istana Kerajaan Wesi Kuning. Menurut Patih Kinjiri, sangat-sangat tidak mungkin kalau persiapan sebesar itu, hanya dipimpin oleh para raja-raja kecil saja. Para raja-raja yang ada di bawah kekuasaan Prabu Bawesi, tidak cukup memiliki pengaruh untuk melakukan hal sebesar itu.


Mereka perlu pengarahan dan juga perintah dari orang yang ada di atas mereka, yaitu Prabu Bawesi sendiri. Namun hingga saat ini, Prabu Bawesi belum menunjukkan keberadaannya kepada publik. Prabu Bawesi terus bersembunyi di dalam istananya dan juga tempat rahasia yang dibangun oleh para raja, khusus untuk dirinya.


Sesekali Prabu Bawesi keluar dari istananya, sekedar untuk menghangatkan tubuhnya di bawah sinar matahari. Namun setiap kali keluar dari istana, ataupun dari kamar pribadinya, Prabu Bawesi tidak pernah sekalipun melepaskan topengnya. Hanya baju bajanya saja yang sesekali ia lepaskan, saat Prabu Bawesi ingin bersantai di taman istana.


Kembali lagi kepada Patih Kinjiri. Patih Kinjiri memberitahukan semua yang ia ketahui di istana Kerajaan Wesi Kuning. Mulai dari jumlah pasukan, dan juga pertahanan yang mereka miliki, serta tempat-tempat penting bisa digunakan untuk melarikan diri oleh para pasukan Prabu Bawesi. Patih Kinjiri mencoba untuk membeberkan satu persatu.


"Jumlah pasukan yang ada di setiap keraton, sekarang sudah bertambah melebihi lima ribu orang. Mereka selalu melakukan patroli secara ketat, di setiap sudut keraton dan istana. Di salah satu bagian benteng keraton pertama, ada sebuah jalur bawah tanah yang menghubungkan antara satu keraton, dengan keraton yang lain." Beber Patih Kinjiri kepada Pangeran Rawaja Pati dan yang lainnya.


"Lalu apalagi yang engkau lihat Patih?" Tanya Pangeran Rawaja Pati.


"Kalau aku tidak salah, mereka juga sedang membuat senjata-senjata berat."


"Itu Itu pasti di dekat gudang penyimpanan logistik persenjataan." Sahut Maha Patih Galangan.


"Maksudmu?" Tanya Patih Kinjiri.

__ADS_1


"Ada sebuah gudang bawah tanah, yang cukup luas, yang menyimpan berbagai persenjataan lengkap milik pasukan khusus Prabu Bawesi. Senjata-senjata itu adalah senjata terbaik, yang tidak semua orang di istana bisa memilikinya. Terrmasuk aku."


".....Selama aku mengabdi kepada Prabu Bawesi, hanya beberapa orang saja yang mendapatkannya. Tapi mereka pun sudah mati sekarang. Dan senjata-senjata mereka kembali dimasukkan ke dalam gudang tersebut. Di gudang itu juga terdapat sebuah ruangan lain."


".....Ruangan yang jauh lebih luas daripada ruangan yang lainnya. Ruang bawah tanah yang luas tersebutlah, yang menjadi tempat untuk pembuatan senjata-senjata terbaik istana Kerajaan Wesi Kuning. Dan kebanyakan senjata yang dibuat di ruangan tersebut adalah senjata berat."


"......Ada lima titik di istana Kerajaan Wesi Kuning yang digunakan untuk tempat membuat senjata berat. Setiap ruangan memiliki fungsi dan tugasnya sendiri-sendiri. Ada yang digunakan untuk membuat kerangka senjata, ada yang membuat gambar, ada juga yang digunakan untuk menggabungkan setiap kerangka yang sudah selesai dibuat." Jelas Maha Patih Galangan.


Maha Patih Galangan mengetahui hampir setiap detail isi dari istana Kerajaan Wesi Kuning. Namun ia juga memiliki batasan, salah satunya adalah jalur rahasia yang disebutkan oleh Patih Kinjiri. Kemungkinan jalur raja tersebut dibangun belum lama ini. Karena saat Maha Patih Galangan masih menjabat, Prabu Bawesi belum memberikan perintah kepadanya untuk membangun jalur rahasia tersebut.


Prabu Bawesi akan membunuh mereka yang mengetahui banyak hal tentang Kerajaan Wesi Kuning. Karena Prabu Bawesi tidak mau kalau suatu hari nanti, rahasia di istana Kerajaan Wesi Kuning terbongkar keluar. Jadi Prabu Bawesi menerapkan hukum yang ketat kepada siapa saja yang terlalu banyak tahu tentang apa saja yang ada di kerajaannya.


Semenjak itu, Maha Patih Galangan sudah tidak heran kalau ada pasukan ataupun pejabat istana yang secara tiba-tiba menghilang tanpa jejak. Karena sudah pasti mereka dihabisi oleh Prabu Bawesi. Dengan alasan, demi menjaga rahasia di istananya tetap aman. Cara kejam itu sudah diterapkan oleh Prabu Bawesi selama bertahun-tahun.


Hal itu juga yang pernah membuat Prabu Bawesi dan Maha Patih Galangan berdebat panas. Dikarenakan Maha Patih Galangan tidak setuju kalau harus membunuh teman sendiri. Kalau soal membunuh musuh, Maha Patih Galangan siap untuk berdiri di garda terdepan. Namun Prabu Bawesi selalu memiliki argumen untuk membantah pemikiran Maha Patih Galangan.


Karena menurut Prabu Bawesi, untuk mempertahankan sebuah pemerintahan, maka kekejaman harus diberlakukan. Walaupun kala itu Maha Patih Galangan juga tidak berbeda jauh jahatnya dengan Prabu Bawesi, tetapi Maha Patih Galangan masih memiliki sedikit rasa belas kasihan, terutama kepada semua orang yang ada di tubuh Kerajaan Wesi Kuning.

__ADS_1


Perdebatan itu berlangsung cukup lama. Hingga di hari-hari berikutnya, Prabu Bawesi sempat tidak mau bertemu dengan Maha Patih Galangan karena perbedaan pendapat itu. Namun setelah beberapa hari berlangsung, Prabu Bawesi meminta maaf kepada Maha Patih Galangan, atas perlakuannya yang terkesan tidak menghargai pendapat Maha Patih Galangan.


Tetapi Prabu Bawesi tetap saja teguh dengan pendiriannya yang keras dan kejam. Karena tidak mau lagi berdebat, Maha Patih Galangan akhirnya mengalah dan memilih patuh kepada perintah Prabu Bawesi. Yang terpenting baginya kala itu hanyalah kekuasaan di atas semua pasukan. Dan memiliki banyak kuasa untuk melakukan apa saja.


Maha Patih Galangan sering mendapatkan tugas-tugas penting dari Prabu Bawesi. Dan setiap kali Maha Patih Galangan berhasil menjalankan tugas, maka Prabu Bawesi akan memberikannya hadiah yang cukup besar. Sehingga Maha Patih Galangan bisa berfoya-foya dan berpesta bersama para pasukannya. Dan lama kelamaan, Maha Patih Galangan menjadi sama persis dengan Prabu Bawesi.


"Jadi, apa rencana kita sekarang?" Tanya Patih Kinjiri.


"Karena Maha Patih Galangan yang memahami lebih banyak tentang Kerajaan Wesi Kuning, maka dialah yang akan memimpin penyerangan pada keraton pertama. Dan aku ingin kau membantunya, Patih Kinjiri." Ucap Pangeran Rawaja Pati.


Patih Kinjiri terlihat tidak setuju dengan rencana Pangeran Rawaja Pati. Karena Pangeran Rawaja Pati menaruhnya bersama dengan Maha Patih Galangan. Sedangkan Patih Kinjiri sangat membencinya. Tapi apa boleh buat? Ini sudah menjadi tugasnya sebagai seorang Patih.


Sekaligus sebagai bentuk patuhnya kepada perintah Pangeran Rawaja Pati, yang diberi kekuasaan penuh oleh Prabu Jabang Wiyagra, untuk membereskan Prabu Bawesi dan seluruh pengikutnya. Apalagi sekarang Waktu mereka semakin menyempit, karena pihak pasukan Prabu Bawesi sudah melakukan banyak sekali persiapan.


Masalah Prabu Bawesi dan pasukannya tidak akan pernah selesai, kalau Patih Kinjiri mengutamakan egonya sendiri. Karena dibutuhkan kerjasama yang besar dalam menangani tugas berat ini. Patih Kinjiri bisa saja mendapatkan hukuman yang berat dari Prabu Jabang Wiyagra, karena sudah membantah perintah Pangeran Rawaja Pati.


Daripada harus menerima hukuman dari rajanya sendiri, tentunya Patih Kinjiri lebih memilih untuk patuh kepada perintah Pangeran Rawaja Pati. Dan untuk kali ini, Pangeran Rawaja Pati tidak ingin mengorbankan banyak pasukannya untuk menjebol benteng pertahanan istana Kerajaan Wesi Kuning. Pangeran Rawaja Pati lebih mengutamakan serangan secara halus.

__ADS_1


__ADS_2