
Karena didikan keras yang diberikan oleh Sang Guru Besar Padepokan Ageng Maja Lingga di masa lalu, membuat Mahendra dan Jiramani memiliki watak dan perilaku yang sangat jahat. Bahkan kejahatan mereka melebihi apa yang telah dilakukan oleh Sang Guru Besar. Mahendra dan Jiramani berkembang dengan sendirinya. Mereka juga sudah mulai berani melawan Sang Guru Besar. Padahal, sebelumnya Mahendra dan Jiramani diketahui sangat takut kepada Sang Guru Besar, karena kekejamannya.
Namun setelah berubah menjadi orang baik, Sang Guru Besar tidak lagi memelihara kekejamannya di masa lalu. Beliau menjadi orang yang jauh lebih tenang dan penyabar. Bahkan menjadi seseorang yang sangat dermawan. Beliau juga memiliki banyak sekali anak tiri, yang beliau ambil dari para orang tua yang tidak bertanggung jawab kepada anak-anak mereka. Sang Guru Besar benar-benar merawat mereka dengan baik, dan penuh kasih sayang. Dan tidak pernah sekalipun anak-anak tirinya itu mendapatkan kekerasan, apalagi sampai ke penyiksaan.
Mungkin di sinilah juga akar permasalahannya. Mahendra dan Jiramani merasa cemburu dengan perlakuan yang didapatkan oleh anak-anak tiri Sang Guru Besar. Mereka mendapatkan perlakuan yang baik, seperti anak sendiri. Sedangkan Mahendra dan Jiramani, dulu mereka sudah kenyang dengan kekerasan dan kekejaman yang dilakukan oleh Sang Guru Besar. Sang Guru Besar kerap kali memukuli mereka berdua sampai babak belur. Bahkan pernah sampai membuat mereka berdua sekarat.
Kecemburuan antar anak didik itu semakin besar. Mahendra dan Jiramani sering sekali terlibat keributan dengan anak-anak tiri Sang Guru Besar. Sebenarnya keributan di antara anak-anak didik Sang Guru Besar hanyalah karena permasalahan yang sangat kecil dan tidak seberapa. Tapi karena mereka saling iri satu sama lain, akhirnya mereka sering sekali berkelahi. Dan perkelahian mereka tidak hanya sebatas adu pukul dan adu tendang saja. Tapi juga ada ilmu kesaktian. Sehingga mereka sering mendapatkan luka yang parah.
Sang Guru Besar sudah berusaha untuk mengingatkan mereka berulang kali. Terutama kepada Mahendra dan Jiramani. Karena mereka berdua adalah murid senior di Padepokan Ageng Maja Lingga. Mereka berdualah yang seharusnya menjadi contoh, untuk murid-murid Sang Guru Besar yang lainnya, bukannya malah menambah permasalahan di Padepokan Ageng Maja Lingga. Tetapi kembali lagi ke awal, kalau semua itu terjadi karena didikan keras dan kejam dari Sang Guru Besar sendiri.
Karena sudah terbiasa dengan kekerasan dan kekejaman sejak dari mereka masih sangat kecil, Mahendra dan Jiramani pun terjebak dalam kejahatan yang ada di dalam pikiran mereka masing-masing. Sulit bagi mereka berdua untuk merubah tabiat jahat tersebut. Sang Guru Besar sebenarnya sudah pernah mengadukan hal itu kepada Prabu Jabang Wiyagra. Namun Prabu Jabang Wiyagra tidak bisa berbuat banyak, karena seharusnya Sang Guru Besarlah yang harus mengembalikan mereka ke jalan yang benar. Sedangkan Prabu Jabang Wiyagra hanya bisa mendoakan saja.
Sang Guru Besar sering juga mengajak Mahendra dan Jiramani untuk berdoa bersama dengan dirinya. Sang Guru Besar berharap kalau Mahendra dan Jiramani akan berubah suatu hari nanti. Namun hingga saat ini, sepertinya doa-doa yang dipanjatkan oleh Sang Guru Besar belum terkabulkan. Karena sifat dan sikap Mahendra serta Jiramani belum juga berubah menjadi lebih baik sampai Sang Guru Besar mati. Dan hal-hal tersebutlah yang membuat Prabu Jabang Wiyagra yakin, kalau mereka berdualah pelaku dari peristiwa pembunuhan Sang Guru Besar.
__ADS_1
"Karena itulah aku menginginkan kalian bertiga untuk bergerak dengan cepat. Kalau perlu, hari ini juga kalian berangkat ke Padepokan Ageng Maja Lingga. Aku yakin, sekarang Mahendra dan Jiramani sedang mempersiapkan seluruh pasukan mereka, untuk menyerang Padepokan Ageng Singo Negoro. Mahendra dan Jiramani pasti akan menghasut semua murid yang ada di Padepokan Ageng Maja Lingga."
"Baiklah Romo Prabu. Kalau begitu kami bertiga berangkat sekarang saja." Ucap Prabu Sura Kalana.
"Ya. Berangkatlah sekarang. Jangan pernah ragu untuk menggunakan semua kemampuan yang kalian miliki. Aku ingin Mahendra dan Jiramani ditangkap dalam keadaan hidup. Setelah itu bawalah mereka ke istana Kerajaan Wiyagra Malela, untuk berhadapan langsung denganku." Perintah Prabu Jabang Wiyagra yang sudah sangat marah.
"Baik Gusti Prabu."
Setelah siap dengan pakaian yang mereka gunakan, mereka bertiga langsung mendatangi bangunan Padepokan Ageng Maja Lingga. Di sana terlihat banyak sekali murid yang menggunakan senjata, berupa pedang dan panah. Mereka nampak sedang bersiap-siap, seperti akan melakukan sebuah peperangan.
"Bagaimana ini Prabu Kalana? Kita tidak mungkin menghadapi mereka semua. Mereka semua hanyalah korban hasutan." Ucap Prabu Bujang Antasura.
"Tenang saja Prabu Antasura. Aku sudah memiliki rencana lain untuk mereka semua. Kita harus menggunakan Ajian Panglimunan, agar tidak terlihat oleh mereka semua. Dan bagaimanapun caranya, kita harus mengurung mereka di tempat ini." Jawab Prabu Sura Kalana.
__ADS_1
Akhirnya Prabu Bagas Candramawa dan Prabu Bujang Antasura membuat sebuah rajah di seluruh area bangunan Padepokan Ageng Maja Lingga. Agar semua orang yang sudah ada di dalam, tidak bisa keluar dari sana. Kecuali kalau orang-orang yang ada di sana keluar bersama dengan ketiga raja besar itu. Ilmu yang dimiliki oleh ketika raja besar tersebut, jelas lebih tinggi daripada para murid yang ada di Padepokan Ageng Maja Lingga. Para murid yang ada di Padepokan Ageng Maja Lingga tidak akan pernah bisa keluar dari tempat ini.
Setelah selesai, mereka bertiga akhirnya masuk ke dalam rumah pribadi Sang Guru Besar. Mereka melewati ratusan murid Padepokan Ageng Maja Lingga yang sedang berkumpul di halaman padepokan. Mereka lewat begitu saja tanpa ada hambatan. Karena tidak ada satupun orang yang melihat keberadaan mereka bertiga, karena mereka bertiga menggunakan Ajian Panglimunan. Sehingga mereka bertiga lenyap dari pandangan mata semua orang yang ada di Padepokan Ageng Maja Lingga.
"Prabu Kalana. Sepertinya itu Mahendra dan Jiramani." Kata Prabu Bujang Antasura sembari menuju ke sebuah pendopo yang ada di sana.
Tidak jauh dari posisi mereka bertiga, terlihat kalau ada sebuah pendopo yang cukup luas di Padepokan Ageng Maja Lingga. Dan di sanalah mereka menemukan keberadaan Mahendra dan Jiramani, yang sedang duduk bersantai di pendopo tersebut. Mereka sedang menikmati makanan dan minuman yang tersedia di hadapan mereka. Terlihat ada juga enam orang murid yang menemani mereka, dan melayani semua keperluan mereka di tempat itu. Bahkan Mahendra dan Jiramani diperlakukan seperti raja oleh kelima murid Padepokan Ageng Maja Lingga itu.
Kelima orang murid itu jelas tidak berani melawan. Mereka hanya pasrah dengan kelakuan kasar dari Mahendra dan Jiramani. Mahendra dan Jiramani benar-benar berperilaku seperti seorang raja sungguhan. Padahal ini di padepokan. Padepokan adalah tempat semua orang menimba ilmu. Bukan tempat orang-orang bejat seperti mereka berdua. Tak hanya sampai di situ saja perilaku buruk yang mereka lakukan, Mahendra dan Jiramani juga meminum arak dan tuak di pendopo tersebut. Seakan-akan mereka sama sekali tidak bersalah melakukan hal yang memalukan itu.
Perilaku mereka berdua sudah cukup untuk meyakinkan Prabu Sura Kalana, Prabu Bujang Antasura, dan juga Prabu Bagas Candramawa, kalau memang Mahendra dan Jiramani-lah yang sudah membunuh Guru Besar Padepokan Ageng Maja Lingga. Karena mereka berdua ingin menguasai padepokan tersebut sepenuhnya. Dan bisa menerapkan berbagai aturan sesuai dengan keinginan mereka masing-masing. Mereka tidak lagi harus mendengarkan ocehan dari Sang Guru Besar, yang tidak pernah mereka anggap sebagai seorang guru, apalagi orang tua.
Sekarang Mahendra dan Jiramani sudah berkuasa atas apa saja yang ada di dalam Padepokan Ageng Maja Lingga. Mereka tertawa terbahak-bahak menikmati perundungan yang sudah mereka lakukan kepada kelima murid tersebut. Kelima murid itu hanya pasrah. Bahkan saat Mahendra dan Jiramani meludahi serta mengencingi mereka, mereka semua hanya diam dan menerima perlakuan buruk Mahendra dan Jiramani, tanpa melakukan perlawanan.
__ADS_1