
Prabu Bagas Candramawa beserta pasukannya sampai di sebuah hutan. Tempat itu sudah cukup jauh dari Kerajaan Antasura. Dia bersama pasukannya memutuskan untuk beristirahat di hutan itu karena mereka sudah sangat kelelahan.
Sedangkan keributan masih terjadi di istana Kerajaan Antasura. Disana juga ada Prabu Suta Rawaja yang sedang berhadapan dengan salah satu orang dari para penyusup bertopeng itu.
Diusianya yang sudah setua sekarang, Prabu Suta Rawaja tidaklah sekuat dan segesit dulu. Ditambah dengan dirinya yang sudah setengah mabuk. Emosi yang sudah sulit dikontrol akibat dari minuman yang ia tenggak, membuatnya menjadi kacau dalam bertarung. Dia sulit untuk berkonsentrasi.
Seluruh tempat itu benar-benar sudah acak-acakan. Banyak sekali ruangan yang terbakar. Dan juga banyak sekali mayat di seluruh tempat. Prabu Bujang Antasura sendiri diamankan oleh para Patih dan Punggawa, dan puluhan prajuritnya yang masih hidup, di dalam ruangan rahasia. Yang berada di bawah tanah.
Hanya Prabu Bujang Antasura sendiri yang bisa membuka dan menutup tempat itu, karena dia memiliki segel ruangan itu.
Sehingga musuh tidak akan mungkin bisa masuk, kecuali orang itu memiliki ilmu kesaktian yang sangat tinggi.
Karena ruangan itu juga diberi rajah atau biasa disebut dengan pagar ghaib, sehingga tidak semua orang bisa menemukan ruangan itu. Ruangan itu sangat luas dan tersedia juga beberapa ruangan serta persediaan makanan yang bisa mereka gunakan selama dalam persembunyian.
Walau pun berada di kedalaman tanah, tapi tempat itu sangat megah dan bisa dibilang sangat indah. Disana juga ada beberapa orang pelayan istana yang berhasil selamat dan dibawa serta ke tempat itu.
“Aku tidak menyangka kalau semua ini akan terjadi. Mereka benar-benar telah mengambil kesempatan dalam kesempitan. Benar-benar para pendekar pengecut.” Ucap Prabu Bujang Antasura.
“Benar Gusti Prabu. Mereka pasti orang-orang suruhan dari Kerajaan Wiyagra Malela. Karena hanya mereka yang mampu melakukan hal itu.” Kata seorang Patih.
Perkataan seorang Patih itu membuat Prabu Bujang Antasura marah, karena terkesan meremehkan kekuatan Kerajaan Antasura.
__ADS_1
“Hey! Dengarkan aku baik-baik kalian semua! Kita boleh kalah malam ini. Tapi tidak saat perang nanti! Kita jauh lebih kuat dari apa yang mereka pikirkan! Pasukan kita kalah karena mereka mabuk. Itulah mengapa mereka mengambil kesempatan ini! Paham?!” Bentak Prabu Bujang Antasura dengan mencekik Sang Patih.
Para Patih, Punggawa, dan juga para prajurit yang tersisa benar-benar ketakutan atas apa yang baru saja mereka alami. Karena bukan hanya pasukan mereka saja yang mati disana. Tetapi juga para raja dari kerajaan-kerajaan kecil yang berada dibawah pimpinan Prabu Bujang Antasura. Mereka semua mati sia-sia malam ini.
Sudah dipastikan kalau semua kerajaan yang ada di bawah pimpinan Prabu Bujang Antasura pasti akan mengecamnya habis-habisan, karena keteledoran yang mereka lakukan. Seharusnya, sebagai seorang raja, Prabu Bujang Antasura sudah bisa mempersiapkan semuanya untuk setiap hal yang bisa saja terjadi.
Tapi dipikirannya hanyalah pesta, pesta, dan pesta. Tidak ada hari tanpa membahas pesta ulang tahunnya. Disinilah kesetiaan para abdinya mulai berkurang. Mereka mulai dengan Prabu Bujang Antasura, yang mulai tidak becus mengurus pemerintahannya, sejak dia banyak bergaul dengan Prabu Suta Rawaja.
Padahal, sebelumnya Prabu Bujang Antasura tidak pernah seperti ini. Dia benar-benar seorang raja yang terhormat. Sikapnya biasa saja, normal. Seperti para raja pada umumnya. Namun semenjak bergaul dengan Prabu Suta Rawaja, sikapnya perlahan berubah. Dia sering marah-marah hanya karena kesalahan kecil.
Dia juga sering mabuk saat malam hari, dengan ditemani oleh para pelayan perempuan. Sifatnya sudah mirip adiknya sekarang, Bala Antasura. Yang suka mabuk-mabukkan dan dekat dengan hampir setiap perempuan yang ada di istana ini. Bahkan, sekali pun perempuan itu sudah bersuami.
Begitu juga dengan adiknya, Maha Patih Bala Antasura. Diusianya yang masih sangat muda, dia sudah diangkat menjadi Maha Patih. Padahal dia tidak memiliki banyak pengalaman dalam perang. Para abdi kerajaan banyak yang lebih berpengalaman dari pada Bala Antasura. Bahkan Bala Antasura sangat jarang berada di depan saat ada pertikaian.
Namun sekarang, keadaan sudah berubah. Mau tidak mau Bala Antasura harus menghadapi musuhnya. Sekali pun dia hampir mati. Karena tanpa dia ketahui, yang sekarang dia lawan adalah Patih Kinjiri. Jelas Patih Kinjiri jauh lebih hebat dari pada Bala Antasura yang masih bau kencur. Apalagi sekarang dia sedang mabuk dan sudah sempoyongan.
Ini sebuah kesempatan bagus untuk Patih Kinjiri untuk membunuh Bala Antasura. Dia akan merasa terhormat karena bisa membunuh seorang Maha Patih, sekali pun yang ia bunuh adalah seorang bocah.
Dengan segala kemampuannya, Maha Patih Bala Antasura berusaha melawan Patih Kinjiri. Dia terus menyerang Patih Kinjiri dengan tenaga yang masih tersisa.
Pandangannya sudah kabur karena efek minuman yang ia tenggak. Disana suasananya sudah semakin rumit. Prabu Suta Rawaja yang sudah mulai kelelahan pun akhirnya memutuskan untuk kabur dari sana, setelah ia berhasil lolos dari serangan para pendekar itu.
__ADS_1
Dia tidak peduli lagi dengan para pasukannya yang masih terjebak di dalam. Dia pergi menuju ke kandang kuda. Tanpa basa-basi lagi dia langsung mengambil salah satu kuda untuk dia gunakan. Dia tidak peduli dimana kereta kudanya disimpan. Yang terpenting baginya adalah pergi dari tempat ini. Menjauh sejauh-sejauhnya.
Patih Kinjiri yang sedari tadi hanya menghindar, sekarang sudah mulai membalas serangan Maha Patih Bala Antasura. Maha Patih Bala Antasura sudah tentu terkena serangan dari Patih Kinjiri. Dia terkena pukulan dan dibagian kepala bagian kiri dan juga dibawah pusarnya.
Seketika darah pun mengucur dari hidung Maha Patih Bala Antasura. Dia semakin tidak terkendali. Sembari menahan sakit di perutnya, dia berusaha mengeluarkan ilmu kanuragannya. Dia menggunakan ilmu pukulan yang ia miliki untuk menyerang Patih Kinjiri. Dan sekali hentak, serangan itu mampu membuat lantai dibawahnya langsung retak.
Namun Patih Kinjiri berhasil menghindar. Dia melompat, dan merangkak di atap. Kemudian dia membalas serangan Maha Patih Bala Antasura dengan ilmu tendangan yang ia miliki. Dari atap itu, dengan posisi bergelantung, dia berusaha menendang kepala Maha Patih Bala Antasura.
Tendangannya begitu cepat dan membuat kedua tangan Maha Patih Bala Antasura terluka, karena menahan jurus itu. Maha Patih Bala Antasura pun berteriak kesakitan karena kedua tangannya melepuh, seperti terbakar api. Dia memegangi kedua tangannya, menahan sakit yang tiada tara.
Patih Kinjiri mengeluarkan pedang dari sarangnya. Dia sudah ancang-ancang ingin menebas kepala Maha Patih Bala Antasura yang sekarang sudah berlutut di depannya. Namun saat dia akan mengayunkan pedangnya, tiba-tiba salah satu pasukannya menahan tangannya.
“Sudah. Sudah cukup. Ayo kita pergi.” Ucap orang itu.
“Aku belum puas.” Jawab Patih Kinjiri.
“Pesannya sudah sampai. Kita harus pergi sekarang. Ingat dengan tugas kita! Jangan lupa daratan!”
Perintah yang diberikan oleh Prabu Jabang Wiyagra kepada Patih Kinjiri dan pasukannya adalah untuk memberikan peringatan kepada mereka. Bukan untuk membantai semuanya tanpa sisa. Pada akhirnya Patih Kinjiri harus kembali menaruh pedangnya dan pergi dari sana. Meninggalkan Maha Patih Bala Antasura yang sedang terluka parah.
Semua pasukan yang ikut dengannya pun ditarik mundur. Dan beberapa yang terluka juga dibawa untuk diselamatkan. Beruntung, karena tidak ada satu pun dari mereka yang mati. Hanya beberapa yang terluka, itu pun lukanya tidak terlalu parah. Mereka pun menggunakan ilmu melipat bumi untuk mempercepat perjalanan mereka.
__ADS_1