DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 130


__ADS_3

"Ditya Kalana, mencarimu seperti mencari sebuah berlian. Aku akui, kamu sangat hebat dalam bersembunyi. Kamu pintar mencari tempat sembunyi yang tidak bisa dilacak oleh pasukanku. Akan membuat pasukanku kebingungan mencari keberadaanmu."


"Tetapi semua itu tidak lagi berarti sekarang ini. Karena sekarang kamu sudah menjadi tahananku untuk selama-lamanya. Dan kamu hanya memiliki dua pilihan, Ditya Kalana. Mau merubah tabiatmu? atau terus-menerus dalam siksaanku? Kamu pilih yang mana?"


Ditya Kalana menjawab dengan tegas ucapan dari Prabu Jabang Wiyagra. Dia akan menantang Prabu Jabang Wiyagra untuk bertarung dengannya.


"Lepaskan rantai kepa-rat ini! Bertarunglah bersamaku! Kita buktikan siapa yang paling kuat! Dan pantas menjadi seorang pemimpin!" Ucap Ditya Kalana dengan penuh amarah.


Prabu Jabang Wiyagra hanya tertawa melihat tingkah Ditya Kalana. Prabu Jabang Wiyagra sudah tahu, kalau itu hanyalah akal-akalan Ditya Kalana saja. Ditya Kalana tidak akan berani bertarung dengannya, karena dia tahu bagaimana kemampuan yang dimiliki oleh Prabu Jabang Wiyagra.


Ditya Kalana hanya perlu keluar dari ruangan ini, lalu lari sekencang mungkin. Dan hal itu bisa dia lakukan kalau Prabu Jabang Wiyagra mau melepaskannya, dengan alasan untuk adu kesaktian.


"Aku tahu apa yang kamu pikirkan, Ditya Kalana. Dan asalkan kamu tahu, kamu masih bisa hidup sampai sekarang, itu berkat kakakmu, Prabu Sura Kalana."


"Diam! Jangan sebut nama baji-ngan itu di depanku! Bunuh saja aku! Bunuh! Aku tidak mau berhutang budi kepada anak yang durhaka kepada orang tuanya!" Bentak Ditya Kalana.

__ADS_1


Prabu Jabang Wiyagra geleng-geleng kepala karena heran dengan kebodohan yang dimiliki oleh Ditya Kalana. Padahal yang membunuh Prabu Jaya Digdaya adalah pamannya sendiri, yaitu Gabah Lanang. Namun sampai saat ini, Ditya Kalana masih meyakini kalau Prabu Sura Kalana yang sudah membunuh ayahnya sendiri.


Padahal, Prabu Sura Kalana hanyalah korban dari fitnah yang dilakukan oleh Gabah Lanang. Begitu juga dengan Ditya Kalana, yang sudah menjadi korban hasutan dari Gabah Lanang.


"Dengar Ditya Kalana. Yang harus kamu ketahui adalah, Prabu Sura Kalana membunuh ayahnya sendiri. Kenapa kamu tidak mempertanyakan semuanya kepada pamanmu yang sudah hampir mati itu? Aku rasa dia jauh lebih tahu tentang apa yang dia lakukan kepada ayahmu." Ucap Prabu Jabang Wiyagra sembari pergi meninggalkan Ditya Kalana.


Ditya Kalana terdiam seribu bahasa. Dia memang sempat berselisih dengan pamannya, dan dia pun sudah tahu kalau Gabah Lanang hanya memanfaatkan dirinya untuk ambisi kekuasaan. Tetapi Ditya Kalana tidak pernah menyangka kalau yang membunuh ayahnya adalah pamannya sendiri.


Seseorang yang pernah merawatnya selama bertahun-tahun hingga dia besar. Bahkan Gabah Lanang merawatnya dengan penuh kasih sayang, dan tidak pernah sekalipun memarahinya. Tetapi itu hanyalah tipu muslihat dari Gabah Lanang, agar bisa menguasai pikiran dan perasaan Ditya Kalana.


Hati Ditya Kalana selalu dipenuhi dengan kebencian, dendam, dan amarah. Dia mudah terhasut dan mudah terpancing emosinya. Sehingga seringkali dia masuk ke dalam jebakan musuh-musuhnya. Termasuk dalam jebakan Prabu Sura Kalana dan para pasukannya. Dan sekarang dia berakhir seperti pamannya, Gabah Lanang.


Ditya Kalana hanya menatap kosong arah langit-langit penjara. Tidak ada satupun yang peduli kepadanya di dalam penjara bawah tanah itu. Bahkan semua orang yang di sana yang tahu tentang Ditya Kalana, usahakan tidak mau peduli dan tidak mau ikut campur dengan permasalahan yang sedang dihadapi. Karena sekarang mereka hanya memikirkan keselamatan mereka masing-masing.


Gabah Lanang yang sedari tadi mengoceh, kini mulai terdiam. Sesekali dia hanya tertawa lirih, dan bahkan sesenggukan menangis. Dalam benaknya, sedikit dia masih mengingat tentang Ditya Kalana. Walaupun tidak sadar sepenuhnya, karena dia sudah gila, tapi Gabah Lanang masih mengenali suara Ditya Kalana. Dia bahkan bergumam menyebut-nyebut nama Ditya Kalana.

__ADS_1


Lama kelamaan, Gabah Lanang kembali membuat kegaduhan. Dia berteriak memanggil nama Ditya Kalana sembari memukuli kepalanya sendiri dengan sangat keras. Sedikit demi sedikit ingatan dari Gabah Lanang sepertinya sudah mulai pulih. Dia akan mengingat kilas-kilas balik dari semua peristiwa yang sudah terjadi.


Namun Gabah Lanang tidak akan bisa pulih sepenuhnya. Tekanan dan penderitaan yang ada di dalam penjara bawah tanah, membuatnya kesulitan untuk mencerna kembali pemikirannya. Seringnya kelaparan, kehausan, penyiksaan, dan berbagai penderitaan yang dia dapatkan, benar-benar sudah membuat seisi otaknya kacau balau.


Gabah Lanang hanya bisa mengeruk-eruk dinding-dinding di penjara itu dengan kukunya yang sudah memanjang. Dia berusaha dengan keras agar bisa mengendalikan kesadarannya kembali. Selama hampir satu tahun berada di tempat ini, Gabah Lanang menjadi sangat liar dan tidak terkendali. Tetapi, setiap hari Gabah Lanang juga selalu berusaha untuk tetap menguatkan dirinya.


Ambisi besarnya untuk menjadi seorang penguasa masih belum luntur dari dalam dirinya. Ambisi besarnya itu benar-benar masih melekat dengan erat. Gabah Lanang sering memimpikan hal-hal masa lalu tentang dirinya, yang dulu masih memiliki kekuasaan dan kekuatan. Terkadang Gabah Lanang juga suka berbicara sendiri mengenai kekuasaannya yang sudah runtuh.


Prabu Jabang Wiyagra sebenarya sering menjenguk Gabah Lanang dan juga para tahanan yang lainnya. Hanya saja para tahanan tidak melihatnya, karena Prabu Jabang Wiyagra lebih sering 'Ngrogo Sukmo' saat menjenguk para tahanan yang ada disana. Sering sekali Prabu Jabang Wiyagra mendengar isi hati terdalam mereka, yang sebagian besar sebenarnya sudah menyadari kesalahan mereka.


Hanya saja hukum tetaplah hukum, Prabu Jabang Wiyagra tidak akan menjilat ludahnya sendiri. Apa pun perintah yang dia ucapkan adalah hukum mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Kalimat yang sudah keluar dari mulutnya tidak akan dia tarik kembali. Kalau Prabu Jabang Wiyagra memberikan kesempatan kepada seseorang, maka Prabu Jabang Wiyagra tidak akan main-main.


Begitu juga sebaliknya, kalau Prabu Jabang Wiyagra menjatuhkan hukuman, maka hukuman itu harus diterapkan. Apa pun caranya, apa pun keadaannya, dan apa pun resikonya. Terkadang Prabu Jabang Wiyagra merasa kasihan kepada mereka yang dengan terpaksa harus dimasukkan ke dalam penjara paling mengerikan ini.


Tetapi jika Prabu Jabang Wiyagra hanya menuruti rasa belas kasihan, maka selamanya musuh-musuhnya ini tidak akan pernah menyadari kesalahan mereka. Orang-orang seperti mereka akan terus menerus membuat kekacauan yang menimbulkan kesengsaraan dalam kehidupan semua orang.

__ADS_1


Semua rasa belas kasihan itu Prabu Jabang Wiyagra pendam dalam-dalam. Dia tidak pernah mengatakannya kepada siapa pun. Termasuk kepada Ratu Ayu Anindya, istrinya sendiri. Bahkan, demi bisa fokus menangkap para penjahat kelas berat ini, Prabu Jabang Wiyagra sering mengasingkan istrinya sendiri. Sampai sekarang, Ratu Ayu Anindya masih tetap berada di dalam tempat persembunyiannya.


__ADS_2