DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 234


__ADS_3

"Wah.. Sungguh sebuah pemandangan yang sangat luar biasa."


Maha Patih Kana Raga dan Mbah Gagang terkejut dengan kehadiran Maha Patih Lare Damar yang secara tiba-tiba ada di belakang mereka.


"Ha.. Maha Patih Lare Damar! Kebetulan sekali kamu ada di sini." Ucap Mbah Gagang.


"Ya. Kami sudah tidak sabar ingin menghabisimu sekarang juga. Bagaimana kalau kita bertarung?" Kata Maha Patih Kana Raga yang langsung melompat dari kudanya, dan menyerang Maha Patih Lare Damar.


Maha Patih Lare Damar juga melakukan hal yang sama. Dia lompat dari kudanya dan langsung menyerang Maha Patih Kana Raga dengan sangat beringas. Walaupun baru sebentar, Maha Kana Raga sudah sangat kewalahan menghadapi kemampuan Maha Patih Lare Damar. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Maha Patih Lare Damar sehebat ini.


Mbah Gagang yang melihat hal itu, hanya diam saja dan memilih untuk membiarkan mereka bertarung sampai mati. Karena ternyata Mbah Gagang diam-diam juga menginginkan keuntungan dari pertarungan itu. Mbah Gagang ingin Maha Patih Kana Raga mati di tangan Maha Patih Lare Damar, agar ia bisa mengambil alih posisi Maha Patih Kana Raga, sebagai Maha Patih.


Walaupun Mbah Gagang juga mengagumi kemampuan yang dimiliki oleh Maha Patih Kana Raga, tetapi di sisi lain dia juga sangat iri dengan apa yang didapatkan Maha Patih Kana Raga. Mbah Gagang merasa cemburu setiap kali Maha Patih Kana Raga berdekatan dengan Nyi Dwi Sangkar. Karena Mbah Gagang tidak pernah sekalipun dekat dengan seorang perempuan.


Rasa iri dan dengki memang selalu menyelimuti diri orang-orang yang jahat. Walaupun Mbah Gagang mengagumi jiwa kepemimpinan yang dimiliki oleh Maha Patih Kana Raga, tetapi dia tidak mau disaingi. Mbah Gagang ingin mengambil alih semua hal yang ada di dalam Kerajaan Bala Bathara. Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu, yang tidak mungkin bisa datang dua kali.


Saat Maha Patih Kana Raga masih bertarung dengan Maha Patih Lare Damar, Mbah Gagang justru pergi dan menghilang, meninggalkan tempat itu. Maha Patih Kana Raga menengok ke belakang karena melihat Mbau Gagang yang tiba-tiba melompat lalu menghilang dari tempat tersebut. Dan hal itu membuatnya hilang konsentrasi. Yang membuat pukulan Maha Patih Lare Damar mendarat tepat ke kepala bagian kirinya.

__ADS_1


Membuat Maha Patih Kana Raga langsung terkapar di tanah, dan merasakan sakit kepala yang luar biasa. Kepalanya serasa dihantam oleh sebuah batu yang sangat besar.


"Kamu lihat Kana Raga? Bahkan orang yang kamu percaya Bisa mengkhianatimu begitu saja. Dan apakah kamu tahu sesuatu Kana Raga?"


Maha Patih Lare Damar mendekat ke wajah Maha Patih Kana Raga, dan berkata..


"Nyi Dwi Sangkar telah mati di tangan kami. Dan sebentar lagi jasadnya akan ditenggelamkan ke dasar lautan, bersama dengan para pasukannya yang sudah tak tersisa."


Mendengar hal itu, Hati Maha Patih Kana Raga seakan dihancurkan berkeping-keping. Namun dia belum percaya dengan apa yang diucapkan oleh Maha Patih Lare Damar. Bagi seorang Maha Patih Kana Raga, Nyi Dwi Sangkar adalah sosok yang sakti mandraguna, dan tidak mudah dikalahkan oleh siapapun. Sangat sukar dipercaya kalau Nyi Dwi Sangkar bisa mati begitu saja.


"Terserah. Aku tidak memintamu untuk percaya dengan apa yang aku ucapkan. Tapi jika kamu tidak percaya, aku akan memberikanmu satu kali kesempatan untuk hidup. Datanglah ke pelabuhan dan lihatlah apa yang terjadi. Itupun kalau kamu bisa bertahan sampai ke sana." Kata Maha Patih Lare Damar.


Maha Patih Lare Damar lalu menusukkan sebuah belati ke perut Maha Patih Kana Raga. Yang membuat perut Maha Patih Kana Raga terluka dan mengeluarkan banyak darah. Maha Patih Kana Raga merintih kesakitan karena tusukan belati kecil itu. Karena selama ini tubuhnya tidak pernah mempan terhadap senjata apapun. Namun belati itu bukanlah belati sembarangan. Melainkan belati andalan milik Maha Patih Lare Damar.


Siapa saja yang terkena tusukan belati itu pasti akan kehilangan kekebalannya. Bahkan bisa mengalami luka yang jauh lebih parah, daripada luka yang dihasilkan oleh belati biasa. Maha Patih Lare Damar menarik kembali bila di kecil itu lalu menaruhnya di pinggangnya. Maha Patih Lare Damar meninggalkan Maha Patih Kana Raga begitu saja di tempat itu. Pandangannya langsung tertuju kepada Prabu Barajang dan pasukannya.


Maha Patih Lare Damar kembali menaiki kudanya dan memasuki wilayah perbatasan Kota Karta Mulya. Puluhan orang pasukan Prabu Barajang langsung menghadangnya. Pada saat mereka semua ingin menyerang Maha Patih Lare Damar, tiba-tiba Prabu Barajang menghentikan mereka semua.

__ADS_1


"Turun kamu Lare Damar." Ucap Prabu Barajang.


"Turunkan saja aku kalau kamu memang mampu." Jawab Maha Patih Lare Damar.


Prabu Barajang ingin sekali menghajar Maha Patih Lare Damar. tapi dia tidak mau dibuat malu di depan semua pasukannya. Prabu Barajang tahu seberapa besar ilmu yang dimiliki oleh Maha Patih Lare Damar. Dan dia sendiri pun paham, kalau dia sudah pasti akan kalah di tangan Maha Patih Lare Damar. Akhirnya, Prabu Barajang menyuruh Maha Patih Lare Damar untuk lewat saja, dan akan memulai pertarungan mereka lain kali.


Tetapi, Maha Patih Lare Damar tetap diam di atas kudanya. Maha Patih Lare Damar ingin tahu, apakah Prabu Barajang berani menyerangnya atau tidak. Mereka berdua sama-sama diam, dan saling tatap satu sama lain. Prabu Barajang tidak mau menyerang terlebih dahulu, sedangkan Maha Patih Lare Damar menunggu serangan datang dari pihak Prabu Barajang. Karena tidak mau diam begitu saja, Prabu Barajang lalu memerintahkan semua pasukannya untuk menyerang Maha Patih Lare Damar.


Para pasukannya itu sebenarnya sangat takut berhadapan dengan Maha Patih Lare Damar, tetapi karena perintah lamgsung dari raja mereka, mereka tidak berani menolak. Para pasukan Prabu Barajang langsung menyerang dengan semua kemampuan yang mereka miliki. Tetapi Maha Patih Lare Damar bisa dengan sangat mudah menghindari serangan-serangan para pasukan itu. Sedangkan Prabu Barajang sendiri, masih saja berdiam diri, karena takut mati di tangan Maha Patih Lare Damar.


"Biarkan saja pasukanku yang menyerangnya. Lagi pula sangat kecil kemungkinannya dia untuk selamat, dengan jumlah pasukan ku yang sebesar ini." Ucap Prabu Barajang dalam hati.


Merasa tenang kalau tidak akan mendapatkan bagian serangan dari Maha Patih Lare Damar, Prabu Barajang hanya diam dan menonton para pasukannya sedang dipukuli secara membabi buta oleh Maha Patih Lare Damar. Dan di sinilah sebuah hal menakjubkan pun terjadi. Maha Patih Lare Damar tiba-tiba mengeluarkan sebuah ilmu kanuragan yaitu Ajian Bolo Sewu. Yang bisa membuatnya memecah raga menjadi lebih dari sepuluh orang.


Ajian Bolo Sewu ini adalah sebuah ilmu yang diwariskan oleh Eyang Badranaya kepadanya, pada saat Maha Patih Lare Damar berada di Gunung Khayangan. Prabu Barajang sangat-sangat terkejut saat melihat hal tersebut. Ia sama sekali tidak menyangka kalau Maha Patih Lare Damar memiliki Ajian Bolo Sewu. Ajian Bolo Sewu itu membuat Prabu Barajang kebingungan, karena dia tidak bisa membedakan mana yang asli dan mana yang tiruan.


Semuanya sama dan mirip sekali dengan Maha Patih Lare Damar. Bahkan saat berhadapan dengan Maha Patih Lare Damar yang sudah memecah raganya menjadi lebih dari sepuluh orang itu, Prabu Barajang masih bisa merasakan, kalau kemampuan Maha Patih Lare Damar sekali tidak berkurang. Dari mulai jurus bertarung, dan juga ilmu kesaktian yang digunakan, masih sama persis dan sangat sulit untuk dibedakan.

__ADS_1


__ADS_2