
"Saudara-saudaraku semua, ini adalah tugas besar yang diberikan oleh Prabu Jabang Wiyagra kepada kalian semua yang berkumpul di tempat ini. Maha Patih Putra Candrasa dan Maha Patih Kumbandha akan memimpin kalian untuk menjalankan tugas yang mulai ini."
"....Aku, Maha Patih Kumbandha, dan juga Maha Patih Putra Candrasa, tidak bisa menjamin kalau kalian semua bisa pulang dengan selamat dan dalam keadaan baik-baik saja. Musuh yang kalian lawan adalah musuh sama kuatnya dengan diri kalian. Tapi, aku percaya kepada kalian semua, bahwa kalian jauh lebih kuat dari apa yang kalian fikirkan."
".....Aku berharap kalian tidak akan pernah menyesal ataupun kecewa, karena mengabdi kepada Kerajaan Wiyagra Malela. Sampai kapanpun juga, Prabu Jabang Wiyagra akan selalu mengenang jasa kalian semua. Kalian tidak akan pernah terlupakan sampai kapanpun. Aku berterima kasih kepada kalian semua, yang sudah setia kepada Prabu Jabang Wiyagra dan Kerajaan Wiyagra Malela." Ucap Lare Damar kepada para pasukan yang akan berangkat.
Tidak lupa Lare Damar juga memberikan ucapan selamat jalan kepada mereka semua. Dan meminta mereka untuk tetap berhati-hati serta tetap waspada terhadap semua hal yang ada di sana. Karena keraton pertama yang akan mereka serang adalah gerbang utama dari istana Kerajaan Wesi Kuning. Yang artinya, akan banyak sekali pasukan yang berusaha untuk menahan serangan mereka.
Setelah semua pasukan benar-benar dalam posisi siap, Maha Patih Putra Candrasa dan Maha Patih Kumbandha berpamitan kepada Lare Damar, dan dan juga pasukan lain yang tidak ikut dalam penyerangan tersebut. Tuh orang Mahapatih terkuat itu berangkat dengan ribuan pasukan dengan pedang dan busur panah di tangan mereka masing-masing.
Para pasukan berangkat dengan gagah berani, mengikuti setiap langkah Maha Patih Kumbandha dan juga Maha Patih Putra Candrasa. Maha Patih Putra Candrasa dan Maha Patih Kumbandha merasa akan terjadi sesuatu yang tidak enak. Entah apapun itu, mereka hanya berusaha tetap tegar, dan terlihat baik-baik saja di depan pasukan mereka.
Terutama dengan Maha Patih Putra Candrasa yang masih teringat peristiwa bagaimana dia mengalahkan Prabu Bawesi, yang kesaktiannya jauh lebih tinggi dari dirinya. Bahkan Ajian Rengkah Gunung pun tidak mampu menghancurkan tubuh Prabu Bawesi, karena terlalu tingginya ilmu yang dia miliki. Hal itu membuat Maha Patih Putra Candrasa khawatir.
__ADS_1
Apalagi saat dia melihat ke arah belakang. Wajah-wajah pasukannya yang berangkat dengan gagah berani itu mungkin tidak akan pernah lepas dari ingatannya. Maha Patih Putra Candrasa pun sudah tahu kalau sebenarnya misi ini bisa dibilang misi bunuh diri. Karena mereka harus melakukan kontak secara langsung dengan pasukan Prabu Bawesi.
Dan kemungkinan besar, Prabu Bawesi akan muncul, dan bergabung dalam pertarungan tersebut. Kalau sampai Prabu Bawesi turun tangan, maka akan banyak pasukannya yang mati. Apalagi jumlah total pasukan yang ikut dalam misi ini hanya berjumlah seribu orang. Dan jumlah itu sangat tidak imbang jika dibandingkan dengan pasukan yang menjaga keraton pertama.
Namun apa boleh buat? Tidak ada cara lain yang bisa mereka lakukan, selain melakukan pengorbanan besar seperti sekarang ini. Daripada Kerajaan Wiyagra Malela yang harus hancur, maka akan lebih baik para pasukan ini yang mati di medan pertarungan. Untuk mencegah Prabu Bawesi dan pasukannya menyerang Kerajaan Wiyagra Malela.
Kalau sampai Prabu Bawesi melakukan serangan ke istana Kerajaan Wiyagra Malela, maka akan terjadi bencana yang jauh lebih besar lagi. Akan banyak orang yang mati dalam serangan tersebut, jika tidak dihalau dengan cepat oleh Maha Patih Putra Candrasa dan Maha Patih Kumbandha. Sedangkan untuk Patih Kinjiri dan yang lainnya, mereka sudah berangkat terlebih dahulu.
Dari tempat tersebut, Pangeran Rawaja Pati bisa dengan leluasa melihat apa saja yang sedang dilakukan oleh para pasukan Prabu Bawesi. Sehingga Pangeran Rawaja Pati bisa memperhitungkan segala kekuatan yang yang miliki saat ini. Pangeran Rawaja Pati dan Patih Kinjiri benar-benar harus sangat teliti. Salah sedikit saja, maka hancurlah semua rencananya.
Patih Daraka dan Patih Kayat bertugas di sebuah jalan bersama Maha Patih Galangan, dan juga pasukannya. Jumlah pasukan yang dibawa oleh Maha Patih Galangan hanya dua ratus orang. Namun mereka semua adalah anggota pasukan yang terbaik, dari yang terbaik. Sehingga mereka sulit untuk dikalahkan oleh pasukan Prabu Bawesi yang belum lama ini baru dibentuk.
Sudah pasti pasukan dari Maha Patih Galangan lebih berpengalaman daripada pasukan baru yang ada di istana Kerajaan Wesi Kuning. Mereka semua memiliki tanda lingkaran hitam di kening mereka. Lingkaran hitam menjadj sebuah tanda, kalau mereka adalah pasukan pribadi milik Maha Patih Galangan, yang sudah tidak diragukan lagi kesetiaannya, dan juga kehebatannya.
__ADS_1
Sebenarnya Maha Patih Galangan masih memiliki beberapa kelompok pasukan lagi. Tapi mereka masih diragukan kesetiaannya. Dikarenakan kebanyakan dari mereka lebih memilih berpihak kepada Prabu Bawesi, dibandingkan berpihak dengan Maha Patih Galangan. Ya! Tentu saja. Karena Prabu Bawesi adalah seorang raja.
Apalagi dia seorang raja yang terkenal gagah perkasa dan sakti mandraguna. Jelas kebanyakan orang akan lebih memilih berpihak kepadanya. Ditambah dengan sogokan ataupun bayaran dari Prabu Bawesi jauh lebih besar. Sedangkan Maha Patih Galangan, dia hanya bermodalkan keyakinan, dan juga rasa kekeluargaan yang ia miliki bersama para pengikutnya.
......................
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, Maha Patih Putra Candrasa dan Maha Patih Kumbandha harinya berhasil bertemu dengan Patih Kinjiri. Patih Kinjiri dan pasukannya pun langsung bersiap untuk melakukan penyerangan. Mungkin juga, kesempatan bagus kali ini datang kepada mereka. Karena pada saat itu, banyak pasukan yang tertidur saat berjaga.
Tidak ada satupun dari para penjaga gerbang yang menyadari, kalau sekarang Patih Kinjiri dan para pasukannya sudah ada di depan gerbang keraton pertama. Patih Kinjiri dan pasukannya lalu menembakkan panah-panah besi ke setiap bagian benteng yang mengelilingi keraton. Setelah itu disusul dengan para pasukan Maha Patih Putra Candrasa yang naik menggunakan anak panah besi itu.
Mereka semua mulai memanjat dinding, dengan mengandalkan anak panah yang tertancap di setiap bagian benteng, yang mengelilingi keraton. Terdengar ada suara dengkuran yang sangat keras dari salah satu prajurit yang tertidur saat berjaga di sana. Dengan cepat, para pasukan Maha Patih Putra Candrasa yang sudah sampai ke atas mulai melakukan serangan secara diam-diam.
Serangan yang senyap Itu benar-benar membuahkan hasil. Ada dalam waktu Sekejap, para pasukan Maha Patih Putra Candrasa sudah membunuh banyak sekali orang yang berjaga di sana. Sampai pada titik ini, tidak ada satupun prajurit di keraton pertama yang menyadari, kalau sudah terjadi penyusupan. Seorang raja yang ada di dalam keraton, juga sama sekali tidak menyadari adanya hal yang janggal di tempat ini.
__ADS_1