
"Keberhasilan Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima memberikan peluang besar kepada para pasukan kita Gusti Prabu. Para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela bisa bergerak kembali dengan cepat. Tanpa khawatir lagi mendapatkan perlawanan dari rakyat Kerajaan Panca Warna." Beritahu Mbah Kangkas kepada Prabu Jabang Wiyagra.
"Syukurlah kalau begitu. Aku ingin mengundang Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima ke istana ini. Aku harus memberikan tanda terima kasih kepada mereka berdua, karena mereka sudah sangat berjasa. Undang juga para pendekar yang ambil bagian dalam tugas besar tersebut. Jangan lupakan satu orangun dari mereka."
"Baik Gusti Prabu."
Mbah Kangkas langsung membuatkan surat undangan resmi yang ditandatangani langsung oleh Prabu Jabang Wiyagra, untuk Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima. Lalu Mbah Kangkas menyerahkan surat tersebut kepada salah satu anggota Pasukan Bara Jaya. Agar diserahkan langsung kepada Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima. Undangan tersebut tentunya akan membuat Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima merasa sangat senang.
Para pendekar yang ikut dalam tugas besar tersebut, pasti juga akan merasa sangat terhormat, karena diundang langsung oleh Prabu Jabang Wiyagra, untuk hadir di istana Kerajaan Wiyagra Malela. Mereka belum pernah bertemu secara langsung dengan Prabu Jabang Wiyagra. Mereka bahkan tidak tahu secara pasti bagaimana wajah Prabu Jabang Wiyagra. Kalaupun mereka pernah melihat beliau, mereka hanya bisa melihatnya dari kejauhan saja. Karena Prabu Jabang Wiyagra selalu dijaga ketat oleh pasukannya.
__ADS_1
Kota Maja Lingga dan Kota Singo Negoro adalah kota besar yang jarang dikunjungi oleh Prabu Jabang Wiyagra. Kedua kota besar tersebut memang berada cukup jauh dari wilayah istana Kerajaan Wiyagra Malela. Ditambah lagi banyak sekali padepokan ilmu kanuragan yang ada di kedua kota besar tersebut. Kalau Prabu Jabang Wiyagra mengunjungi kedua kota besar itu, maka Prabu Jabang Wiyagra wajib mendatangi semua padepokan yang ada di sana. Dan tidak boleh melewatkannya satupun.
Itu adalah sebuah syarat yang harus dipenuhi oleh Prabu Jabang Wiyagra. Sebelum menjadi seorang raja, Prabu Jabang Wiyagra sudah berjanji untuk menjalin persaudaraan dengan orang-orang yang ada di Kota Maja Lingga dan Kota Singo Negoro. Dulu, kedua kota besar itu hanyalah hutan belantara. Tetapi ramai dengan padepokan ilmu kanuragan. Kala itu Prabu Jabang Wiyagra kekurangan pasukan untuk menghadapi lawannya. Dan meminta bantuan di setiap padepokan, yang ada di kedua wilayah besar tersebut.
Namun Prabu Jabang Wiyagra juga harus mempersatukan Padepokan Ageng Maja Lingga, dan Padepokan Ageng Singo Negoro, yang selalu saja bermusuhan, dan sering terlibat pertikaian. Itu adalah syarat pertama yang harus Prabu Jabang Wiyagra penuhi, untuk mendapatkan bantuan pasukan dari kedua padepokan besar tersebut. Singkat cerita, entah bagaimana caranya, Prabu Jabang Wiyagra telah berhasil mendamaikan kedua padepokan besar itu. Dan mendapatkan banyak bantuan pasukan.
Tapi itulah resiko yang harus diambil oleh Prabu Jabang Wiyagra. Beliau harus menginjakkan kakinya ke seluruh padepokan yang ada di dua kota besar tersebut. Kalau Prabu Jabang Wiyagra melanggarnya, maka kedua kota besar itu secara resmi akan melepaskan diri dari wilayah kekuasaan Kerajaan Wiyagra Malela. Kalau mereka melepaskan diri dari Kerajaan Wiyagra Malela, maka mereka juga akan membangun pemerintahan secara mandiri. Dan Prabu Jabang Wiyagra dilarang mencampuri urusan mereka. Kecuali kalau Prabu Jabang Wiyagra ingin berperang dengan 'mereka berdua'.
Aturan tersebut telah disetujui, serta ditandatangani oleh Prabu Jabang Wiyagra dan para pimpinan besar padepokan. Syarat itu sebenarnya tidak terlalu berat bagi Prabu Jabang Wiyagra. Karena Prabu Jabang Wiyagra bisa pergi kapan saja ia mau. Namun wilayah kekuasaan Prabu Jabang Wiyagra sangatlah luas. Prabu Jabang Wiyagra tidak bisa kalau harus mengurusi dua kota besar saja. Beliau juga harus mengurus kota-kota besar lainnya, yang sekarang berada di bawah kekuasaannya. Dan semuanya harus diperlakukan sama rata. Tidak boleh ada satupun tempat yang menjadi 'anak tiri'.
__ADS_1
Meskipun Prabu Jabang Wiyagra jarang sekali mengunjungi Kota Maja Lingga dan Kota Singo Negoro, tapi Prabu Jabang Wiyagra sering mengirimkan surat kepada para pimpinan besar di kedua padepokan besar tersebut. Prabu Jabang Wiyagra tidak lupa untuk mengirimkan bantuan pangan kepada mereka. Bahkan Prabu Jabang Wiyagra memerintahkan kepada kedua padepokan besar tersebut, untuk tidak menarik biaya sepeser pun dari para murid yang sedang menimba ilmu di sana. Pihak Kerajaan Wiyagra Malela-lah yang akan menanggung semua kebutuhan kedua padepokan besar tersebut, sepenuhnya.
Padepokan Ageng Maja Lingga dan Padepokan Ageng Singo Negoro memiliki banyak sekali anak cabang. Kedua padepokan besar tersebut juga sudah melahirkan banyak sekali pendekar-pendekar terbaik. Dan kebanyakan dari para pendekar itu, kemudian memilih untuk mengabdi di Kerajaan Wiyagra Malela. Dua puluh lima orang pendekar yang diikutsertakan dalam tugas besar ini oleh Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima, adalah para pendekar-pendekar terbaik, yang sudah lulus. Dan sebelum melakukan tugas besar ini, Panglima Bayu Kusuma dan Panglima Dala Bima sudah meminta izin terlebih dahulu kepada guru besar mereka.
Tetapi Prabu Jabang Wiyagra tidak mengundang dua guru besar dari kedua padepokan besar itu, dikarenakan para guru besar tidak akan mau meninggalkan padepokan mereka. Sekalipun dalam keadaan yang sangat berbahaya. Karena itu merupakan sebuah tanggung jawab besar yang harus diemban oleh seorang guru besar. Mereka tidak boleh meninggalkan padepokan, kecuali mereka sudah dipertemukan dengan kematian. Hukum itu sudah turun temurun dipatuhi oleh para guru besar, yang memimpin secara bergantian. Para guru besar di kedua padepokan tersebut adalah orang-orang yang dianggap suci dan bersih.
Mereka tidak akan keluar dari area padepokan, karena konon katanya, kesucian dan kesaktian mereka akan luntur, jika mereka nekat meninggalkan padepokan yang sedang mereka pimpin. Setiap hari para guru besar menyibukkan diri mereka dengan berdoa, dan melatih para murid yang ada di padepokan mereka masing-masing. Mereka bahkan jarang sekali keluar dari kamar pribadi mereka. Dan tidak semua murid bisa bertemu dengan guru besar mereka. Sering sekali ada seorang murid yang tidak pernah sekalipun bertemu dengan guru besarnya, dari awal datang, sampai mereka lulus dari kedua padepokan besar tersebut.
Walaupun ada yang tidak bisa, ataupun tidak pernah bertemu dengan guru besarnya, tetapi banyak dari para murid-murid tersebut yang memiliki bakat sangat spesial. Yang sangat jarang dimiliki oleh murid-murid pada umumnya. Karena guru besar mereka tidak pernah bosan untuk mendoakan semua murid yang ada di padepokan mereka masing-masing. Sudah menjadi sebuah lumrah bagi seorang guru besar, yang lebih banyak menghabiskan waktu di dalam kamar, ataupun di dalam rumah pribadinya. Hal itu dilakukan untuk menjaga kesucian mereka.
__ADS_1