
Keadaan Prabu Bawesi sangat tidak memungkinkan untuk bisa kembali seperti semula. Seluruh tubuhnya sudah tidak dapat digerakkan. Prabu Bawesi hanya bisa menatap lurus, tanpa bisa menggerakkan kedua bola matanya. Hanya sesekali saja kedua matanya bisa tertutup. Prabu Bawesi hanya bisa melihat Prabu Jabang Wiyagra berlalu dari hadapannya.
Dia tidak lagi memiliki kekuatan untuk melakukan perlawanan. Entah ilmu kanuragan macam apa yang digunakan oleh Prabu Jabang Wiyagra, hingga bisa menarik seluruh ilmu yang dimiliki oleh Prabu Bawesi. Membuat keadannya menjadi parah separah ini. Tidak ada lagi yang bisa dilakukan oleh Prabu Bawesi, selain pasrah, menerima keadaannya yang sekarang.
Ajian Pancasona yang ia banggakan, bahkan terlalu lenyap dari dirinya, untuk selama-lamanya. Para pendukung Prabu Bawesi juga tidak ada yang bisa membantu, karena mereka semua sudah kalah oleh Maha Patih Putra Candrasa. Sekarang, para pasukan Prabu Bawesi yang tersisa sedang diamankan dan dikumpulkan menjadi satu, di tengah-tengah wilayah tersebut.
Ada yang langsung dibunuh, dan ada yang disiksa terlebih dahulu oleh para prajurit. Mereka semua benar-benar sudah tidak memiliki kekuatan untuk melakukan perlawanan. Benteng benteng besar yang bergabung sudah hancur lebur. Keraton-keraton mereka juga sudah luluh lantah. Puing-puingnya berserakan di tanah. Begitu juga dengan para pasukan yang gugur.
Pasukan Prabu Bawesi yang gugur dibiarkan begitu saja. Mereka dibiarkan tanpa ada yang mau mengurusnya. Berbeda dengan para pasukan Lare Damar, yang mulai menolong teman-teman mereka yang masih hidup. Dan membawa pasukan yang gugur di wilayah tersebut, untuk dimakamkan dengan layak.
Senjata-senjata mereka juga diangkut kembali ke markas besar yang ada di wilayah penaklukkan.
Maha Patih Putra Candrasa memerintahkan para pasukan untuk membawa Pangeran Rawaja Pati, Lare Damar, dan Patih Kinjiri, yang sudah terluka parah.
"Mohon maaf Gusti Prabu, kami bertiga terlambat membantu saudara-saudara kami." Ucap Maha Patih Putra Candrasa kepada Prabu Jabang Wiyagra.
"Tidak apa-apa Maha Patih. Kalian sudah berusaha semampu kalian. Tapi takdir berkata lain. Pangeran Rawaja Pati, Lare Damar, dan juga Patih Kinjiri, masih bisa ditolong. Besok mereka sudah bisa sadar kembali. Mereka hanya terlalu banyak mengeluarkan kemampuan mereka, untuk melawan Prabu Bawesi." Jawab Prabu Jabang Wiyagra.
"Lalu bagaimana dengan Prabu Bawesi Gusti Prabu?" Tanya Patih Daraka.
"Bawa dia ke istana Kerajaan Wiyagra Malela. Aku akan memberikan obat untuknya, agar dia bisa menggerakkan tubuhnya kembali, tapi tidak dengan kedua kakinya. Dengan begitu, Prabu Bawesi bisa merasakan bagaimana rasanya hidup di dalam penjara bawah tanah." Jawab Prabu Jabang Wiyagra.
__ADS_1
"Baik Gusti Prabu, hamba dengan Patih Kayat akan langsung membawanya ke istana Kerajaan Wiyagra Malela."
"Silahkan Patih."
Patih Daraka dan Patih Kayat langsung menggotong tubuh Prabu Bawesi, untuk dibawa ke istana Kerajaan Wiyagra Malela. Prabu Bawesi lalu diangkut menggunakan sebuah kuda, karena tubuhnya masih terlalu berat, untuk ukuran orang seperti Patih Daraka dan Patih Kayat, yang memiliki postur tubuh jauh lebih pendek dari Prabu Bawesi.
"Maha Patih."
"Hamba Gusti Prabu."
"Aku ingin pergi ke wilayah penaklukan, untuk mengobati Lare Damar dan yang lainnya. Dan kamu akan aku beri tugas untuk mengurus wilayah ini. Bangunlah kembali tempat ini dengan baik. Hiasi seluruh tempatnya, sesuai dengan yang kamu inginkan."
"Tidak. Kalau diserahkan kepada rakyat, maka akan terjadi perang saudara yang mengakibatkan banyak korban berjatuhan. Aku ingin kamu membangun kerajaan yang baru di tempat ini, di bawah kepemimpinanku. Dan aku akan mengirimkan semua hal yang kamu butuhkan di tempat ini."
"Kerajaan? Benarkah Gusti Prabu?"
Maha Patih Putra Candrasa begitu terharu mendengar ucapan Prabu Jabang Wiyagra. Karena dia tidak menyangka kalau wilayah Kerajaan Wesi Kuning, sekarang diserahkan kepadanya.
"Ya. Aku sudah mempersiapkan segalanya untukmu Maha Patih. Selama ini kau telah membuktikan kesetiaanmu kepadaku. Jadi Sudah sepantasnya kamu mendapatkan sesuatu yang lebih, dari sekedar jabatan."
"Terima kasih atas kebaikan Gusti Prabu kepada hamba. Hamba bersumpah! Sekalipun hamba sudah menjadi seorang raja, hamba akan tetap mengabdi kepada Gusti Prabu Jabang Wiyagra."
__ADS_1
Prabu Jabang Wiyagra kemudian memeluk Maha Patih Putra Candrasa dengan bangga. Sudah bertahun-tahun Maha Patih Putra Candrasa mengabdi kepada Prabu Jabang Wiyagra. Selama itu pula, Maha Patih Putra Candrasa tidak pernah sekalipun menolak, ataupun membantah perintah dari Prabu Jabang Wiyagra.
Dia seorang Maha Patih Putra Candrasa yang sangat setia kepada Prabu Jabang Wiyagra dan juga Kerajaan Wiyagra Malela. Apapun akan ia korbankan. Sekalipun itu nyawanya sendiri, dia tidak akan peduli. Semua pengorbanannya selama ini telah membuahkan hasil yang sangat luar biasa.
Baik itu untuk dirinya, maupun untuk Kerajaan Wiyagra Malela. Karena tanpa Maha Patih Putra Candrasa, mungkin saja Prabu Jabang Wiyagra masih harus bergelut dengan musuh-musuhnya, dan Kerajaan Wiyagra Malela belum didirikan sampai sekarang. Aksi nekat mendirikan sebuah kerajaan, tidak lepas dari peran seorang Maha Patih Putra Candrasa.
Maha Patih Putra Candrasa sendiri yang terus mendesak Prabu Jabang Wiyagra yang kala itu masih menjadi seorang pendekar, untuk menjadi seorang raja. Maha Patih Putra Candrasa yang pada waktu itu masih menjadi anak buah Prabu Jabang Wiyagra, mengajukan diri untuk menjadi Maha Patih dan melatih orang-orang yang ingin menjadi prajurit Kerajaan Wiyagra Malela.
Menurut Prabu Jabang Wiyagra sendiri, Maha Patih Putra Candrasa sudah pantas menjadi seorang pemimpin. Walaupun tetap berada di bawah kepemimpinannya, tetapi hal ini bisa membuat Maha Patih Putra Candrasa menjadi semakin dewasa. Apalagi sekarang dia sudah memiliki seorang istri. Prabu Jabang Wiyagra ingin Maha Patih Putra Candrasa membangun kerajaan yang besar.
Dengan adanya kerajaan besar yang dipimpin oleh Maha Patih Putra Candrasa, maka kekuatan Kerajaan Wiyagra Malela juga akan semakin besar. Dan harapan Prabu Jabang Wiyagra untuk mempersatukan Tanah Jawa akan semakin mudah. Akan semakin banyak juga orang yang bisa merasakan kedamaian dan ketentraman, seperti di Kerajaan Wiyagra Malela.
Di hadapan semua pasukan yang ada di sana, Prabu Jabang Wiyagra mengangkat Maha Patih Putra Candrasa menjadi raja di tempat ini. Nama Kerajaan Wesi Kuning akan diganti menjadi, Kerajaan Putra Malela. Nama itu sudah dibuat dan dipersiapkan oleh Prabu Jabang Wiyagra sejak lama. Jadi, mulai sekarang tidak ada lagi Kerajaan Wesi Kuning. Yang ada hanyalah Kerajaan Putra Malela.
Selain itu, Prabu Jabang Wiyagra juga mengangkat Maha Patih Galangan menjadi abdi Maha Patih Putra Candrasa. Sebagai pembuktian, kalau Maha Patih Galangan memang benar-benar ingin menebus semua kesalahan yang sudah ia lakukan kepada rakyat Kerajaan Wesi Kuning, dan juga kepada Maha Patih Putra Candrasa.
Maha Patih Putra Candrasa juga sudah berusaha mengikhlaskan semua yang sudah terjadi kepadanya. Dengan lapang dada, akhirnya Maha Patih Putra Candrasa memaafkan semua kesalahan Maha Patih Galangan. Namun dengan syarat, Maha Patih Galangan tidak akan mengulang kesalahan yang sama.
Maha Patih Galangan merasa sangat senang, karena pada akhirnya Maha Patih Putra Candrasa mau memberikan ampunan kepada dirinya. Dia langsung berjongkok, dan langsung mengucapkan sumpah setianya kepada Maha Patih Putra Candrasa, yang sekarang telah diangkat menjadi seorang raja.
Walaupun istana Kerajaan Putra Malela belum dibangun, tetapi pengangkatan Maha Patih Putra Candrasa sebagai seorang raja dilakukan secara sah. Karena dilakukan oleh Prabu Jabang Wiyagra, dengan disaksikan oleh ribuan orang. Membangun istana bukanlah hal yang sulit untuk Prabu Jabang Wiyagra. Karena dia memiliki banyak pasukan yang bisa ia beri perintah.
__ADS_1