DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 167


__ADS_3

"Mohon maaf Kakang Prabu, apa tidak terlalu kejam kalau Kakang Prabu menerapkan hal semacam itu di penjara?" Tanya Maha Patih Lare Damar kepada Prabu Jabang Wiyagra.


"Kejam Dimas Patih. Sangat kejam. Tapi itulah hal yang akan membuat mereka semua sadar, kalau tidak ada manusia yang tidak terkalahkan selamanya. Semua orang akan menjadi manusia yang sejati pada waktunya nanti. Lemah dan tak memiliki daya apa-apa."


Maha Patih Lare Damar mulai mengerti apa yang terjadi di istana Kerajaan Wiyagra Malela. Sudah banyak sekali tahanan yang dengan sengaja tidak diberikan keadilan. Agar mereka semua merasakan apa yang dinamakan dengan penderitaan. Namun Prabu Jabang Wiyagra tidak memberikan hukuman seperti itu secara merata. Kecuali untuk para tahanan di penjara bawah tanah.


Sisi kejam Prabu Jabang Wiyagra itu terbentuk semenjak perang besar terjadi. Berbagai penderitaan dan kekejaman yang ia lihat, membentuknya menjadi sosok yang baik hati, sekaligus kejam. Dua sifat yang saling berseberangan itu menjadikannya orang yang kuat dan tangguh. Sekaligus keras kepada siapa saja yang berani membuat kekacauan dan keangkara murkaan.


"Apa kau tahu Dimas Patih? Terkadang, seseorang bisa disadarkan karena dua hal."


"Apakah itu Kakang Prabu?"


"Yang pertama, dia berubah karena seseorang. Dan yang kedua, dia berubah karena keadaan. Jika musuh kita tidak mampu berubah karena seseorang, maka rubahlah mereka dengan keadaan."


Maha Patih Lare Damar mengangguk-angguk tanda memahami apa yang dikatakan oleh Prabu Jabang Wiyagra. Masih banyak sekali hal yang harus dipelajari oleh Maha Patih Lare Damar. Dia baru menjabat sebagai Maha Patih selama beberapa hari. Dia masih harus beradaptasi dengan jabatannya sekarang. Terkadang, seorang Maha Patih dipaksa untuk bertindak kejam.

__ADS_1


Sekalipun tidak suka, tapi itulah tanggung jawab yang harus dilakukan oleh seorang Maha Patih. Demi negaranya, seorang Maha Patih harus mengesampingkan kepentingan pribadinya. Karena kepentingan negara adalah kepentingan banyak orang. Jika seorang Maha Patih melanggar sumpahnya, maka dia bisa dicopot secara tidak terhormat dari jabatannya, dan akan dijatuhi hukuman berat.


Maha Patih Lare Damar masih harus mempelajari banyak hal di tempat ini. Walaupun kadang dia terlalu banyak bertanya kepada Prabu Jabang Wiyagra, tetapi Prabu Jabang Wiyagra tidak pernah bosan untuk mengajarinya sesuatu. Berbeda dengan Prabu Putra Candrasa yang sudah pernah ikut bersama dengan Prabu Jabang Wiyagra selama bertahun-tahun.


Sekarang, Prabu Putra Candrasa sedang berada di bekas wilayah Kerajaan Wesi Kuning. Dibantu Maha Patih Galangan, Prabu Putra Candrasa mulai melakukan pembangunan ulang. Sedangkan istana Prabu Bawesi dihancurkan total, atas permintaan Prabu Jabang Wiyagra. Prabu Jabang Wiyagra tidak mau kalau Prabu Putra Candrasa menempati bekas istana Prabu Bawesi.


Biarkanlah istana Prabu Bawesi dihapuskan, dan dibiarkan hanya sebatas kenangan. Bahkan pilar-pilar raksasa pun dihancurkan, sampai benar-benar hancur. Pondasinya digali kembali oleh para pasukan siluman Prabu Jabang Wiyagra. Agar tidak ada setetes pun bekas Prabu Bawesi di tanah tersebut. Dan hanya ada Prabu Putra Candrasa, sebagai raja yang baru, dengan istana yang baru.


Maha Patih Galangan bahkan mendukung hal itu, karena Maha Patih Galangan pun ingin membuka lembaran baru dalam hidupnya, tanpa adanya bayang-bayang Prabu Bawesi. Walaupun Maha Patih Galangan sudah berubah, tetapi masih ada sedikit rasa belah kasihnya terhadap Prabu Bawesi. Maha Patih Galangan sama tidak menginginkan rasa belas kasihan itu.


Dia benar-benar ingin lepas sepenuhnya dari Prabu Bawesi. Karena saat Maha Patih Galangan mengingat kembali tentang Prabu Bawesi, Maha Patih Galangan juga ingat dengan semua kekejaman yang ia lakukan bersama rajanya itu. Kenangan-kenangan buruk itu menimbulkan trauma mendalam. Sekaligus membuat batinnya terluka dan tersiksa.


Namun sayangnya, banyak dari mereka yang sudah meninggal dunia. Dan yang masih hidup pun memilih untuk mengasingkan diri ke tempat yang sangat jauh. Mereka semua sudah trauma dengan para raja yang suka menindas rakyatnya. Banyak rakyat Kerajaan Wesi Kuning yang pergi dari wilayah kekuasaan Prabu Bawesi.


Mereka semua rela tinggal di hutan-hutan terpencil. Membentuk perkampungan sendiri. Hidup dengan damai di tempat yang tidak mudah dijangkau oleh sembarangan orang. Mereka tidak mau lagi terikat dengan kerajaan manapun. Karena mereka sudah dikecewakan berkali-kali oleh Prabu Bawesi, yang sering sekali menindas rakyatnya sendiri.

__ADS_1


"Maha Patih, ada baiknya kamu mulai membiasakan diri. Aku tahu, kamu masih merasa sangat bersalah dengan dosa-dosa yang sudah kamu lakukan. Tapi tidak baik pula, kalau kamu terus menyiksa dirimu seperti ini." Ucap Prabu Putra Candrasa kepada Maha Patih Galangan.


"Iya Gusti Prabu. Hamba sudah mencobanya. Tapi, hamba benar-benar tidak bisa melupakannya, Gusti. Dosa yang hamba lakukan sudah sangat banyak. Hamba mungkin tidak akan pernah mendapatkan pengampunan dari Yang Maha Kuasa."


"Jangan berkata seperti itu. Itu akan menyakiti dirimu sendiri Maha Patih. Semua orang selalu memiliki kesempatan untuk berubah. Aku juga pernah melakukan hal yang salah, begitu juga orang lain. Bukan hanya dirimu saja, Maha Patih."


"....Sebelumnya kamu adalah musuhku, tapi sekarang, kamu adalah abdiku. Sekaligus saudaraku. Dan aku tidak akan rela melihat saudaraku mengalami penderitaan dan kesengsaraan. Aku ingin kamu merasakan kebahagiaan yang belum pernah kamu dapatkan."


"Terima kasih Gusti Prabu. Gusti Prabu sangat baik kepada hamba. Hamba bersumpah Gusti, hamba tidak akan berhenti mengabdi, sekalipun hamba sudah mati."


Prabu Putra Candrasa tersenyum kepada Maha Patih Galangan. Sekarang, raut wajah Maha Patih Galangan sudah berubah. Seperti ada sebuah cahaya yang menghiasi wajahnya. Dia tidak lagi terlihat kejam dan bengis. Wajahnya nampak lebih berwibawa dan memiliki kehormatan sebagai seorang Maha Patih.


Dan yang membuat Prabu Putra Candrasa senang adalah, Maha Patih Galangan mau menjalankan tugas untuk membantu para rakyat Kerajaan Putra Malela. Dia bahkan tidak malu untuk bergaul dengan siapa saja. Sekalipun dengan rakyat jelata. Maha Patih Galangan juga membagi memberikan harta rampasannya kepada Prabu Putra Candrasa.


Hal itu didukung oleh ketujuh orang Patih yang membantu dirinya. Mereka semua juga ikut menjadi abdi Prabu Putra Candrasa. Dengan adanya seorang raja yang baru, maka tanah bekas kekuasaan Prabu Bawesi akan menjadi tanah yang subur dan makmur. Karena meskipun Kerajaan Putra Malela belum dibangun sepenuhnya, tapi pengaruh Prabu Putra Candrasa sudah melekat di hati rakyatnya.

__ADS_1


Prabu Putra Candrasa juga mengurangi biaya pajak yang selama ini terlalu mencekik rakyat Kerajaan Wesi Kuning. Hingga membuat orang miskin diperbudak di pertambangan. Dan menciptakan penderitaan yang berkepanjangan. Setelah Maha Patih Putra Candrasa diangkat menjadi seorang raja, dia mulai melakukan pengamanan di pertambangan, dan juga di berbagai wilayah yang lainnya.


Mempekerjakan rakyatnya dengan upah yang sepantasnya. Memberikan mereka tempat yang layak untuk ditinggali. Membagikan mereka tanah untuk mereka tanami. Dan meneruskan pembangunan yang sebelumnya dipegang oleh Maha Patih Lare Damar. Semua pembangunan, baik istana maupun yang lainnya, diperkirakan akan selesai dalam waktu satu tahun.


__ADS_2