DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 355


__ADS_3

Buta Karang semakin menjadi-jadi. Dia bahkan menghancurkan tempat itu, tingkatan dan batu yang ada di sana, menjadi retak dan hancur lebur. Buta Karang sangat berambisi untuk mengalahkan Prabu Jabang Wiyagra beserta seluruh pasukannya, yang hingga sekarang masih berusaha untuk bertahan. Semua orang yang membuat pagar ghaib, terus menerus di goda pikirannya. Mereka terus-menerus dipengaruhi oleh kalimat yang keluar dari mulut Buta Karang. Buta Karang membisikkan berbagai hal kepada mereka. Salah satunya adalah dosa-dosa yang pernah mereka lakukan di masa lalu. Prabu Sura Kalana hampir saja terpengaruh dengan hal tersebut.


Namun, dengan cepat dia bisa mengatasinya. Setelah mengingat kembali kenangannya bersama dengan Prabu Jabang Wiyagra. Karena hanya Prabu Jabang Wiyagra-lah yang telah memberikan kenangan-kenangan indah kepada Prabu Sura Kalana. Beliau yang telah membuat Prabu Sura Kalana berubah menjadi manusia yang lebih baik. Tapi godaan itu cukup berat bagi para anggota Pasukan Maha Wira. Bagi seorang pendekar, tentunya mereka sudah melakukan berbagai macam hal yang kurang baik. Apalagi semasa pertikaian antara Padepokan Ageng Singo Negoro dan Padepokan Ageng Maja Lingga, mereka sudah banyak membunuh orang. Yang kebanyakan orang yang tidak bersalah.


Mereka kembali mengingat wajah-wajah orang yang telah mereka bunuh. Sulit bagi mereka untuk melepaskan hal itu. Karena itu adalah kenangan yang sangat buruk bagi diri mereka sendiri. Apalagi saat Padepokan Ageng Singo Negoro dan Padepokan Ageng Maja Lingga bermusuhan, mereka juga kerap melakukan kecurangan, demi mendapatkan kemenangan. Kenangan-kenangan buruk yang sudah mereka lupakan secara perlahan, sekarang mulai muncul kembali di benak mereka. Awalnya mereka semua baik-baik saja dan tidak bermasalah sedikitpun. Tapi setelah beberapa waktu, mereka pun mulai melemah. Hanyut dalam pikiran sendiri. Yang membuat mereka jadi tidak fokus, dengan apa yang sedang mereka lakukan.


"Sadarlah! Jangan ikuti pikiran buruk kalian. Ikutilah kata hati kalian!" Ucap Prabu Jabang Wiyagra kepada mereka semua.


Hal itu juga ternyata dialami oleh para anggota Pasukan Bara Jaya. Tapi mereka semua masih bisa mendengarkan apa yang diucapkan oleh Prabu Jabang Wiyagra. Dikarenakan mereka sudah sering mendapatkan pelatihan dari Prabu Jabang Wiyagra. Berbeda dengan para anggota Pasukan Maha Wira, yang bisa dibilang masih baru. Belum memiliki banyak pengalaman. Sehingga mereka masih mudah terpengaruh oleh sesuatu. Apalagi sihir yang dikeluarkan oleh Buta Karang memang tidak main-main. Meskipun Buta Karang tidak mampu menembus pagar ghaib yang mereka buat, tetapi dia mampu menembus pikiran mereka. Dan mengeluarkan segala hal tersembunyi, yang selama ini tersimpan dalam diri mereka.


Beberapa orang anggota Pasukan Maha Wira sudah mulai melepaskan kedua tangan mereka. Hal itu membuat pagar ghaib yang mereka buat jadi melemah. Semua orang yang masih bertahan mulai merasakan sakit di kedua tangan mereka. Tak hanya rasa sakit saja yang mereka rasakan, tapi juga rasa panas yang sangat luar biasa. Mereka kesulitan untuk bertahan. Di sinilah Prabu Jabang Wiyagra mulai kembali menggunakan kekuatannya. Sedari tadi Prabu Jabang Wiyagra hanya menyimpan kekuatannya, karena beliau tahu, akan ada pasukannya yang terpengaruh oleh bisikan Buta Karang. Orang-orang yang tergoda dengan bisikan dari Buta Karang, mulai mendekat ke arah Buta Karang. Lalu berlutut di hadapannya.


Tatapan mereka kosong. Mereka benar-benar telah hanyut ke dalam pikiran mereka sendiri. Hal itu memberikan kesempatan kepada Buta Karang, untuk menghisap jiwa mereka. Sayang sekali, beberapa anggota Pasukan Maha Wira itu sudah tidak lagi memiliki kendali atas diri mereka. Sehingga dengan mudahnya, Buta Karang menghisap jiwa mereka semua. Saat itulah mereka baru sadar, dan berteriak sejadi-jadinya, karena rasa sakit luar biasa yang mereka rasakan. Anggota Pasukan Maha Wira yang menjadi korban, antara lain adalah :

__ADS_1


Warunendra, Parakrama, Sidarta, Hanaya, Jadara, Pratapa, Bayana, Sawala, Jakara, Satikara, Bhalaji, Pamurta, Caraman, Dharapa, dan juga Sarawa.


Mereka harus tewas oleh Buta Karang, dengan kondisi yang sangat-sangat memperihatinkan. Prabu Jabang Wiyagra hanya bisa pasrah melihat keadaan mereka. Karena jika Prabu Jabang Wiyagra keluar dari lingkaran pagar ghaib tersebut, maka pasukannya yang lain pun akan terkena imbasnya. Beliau hanya bisa berdoa, agar semuanya segera membaik. Prabu Jabang Wiyagra masih dengan sabar menunggu kedatangan Eyang Badranaya. Entah apa yang sudah terjadi, sehingga Eyang Badranaya tidak kunjung datang ke tempat ini. Prabu Jabang Wiyagra benar-benar tidak kuasa melihat para pasukannya mati dan menderita. Buta Karang yang tahu kalau Prabu Jabang Wiyagra sedang bersedih, dia menggunakan kesempatan itu untuk mempengaruhi pikiran Prabu Jabang Wiyagra yang sedang kacau.


"Jabang Wiyagra.."


Suara Buta Karang mulai terngiang di telinganya.


"Lihatlah apa yang sudah terjadi kepada pasukanmu. Mereka semua mati karena keputusanmu yang salah. Sudahlah. Akhiri saja semuanya Jabang Wiyagra. Kembalilah ke tempat dari mana kamu berasal. Tinggalkan semua orang yang ada di sini. Aku akan membimbingmu menuju ke tempat yang jauh lebih baik. Sebuah tempat tanpa penderitaan dan rasa sakit. Ikutlah denganku, Jabang Wiyagra. Ikutilah aku." Ucap Buta Karang yang sedang mencoba mempengaruhi Prabu Jabang Wiyagra.


"Sang Hyang Wenang-lah yang akan menyelamatkanku. Dan apa yang terjadi kepada para pasukanku, adalah takdir dari Sang Hyang Wenang. Kala Sang Hyang Wenang telah memutuskan sesuatu, maka sungguh akan terjadi." Ucap Prabu Jabang Wiyagra dalam hatinya.


Saat itulah Prabu Jabang Wiyagra mulai sadar kembali. Bahkan dia bisa melihat dengan jelas, apa yang terjadi kepada Buta Karang. Karena ternyata, jika Buta Karang gagal mempengaruhi korbannya, maka Buta Karang akan merasakan rasa panas yang luar biasa, di dalam dadanya. Hal itu bisa dilihat oleh Prabu Jabang Wiyagra. Buta Karang menggosok-gosok dadanya, dengan kedua tangannya. Bahkan, Buta Karang mulai mengerang, karena menahan rasa panas yang luar biasa. Prabu Jabang Wiyagra semakin memahami musuhnya. Beliau sekarang sudah paham, kalau Buta Karang tidak bisa dikalahkan dengan ilmu kesaktian. Melainkan hanya bisa dikalahkan dengan keyakinan.

__ADS_1


Keteguhan dan ketegasan seseorang dalam mengambil keputusan, akan menyulitkan Buta Karang untuk mempengaruhi orang tersebut. Dan jika Buta Karang gagal, maka hal itu akan kembali kepada dirinya. Buta Karang seperti mendapatkan sebuah serangan. Yang jauh lebih kuat dibandingkan dengan ilmu kanuragan.


"Dengar para abdi setiaku! Teguhkan hati kalian! Jangan ragu dengan Kuasa Gusti Kang Moho Agung! Dia akan memberikan kekuatan kepada kita semua! Kalau kita meyakini kuasa-Nya! Kuatkan tekad kalian untuk melawan kejahatan! Jangan mau mengalah kepada keangkaramurkaan! Lawan! Lawan dengan keyakinan!" Kata Prabu Jabang Wiyagra yang berusaha untuk membakar semangat dalam jiwa dan raga pasukannya.


Sebuah hal yang luar biasa pun terjadi. Buta Karang yang sebelumnya nampak kuat dan hebat, sekarang mulai melemah. Bahkan, Buta Karang-lah yang sekarang tertunduk lesu, dengan posisi bertekuk lutut di hadapan mereka semua. Buta Karang merasakan rasa panas, yang sangat-sangat panas di sekujur tubuhnya.


"Dorong! Tekan!" Perintah Prabu Jabang Wiyagra kepada seluruh pasukannya.


Prabu Jabang Wiyagra dan pasukannya pun mendorong tenaga dalam, yang sudah tertahan dalam diri mereka.


"Kyaaaattt!"


Bersama-sama, mereka semua mendorong kedua tangan mereka ke arah Buta Karang. Buta Karang yang sudah tertunduk lemas pun tidak bisa menghindari serangan tersebut. Hal itu membuat tubuhnya terpental. Bahkan, Buta Karang langsung keluar dari dalam tubuh Patri Asih. Buta Karang berteriak dengan suara sangat keras. Dia tidak bisa menahan dirinya lagi, untuk keluar dari tubuh Patri Asih. Prabu Jabang Wiyagra telah menemukan cara untuk mengalahkan Buta Karang. Dan sekarang, keberuntungan berpindah kepada Prabu Jabang Wiyagra. Buta Karang pun merasakan ketakutan yang sangat-sangat luar biasa, saat menatap wajah Prabu Jabang Wiyagra. Seakan wajahnya mirip dengan wajah Eyang Badranaya. Seseorang yang pernah mengalahkannya.

__ADS_1


"Tidak! Tidaaak! Tidaaaaakk!!!" Teriak Buta Karang saat menatap wajah Prabu Jabang Wiyagra.


Prabu Jabang Wiyagra sudah memahami apa yang terjadi. Sekarang beliau tahu, apa alasan Eyang Badranaya tidak datang ke tempat ini. Karena Eyang Badranaya ingin Prabu Jabang Wiyagra belajar bagaimana menghadapi musuhnya dengan baik. Sehingga Eyang Badranaya lebih memilih untuk tidak ikut campur dalam pertarungan tersebut. Selama ini, Prabu Jabang Wiyagra selalu berpikir, kalau ilmu kesaktiannya sudah mampu menandingi kekuatan musuh-musuhnya. Padahal, ilmu kesaktian hanyalah setetes dukungan, bukan untuk dijadikan sebuah pedoman. Ilmu kanuragan diibaratkan sebuah pedang. Dan tidak semua permasalahan yang ada di dunia ini, harus diselesaikan dengan pedang. Terkadang, hati dan pikiran jauh lebih tajam, dibandingkan dengan sebilah pedang.


__ADS_2