
Pertarungan antara Prabu Bawesi dan Lare Damar menjadi semakin sengit. Lare Damar terus menerus mendapatkan serangan ganas dari Prabu Bawesi. Begitu juga dengan Patih Kinjiri, dan juga Pangeran Rawaja Pati. Prabu Bawesi benar-benar sulit ditaklukkan. Kesaktiannya bertambah berkali-kali lipat setelah dia merubah wujudnya.
Patih Kinjiri bahkan sampai terkena cakaran di dadanya. Yang membuatnya terkapar dan tidak mampu bangkit lagi. Walaupun Lare Damar dan Pangeran Rawaja Pati sudah berusaha untuk menggabungkan kekuatan mereka, tapi tetap saja, cara yang mereka melakukan tidak berhasil. Dan Prabu Bawesi masih bisa bertahan dengan sangat baik.
Namun Pangeran Rawaja Pati dan Lare Damar tidak langsung menyerah begitu saja. Mereka berdua kembali menyerang Prabu Bawesi dengan segala kemampuan yang mereka miliki. Pangeran Rawaja Pati mengikat perut Prabu Bawesi dengan ekornya yang memiliki sisik-sisik tajam. Lare Damar menyerang dengan mencakar wajah Prabu Bawesi.
Prabu Bawesi mulai merasakan kesakitan di seluruh wajahnya. Bahkan dalam wujud harimau hitam itu, terlihat kalau wajah Prabu Bawesi dipenuhi darahnya sendiri. Prabu Bawesi mulai merasakan perih di wajahnya. Dengan terpaksa, Prabu Bawesi harus kembali ke wujud aslinya. Hal itu menjadi kesempatan yang baik untuk Lare Damar melakukan serangan.
Tapi saat sudah berubah ke wujud aslinya, Prabu Bawesi berhasil melepaskan jeratan ekor Pangeran Rawaja Pati di perutnya. Sehingga, saat Lare Damar melayangkan serangan, Prabu Bawesi langsung menghantam perut Lare Damar dengan sangat keras. Pukulan itu membuat Lare Damar langsung kembali ke wujud aslinya.
Begitu juga dengan Pangeran Rawaja Pati yang sama-sama kembali ke wujudnya yang asli. Pangeran Rawaja Pati dan Lare Damar sudah tidak sanggup lagi untuk bangkit. Mereka terluka parah. Terutama dengan Lare Damar dan Patih Kinjiri yang sudah tidak lagi sadarkan diri. Sedangkan Pangeran Rawaja Pati masih bisa bertahan, walaupun dia juga sama-sama terluka parah.
Maha Patih Putra Candrasa beserta Patih Daraka, dan Patih Kayat, juga masih disibukkan dengan para pasukan Prabu Bawesi yang jumlahnya sangat banyak. Mereka juga sudah mulai menghadapi para raja yang ikut dalam pertempuran tersebut. Walaupun para raja-raja itu tidak terlalu tangguh, tapi mereka tetap saja merepotkan.
Maha Patih Putra Candrasa beserta Patih Daraka, dan Patih Kayat, belum mengetahui kalau ketiga saudara mereka sedang terluka parah, dan sangat membutuhkan pertolongan. Mereka bertiga benar-benar tidak bisa kemana-mana, karena pasukan Prabu Bawesi terus berusaha untuk menahan mereka, agar tidak masuk ke dalam.
Mereka bertiga juga tidak mungkin meninggalkan para pasukan mereka yang ada di sini. Bisa-bisa para pasukan mereka habis, karena kalah jumlah dari pasukan Prabu Bawesi. Mau tidak mau, mereka harus bertahan di tempat ini, demi membantu pasukan mereka. Karena mereka tidak akan mampu menghadapi para raja yang sudah ikut ke dalam pertempuran besar itu.
__ADS_1
Patih Daraka dan Patih Kayat berusaha untuk membukakan jalan, agar Maha Patih Putra Candrasa bisa menerobos masuk. Sedikit demi sedikit, tempat itu semakin longgar, karena banyaknya pasukan Prabu Bawesi yang mati di sana. Begitu juga dengan banyaknya para raja yang terluka. Termasuk para pimpinan prajurit.
Maha Patih Putra Candrasa, Patih Daraka, dan juga Patih Kayat, menggabungkan ilmu kanuragan mereka, untuk menumbangkan para prajurit yang masih mengepung mereka bertiga. Sekuat tenaga, mereka mengeluarkan Ajian Gelap Ngampar. Mereka bertiga mengarahkan tangan mereka ke atas untuk mengeluarkan ajian tersebut.
Hal aneh pun mulai terjadi di sana. Tiba-tiba saja ada angin besar di tempat itu. Begitu juga dengan langit yang mulai gelap, disertai dengan sambaran-sambaran petir. Sambaran petir itu semakin lama semakin membesar. Setelah cukup lama mereka bertiga mengarahkan tangan mereka ke atas langit, mereka bertiga lalu menghentakkan tangannya ke tanah.
Seketika tanah pun langsung bergetar hebat. Dan semua pasukan musuh yang ada di sana langsung terkapar. Sedangkan pasukan musuh yang berada dekat dengan mereka bertiga, saat itu juga langsung tewas. Tubuh mereka menghitam karena tersambar petir yang menghantam mereka semua dari atas langit.
Itulah hebatnya Ajian Gelap Ngampar jika digabungkan dan digunakan pada saat yang tepat. Ajian Gelap Ngampar mampu membuat musuh seketika tak berdaya. Walaupun masih banyak yang hidup, tapi tetap saja mereka tidak bisa melakukan apa-apa karena sudah terluka. Mereka akan membiarkan Maha Patih Putra Candrasa beserta Patih Daraka dan Patih Kayat memasuki istana Prabu Bawesi.
Dan betapa terkejutnya mereka, saat melihat Pangeran Rawaja Pati sedang diajar habis-habisan oleh Prabu Bawesi. Pangeran Rawaja Pati sudah tidak sanggup lagi melakukan perlawanan. Dia bahkan tidak mampu menahan pukulan dan tendangan dari Prabu Bawesi. Sehingga tubuhnya dipenuhi dengan luka lebam. Dan mulutnya mengeluarkan banyak darah.
Namun sekarang, Pangeran Rawaja Pati sudah terlalu lemah, untuk merubah kembali wujudnya menjadi sebuah keris. Pangeran Rawaja Pati hanya bisa pasrah, menerima semua Serangan yang diberikan oleh Prabu Bawesi. Maha Patih Putra Candrasa dan kedua Patih itu langsung saja menyerang Prabu Bawesi, yang masih belum menyadari kedatangan mereka bertiga.
Seketika serangan ilmu pukulan dari ketiga Patih itu membuat Prabu Bawesi terpelanting, hingga masuk ke dalam istananya sendiri. Namun Prabu Bawesi masih belum kalah. Dia kembali bangkit, dan membalas serangan Maha Patih Putra Candrasa dan ketua Patihnya. Dan pada saat Prabu Bawesi mencoba mengeluarkan ilmunya, tiba-tiba datanglah Prabu Jabang Wiyagra.
Kedatangan Prabu Jabang Wiyagra mampu membuat semua lapisan tanah bergetar, seperti terjadi gempa. Prabu Jabang Wiyagra datang dalam keadaan yang penuh marah. Bahkan Prabu Bawesi sampai dibuat merinding melihatnya. Prabu Jabang Wiyagra mendekat ke arah Prabu Bawesi, dan langsung menghantam wajahnya dengan sangat keras.
__ADS_1
Prabu Bawesi langsung jatuh tersungkur, di istananya sendiri. Tak hanya itu saja, Prabu Jabang Wiyagra juga menarik singgasana Prabu Bawesi, tanpa menyentuh singgasana besar itu sedikitpun. Prabu Jabang Wiyagra langsung menghantamkan singgasana itu kepada Prabu Bawesi. Prabu Bawesi tidak bisa menghindar, karena dia masih kesakitan.
Dalam dua kali serangan saja, keadaan Prabu Bawesi sudah sangat kacau. Baju baja yang melindungi tubuhnya sampai hancur, topengnya pun terbuka. Dan di sinilah baru terungkap, kalau wajah Prabu Bawesi sudah rusak parah. Ditambah dengan beberapa goresan akibat terkena cakaran kuku-kuku tajam milik Lare Damar.
"Bagaimana Prabu Bawesi? Apa kau masih mau menyerangku?" Ucap Prabu Jabang Wiyagra.
"Jabang Wiyagra... Kau benar-benar pantas untuk mati. Kau selalu ikut campur dalam urusan kami!"
"....Ingat Jabang Wiyagra! Aku tidak akan pernah melupakan semua yang sudah kau lakukan selama ini! Aku akan membunuhmu suatu hari nanti!"
"Suatu hari nanti? Tidak ada suatu hari nanti Prabu Bawesi. Aku akan membunuhmu hari ini juga. Aku tahu kamu memiliki Ajian Pancasona, itulah kenapa kamu bisa bertahan dari serangan Maha Patih Putra Candrasa."
"....Tetapi hari ini, aku akan mencabut ajian itu. Dan selamanya kamu akan menderita, Prabu Bawesi." Jawab Prabu Jabang Wiyagra sembari menyentuh kepala Prabu Bawesi.
Prabu Bawesi langsung berteriak kesakitan. Ternyata Prabu Jabang Wiyagra benar-benar menyerap sebagian besar kesaktian yang dimiliki oleh Prabu Bawesi. Bahkan, Prabu Jabang Wiyagra hanya menyisakan sari-sari dari ilmunya saja. Dengan begitu, Prabu Bawesi hanya bisa mendapatkan penderitaan, karena seluruh tubuhnya terkena dampak dari penarikan ilmu secara paksa, yang dilakukan oleh Prabu Jabang Wiyagra.
Sari-sari dari ilmu yang dimiliki oleh Prabu Bawesi dibiarkan begitu saja. Sehingga akan menimbulkan rasa sakit tiada tara, untuk Prabu Bawesi. Dan hal itu akan berlaku selama-lamanya. Tidak akan ada satupun orang yang bisa menyembuhkan Prabu Bawesi, kecuali Prabu Jabang Wiyagra sendiri. Setelah selesai, Prabu Bawesi langsung tak sadarkan diri.
__ADS_1
Seluruh tubuhnya membiru. Matanya melotot. Sebagian giginya juga rontok. Bahkan kuku-kuku jari tangan dan jari kakinya langsung mengelupas. Tetapi inilah yang dimaksud dengan siksaan berat. Walaupun tubuh Prabu Bawesi sudah sangat payah, tetapi dia masih dalam keadaan hidup. Prabu Bawesi masih bisa mendengar, dan masih bisa merasakan rasa sakit. Hanya saja, dia tidak akan bisa menggerakkan tubuhnya lagi.