DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 311


__ADS_3

"Dulu aku pernah bermimpi kalau aku bisa menaklukkan semuanya. Menjadi seorang penguasa atau seorang raja. Tapi sekarang aku sudah berada pada sebuah kenyataan. Kenyataan kalau aku bukanlah siapa-siapa." Ucap Mahendra kepada Jiramani.


Di sana Mahendra sudah mulai menyesali apa yang telah ia lakukan selama ini. Sedangkan Jiramani sendiri masih sangat kecewa kepada Mahendra. Karena pengaruh buruk dari Mahendra, kini Jiramani juga ikut terseret masuk ke dalam penjara. Jiramani tidak mengatakan sepatah kata pun selama dia berada dalam penjara itu. Jiramani benar-benar sangat marah kepada Mahendra. Namun kalaupun dia mengamuk, semuanya sudah terlambat. Karena tempat ini adalah tempat terakhir untuk dirinya. Tidak ada yang bisa ia lakukan selain pasrah pada keadaan.


Mahendra tahu, kalau Jiramani sudah tidak lagi percaya kepada dirinya. Dan Mahendra pun bisa memaklumi hal tersebut. Dia bahkan berkali-kali meminta maaf kepada Jiramani. Namun Jiramani tidak memberikan reaksi apapun. Jiramani hanya diam dan menyandarkan dirinya, pada dinding-dinding tanah di penjara tersebut. Jiramani mengalami tekanan batin yang sangat berat. Karena dia tidak pernah merasakan bagaimana rasanya kelaparan dan kehausan. Apalagi hidup dalam ruangan yang gelap. Yang membuat pandangan kedua matanya menjadi buram. Dan sulit untuk melihat.


Meskipun ada sedikit penerangan di ruangan itu, tapi Jiramani dan Mahendra masih tetap tidak bisa melihat apa-apa, selain cahaya dari obor kecil tersebut. Entah sudah berapa kali Mahendra meminta maaf kepada Jiramani. Mahendra benar-benar merasa sangat bersalah, karena telah menyeret Jiramani ke dalam penjara ini. Padahal Jiramani masih sangat dibutuhkan oleh keluarganya. Sekarang, Jiramani tidak akan pernah bisa bertemu dengan anak dan istrinya lagi. Seluruh hidupnya akan ia habiskan dalam penjara paling terkutuk ini. Mereka berdua akan dibiarkan mati secara perlahan.


Karena bagi siapa saja yang masuk ke dalam penjara bawah tanah, baik yang berada di tingkat paling atas ataupun paling bawah, semuanya akan merasakan hal yang sama. Yaitu mati dalam kesepian dan penderitaan. Belum pernah ada satu makhluk hidup pun yang berhasil keluar dari penjara paling terkutuk ini. Semua akan berakhir dengan tulang belulang. Dan selamanya mereka tidak akan pernah lagi melihat dunia luar. Jiramani dan Mahendra bahkan tidak tahu, sudah berapa hari mereka ada di tempat ini. Karena mereka benar-benar tidak bisa melihat dan mendengar apapun. Kecuali suara yang keluar dari dalam tubuh mereka sendiri.


Mereka berdua tidak akan pernah tahu lagi, apa yang sedang terjadi di luar penjara ini. Untuk bisa bertahan hidup, maka mereka berdua harus saling memakan satu sama lain. Jadi sekarang, baik Jiramani maupun Mahendra, mereka harus memutuskan nasib mereka masing-masing. Tanpa harus mempedulikan lagi siapa kawan siapa lawan. Karena sekarang nasib mereka ada di tangan mereka sendiri. Dan tidak akan ada satupun orang yang bisa menolong mereka. Mereka harus memberikan keputusan sekarang.

__ADS_1


Siapa yang akan menjadi pemangsa?


Dan siapa yang akan dimangsa?


Tapi sepertinya, rasa haus dan lapar masih bisa mereka tahan. Jiramani dan Mahendra sama-sama enggan untuk melalukan hal itu. Meskipun sempat beberapa kali terbesit di dalam pikiran mereka untuk melakukannya. Jiramani dan Mahendra saling membelakangi satu sama lain. Terutama dengan Jiramani yang sepertinya tidak berhenti menangis. Dia menangisi nasibnya yang penuh dengan kesialan. Dan semua itu akibat dari pengaruh. buruk Mahendra, yang selalu memberikannya harapan-harapan indah dan menyenangkan kepada Jiramani, agar mau ikut dengannya.


Jiramani baru menyadari, kalau apa yang dikatakan oleh Mahendra hanyalah omong kosong belaka. Mahendra hanya bisa bicara tanpa melakukan apa-apa. Dia hanya bisa mempengaruhi pemikiran orang lain, agar mengikuti perintah dari dirinya. Padahal dia sendiri pun belum tentu mampu untuk melakukan hal yang ia perintahkan kepada orang lain. Mahendra selalu berusaha untuk menjadi pemimpin dan penguasa, bagi setiap orang yang dia temui. Dia selalu berusaha untuk mencari simpati kepada orang-orang di sekitarnya. Tanpa mempedulikan apapun.


Namun setiap kali ada orang yang mengikuti Mahendra, pasti selalu digunakan untuk kepentingan jahatnya. Salah satunya adalah untuk menjadi seorang bandit. Dan untuk mewujudkan impian Mahendra, agar bisa menjadi seorang raja. Kini, Mahendra baru menyadari setelah dia berada dalam penderitaan dan kesengsaraan. Saat masih menjadi orang yang kuat dan gagah, Mahendra sama sekali tidak mau menerima nasehat-nasehat baik dari orang lain. Bahkan ia seringkali membantah nasehat-nasehat baik dari gurunya sendiri. Yaitu satu-satunya orang yang benar-benar peduli kepadanya.


Jiramani yang mendengar ucapan itu sama sekali tidak tersentuh hatinya. Dia bahkan menjadi sangat marah kepada Mahendra. Dan tanpa diduga-duga, Jiramani langsung menghantam wajah Mahendra dengan tangannya. Mahendra yang memang sudah dalam keadaan lemah itupun hanya bisa pasrah tanpa melakukan perlawanan. Jiramani terus menghajarnya tanpa ampun. Dia benar-benar menumpahkan segala kekesalannya kepada Mahendra, yang selama ini telah memanfaatkan dirinya. Jiramani berteriak dengan penuh amarah dan kebencian. Tanpa ia sadari, kalau sekarang Prabu Jabang Wiyagra sedang melihat perbuatannya dari luar penjara tersebut.

__ADS_1


Prabu Jabang Wiyagra memperhatikan semua yang dilakukan oleh Jiramani kepada Mahendra, melalui sebuah teropong yang ada di luar penjara, yang terhubung langsung dengan penjara bawah tanah tersebut. Karena memang, ruangan yang digunakan untuk menahan Jiramani dan Mahendra adalah ruangan penjara bawah tanah yang paling bawah. Dan sangat jarang sekali ada orang yang mau masuk ke sana, termasuk Prabu Jabang Wiyagra sendiri. Dikarenakan penjara tersebut sangat-sangatlah kotor, dan sama sekali tidak dirawat dengan baik. Hal itu sengaja dilakukan untuk menambah penderitaan semua tahanan yang ada di sana.


Prabu Jabang Wiyagra merasa begitu puas, dengan apa yang dilakukan Jiramani kepada Mahendra. Jiramani terus menerus memukuli wajah dan tubuh Mahendra, tanpa ampun. Mahendra hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu. Apalagi rasa lapar yang dirasakan oleh Jiramani sudah benar-benar menggerogoti dirinya. Jiramani tidak bisa lagi menahan rasa lapar dan haus yang terus menjangkit, dan mempengaruhi pikirannya untuk membunuh Mahendra. Tidak ada satupun senjata tajam di dalam penjara itu. Jadi, Jiramani mencakar-cakar tubuh Mahendra, agar tubuh Mahendra bisa mengeluarkan darah.


Darah Mahendra yang mengucur itulah yang nantinya akan ia minum, untuk menghilangkan rasa hausnya. Jiramani sudah tidak peduli lagi apa yang sedang dirasakan oleh Mahendra. Dia hanya peduli kepada perutnya sendiri, tanpa mendengarkan lagi teriakan kesakitan dari Mahendra. Sedangkan Mahendra hanya bisa berteriak menahan rasa sakit yang ia dapatkan. Apalagi disaat Jiramani mulai mencicipi bagian tangan kanannya, dengan begitu bernafsu. Mahendra hanya bisa menatap Jiramani dengan penuh kesedihan, dan rasa bersalah yang begitu luar biasa. Kalau mereka tidak masuk ke dalam penjara ini, tentu Jiramani pun tidak akan sampai hati memakan tubuhnya seperti itu.


"Prajurit. Apapun yang terjadi pada mereka, biarkan saja. Biarkan mereka saling memakan satu sama lain. Kalaupun ada salah satu dari mereka yang hidup, mereka tidak akan pernah bisa keluar dari tempat itu." Ucap Prabu Jabang Wiyagra kepada para penjaga yang ada di sana.


"Baik Gusti Prabu."


"Ingat. Tetap awasi kedua tahanan itu. Dan laporkan kepadaku, kalau salah satu dari mereka sudah mati."

__ADS_1


"Baik Gusti."


Prabu Jabang Wiyagra langsung meninggalkan tempat tersebut, setelah cukup puas menonton adegan yang mengerikan itu. Prabu Jabang Wiyagra tidak pernah menduga kalau Jiramani akan tega memakan tubuh Mahendra. Tapi karena rasa benci dan rasa lapar yang sudah sangat menjangkit, Jiramani akhirnya kehilangan akal sehatnya. Dan dengan lahapnya memakan tangan kanan Mahendra. Tanpa peduli lagi apa yang akan terjadi kepadanya nanti. Karena dia tidak pernah memakan daging manusia. Apalagi memang tidak sepantasnya, kalau manusia memakan manusia. Dan hal itu adalah hal yang sangat terlarang untuk dilakukan.


__ADS_2