
Semua pasukan Prabu Bawesi sudah bersiap-siap kepada posko mereka masing-masing. Dengan berat hati, Prabu Bawesi harus membatalkan misi serangan ke Kerajaan Wiyagra Malela. Kematian prajurit di jalur bawah tanah dua hari yang lalu, membuatnya lebih berhati-hati lagi istananya.
Setiap pertanyaan yang ada di istana diperkuat dan dikembangkan, dengan menambahkan beberapa senjata di bagian bentengnya. Prabu Bawesi tidak mau kalau ada lagi pasukannya yang terbunuh secara diam-diam. Karena itu adalah sebuah penghinaan, yang membuktikan kalau pertahanan istananya begitu lemah.
Prabu Bawesi memerintahkan semua pasukannya, dan juga para raja yang ada di bawah kepemimpinannya, untuk lebih berhati-hati lagi dalam mengambil tindakan. Karena Prabu Bawesi sendiri sudah mengakui bagaimana kehebatan orang-orang dari Kerajaan Wiyagra Malela. Terutama Prabu Jabang Wiyagra.
Prabu Bawesi tidak mau nasibnya sama seperti kerajaan-kerajaan lain yang sudah diduduki oleh Prabu Jabang Wiyagra. Raja-raja mereka banyak yang ditahan di penjara bawah tanah. Ada juga yang sudah mati. Satu-satunya yang masih aman sampai sekarang hanyalah Prabu Garan Darang.
Hingga saat ini Prabu Garan Darang masih belum ditangkap oleh pasukan Kerajaan Wiyagra Malela. Keberadaannya entah ada di mana. Prabu Garan Darang sangat sulit dilacak keberadaannya, karena dia terus berpindah-pindah tempat, bersama dengan para pengikutnya. Dia tidak pernah diam di satu titik lokasi.
Awalnya Prabu Bawesi ingin meminta bantuan kepada Prabu Garan Darang. Tapi Prabu Bawesi merasa malu kalau dia sendiri yang harus datang kepadanya. Apalagi Prabu Bawesi sudah pernah mengusir Prabu Garan Darang dari wilayah kerajaannya. Kabar soal Prabu Garan Darang yang berada di bawah perlindungan Prabu Bawesi, adalah kabar bohong.
Prabu Bawesi hanya mau menerima Prabu Garan Darang menjadi Patih di kerajaannya. Tetapi Prabu Garan Darang selalu meminta jabatan penting kepada Prabu Bawesi, yang membuat Prabu Bawesi tidak suka. Semakin lama Prabu Bawesi semakin bosan dengan sikap Prabu Garan Darang yang setiap hari berusaha untuk mendapatkan kepercayaan dari Prabu Bawesi.
Prabu Garan Darang dan kelompoknya bahkan pernah melakukan penjagaan ketat di wilayah penting Kerajaan Wesi Kuning. Padahal Prabu Bawesi sama sekali tidak meminta bantuannya. Karena sudah muak dengan sikap Prabu Garan Darang yang hanya menjadi seorang penjilat, Prabu Bawesi lalu menghajar Prabu Garan Darang habis-habisan. Kalau mengusirnya dari wilayah Kerajaan Wesi Kuning.
__ADS_1
Prabu Garan Darang yang kecewa pun langsung pergi meninggalkan wilayah Kerajaan Wesi Kuning. Dia lalu kembali membentuk kelompoknya, dan menambahkan jumlah anggotanya menjadi semakin banyak. Prabu Garan Darang selalu melakukan kekacauan-kekacauan kecil di wilayah Kerajaan Wesi Kuning. Dengan cara menjadi seorang perampok.
Banyak sekali orang-orang kaya di Kerajaan Wesi Kuning yang mengeluhkan hal tersebut kepada Prabu Bawesi. Namun seperti biasanya, Prabu Bawesi menganggap sepele hal tersebut. Padahal itulah awal dari semua kekacauan yang terjadi sekarang. Karena Prabu Garan Darang, banyak sekali wilayah-wilayah penting di Kerajaan Wesi Kuning menjadi tidak aman untuk ditempati.
Banyak warga masyarakat yang kemudian meninggalkan desa mereka, karena desa tersebut terlalu rawan dengan perampasan, yang dilakukan Prabu Garan Darang dan kelompoknya. Dengan banyaknya warga desa yang pergi meninggalkan desa mereka, maka akan membuat Prabu Bawesi merugi. Karena dia akan kesulitan untuk mendapatkan budak.
Prabu Garan Darang tahu betul di mana titik-titik yang rawan untuk bisa diserang. Banyak wilayah Prabu Bawesi yang kemudian direbut oleh Prabu Garan Darang dan kelompoknya. Prabu Bawesi selalu berusaha untuk menangkap Prabu Garan Darang dengan segala kemampuan yang ia miliki. Tetapi Prabu Garan Darang selalu berhasil lolos.
Jika anggota kelompoknya berhasil dihabisi, maka Prabu Garan Darang akan berkelana kembali ke tempat lain, untuk mencari orang-orang yang bisa ia jadikan bawahan. Dia terus menerus melakukan hal itu sampai sekarang. Dan tidak pernah berhenti untuk mengganggu wilayah kekuasaan Prabu Bawesi. Walaupun Prabu Garan Darang hanya mampu melakukan serangan-serangan kecil, tetapi serangannya itu cukup memberikan efek kepada Prabu Bawesi.
Apalagi hingga saat ini, Prabu Garan Darang masih masuk ke dalam daftar buronan Kerajaan Wiyagra Malela. Dia masuk dalam daftar orang yang harus dimasukkan ke penjara bawah tanah. Itu menjadi salah satu alasan kuat mengapa Prabu Garan Darang selalu bersembunyi hari satu tempat ke tempat yang lain. Karena kalau sampai tertangkap, maka Prabu Garan Darang akan bernasib sama seperti raja-raja yang lainnya.
......................
Di dalam ruangan singgasananya, Prabu Bawesi sedang mengarahkan para abdinya untuk melakukan rencana selanjutnya, karena dirasa rencana yang sebelumnya sudah gagal total. Prabu Bawesi memberikan perintah kepada mereka untuk membuat jebakan di jalur bawah tanah, yang akan digunakan jika dalam keadaan yang mendesak.
__ADS_1
"Aku mau kalian membuat jebakan yang rumit di dalam jalur bawah tanah. Karena aku tidak mau ada satu orang pun yang menyusup lagi ke jalur bawah tanah milikku. Serangan kecil kemarin kepada beberapa prajurit kita merupakan suatu penghinaan."
".....Artinya pihak musuh sudah mengetahui apa saja yang ada di dalam istana ini. Cepat atau lambat mereka juga pastikan menyerang Kerajaan Wesi Kuning. Dan menghabisi semua orang yang ada di tempat ini tanpa ampun. Karena itulah perintah yang diberikan kepada Lare Damar oleh Prabu Jabang Wiyagra."
"Mohon maaf Gusti Prabu, untuk membangun jebakan di jalur bawah tanah, perlu waktu yang lama. Apa tidak sebaiknya kita perketat saja penjagaan di jalur itu? Gusti Prabu?" Ucap salah seorang raja.
"Benar Gusti Prabu. Apalagi sekarang Lare Damar dan pasukannya sudah semakin dekat dengan wilayah keraton, Gusti Prabu."
Semua orang yang ada di sana memberikan pendapatnya masing-masing. Dan kebanyakan lebih setuju untuk tetap mempertahankan wilayah ini, dengan cara memperketat keamanan yang ada. Menurut para raja yang mendukung Prabu Bawesi, jumlah pasukan yang mereka miliki sudah lebih dari cukup, kalau digunakan dengan baik.
Tetapi Prabu Bawesi sangat berambisi untuk bisa menaklukkan istana Kerajaan Wiyagra Malela, dan membunuh Prabu Jabang Wiyagra. Pilihan yang ditentukan oleh Prabu Bawesi adalah pilihan yang sangat sulit. Karena jika Prabu Bawesi dan pasukannya meninggalkan istana, bisa saja Lare Damar dan pasukannya yang masuk dan menduduki istana ini.
Walaupun istana Kerajaan Wesi Kuning tidak sebagus istana Kerajaan Wiyagra Malela, tapi tetap saja ini adalah awal dari terbentuknya kekuasaan Prabu Bawesi. Diibaratkan, wilayah ini sudah seperti tanah kelahiran bagi Prabu Bawesi sendiri. Kalau ditinggalkan, maka semua hal yang ada di tempat ini akan dihancurkan dan ditenggelamkan oleh Lare Damar dan pasukannya.
Kalau hal itu benar-benar terjadi, maka generasi selanjutnya tidak akan ada yang pernah tahu, kalau Kerajaan Wesi Kuning pernah berdiri, dan menjadi kerajaan penghasil emas terbesar yang ada di Tanah Jawa. Kerajaan Wesi Kuning akan dihapuskan dari sejarah. Peninggalan-peninggalan kerajaan ini akan dihancurkan tanpa sisa.
__ADS_1
Terutama dengan Prabu Bawesi, dia tidak akan pernah diceritakan dalam kisah manapun suatu hari nanti. Yang ada hanyalah cerita tentang kekuasaan Prabu Jabang Wiyagra. Karena sejarah selalu ditulis oleh para pemenang. Sedangkan pihak yang kalah akan dibuat bungkam, yang hanya menyisakan cerita dari mulut ke mulut.