
Dalam masa tenang itu, Ratu Mekar Senggani mulai mendapatkan masalah di istana kecilnya. Ratu Mekar Senggani mendapatkan laporan dari salah satu anggota pasukan Kerajaan Wiyagra Malela, kalau ada sekelompok bandit yang melakukan penyerangan kepada para warga kota. Mereka menjarah persediaan makanan yang dimiliki oleh para warga yang ada di kota. Entah siapa pemimpin dari kelompok bandit tersebut. Yang pastinya mereka rela melakukan apa saja demi bisa mendapatkan makanan.
Namun Ratu Mekar Senggani masih belum mau memberikan reaksi apapun terhadap peristiwa itu. Dia ingin mengetahui terlebih dahulu bagaimana perkembangan para kelompok pemberontak yang ada di seluruh wilayah Kerajaan Panca Warna. Karena jika Ratu Mekar Senggani melakukan pergerakan sekarang juga, maka akan timbul masalah yang lebih besar lagi. Penyerangan yang dilakukan para pandi tersebut hanyalah pancingan untuk Ratu Mekar Senggani. Agar dia mau mengerahkan para pasukannya.
Dan kalau sampai hal itu terjadi, maka Ratu Mekar Senggani sudah masuk ke dalam perangkap mereka. Apalagi semenjak Ratu Mekar Senggani bergabung dengan Prabu Jabang Wiyagra, banyak sekali rakyat Kerajaan Panca Warna yang tidak setuju dengan hal itu. Mereka masih tetap menganggap Prabu Jabang Wiyagra sebagai musuh besar mereka. Yang harus mereka lawan, dan harus mereka hancurkan. Tanpa mereka sadari, kalau Ratu Mekar Senggani sama sekali tidak menyukai hal itu.
"Aku tidak mau tunduk kepada rakyatku sendiri. Kecuali mereka adalah orang-orang suci dan orang-orang bijak. Sedangkan para kelompok pemberontak ini, mereka hanyalah orang-orang yang dibayar dan dipaksa untuk melakukan kejahatan. Karena mereka sama sekali tidak memiliki pekerjaan. Daripada aku harus menuruti kemauan mereka, aku lebih baik menghabisi mereka. Sekalipun mereka adalah rakyatku sendiri." Ucap Ratu Mekar Senggani kepada semua abdinya yang ada di sana.
Panglima Lara Kencana juga mendukung keputusan yang diberikan Ratu Mekar Senggani. Diketahui, para kelompok pemberontak tersebut sudah didanai oleh Patri Asih dan para pengikut setianya. Yang tujuannya adalah untuk memisahkan persatuan antara Prabu Jabang Wiyagra dengan Ratu Mekar Senggani. Karena hal itu dapat membahayakan posisi Patri Asih dan kelompoknya, yang sekarang sudah tersebar, hampir di seluruh Tanah Jawa. Setiap dari mereka memiliki tugas yang berbeda-beda.
Namun kebanyakan dari mereka adalah untuk menciptakan kerusuhan di wilayah Kerajaan Wiyagra Malela. Patri Asih masih memiliki banyak sekali persediaan emas. Dia bahkan membangun kembali markas besarnya, yang berada jauh di pedalaman hutan. Untuk mencapai tempat itu, perlu waktu berhari-hari, jika berjalan kaki. Karena tidak ada kuda yang bisa melewati tempat tersebut. Patri Asih juga sangat ketat menjaga wilayahnya. Dia tidak mau kalau sampai pasukan Kerajaan Wiyagra Malela datang ke tempat ini.
__ADS_1
Hutan itu adalah satu-satunya tempat teraman untuk dirinya, agar tidak terus-menerus berada dalam pengejaran Prabu Jabang Wiyagra dan pasukannya. Dan setelah tahu kalau Ratu Mekar Senggani juga bergabung dengan Prabu Jabang Wiyagra, Intan Senggani semakin panik. Dia bingung harus menggunakan cara apa untuk menghadapi mereka berdua. Karena sekarang pasukan Patri Asih masih belum cukup untuk melawan Ratu Mekar Senggani dan Prabu Jabang Wiyagra, yang jumlahnya ribuan.
Meskipun begitu, Patri Asih tetap berusaha untuk mengurangi kekuatan pasukan Ratu Mekar Senggani dan pasukan Prabu Jabang Wiyagra. Dengan cara menghasut seluruh rakyat Kerajaan Panca Warna yang sekiranya masih memberikan dukungan kepada Ratu Mekar Senggani. Dia juga memberikan bantuan dana dan senjata kepada para pasukan pemberontak. Agar mereka semakin lancar dalam melakukan penyerangan. Terutama dengan para mantan pejabat istana Kerajaan Panca Warna, yang ingin berkuasa.
Patri Asih menawari mereka banyak hal. Sehingga mereka semua tergiur dan menerima berbagai penawaran yang Patri Asih berikan. Tapi semua itu tidaklah gratis. Ada harga yang tetap harus mereka bayar. Para pemberontak itu harus mendukung pergerakan yang dilakukan oleh Patri Asih dan para pengikutnya. Patri Asih mau para kelompok pemberontak melakukan penyerangan di sekitaran wilayah perbatasan Kerajaan Panca Warna yang dijaga ketat oleh para pasukan Kerajaan Wiyagra Malela.
Yang menjadi tujuan utama mereka adalah, untuk merusak lahan pertanian milik warga. Terutama dengan tanaman padi. Karena jika para warga gagal panen, maka mereka hanya bisa mengandalkan bantuan dari Prabu Jabang Wiyagra saja. Ratu Mekar Senggani pas jangan sangat sedih setelah mereka mengetahui, kalau mereka akan gagal panen. Ditambah lagi sekarang masalah kelaparan di Kerajaan Panca Warna masih belum selesai. Ratu Mekar Senggani masih berusaha untuk mengembalikan keadaan seperti semula.
Ratu Mekar Senggani pun sudah tahu, kalau yang mendanai para kelompok pemberontak itu adalah Patri Asih dan para pengikutnya, yang sebenarnya jumlah mereka tidaklah seberapa. Dan sangat tidak sebanding dengan jumlah pasukan yang dimiliki oleh Ratu Mekar Senggani. Namun, Patri Asih adalah orang yang cerdas dalam mengatur strategi. Dia pandai mempengaruhi pemikiran orang-orang. Apalagi sekarang ini banyak sekali orang yang sedang kelaparan. Orang yang kelaparan sangat mudah dipengaruhi. Dan rela melakukan apa saja, demi bisa mengisi perut mereka dengan makanan.
*
__ADS_1
*
Di tempat persembunyiannya, Patri Asih dan para pengikutnya sedang merencanakan sesuatu. Patri Asih ingin mengajak Intan Senggani untuk bergabung dengan dirinya. Sekarang ini Intan Senggani berada tidak jauh dari tempat persembunyiannya saat ini. Patri Asih ingin Intan Senggani memberitahu apa kelemahan Ratu Mekar Senggani. Dengan mengetahui kelemahan Ratu Mekar Senggani, maka akan semakin mudah bagi Patri Asih untuk mengalahkankannya. Jika berhasil, maka dia hanya perlu mengambil alih kekuasaan Ratu Mekar Senggani di Kerajaan Panca Warna. Dan akan membersihkan seluruh kelompok pemberontak yang ada.
Kelompok pemberontak yang selama ini membantunya hanya dimanfaatkan untuk kepentingannya sendiri. Patri Asih tidak benar-benar ingin membantu mereka. Karena ini bukan hanya sekedar masalah pribadi. Tetapi Patri Asih jika ingin mendapatkan tahta singgasana Kerajaan Panca Warna sepenuhnya. Dia juga ingin menjadi seorang ratu. Patri Asih tidak mau terus-menerus hidup dalam persembunyian. Dia ingin berkembang, dan bisa menggepakkan sayapnya di seluruh jagad Tanah Jawa. Sekalipun dia harus mengorbankan segalanya, Patri Asih tidak peduli.
Tanpa sepengetahuan para pengikutnya, Patri Asih juga berencana untuk mengorbankan para pengikutnya sendiri, agar bisa mendapatkan ilmu kesaktian yang lebih tinggi. Dia ingin agar dirinya bisa berhadapan dengan Prabu Jabang Wiyagra. Dan bisa menyeimbangkan kekuatannya. Atau bahkan, kekuatannya bisa melebihi kekuatan dari Prabu Jabang Wiyagra. Para pengikut setianya yang bodoh itu, sama sekali tidak mengetahui hal tersebut. Mereka masih percaya kalau Patri Asih akan memberikan hadiah atas pengorbanan mereka selama ini, jika Patri Asih berhasil mencapai tujuannya.
"Aku akan memberikan sesuatu yang lebih, dari apa yang kalian harapkan. Selama Kalian mau membantuku, dalam segala hal yang aku lakukan." Itulah yang Patri Asih ucapkan kepada para pengikutnya.
Padahal kalimat itu hanyalah obat penenang. Agar para pengikutnya tidak berpaling dari dirinya. Dan tetap setia untuk selamanya. Patri Asih ternyata juga memiliki iblis sesembahannya sendiri. Yang selama ini memberikan kecerdasan kepada dirinya. Namun ada satu hal yang tidak pernah Patri Asih dapatkan, yaitu dia tidak pernah meminta ilmu kesaktian kepada iblis tersebut. Karena syarat yang diberikan oleh iblis itu sangatlah berat. Si iblis menginginkan tumbal orang-orang yang beraliran hitam. Dan sudah pasti, orang-orang itu adalah para pengikut Patri Asih sendiri. Karena hanya merekalah yang selama ini menganut ilmu hitam.
__ADS_1
Tapi melihat keadaannya sudah seperti sekarang, Patri Asih sudah tidak peduli lagi kepada para pengikutnya. Patri Asih akan mengorbankan mereka di saat yang tepat. Tanpa dia memikirkan bagaimana nasib mereka nantinya. Padahal, mereka adalah orang-orang yang setia kepada Patri Asih. Buktinya, sampai sekarang mereka masih bertahan dengannya, dan mendukung semua pergerakan yang ia lakukan. Mereka benar-benar patuh di bawah perintah Patri Asih. Namun Patri Asih yang sudah gelap mata, tidak lagi mempedulikan hal tersebut. Yang terpenting bagi dirinya, dia bisa mencapai tujuannya untuk menjadi seorang penguasa.