
Pesta ulang tahun Prabu Bujang Antasura begitu meriah. Banyak orang-orang terhormat yang hadir disana. Mereka semua disuguhkan dengan tarian-tarian, atraksi dari para prajurit kerajaan. Dan masih banyak hiburan lainnya.
Mereka semua pesta minum-minum dan sebagian besar dari para tamu undangan sudah ada yang mabuk berat. Maha Patih Bala Antasura dan Maha Patih Widhala bersama dengan pasukannya mulai memperketat keamanan di dalam dan di luar istana.
Mereka berdua sudah kenal sejak lama, dan di malam itu mereka saling berbagi cerita satu sama lain.
“Maha Patih Bala Antasura, aku sebenarnya khawatir melihat suasana yang meriah ini. Aku sangat tidak nyaman. Apalagi banyak para tamu yang sudah mulai mabuk berat. Kalau ada apa-apa, bisa-bisa kita yang kerepotan.” Ucap Maha Widhala.
“Tenang saja Maha Patih Widhala. Kakang Prabu Bujang Antasura sudah mempersiapkan semua pasukannya dengan baik. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan.” Jawab Maha Patih Bala Antasura sembari menenggak minumanya.
Maha Patih Widhala hanya tersenyum kepadanya. Dia sudah paham bagaimana sifat Sang Maha Patih dengan rajanya yang tidak berbeda jauh, karena mereka adalah kakak beradik.
Maha Patih Widhala diajak masuk ke dalam istana oleh Maha Patih Bala Antasura untuk melihat tarian para penari lokal yang kebanyakan adalah perempuan cantik. Maha Patih Bala Antasura yang sudah setengah mabuk itu terlihat begitu bernafsu melihat para penari perempuan bertubuh molek dan indah itu.
Namun karena banyaknya tamu yang disana, dia hanya bisa menahannya dengan hanya mengelus dadanya. Ingin sekali rasanya dia bergabung dengan para penari itu, dan menikmati setiap lekuk tubuh mereka dari jarak dekat.
“Kenapa Maha Patih?” Tanya Maha Patih Widhala.
“Tidak ada. Aku hanya kagum melihat mereka. Para penari itu begitu cantik dan menggairahkan.”
Maha Patih Widhala hanya geleng-geleng kepala. Walau pun dia bukanlah orang baik. Tapi dia masih bisa menghargai perempuan. Dia tidak akan melecehkan seorang perempuan, sekali pun hanya dengan sebuah pandangan.
Berbeda dengan Maha Patih Bala Antasura yang mulai menggerakkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan menikmati alunan musik gamelan yang mengiringi para penari itu. Sembari tetap menikmati minuman yang ada digenggamannya.
Dia kemudian memanggil salah astu dayang untuk mengantarkannya ke kamar, karena dia sudah setengah sempoyongan.
“Hey Maha Patih Widhala, aku permisi dulu. Kau nikmatilah pestanya. Jangan pulang sebelum mendapatkan perempuan.” Ucap Maha Patih Bala Antasura sembari tertawa.
Setelah Maha Patih Bala Antasura pergi ke kamarnya. Maha Patih Widhala keluar lagi dari tempat itu. Dan menuju menara pengawas yang ada di istana. Disana dia bersama dengan beberapa prajurit istana yang sedang berjaga.
__ADS_1
Namun sayangnya, bukannya malah fokus berjaga, para prajurit itu diam-diam juga sedang menikmati minuman yang mereka bawa. Disana juga ada beberapa kotak makanan berisi makanan-makanan lezat. Dan itu terjadi di semua menara penjaga.
“Gila. Semua orang benar-benar sudah kesetanan.” Ucapnya dalam hati.
Akhirnya dia pergi keluar gerbang istana untuk menemui pasukannya yang sedang berjaga di luar. Barulah disana dia tidak menemukan satu pun pasukan yang sedang mabuk. Semua pasukannya berjaga dengan baik.
“Bagus. Jangan mabuk seperti orang-orang gila yang ada di dalam. Kita tidak tahu apa saja yang sedang musuh persiapkan. Kita tetap harus waspada.”
“Baik Maha Patih. Tapi dengan keadaan seperti ini, sepertinya musuh akan mengambil kesempatan Maha Patih. Semua orang sibuk dengan diri mereka masing-masing.” Jawab salah seorang pimpinan pasukan.
“Benar Maha Patih. Bahkan pasukan kerajaan ini sendiri hanya berjaga di luar gerbang ini beberapa kali saja. Padahal mereka seharusnya menjaga istana mereka sendiri.” Sahut salah seorang lagi dari mereka.
“Yah. Tapi setidaknya aku masih menemukan orang waras di tempat ini. Tetap berjaga disini. Dan jangan pernah mau meminum apa pun yang bisa membuat kalian mabuk. Paham?”
“Paham Maha Patih.”
Benar saja, tak lama dari itu, Maha Patih Widhala dikejutkan dengan gerbang istana yang secara tiba-tiba tertutup dari dalam.
Maha Patih Widhala dan pasukannya pun panik, karena dugaan mereka benar adanya. Dan terbukti sekarang, kalau di dalam istana sudah terjadi kerusuhan besar.
“Kalian semua tunggu disini aku akan memanjat dinding!” Ucap Maha Patih Widhala kepada pasukannya.
“Baik Maha Patih.”
Maha Patih Widhala pun langsung memanjat dinding benteng istana yang sangat tingggi itu seperti seekor laba-laba. Dia terus berusaha naik, hingga akhirnya dia sampai di atas benteng istana.
Di atas benteng itu, Maha Patih Widhala langsung disambut dengan berbagai macam senjata, seperti pedang dan panah, dari orang-orang bertopeng. Karena keadaan semakin kacau, dia hanya berusaha menghindar dari serangan yang datang ke arahnya.
Fokusnya hanyalah Prabu Bagas Candramawa yang sedan terjebak di tengah-tengah kerusuhan.
__ADS_1
Para pendekar bertopeng itu secara membabi buta menyerang semua tamu-tamu penting yang ada di dalam istana. Mereka juga melemparkan beberapa kantung minyak dan membakarnya. Sehingga terjadi banyak sekali kebakaran di tempat itu.
Para penjaga yang ada di menara yang seharusnya mengawasi orang-orang yang ada di bawah, justru sudah mati terlebih dahulu. Sehingga sekarang suasana istana Kerajaan Antasura sudah sangat-sangat kacau.
Dalam waktu singkat sudah banyak sekali para prajurit yang mati. Bahkan ada beberapa raja-raja dari kerajaan-kerajaan kecil yang sudah terluka dan juga terbunuh karena para pendekar sakti itu.
Serangan yang dilakukan oleh para pendekar sakti itu benar-benar membuat semua orang yang ada disana kelimpungan. Dengan keadaan yang kebanyakan dari mereka sudah mabuk, jelas mereka sudah tidak bisa mengontrol diri mereka sendiri.
Setelah sempat bertarung dengan para pendekar itu, Maha Patih Widhala akhirnya bisa bersama dengan Prabu Bagas Candramawa dan beberapa pengawalnya yang masih tersisa. Para pendekar itu benar-benar melakukan serangan secara brutal.
Mereka juga memiliki kemampuan bela diri yang tidak main-main. Bahkan beberapa dari mereka juga bisa mengendalikan api. Sehingga kebakaran di tempat itu semakin besar.
Para pendekar sakti itu tidak hanya menyerang para tamu-tamu penting saja. Tapi mereka juga membunuh anak beserta istri dari para raja yang hadir di pesta itu. Mereka benar-benar sangat mematikan dan tidak berperasaan. Bahkan anak kecil saja bisa mereka tebas kepalanya dengan pedang yang mereka bawa.
Beberapa dari mereka yang ada di atas benteng di istana juga menghujani semua orang dengan panah dan kantung minyak.
Suasana di dalam mau pun di luar, semuanya sama saja. Rusuh dan sangat ribut. Orang-orang berlarian kesana kemari karena ketakutan. Mereka saling bertabrakan satu sama lain.
Maha Patih Bala Antasura yang baru keluar dari kamarnya pun langsung diserang secara brutal. Dia benar-benar sudah tidak bisa konsentrasi karena sudah mabuk berat. Dan seorang dayang yang bersamanya juga dibunuh dengan dipenggal kepalanya.
Istana yang megah dan mewah seketika dibanjiri darah.
Suasana di istana Kerajaan Antasura berubah menjadi mengerikan karena banyaknya pembantaian. Maha Patih Widhala dan pasukan pengawal Prabu Bagas Candrawama berusaha membuka gerbang yang terkunci.
Karena sangat sulit, akhirnya Prabu Bagas Candramawa menggunakan kemampuannya untuk menghancurkan gerbang itu.
Blaaarrrrr!!!
Gerbang itu langsung hancur dan menyisakan patahan-patahannya saja. Maha Patih Widhala dan semua pasukannya yang masih tersisa pun langsung buru-buru pergi dari sana bersama Prabu Bagas Candramawa. Mereka terpaksa berlari dengan kaki, karena kuda mereka masih ada di dalam istana.
__ADS_1
Yang terpenting sekarang, mereka pergi dari tempat itu, menghindar sejauh mungkin. Mereka tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi di dalam. Yang penting sekarang, mereka semua bisa selamat.