
"Kalau boleh jujur, aku sebenarnya masih meragukan isi surat ini. Tapi kalau memang benar, pakai ini akan menjadi kemenangan yang besar untuk kita semua. Dan bisa menjadi hati-hatian untuk kita, dalam melakukan serangan ke wilayah Kerajaan Wesi Kuning." Ucap Prabu Jabang Wiyagra kepada Patih Kinjiri.
Patih Kinjiri yang sudah mengantarkan surat tersebut sampai kepada Prabu Jabang Wiyagra. Surat itu adalah surat yang ditulis oleh Maha Patih Galangan, beserta gambaran jelas peta yang digambarkannya. Di peta tersebut banyak sekali petunjuk yang tidak diketahui oleh Prabu Jabang Wiyagra dan juga Patih Kinjiri.
Patih Kinjiri tidak paham sama sekali, dia tidak bisa membaca peta tersebut, karena sandinya sangat-sangat rumit. Prabu Jabang Wiyagra sendiri juga harus mengkaji kembali tentang keaslian peta dan juga isi surat tersebut. Walaupun surat itu sudah jelas berasal dari Maha Patih Galangan.
Patih Kinjiri kemudian diutus oleh Prabu Jabang Wiyagra untuk mengirimkan surat kepada Maha Patih Galangan. Dan untuk sementara waktu, benteng pertahanan akan diambil alih kepemimpinannya oleh Ki Singo Rogo dan Joko Gondol. Karena perjalanan ke Kerajaan Wesi Kuning tidaklah mudah.
Kerajaan Wesi Kuning masih dalam keadaan darurat, dan belum sepenuhnya aman. Masih saja terjadi serangan-serangan kecil dari pihak pasukan Prabu Bawesi. Ditambah lagi dengan tempat persembunyian Maha Patih Galangan yang jauh dari markas utama Lare Damar. Tidak menutup kemungkinan kalau tempat persembunyian itu hanyalah jebakan.
Apalagi Maha Patih Galangan sudah pernah berusaha untuk menjebak Prabu Jabang Wiyagra, yang kemudian jebakan itu mengenai Maha Patih Putra Candrasa, hingga terjadi pertarungan yang mengakibatkan Prabu Bawesi terluka parah. Jadi, Prabu Jabang Wiyagra tidak bisa mempercayai Maha Patih Galangan begitu saja.
......................
Di tempat persembunyiannya, Maha Patih Galangan bersama dengan ketujuh Patih kepercayaannya sedang menghitung jumlah harta rampasan yang mereka dapatkan. Tempat persembunyian itu ada di sebuah hutan. Ada sebuah gubuk kecil yang tidak terawat. Dan di bawah gubuk kecil itulah ada sebuah jalan yang menuju ruang bawah tanah.
Namun Maha Patih Galangan membuat gubuk kecil itu seakan tidak terlihat mencurigakan. Di gubuk itu selalu tersedia sesajen. Sehingga siapa saja yang lewat di sekitar gubuk itu akan mengira kalau tempat itu adalah tempat seorang pertapa. Jadi tidak akan ada orang yang berani mampir ke sana. Kebanyakan orang pasti akan mengabaikannya, karena takut mendapat masalah.
__ADS_1
Padahal, di bawah gubuk kecil itu ada sebuah ruangan dan lorong yang sangat luas. Tempatnya juga bersih dan nyaman. Bahkan di tempat itu ada beberapa pelayan pribadi dari Maha Patih Galangan. Mereka semua adalah para perempuan penghibur yang setiap hari menemani Maha Patih Galangan di tempat ini, sekaligus mengurus semua keperluannya.
Maha Patih Galangan ingin memperluas dan memperkokoh tempat ini. Dia ingin tempat ini menjadi markas utama untuk dirinya dan pasukannya. Lokasi hutan yang sangat strategis, dan jauh dari hiruk pikuk perkotaan dan pedesaan, membuat tempat ini menjadi tempat paling aman untuk ditinggali oleh Maha Patih Galangan dan para pengikutnya.
"Kita memiliki banyak sekali persediaan makanan dan juga persenjataan di tempat ini. Sekarang kita hanya perlu mencari pasukan yang jauh lebih banyak lagi untuk melakukan pemberontakan. Aku sudah mengirimkan surat kepada Prabu Jabang Wiyagra dan juga Pangeran Rawaja Pati."
"......Kalau mereka mendapatkan surat tersebut, pasti mereka akan mengirimkan utusan ke tempat ini. Semua hanyalah masalah waktu. Kita hanya harus mempersiapkan kedatangan mereka. Siapkan tempat untuk utusan dari Prabu Jabang Wiyagra, dan juga utusan Pangeran Rawaja Pati." Perintah Maha Patih Galangan kepada para Patihnya.
"Baik Gusti Patih. Kami akan menjalankan semuanya sesuai dengan perintah dari Gusti Patih. Dan soal tambahan pasukan, hamba sudah tahu siapa yang bisa dipercaya untuk menjadi pasukan kita."
"Mbah Kangkas. Dan juga semua murid di padepokannya."
"Mbah Kangkas? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu."
"Iya Gusti Patih, Mbah Kangkas adalah seorang pendekar sakti mandraguna. Dia memiliki sebuah padepokan. Sudah beberapa tahun belakangan ini, dia melakukan pemberontakan kepada Prabu Bawesi."
"....Prabu Bawesi dan para pengikutnya selalu gagal menangani Mbah Kangkas. Karena dia memiliki kesaktian yang luar biasa. Kabarnya, Mbah Kangkas pernah mengalahkan Prabu Bawesi. Tapi kabar itu belum bisa dibuktikan kebenarannya."
__ADS_1
Para Patih juga menjelaskan kepada Maha Patih Galangan, kalau Mbah Kangkas memiliki sebuah ilmu yang mampu membuat Prabu Bawesi bertekuk lutut di hadapannya. Mbah Kangkas terkenal sangat sakti dan memiliki ilmu kesaktian yang sangat sulit ditebak oleh musuh-musuhnya.
Itulah kenapa Mbah Kangkas sulit untuk dikalahkan oleh pihak istana. Pernah suatu saat beberapa orang Patih kerajaan bersama dengan pasukan mereka, mencoba menyerang Padepokan Mbah Kangkas. Tapi saat mereka sampai di lokasi berdirinya padepokan tersebut, uang mereka temukan hanyalah hutan belantara.
Padepokan Mbah Kangkas seakan raib dari pandangan semua orang. Tidak ada satu pun dari para prajurit dan juga para Patih yang melihat dimana padepokan itu berada. Padahal mereka semua yakin, kalau lokasi yang mereka datangi adalah tempat berdirinya Padepokan Mbah Kangkas.
Setelah melihat kejadian itu, para pasukan yang dikirim oleh Prabu Bawesi terpaksa pulang ke istana dengan tangan kosong. Mereka tidak mendapatkan apa pun di tempat itu. Dan bukan hanya pasukan itu saja yang mengalami hal aneh, tapi banyak sekali kelompok pasukan Prabu Bawesi yang mengalami hal yang sama.
Bahkan ada sekelompok pendekar suruhan para Patih istana, yang sampai saat ini tidak pernah kembali lagi. Entah diculik, tersesat, atau mati, tidak ada yang tahu secara pasti, apa yang terjadi kepada mereka. Karena banyaknya kejadian aneh yang dialami oleh para pasukannya, Prabu Bawesi memutuskan untuk turun tangan langsung.
Dan lagi-lagi, entah apa yang terjadi kepada Prabu Bawesi. Sampai saat ini, tidak ada yang tahu apa yang dilakukan oleh Prabu Bawesi dengan Mbah Kangkas. Karena saat sampai di istananya, Prabu Bawesi tidak mengatakan sepatah katapun kepada para abdinya. Hanya saja, yang menjadi kecurigaan para abdi istana adalah keadaan Prabu Bawesi saat sampai di istananya.
Tubuhnya kotor, mahkotanya patah dan jubahnya sobek di sana-sini. Semua orang langsung mengira kalau Prabu Bawesi sudah kalah dalam pertarungannya dengan Mbah Kangkas. Ditambah lagi dengan beberapa luka hantaman di wajahnya. Kemungkinan besarnya, Prabu Bawesi memang benar-benar bertarung dengan Mbah Kangkas. Dan kalah ditangan orang tua itu.
Setelah semua itu, Prabu Bawesi selalu mengirimkan pasukannya ke Padepokan Mbah Kangkas. Dia tidak pernah turun tangan lagi. Bahkan Prabu Bawesi enggan untuk menurunkan pasukan-pasukan terbaik dan juga persenjataan berat yang ia miliki, untuk menyerang Padepokan Mbah Kangkas.
Untuk menghilangkan rasa malunya, Prabu Bawesi menghilangkan seluruh catatan tentang Mbah Kangkas. Mbah Kangkas sudah dihapus dari daftar orang-orang yang mengabdi kepadanya. Padahal sebelumnya, Padepokan Mbah Kangkas selalu menjadi rekomendasi utama jika ada perekrutan pasukan.
__ADS_1