
"Bagaimana dengan perkembangan pasukan kita Maha Patih?" Tanya Ratu Mekar Senggani kepada Maha Patih Baruncing.
"Mohon ampun Gusti Ratu. Semua pasukan kita sudah siap pada posisi mereka masing-masing. Begitu juga dengan semua persenjataan kita. Semuanya sudah lengkap. Ditanya tinggal menunggu kedatangan pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela." Jawab Maha Patih Baruncing.
Ratu Mekar Senggani yang kecantikannya bak bidadari itu duduk dengan gagah di singgasananya. Walaupun Ratu Mekar Senggani seorang perempuan, tetapi dari caranya duduk dia lebih mirip seperti laki-laki. Lebih tepatnya seperti seorang raja. Tatapan matanya tajam, dengan raut wajahnya yang menggambarkan kalau dia sosok yang keras.
Ratu Mekar Senggani tetap bersikukuh untuk bertahan di wilayahnya sendiri. Setelah dia mengetahui kekuatan pasukan Kerajaan Wiyagra Malela, dia sudah tidak mau lagi melakukan penyerangan kepada para pasukan Kerajaan Wiyagra Malela, yang sekarang berada sangat dekat dengan wilayah perbatasan Kerajaan Panca Warna.
Pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela membuat tenda dan juga posko yang letaknya tidak jauh dari perbatasan Kerajaan Panca Warna. Jumlah pasukan yang ada di sana sebanyak sepuluh ribu orang. Dan mereka semua adalah pasukan baru, lulusan dari Padepokan Ageng Reksa Pati. Yang kesemuanya adalah kelulusan terbaik.
Mereka semua berasal dari berbagai angkatan. Ada yang sudah lulus Beberapa bulan ke belakang, dan ada juga yang baru lulus satu atau dua bulan. Mereka dikirim ke sana agar merasakan bagaimana bertugas di wilayah yang dekat dengan musuh mereka. Itu semua juga bagian dari ujian yang harus mereka lewati.
Sekalipun mereka menjadi lulusan terbaik di Padepokan Ageng Reksa Pati, belum tentu mereka bisa menghadapi lawan yang sesungguhnya. Karena yang mereka hadapi di Padepokan Ageng Reksa Pati hanyalah guru dan para pimpinan pasukan yang melatih mereka. Mereka tidak benar-benar berhadapan dengan musuh yang sesungguhnya.
Dengan diterjunkannya para pasukan terbaik lulusan Padepokan Reksa Pati, membuat Ratu Mekar Senggani semakin ragu untuk melakukan perlawanan. Saat ini dia hanya bisa memerintahkan pasukannya untuk tetap bertahan, dengan tidak melakukan kontak sedikitpun dengan para pasukan Prabu Jabang Wiyagra.
Karena kalau sampai terjadi keributan antara kedua kubu, maka akan terjadi perang besar antara Kerajaan Wiyagra Malela dan Kerajaan Panca Warna. Prabu Jabang Wiyagra juga tidak bisa melakukan penyerangan begitu saja tanpa alasan yang kuat. Yang menjadi masalah adalah, Ratu Mekar Senggani sangat didukung oleh rakyatnya.
__ADS_1
Sangat berbeda sekali dengan kerajaan-kerajaan lain, yang melakukan penindasan kepada rakyatnya sendiri. Ratu Mekar Senggani justru membuat rakyatnya makmur dan sejahtera. Hanya saja perilakunya sebagai seorang ratu, sama sekali tidak mencerminkan kehormatan.
Ratu Mekar Senggani bahkan tidak malu untuk mengumbar nafsu di depan umum. Terlebih kalau dia sedang bersama dengan Maha Patih Baruncing. Urat malunya seperti sudah lenyap. Dan berani berbuat hal-hal gila di depan para abdi istananya. Yang sudah jelas kalau itu adalah hal yang salah. Tapi rakyat yang bodoh dan tidak tahu menahu, sangat mudah untuk dipengaruhi.
Hal itulah yang membuat Prabu Jabang Wiyagra kebingungan. Karena sekalipun Ratu Mekar Senggani kalah dalam peperangan, Prabu Jabang Wiyagra dan pasukannya tidak akan mendapatkan apapun. Karena semua rakyat Kerajaan Panca Warna selalu bersatu untuk membela ratu mereka. Dan akan menjadi masalah besar jika dipaksakan.
Prabu Jabang Wiyagra tidak mungkin melakukan pembantaian kepada orang-orang yang tidak bersalah. Karena sasaran Prabu Jabang Wiyagra hanya tertuju kepada Ratu Mekar Senggani, dan juga Maha Patih Baruncing. Tidak termasuk rakyat di Kerajaan Mekar Senggani. Prabu Jabang Wiyagra terus berusaha mencari cara agar bisa melengserkan Ratu Mekar Senggani.
"Kakang Prabu, kenapa Kakang Prabu tidak mengirimkan Zafir saja untuk pergi ke sana? Dia seorang penyebar ilmu agama bukan?" Ucap Maha Patih Lare Damar.
"Ya. Benar Maha Patih. Tapi aku ragu kalau Zafir yang harus pergi ke sana. Kalau Zafir pergi sendirian maka itu akan sangat membahayakan dirinya. Dan kalau kita memberikan Zafir pengawalan, itu artinya kita sudah menginjakkan kaki di wilayah musuh. Kamu pasti sudah tahu apa yang akan terjadi." Jawab Prabu Jabang Wiyagra.
"Jangan. Itu jauh lebih berbahaya lagi. Karena wajah Zafir sangat berbeda dengan orang-orang yang ada di Nusantara. Dia akan mudah dikenali oleh semua orang. Sekarang ini kita harus berhati-hati untuk memutuskan sebuah tindakan. Hindari pertikaian sebisa mungkin."
"Baik Kakang Prabu. Hamba akan mencoba musyawarahkannya dengan para Patih, dan juga Panglima Galang Tantra. Siapa tahu mereka memiliki cara yang terbaik untuk bisa memasuki wilayah Kerajaan Panca Warna, tanpa harus menimbulkan pertumpahan darah."
"Ya. Aku serahkan tugas ini kepadamu Maha Patih. Biar bagaimanapun juga, kita tidak bisa terus menerus diam seperti ini. Kita harus melakukan sesuatu, sebelum mereka yang melakukan sesuatu."
__ADS_1
"Baik Kakang Prabu."
Maha Patih Lare Damar langsung pergi meninggalkan istana. Dia mengumpulkan beberapa orang pimpinan pasukan untuk melakukan musyawarah di markas pribadinya. Sebuah rumah megah yang dijadikan markas pribadi milik Maha Patih Lare Damar, terletak tepat di sebelah kanan istana Kerajaan Wiyagra Malela.
Rumah itu memiliki halaman yang sangat luas, yang biasanya dijadikan tempat latihan para pasukan yang ada di istana. Di samping rumah megah itu juga ada sebuah Sanggar Tari, yang digunakan untuk melatih orang-orang yang ingin akan dijadikan penari di istana Kerajaan Wiyagra Malela. berbagai macam alat musik juga tersusun dengan rapi di Sanggar Tari tersebut.
Maha Patih Lare Damar duduk di lantai bersama dengan para Patih, dan juga pimpinan pasukan yang hadir di sana. Maha Patih Lare Damar mulai mengungkapkan apa yang sedang dipikirkan oleh Prabu Jabang Wiyagra.
"Saudara-saudaraku, terima kasih kalian sudah mau hadir di tempat ini. Prabu Jabang Wiyagra memberikan perintah kepadaku untuk mengumpulkan kalian semua. Aku ingin memusyawarahkan sebuah masalah yang Prabu Jabang Wiyagra sendiri pun belum mengetahui jalan keluarnya."
Maha Patih Lare Damar kalau membeberkan semua yang sedang dipikirkan oleh Prabu Jabang Wiyagra saat ini. Maha Patih Lare Damar juga tidak tahu lagi harus membuat rencana apa, karena musuh yang mereka hadapi adalah orang yang sangat dicintai oleh rakyatnya.
"Mohon maaf Gusti Patih, sepertinya yang mengetahui jalan keluarnya hanyalah Panglima Galang Tantra. Dari yang hamba tahu Panglima Galang Tantra memiliki sebuah ajian yang mampu merubah wajah seseorang. Kalau Panglima Galang Tantra benar-benar bisa melakukannya, maka barulah Tuan Zafir bisa masuk tanpa dirucigai oleh siapapun." Ujar salah seorang Patih.
"Ya. Kamu benar juga. Tetapi Ratu Mekar Sanjaya adalah orang yang sangat sakti. Ditambah lagi dengan perilaku rakyatnya yang sangat menjijikan. Pertanyaanku adalah, apakah mungkin Zafir bisa membaur dengan perilaku mereka yang seperti itu?"
".....Karena kalau sampai Zafir tidak mengikuti apa yang menjadi kebiasaan orang-orang yang ada di sana, dia pasti akan sangat dicurigai. Atau bahkan akan langsung ditangkap oleh para pasukan Ratu Mekar Senggani."
__ADS_1
Semua orang yang ada di sana pun berusaha untuk mencari solusi dari permasalahan ini. Tapi yang mereka hadapi kali ini benar-benar bukanlah orang bodoh. Apalagi kalau sudah berbicara soal rakyat, tentu Prabu Jabang Wiyagra akan menolak untuk melakukan penyerangan. Sekalipun hanya penyerangan kecil. Karena Prabu Jabang Wiyagra tidak mau pasukannya melakukan pembantaian kepada orang-orang yang tidak bersalah.