
Prabu Jabang Wiyagra sebenarnya berat melepas mereka berdua. Tapi sebelum dia memutuskan semuanya, dia sudah mendapatkan petunjuk, kalau mereka berdua memang harus disatukan dalam sebuah keadaan.
Terutama Lare Damar, yang bisa dikatakan baru muncul ke permukaan. Karena selama bertahun-tahun, dia hanya menghabiskan waktunya di padepokan Sang Maha Guru untuk menuntut ilmu.
Lare Damar memiliki masa perjalanan yang akan sangat panjang. Prabu Jabang Wiyagra sudah mengetahui apa yang akan terjadi kepada Lare Damar di masa yang mendatang.
Jadi dia tahu, perintah apa yang harus ia berikan kepada Lare Damar.
Walau pun Lare Damar memiliki fisik yang berbeda, tapi bukan berarti buruk hatinya. Dia adalah sosok penyabar dan tidak pernah tergesa-gesa dalam mengambil keputusan apa pun.
Lare Damar selalu berfikir panjang untuk ke depan. Bahkan diketahui kalau Lare Damar juga suka sekali mengukir disebuah batu, dan membentuk batu-batu itu menjadi hiasan rumah. Sampai banyak sekali batu yang ia simpan di padepokannya.
Selama dia berada di Kerajaan Wiyagra Malela, dia juga sudah membuat banyak sekali patung dan taman yang indah untuk Prabu Jabang Wiyagra. Banyak sekali karya-karya menakjubkan yang dibuat oleh Lare Damar.
Bahkan banyak raja-raja yang ada dibawah pimpinan Prabu Jabang Wiyagra yang tertarik untuk menggunakan keahlian Lare Damar. Tapi Lare Damar tidak akan melakukan hal itu tanpa izin dari Prabu Jabang Wiyagra. Dia selalu minta izin terlebih dahulu sebelum dia melakukan sesuatu.
......................
Prabu Jabang Wiyagra mengutus Patih Dawala dan Patih Kepila untuk menjenguk Prabu Bujang Antasura. Mereka juga dibekali dengan banyak sekali benih untuk ditanam di Kerajaan Antasura.
Dengan benih-benih itu, Prabu Bujang Antasura tidak hanya mengandalkan pangan dari upeti rakyat dan kerajaan-kerajaan kecil dibawahnya saja. Tapi dia juga memiliki hasil panen kerajaannya sendiri.
__ADS_1
Sehingga perekonomian rakyatnya bisa berkembang dengan baik. Dan Prabu Bujang Antasura juga bisa memberikan bantuan kepada rakyatnya. Benih itu adalah benih-benih terbaik yang dipilih oleh Prabu Jabang Wiyagra sendiri.
Patih Dawala dan Patih kepila berangkat dengan pengawalan lima ratus orang prajurit, karena bukan hanya benih saja yang mereka bawa. Tapi juga beberapa bantuan dana berupa emas, dan perhiasan khas Kerajaan Wiyagra Malela.
Seluruh bantuan itu nantinya akan diurus oleh para pejabat istana, dibawah pengawasan Maha Patih Widhala dan Prabu Bagas Candramawa, untuk mengantisipasi kalau sampai ada pejabat yang korup.
Karena suasana Kerajaan Antasura yang masih kacau. Dan kondisi Prabu Bujang Antasura yang belum sembuh dari sakitnya, banyak pejabat istana yang mulai tidak jujur. Mereka memanfaatkan keadaan yang sedang kacau itu untuk mencari keuntungan secara pribadi.
Tapi dibawah pengawasan Maha Patih Widhala dan pasukannya, para pejabat yang curang itu pasti bisa ketahuan. Bagi yang tercium melakukan kecurangan terhadap dana kerajaan, maka akan langsung dihukum pancung dihadapan seluruh keluarganya.
Hal itu dilakukan untuk membuat para pelakunya berfikir dua kali untuk melakukannya. Sekaligus juga untuk menekan para pemberontak istana yang sudah mulai bertindak kasar dan licik.
Orang-orang yang ingin menghancurkan Kerajaan Antasura jumlahnya semakin banyak, karena mereka terus memprovokasi rakyat.
Entah dari mana para provokator itu berasal. Karena setiap dari mereka yang tertangkap, mereka tidak pernah mau mengaku. Bahkan lebih memilih untuk bunuh diri, atau disiksa sampai mati.
Mereka benar-benar setia menjaga nama tuan mereka. Sampai mereka dengan rela melakukan hal itu. Jelas mereka sudah dicuci otaknya untuk membelot kepada Prabu Bujang Antasura.
Karena kalau urusannya hanya soal ekonomi, tidak mungkin mereka sampai rela mengorbankan nyawa mereka. Sudah pasti mereka lebih memilih berpihak kepada Prabu Bujang Antasura yang sudah mulai berubah menjadi lebih baik.
Satu bukti yang bisa didapatkan oleh Maha Patih Widhala hanyalah sebuah lambang lingkaran, dengan titik hitam ditengahnya. Lambang itu terdapat dipundak kiri masing-masing orang yang tergabung dalam kelompok itu.
__ADS_1
Kabar dari mata-mata yang Maha Patih Widhala kirimkan, kelompok ini memang sudah lama berdiri di Kerajaan Antasura. Dan sebagian dari mereka juga ada yang masuk ke lingkaran istana.
Setelah mengetahui semua itu, Prabu Bagas Candramawa dan Maha Patih Widhala semakin berhati-hati jika ingin melakukan hal apa pun di Kerajaan Antasura.
Mereka selalu memberikan perintah dadakan, khusus untuk para pejabat istana. Karena dengan begitu, jika ada anggota kelompok pemberontak, maka mereka akan kebingungan dalam menentukan tindakan.
Cara itu adalah cara paling efektif untuk menekan pergerakan kelompok pemberontak yang bisa saja mengawasi mereka sehari semalam penuh. Karena mereka pasti akan tetap melakukan tugas mereka, dan tidak akan berhenti sebelum mereka berhasil menggulingkan Prabu Bujang Antasura.
“Apa kita harus tetap menyembunyikannya dari Prabu Antasura, Gusti?” Tanya Maha Patih Widhala.
“Iya Maha Patih Widhala. Dia tidak boleh tahu soal masalah buruk di kerajaannya. Setidaknya sampai dia sembuh.”
“Baik Gusti Prabu. Lalu bagaimana dengan Lare Damar dan Patih Kinjiri?”
“Mereka pasti masih berusaha keras untuk mendapatkan obatnya. Aku tahu betul seperti apa sifat para abdi Kerajaan Wiyagra Malela.”
“.....Mereka bukan ciri khas orang yang menyerah begitu saja. Kebanyakan dari mereka adalah murid-murid terbaik dari Sang Maha Guru. Kita tahu betul siapa Sang Maha Guru itu.”
Setiap hari, Prabu Bagas Candramawa mendapatkan kabar dari Prabu Jabang Wiyagra tentang perkembangan Lare Damar dan Patih Kinjiri. Sehingga dia yakin kalau mereka akan berhasil mendapatkan apa yang mereka cari.
Maha Patih Widhala kemudian kembali kepada pasukannya yang sedang bertugas di beberapa wilayah Kerajaan Antasura. Setiap hari dia melakukan itu untuk memastikan kalau semua pekerjaan pasukannya beres dan tidak ada masalah.
__ADS_1
Sekaligus untuk mana saja orang yang bisa ia percaya di Kerajaan Antasura ini. Meski pun sudah banyak orang yang kembali mengabdi di Kerajaan Antasura, tapi itu tidak menjamin kalau semuanya sudah aman.
Setiap malam Maha Patih Widhala tidak pernah tidur. Dia berkeliling dari satu kota ke kota lain, dan dari satu desa ke desa lain. Dengan kesaktiannya, tentu dia bisa melakukannya dalam kurun waktu yang sangat singkat. Dan tidak perlu repot harus menunggangi kudanya.