DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 249


__ADS_3

"Aku tidak pernah berharap kalau semuanya akan berakhir seperti ini Prabu Putra Candrasa." Ucap Prabu Jabang Wiyagra kepada Prabu Putra Candrasa.


Prabu Putra Candrasa kala itu sudah memindahkan seluruh pasukannya ke wilayah ibu kota Kerajaan Wiyagra Malela. Ibu Kota Wiratirta.


"Tidak ada satupun yang menginginkan semua ini Gusti Prabu. Hamba dan para raja yang ada di bawah pemerintahan Gusti Prabu, sudah berusaha semampu kami untuk mencegah ini semua terjadi. Begitu juga dengan Gusti Prabu sendiri. Tapi, Yang Maha Kuasa sepertinya memiliki kehendak yang lain." Jawab Prabu Putra Candrasa


"Benar Gusti Prabu. Semoga saja apa yang kita takutkan tidak terjadi. Hamba berharap, Ratna Malangi akan bersikap seperti hamba nantinya." Sambung Prabu Bujang Antasura, pada perbincangan itu.


"Aku tidak yakin, Prabu Antasura. Hati dan pikiran Ratna Malangi sudah terselimuti dendam dan kebencian. Perang ini bukan lagi soal kekuasaan. Tapi lebih dari itu. Ratna Malangi ingin mengendalikan Tanah Jawa sepenuhnya. Di bawah kekuasaan kegelapan. Kalau semua itu terjadi, tidak pernah ada kebaikan lagi di Tanah Jawa ini." Jawab Prabu Jabang Wiyagra dengan nada sedih.


Prabu Jabang Wiyagra terduduk lesu di kursi taman itu. Menatap langit yang suram. Seakan mentari telah tenggelam. Terasa suasana pagi ini begitu mencekam. Satu-satunya hal yang tidak pernah terjadi di Kerajaan Wiyagra Malela. Karena selama ini semuanya selalu baik-baik saja. Kecuali beberapa tahun ke belakang. Dan kesuraman beberapa tahun kebelakang itu telah kembali lagi ke masa sekarang.


Sehebat apapun kekuatan yang dimiliki oleh Prabu Jabang Wiyagra, dia tetaplah manusia biasa yang tidak punya kuasa atas dunia dan seisinya. Semua yang ia miliki sekarang ini hanyalah sebuah titipan, yang sewaktu-waktu bisa diambil dari dirinya. Prabu Jabang Wiyagra semakin lama juga semakin menua. Tidak ada satupun orang di dunia ini yang tidak terkalahkan selamanya. Karena setiap manusia memiliki masanya sendiri-sendiri.


Tanpa dukungan dan dorongan dari para Abdi setianya, mungkin seorang Prabu Jabang Wiyagra pun bisa tumbang. Apalagi ketika Yang Maha Kuasa menginginkan hal yang berbeda dari apa yang Prabu Jabang Wiyagra harapkan. Keputusan dan ketetapan Yang Maha Kuasa, selalu menghasilkan sesuatu yang terbaik dari yang terbaik. Selebihnya, tergantung seberapa besar manusia itu sendiri mau berusaha, serta menerima segala keputusan dan ketetapan-Nya.


"Nanda Prabu." Panggil Sang Maha Guru dari kejauhan.

__ADS_1


Mereka semua yang ada di taman tersebut langsung berdiri menyambut kedatangan Sang Maha Guru.


"Romo."


"Aku tahu apa yang menjadi beban pikiranmu Nanda Prabu. Tetapi nasib Tanah Jawa ada di tanganmu sekarang ini. Yang Maha Kuasa telah menjadikan dirimu sebagai seseorang yang terpilih untuk menyatukan semua makhluk hidup yang ada di Tanah Jawa ini. Janganlah kamu ragu dengan kemampuanmu sendiri Nanda Prabu."


"....Daripada kamu terus menerus memikirkan masalah yang semakin membebanimu, akan lebih baik jika kamu memikirkan Bagaimana jalan keluarnya. Mintalah petunjuk kepada Yang Maha Kuasa. Tenangkanlah dirimu Nanda Prabu. Semuanya akan baik-baik saja, selama kamu mau berusaha."


"Nggih Romo. Saya akan berusaha semampu saya, Romo."


"Ya. Berusahalah memberikan yang terbaik untuk semua orang yang telah menaruh harapan besar kepadamu. Aku, juga akan turun tangan langsung untuk memerangi kejahatan ini. Sudah sangat lama aku menunggu saat-saat ini. Karena itulah aku mempersiapkan dirimu sejak dulu."


"....Eyang Badranaya, beliau juga akan turun tangan langsung, jikalau kamu membutuhkan bantuannya. Dan yang perlu kamu ingat nada Prabu. Jangan pernah sekali-kali kamu bersikap sombong ataupun angkuh dengan kemampuan yang kamu miliki. Semua itu hanyalah titipan, yang sewaktu-waktu bisa diambil oleh Yang Maha Kuasa."


"Nggih Romo."


Prabu Putra Candrasa, Prabu Bagas Candramawa, Prabu Bujang Antasura, Prabu Sura Kalana, Pangeran Rajawa Pati, dan para pendukung Prabu Jabang Wiyagra sudah bersiap pada posisi mereka masing-masing. Seluruh pasukan yang ada di bawah pemerintahan Kerajaan Wiyagra Malela telah bersiap dengan mengelilingi seluruh wilayah Ibu Kota Wiratirta. Karena pertahanan hanya dipusatkan kepada istana Kerajaan Wiyagra Malela.

__ADS_1


Semua raja-raja yang ada di bawah pemerintahan Prabu Jabang Wiyagra sudah sepakat akan mengorbankan wilayah kerajaan mereka masing-masing, secara sukarela. Mereka rela melakukan apapun demi memberikan dukungan kepada Prabu Jabang Wiyagra. Karena Prabu Jabang Wiyagra-lah yang sekarang menjadi pemimpin besar mereka. Dan satu-satunya orang yang bisa membawa kejayaan di Tanah Jawa.


Peperangan kali ini mungkin akan menjadi peperangan besar, sekaligus peperangan yang terakhir kalinya. Prabu Jabang Wiyagra akan berusaha sebaik mungkin, agar peperangan antar saudara di Tanah Jawa ini tidak diwariskan kepada anak cucu mereka. Meskipun peperangan ini juga akan menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi kedua belah pihak. Baik dari pihak Prabu Jabang Wiyagra, maupun pihak Ratna Malangi.


Mendengar kalau Prabu Jabang Wiyagra dan para pendukungnya memusatkan kekuatan di wilayah Ibu Kota Wiratirta, Ratna Malangi merasa sangat senang dan merasa sangat bangga. Karena bagi Ratna Malangi, itu menandakan kalau Prabu Jabang Wiyagra takut dengan kekuatan yang ia miliki saat ini. Tanpa ia ketahui, bahwa Prabu Jabang Wiyagra dan para pasukannya selalu memberikan kejutan kepada lawan-lawan mereka.


Inilah sebuah keajaiban yang diberikan oleh Yang Maha Kuasa kepada Prabu Jabang Wiyagra. Seberapa telitipun musuh-musuh Prabu Jabang Wiyagra dalam melakukan penyerangan, selalu saja mereka dibuat lupa dengan apa yang sudah mereka pelajari sebelumnya. Padahal Ratna Malangi sudah mengawasi perkembangan Prabu Jabang Wiyagra selama puluhan tahun. Tapi dia tidak berhati-hati dalam menghadapi situasi seperti ini. Bahkan menganggap remeh kekuatan Prabu Jabang Wiyagra dan pasukannya.


"Waktu kita tidaklah banyak. Dan aku tidak mau menghabiskan waktu hanya untuk mencari para pecundang itu. Aku ingin semua pasukan kita dipersiapkan sekarang juga. Karena sebentar lagi kita akan menggempur habis Prabu Jabang Wiyagra dan para pasukannya." Perintah Ratna Malangi kepada para pengikutnya.


"Nggih Gusti Ratu. Kami akan mempersiapkan segalanya dari sekarang. Lalu bagaimana dengan para pasukan yang dikirim untuk mencari para mantan anggota kelompok Satrio Luhur? Gusti Ratu?"


"Tarik mundur semuanya. Kumpulkan semuanya menjadi satu di tempat ini."


"Baik Gusti Ratu."


Para pengikut Ratna Malangi langsung bergegas untuk menemui teman-teman mereka yang sedang ditugaskan di berbagai wilayah. Sebagian besarnya lagi, mempersiapkan seluruh pasukan yang ada. Meskipun jumlah pasukan Ratna Malangi sangat tidak imbang dibandingkan dengan pasukan Kerajaan Wiyagra Malela, tetapi mereka semua adalah orang-orang yang kuat, dan tidak mudah untuk dikalahkan.

__ADS_1


Ratna Malangi memang pintar dalam mendidik para pengikut dan juga para pasukannya. Sehingga para pengikut dan para pasukan yang ia miliki, kemampuannya sudah tidak diragukan lagi. Dan satu kelebihan yang juga mereka miliki adalah, mereka sangat setia kepada Ratna Malangi. Mereka rela mati demi Ratna Malangi. Apapun akan mereka lakukan demi kejayaan ratu mereka. Tanpa mempedulikan lagi apa resikonya.


__ADS_2