
Yang terjadi, sudahlah terjadi. Prabu Jabang Wiyagra tidak mau menyalakan siapapun atas peristiwa tersebut. Begitu juga dengan Maha Patih Kumbandha, yang merupakan kakak seperguruan Patih Rogo Geni. Maha Patih Kumbandha sangat memaklumi keadaan pertempuran pada saat itu. Apalagi setelah Maha Patih Kumbandha melihatnya sendiri. Karena Maha Patih Kumbandha dan Prabu Sura Kalana, sempat mendatangi istana Kerajaan Putra Bathara. Untuk melihat semua yang telah terjadi di sana. Sebelum akhirnya Prabu Sura Kalana dan Maha Patih Kumbandha memutuskan untuk datang ke istana Kerajaan Wiyagra Malela. Karena ingin mendengarkan langsung penjelasan dari Prabu Jabang Wiyagra.
Walaupun ada sedikit kekecewaan kepada Prabu Putra Candrasa, tapi Maha Patih Kumbandha tetap berusaha untuk tegar dan sabar. Dia tidak mau masalah itu merambah ke mana-mana. Apalagi Prabu Sura Kalana dan dirinya, sekarang telah memiliki hubungan dekat dengan Prabu Jabang Wiyagra. Dan Prabu Jabang Wiyagra adalah raja diraja. Yang berhak mengambil segala bentuk keputusan. Prabu Jabang Wiyagra juga meminta maaf kepada mereka semua, karena telah memberikan perintah secara mendadak. Sehingga Prabu Putra Candrasa dan pasukannya, harus menerima kenyataan, kalau mereka telah kalah dalam pertempuran.
Meskipun telah membunuh banyak sekali musuh, serta memukul mundur Maha Patih Jala Karang, tetap saja hal itu akan dianggap sebagai sebuah kekalahan. Karena dari kedua belah pihak, banyak sekali yang tewas secara mengenaskan. Apalagi tewasnya Maha Patih Rangkat Sena, dan Patih Rogo Geni. Yang bisa dibilang mereka berdua ini adalah orang-orang penting, di kerajaan mereka masing-masing. Mereka berdua adalah jagoan hebat, yang menjadi andalan orang-orang di kerajaannya. Dengan kematian mereka, maka akan banyak pasukan yang merasa sangat bersedih. Bahkan bisa mengecilkan nyali mereka. Karena faktanya, selama ini pasukan Prabu Gala Ganda telah berkembang dengan sangat-sangat baik.
Prabu Putra Candrasa sama sekali tidak menyangka, kalau pasukan Kerajaan Putra Bathara mampu bersaing dengan kemampuan dari Pasukan Bara Jaya. Padahal, Pasukan Bara Jaya bukanlah pasukan sembarangan. Karena semua yang ada di dalamnya adalah orang-orang terbaik dan terpilih. Tapi dengan perkembangan pesat yang dilakukan oleh pasukan Prabu Gala Ganda, maka sudah menunjukkan sebuah bukti, kalau Prabu Gala Ganda memang sudah merubah cara berpikirnya tentang sesuatu. Dan semua itu berkat Maha Patih Jala Karang. Yang selalu setia menemaninya, dan menasehatinya setiap saat. Hingga dia berkembang sekarang.
Sayangnya, takdir berkata lain. Prabu Gala Ganda harus berakhir di tangan Prabu Putra Candrasa. Hal itu juga merupakan sebuah ketidaksengajaan. Karena sebuah spontanitas dari Prabu Putra Candrasa, yang ingin menolong Patih Rogo Geni. Hal itu dianggap wajar dalam sebuah pertarungan. Apalagi Prabu Gala Ganda memang sudah dinyatakan sebagai buronan, dan juga musuh besar Kerajaan Wiyagra Malela. Memang sudah sepantasnya Prabu Gala Ganda mati di tangan orang-orang Kerajaan Wiyagra Malela. Meskipun tanpa sebuah pengadilan. Karena telah dianggap sebagai musuh berbahaya. Yang menjadi masalah adalah, Prabu Gala Ganda tidak pernah mencoba untuk memberanikan dirinya meminta maaf kepada Sang Maha Raja, Prabu Jabang Wiyagra.
Andaikan saja Prabu Gala Ganda mau menerima saran dari Maha Patih Jala Karang, untuk meminta maaf kepada Prabu Jabang Wiyagra, mungkin dia bisa mendapatkan sebuah keringanan dalam hukuman. Atau setidaknya, Prabu Gala Ganda bisa menebus kesalahan-kesalahan yang sudah ia lakukan, dengan menjadi salah satu abdi setia Prabu Jabang Wiyagra. Sama seperti dengan Prabu Bagas Candrawama dan Prabu Bujang Antasura. Namun takdir Yang Maha Kuasa tidak bisa dibantah. Mungkin ini adalah salah satu kasih sayang yang ditunjukkan oleh Yang Maha Kuasa kepada Prabu Gala Ganda. Dengan melepaskan Prabu Gala Ganda dari urusan dunia, maka Prabu Gala Ganda tidak akan lagi memikirkan urusan dunianya.
__ADS_1
*
*
"Bagaimana dengan Patri Asih dan pasukannya?" Tanya Prabu Jabang Wiyagra kepada Prabu Putra Candrasa.
Prabu Putra Candrasa lalu mulai menceritakan apa yang terjadi selanjutnya. Bahwa Patri Asih, dan para pengikutnya kala itu membiarkan Prabu Putra Candrasa pergi dengan para pasukannya yang tersisa. Kemungkinan tujuan utama Patri Asih hanyalah untuk mengusir Prabu Putra Candrasa dan pasukannya dari sana. Bukan untuk membunuhnya. Ada sebuah usaha dari Patri Asih menyelamatkan nyawa Prabu Gala Ganda. Karena disaat Prabu Gala Ganda jatuh tersungkur, sebenarnya Patri Asih sempat ingin menolongnya. Tetapi posisi Patri Asih terlalu jauh dari Prabu Gala Ganda. Apalagi dengan para anggota Pasukan Bara Jaya yang mulai melayangkan serangan kepadanya. Sehingga dia menjadi terhambat. Dan harus turut menyaksikan kematian dari Prabu Gala Ganda dengan sangat jelas.
"Sekali lagi hamba meminta maaf, Gusti Prabu. Hamba hanya berniat menolong mendiang Patih Rogo Geni. Bukan untuk membunuh Prabu Gala Ganda. Sayangnya, Sang Hyang Wenang berkehendak lain. Hamba meminta izin kepada Gusti Prabu, untuk membuat sebuah tugu, sebagai sebuah tanda persahabatan antara Prabu Gala Ganda dengan Kerajaan Wiyagra Malela, yang belum sempat terlaksana."
Dengan berat hati, Prabu Jabang Wiyagra memberikan izin kepada Prabu Putra Candrasa. Karena Prabu Putra Candrasa terlihat sangat sedih, setelah dia membunuh Prabu Gala Ganda. Apalagi setelah dia mengetahui, kalau Prabu Gala Ganda sebenarnya sudah berubah dari tabiat buruknya. Hal itu membuat Prabu Putra Candrasa merasa sangat-sangat bersalah. Andaikan Prabu Gala Ganda masih hidup, mungkin saja Prabu Putra Candrasa sudah meminta maaf kepadanya. Ditambah lagi dengan jasad Prabu Gala Ganda yang dibawa oleh Maha Patih Jala Karang, entah kemana. Karena keadaan istana Kerajaan Putra Bathara sudah kosong. Tanpa ada satupun manusia di dalamnya. Kecuali para pasukan Kerajaan Wiyagra Malela, yang sedang membereskan mayat para pasukan yang ada di halaman depan istana tersebut.
__ADS_1
Satu hal yang paling mencengangkan adalah, singgasana Prabu Gala Ganda. Singgasana Prabu Gala Ganda tidak diketahui keberadaannya sampai sekarang. Dan satu-satunya orang yang tahu di mana singgasana tersebut, hanyalah Maha Patih Jala Karang. Sedangkan Maha Patih Jala Karang sendiri sudah pergi bersama dengan para pasukannya. Membawa jasad Prabu Gala Ganda.
"Aku yakin Maha Patih Jala Karang pasti juga menyelamatkan singgasana besar milik Prabu Gala Ganda. Karena Maha Patih Jala Karang-lah yang akan menjadi pewaris Kerajaan Putra Bathara selanjutnya. Dialah yang akan meneruskan kekuasaan Prabu Gala Ganda. Bersama dengan para pengikut setianya." Ucap Prabu Jabang Wiyagra.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang Gusti Prabu?" Tanya Prabu Putra Candrasa.
"Kalian bersihkan dulu istana Kerajaan Putra Bathara. Setelah itu bangunan sebuah tugu. Seperti yang tadi kamu katakan. Aku masih harus menyiapkan strategi terlebih dahulu, untuk menghadapi musuh-musuh yang lainnya. Aku yakin, Patri Asih pasti sedang membentuk persekutuan dengan kelompok lain. Apalagi sekarang hanya dialah yang menjadi orang terpandang diantara musuh-musuhku. Pasti akan banyak orang yang ingin bergabung dengannya."
"Baik Gusti Prabu. Hamba dan pasukan hamba akan berusaha sebaik mungkin menyelesaikan pembersihan di istana Kerajaan Putra Bathara. Sekaligus membangun tugu persahabatan."
"Ya. Lakukanlah yang terbaik untuk kita semua. Tapi jangan lupa, tetaplah waspada dengan semua keadaan yang ada di sana. Sekalipun keadaannya sangat aman. Aku yakin, cepat atau lambat, Patri Asih pasti akan kembali ke tempat itu."
__ADS_1
"Nggih Gusti Prabu."