
Suatu hari, Panggul bertemu dengan beberapa orang yang memakai jubah hitam. Entah siapa orang-orang berjubah hitam ini, tetapi mereka terlihat seperti orang-orang penting. Dan mereka semua adalah seorang perempuan. Panggul dengan beberapa orang kepercayaannya menemui si ketua dari kelompok jubah hitam itu, untuk membahas sebuah aksi yang akan mereka lakukan selanjutnya, di Kerajaan Wiyagra Malela.
Panggul diberi beberapa kantong emas, guna melancarkan aksinya tersebut. Namun di sini, si ketua dari kelompok jubah hitam itu merasa tidak puas dengan kerja keras yang sudah dilakukan oleh Panggul dan kelompoknya. Panggul dianggap terlalu lamban dalam menangani setiap hal. Terutama jika menghadapi para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela. Panggul dianggap terlalu lemah untuk menghadapi mereka.
"Panggul, kami masih bersabar untuk saat ini menunggu hasil dari kerja kerasmu, dan juga anak buahmu. Tapi kami tidak bisa bersabar selamanya. Kami juga memiliki masalah sendiri, yang harus kami tangani. Jadi, apakah kamu masih sanggup atau tidak?" Tanya salah seorang dari mereka.
Panggul hanya bisa diam, dan merasa ketakutan, mendapatkan pertanyaan itu. Panggul sebenarnya merasa sudah tidak sanggup lagi untuk menghadapi para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela. Tetapi dia juga membutuhkan banyak sekali dana untuk membuat kelompoknya berkembang menjadi lebih besar, dan menjadi kelompok bandit yang paling ditakuti di Tanah Jawa ini.
"Panggul!"
Tiba-tiba si ketua membentak Panggul dengan sangat keras. Panggul yang terkejut pun berusaha menjawab sebisanya, dan menceritakan semua permasalahan yang ia hadapi saat ini. Panggul berharap kalau dia bisa diberi sebuah ilmu kesaktian untuk menghadapi para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela, yang semakin hari juga semakin hebat, dan semakin sakti saja.
"Mohon maaf Nyi, saya sudah merasa sangat lelah menghadapi para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela. Mereka terlalu kuat untuk kami Nyi. Para prajurit Prabu Jabang Wiyagra berlatih setiap hari, dan mereka juga diberi ilmu kanuragan. Sedangkan saya dan anak buah saya tidak memiliki ilmu apa-apa, selain mengandalkan ilmu bela diri yang kami miliki. Saya harap Nyai bisa mengerti." Jawab Panggul dengan ada yang terbata-bata.
Si Ketua itu pun langsung mengambil sebuah cawan, dan memberikannya kepada Panggul. Cawan itu ternyata berisi darah ayam cemani. Dengan darah ayam cemani itu, Panggul akan mendapatkan sebuah kesaktian, untuk menghadapi prajurit Kerajaan Wiyagra Malela. Karena darah ayam cemani itu telah dibacai mantra, oleh Si Ketua. Sehingga darah ayam cemani itu bukanlah cara biasa.
__ADS_1
"Tidak akan ada satupun benda tajam yang bisa menembus tubuhmu. Kamu akan kebal terhadap segala macam senjata yang mengenai tubuhmu. Dan kamu juga memiliki beberapa ilmu pukulan yang bisa kamu gunakan untuk menghadapi para prajurit Kerajaan Wiyagra Malela."
Sedikit demi sedikit, Panggul meminum darah yang diberikan oleh Si Ketua. Dia merasakan ada sebuah kekuatan yang mengalir di dalam tubuhnya. Panggul merasakan kekuatan tersebut sudah masuk, dan telah berhasil menguasai dirinya. Panggul merasa sangat senang karena mendapatkan ilmu kesaktian yang selama ini ia idam-idamkan. Yang tidak ia dapatkan dari padepokan manapun. Karena Panggul selalu ditolak oleh setiap guru yang ada di padepokan di seluruh Tanah Jawa.
"Terima kasih Nyi! Terima kasih! Saya berjanji akan menyelesaikan semua tugas yang tertunda selama ini Nyi! Saya berjanji!"
"Pergilah! Aku sudah bosan mendengarkan ocehanmu!" Perintah Si Ketua.
Panggul bersama anak buahnya pun langsung pergi dari sana. Tetapi tanpa sepengetahuan Panggul, Si Ketua telah mengirimkan seseorang dari kelompoknya, untuk mengawasi pergerakan Panggul dan kelompoknya. Belum diketahui secara pasti, siapa nama dari kelompok yang memakai jubah hitam tersebut. Namun dilihat dari caranya berbicara, Si Ketua bukanlah orang sembarangan. Dan sudah pasti dia juga musuh dari Prabu Jabang Wiyagra.
"Sungguh aku sama sekali tidak percaya kepada mereka semua. Tetapi saat ini, hanya mereka yang bisa kita andalkan. Kita tidak mungkin menyerang secara langsung, karena kekuatan kita belum terkumpul seutuhnya. Aku ingin kalian mengumpulkan para pendekar-pendekar sakti aliran hitam, yang ada di Tanah Jawa ini. Terutama dengan para mantan-mantan murid guruku."
"Baik Nyi. Lalu apa rencana kita selanjutnya untuk Prabu Jabang Wiyagra, Nyi?"
"Untuk sekarang ini kita biarkan saja dulu raja bodoh itu hidup dengan tenang. Kita harus melakukannya satu persatu. Aku tidak mau nasib kita sama dengan para pendekar yang sudah mati di tangan Prabu Jabang Wiyagra. Dia bukan raja sembarangan. Apalagi sekarang kekuatannya sudah berkembang ribuan kali lipat."
__ADS_1
"Baik Nyi."
Di sebuah rumah kecil itulah para anggota kelompok yang berjubah hitam berkumpul untuk membahas setiap masalah yang ada di kelompok mereka. Rumah kecil itu hanyalah pengalihan saja, agar tidak menimbulkan kecurigaan orang-orang di sekitarnya. Si pemilik rumah itu adalah seorang nenek-nenek, yang sudah lama mengabdi kepada Si Ketua kelompok tersebut, selama puluhan tahun.
Dan selama puluhan tahun itu pula, rumahnya sudah sering dijadikan tempat untuk berkumpul para anggota kelompok yang berjubah hitam ini. Mereka adalah kelompok pergerakan bawah tanah, yang juga sama-sama menginginkan kehancuran Kerajaan Wiyagra Malela. Karena menganggap Kerajaan Wiyagra Malela adalah induk dari segala permasalahan di kelompok mereka, yang menganut ilmu hitam.
Meskipun semua anggotanya adalah perempuan, tetapi mereka semua adalah orang-orang yang sakti mandraguna, dan orang-orang yang sangat cerdas. Karena selama puluhan tahun ini, tidak ada satupun orang yang mengira, kalau peperangan yang terjadi antara raja-raja di Tanah Jawa adalah akibat dari ulah mereka. Semuanya sudah diatur dengan sangat baik, oleh orang-orang tersebut. Sampai kemudian keadaan berubah.
Karena setelah berdirinya Kerajaan Wiyagra Malela, jumlah anggota kelompok berjubah hitam ini secara berangsur-angsur mulai berkurang. Jumlah mereka yang awalnya ratusan, sekarang hanya tersisa beberapa puluh orang saja. Itu pun tersebar di berbagai tempat yang saling berjauhan satu sama lain. Sekarang ini mereka hanya bisa bertahan dengan kekuatan seadanya. Tidak seperti dulu, yang bisa melakukan serangan secara terang-terangan.
Sekarang keadaan sudah benar-benar berubah. Mereka semua harus berhati-hati dalam mengambil langkah. Di malam hari mereka semua adalah anggota kelompok yang sangat berbahaya. Tetapi di siang hari, mereka akan menyamar menjadi orang biasa. Sangat berbeda dengan beberapa tahun yang lalu. Yang dimana mereka bisa secara terang-terangan melakukan penyerangan. Tanpa mempedulikan keadaan. Dikarenakan dulu mereka sangat kuat, dan sangat ditakuti.
Sedangkan saat ini, jika mereka berani melakukan penyerangan secara terang-terangan, dengan mengotori tangan mereka sendiri, maka sudah pasti mereka akan mati. Prabu Jabang Wiyagra juga tidak akan tinggal diam, sekalipun mereka semua adalah seorang perempuan. Prabu Jabang Wiyagra sendiri sebenarnya sudah mencurigai adanya pergerakan bawah tanah. Namun Prabu Jabang Wiyagra tidak bisa mencurigai sesuatu tanpa sebuah bukti.
Selama bertahun-tahun ini, Prabu Jabang Wiyagra sudah berusaha untuk mencari tahu tentang mereka. Namun para perempuan jahat ini benar-benar sangat cerdik dan licik. Setiap kali pergerakan yang mereka lakukan sudah mulai terendus, mereka pasti akan berpindah ke tempat lain, dan akan mengganti ciri khas kelompok mereka. Hal itu dilakukan agar pasukan yang dikirimkan oleh Prabu Jabang Wiyagra menjadi kebingungan. Sehingga mereka semua tetap aman.
__ADS_1