
"Hey! Ayo cepat bangun! Kita mulai semuanya sekarang juga!" Perintah Bajur kepada dua orang anak buahnya, yang saat itu sedang tertidur.
"Baik Kang."
"Beritahukan kepada yang lainnya juga. Ingat, habis siapa saja yang ada di depan kita. Kita tidak akan pernah bisa keluar dari tempat ini tanpa membunuh siapapun."
"Iya Kang."
Dua orang anak buah Bajur itu langsung memberitahu teman-teman mereka yang lain. Semua anak buah Bajur langsung bergegas menyiapkan semua senjata yang akan mereka bawa. Beberapa dari anak buah Bajur juga ahli menggunakan panah. Sehingga memudahkan mereka untuk melumpuhkan para penjaga dari kelompok pendekar lain. Banyak sekali kelompok pendekar yang berjaga pada malam itu. Dan ternyata, sebagian besar dari mereka juga sudah merencanakan hal yang sama. Mereka ingin pergi dari tempat ini jauh mungkin. Karena mereka semua tahu, Patri Asih tidak akan memberikan mereka imbalan dalam bentuk apapun. Tenaga mereka hanya diperas. Tanpa mendapatkan upah sepeserpun.
Hanya saja, Bajur dan anak buahnyalah yang menyusun rencana dengan matang. Sedangkan para kelompok pendekar yang lain dengan santainya berjalan keluar dari tempat tersebut, tanpa memikirkan resiko yang akan mereka hadapi. Mengetahui kalau banyak para pendukungnya yang memutuskan untuk mundur, Patri Asih menjadi sangat marah. Dia memberikan perintah kepada para pengikutnya, bagi siapa saja yang berusaha pergi dari tempat ini, maka harus dibunuh saat itu juga. Hal ini memancing keributan di antara para pendekar. Semua orang saling Serang satu sama lain. Terbagilah para pendekar itu menjadi dua kubu. Kubu pertama membela Patri Asih, sedangkan kubu kedua membela diri mereka sendiri.
Kekacauan itu dimanfaatkan oleh Bajur dan anak buahnya untuk pergi dari tempat ini. Mereka bergegas lari sekencang mungkin, dari kejaran orang-orang yang masih mendukung Patri Asih. Terutama dengan para pengikut setianya, yang juga sakti mandraguna.
"Cepat! Jangan menoleh ke belakang sedikitpun! Pedulikan diri kalian masing-masing! Ingat! keluarga kita menunggu kita di rumah!" Perintah Bajur kepada anak buahnya.
"Lalu bagaimana dengan para pendekar yang lainnya Kang?"
"Biarkan saja! Mereka memiliki urusan mereka sendiri! Kalau kita tidak segera pergi dari tempat ini, maka sampai kapanpun kita tidak akan pernah bisa melaporkan ini kepada Prabu Jabang Wiyagra!"
Bajur dan seluruh anak buahnya terus berlari. Mereka menuju ke arah pedesaan, lalu menembus sebuah jalan tikus yang menuju ke arah kota. Kekacauan di markas besar milik Patri Asih masih terus berlanjut. Para pendekar yang ingin keluar dari tempat itu, tidak mau mengalah sedikitpun, kepada para pendekar yang membela Patri Asih. Para pendekar yang ingin bebas dari tempat tersebut, mencoba memprovokasi para pendekar yang masih membela Patri Asih. Namun hal itu sangat sulit untuk dilakukan. Karena sebagian pendekar yang membela Patri Asih, sudah mendapatkan bayaran mereka masing-masing, seperti yang dijanjikan oleh Patri Asih sebelumnya.
__ADS_1
Mereka yang sudah mendapatkan bayaran adalah para pendekar yang terkuat dan terbaik, dari aliran hitam. Sedangkan untuk para pendekar yang dianggap lemah, hanya akan dimanfaatkan tenaganya saja, tanpa mendapatkan apa-apa. Cara licik yang Patri Asih gunakan memang tepat sasaran. Dia bisa mengendalikan para pendekar terkuat dari aliran hitam, untuk berpihak kepada dirinya. Sehingga para pendekar yang lemah tidak bisa berbuat apa-apa, selain harus tewas di tempat itu. Mereka tidak mengambil kesempatan bagus, seperti Bajur dan anak buahnya. Karena mereka tidak mau kabur begitu saja dari tempat tersebut. Apalagi di tempat itu tersimpan banyak sekali harta benda, yang tidak ternilai harganya.
Jika mereka bisa merampas semua harta yang ada di sana, maka mereka bisa menjadi orang yang sangat kaya raya. Jelas itu adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan. Karena Patri Asih dan para pengikutnya sudah menyimpan harta tersebut rapat-rapat. Sedangkan para pendekar yang sudah tidak berpihak kepada Patri Asih, mereka sudah gelap mata. Mereka tidak memikirkan nyawa mereka sendiri. Padahal mereka semua tahu, kalau melawan Patri Asih secara terang-terangan adalah suatu kebodohan. Para pimpinan merekalah yang bernafsu tetap ingin mendapatkan harta tersebut. Hingga pada akhirnya, para pendekar yang memberontak kepada Patri Asih, harus mati sia-sia di tempat tersebut. Tanpa bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Patri Asih merasa sangat kecewa dengan para pendekar yang membelot kepadanya. Dia juga harus menerima kenyataan, kalau sekarang kekuatan pasukannya telah berkurang. Satu hal yang sampai saat ini belum ia sadari adalah, Bajur dan kelompoknya yang sudah pergi sangat jauh dari tempat tersebut. Patri Asih terlalu sibuk memperhatikan para pendekar yang sedang bertarung. Dia tidak memperhatikan dengan baik siapa saja yang melarikan diri dari tempat tersebut. Bajur dan kelompoknya lenyap dari pandangan mata Patri Asih. Hingga sampailah Bajur dan anak buahnya di suatu tempat. Yang dimana tempat tersebut adalah milik salah seorang mata-mata yang dikirim oleh Prabu Jabang Wiyagra.
Entah bagaimana Bajur bisa mengenal orang tersebut. Yang pasti, tempat itu adalah tempat teraman untuk mereka saat ini. Karena setelah Patri Asih menyadari semuanya, maka dia akan mengerahkan seluruh pendekar yang ia miliki, untuk mengejar Bajur dan kelompoknya.
"Bagaimana bisa kamu sampai ke sini?" Tanya si mata-mata yang tidak diketahui namanya itu.
"Tidak penting bagaimana caranya aku bisa sampai ke sini. Tapi secepatnya aku harus pergi ke istana Kerajaan Wiyagra Malela. Untuk bertemu dengan Prabu Jabang Wiyagra."
"Hey! Dengar! Kalau Prabu Jabang Wiyagra tahu aku bekerja sama dengan bandit sepertimu, maka kepalaku bisa dipenggal!"
"Oh ya? Kamu fikir kamu ini siapa? Tugasmu hanya mengumpulkan informasi sebanyak mungkin. Lalu serahkan semuanya kepadaku. Paham?!"
"Terserah. Aku tidak peduli apa yang kamu katakan. Tapi, secepatnya aku harus pergi ke istana Kerajaan Wiyagra Malela! Itu saja!" Ucap Bajur yang masih terengah-engah, karena berlari tanpa henti.
Sedangkan semua anak buahnya bingung, karena mereka semua tidak tahu, kalau Bajur ternyata mengenal salah seorang mata-mata dari Kerajaan Wiyagra Malela. Mereka bertanya-tanya dalam benak mereka. Bahkan mereka merasa khawatir, kalau bisa saja, selama ini Bajur sebenarnya adalah mata-mata juga. Namun, Bajur segera memberitahu mereka tentang hal tersebut. Bahwa Bajur memang sudah lama mengawasi tempat tersebut. Dia tidak sengaja mendengarkan percakapan yang dilakukan oleh si mata-mata, dengan salah satu temannya. Yang juga sama-sama diutus oleh Prabu Jabang Wiyagra ke tempat ini. Bajur kemudian memberikan penawaran kepada si mata-mata tersebut, jika si mata-mata mau membantunya menyediakan tempat pelarian, maka semua rahasia semata-mata Sang Maha Raja itu akan aman.
Tetapi jika si mata-mata menolak penawaran itu, maka Bajur akan melaporkannya kepada Patri Asih. Agar si mata-mata dibunuh.
__ADS_1
"Dengar! Kita sudah sepakat satu sama lain. Aku sudah menyediakan tempat sia-lan ini untukmu. Sekarang kita sudah impas. Aku tidak mau lagi berurusan denganmu." Ucap si mata-mata kepada Bajur.
"Tapi, ada satu hal penting yang harus aku sampaikan kepada Sang Maha Raja. Kalau tidak, beliau tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi."
"Apa maksudmu?"
"Patri Asih dan kelompoknya memiliki rencana besar. Rencana yang sangat-sangat besar. Bukan hanya Sang Maha Raja saja yang ia incar. Tapi juga semua orang yang mendukungnya. Patri Asih juga sudah memiliki kekuatan yang lebih dari apa yang selama ini kita perkirakan. Selama ini aku berfikir Patri Asih adalah perempuan yang lemah dan bodoh. Tapi aku salah. Dia jauh lebih sakti sekarang ini. Dia bukan Patri Asih yang dulu. Sekarang dia jauh lebih kuat."
"Itu bodoh! Tidak ada satupun orang yang bisa menyaingi kekuatan Sang Maha Raja."
"Bukan itu maksudku."
"Lalu apa?"
"Patri Asih mengetahui dengan pasti, di mana tempat persembunyian keluarga Sang Maha Raja. Bahkan, dia juga tahu semua tentang kekuatan yang dimiliki oleh Sang Maha Raja. Patri Asih akan memutus seluruh bantuan maupun dukungan kepada Sang Maha Raja. Sekalipun Sang Maha Raja bisa memenangkan pertempuran, Kerajaan Wiyagra Malela tetap akan hancur. Kecuali, Sang Maha Raja bisa melakukan tindakan dengan cepat, untuk mencegah hal itu."
Si mata-mata tersebut sebenarnya ragu, dengan apa yang diucapkan oleh Bajur. Tapi jika dia tidak membawa Bajur ke istana Kerajaan Wiyagra Malela, untuk bertemu dengan Prabu Jabang Wiyagra, maka dia juga bisa mendapatkan masalah besar. Atau bahkan, akan terjadi sesuatu yang mengerikan di Kerajaan Wiyagra Malela. Karena apa yang diucapkan oleh Bajur benar-benar masuk akal, dengan segala situasi yang terjadi di tempat ini. Si mata-mata tersebut juga tahu, kalau Patri Asih memang orang yang ahli dalam strategi. Dia juga memiliki keinginan kuat untuk menguasai tahta Kerajaan Wiyagra Malela. Yang berarti, Patri Asih sudah mempersiapkan segala hal sejak awal.
"Baiklah. Aku akan membawamu ke istana Kerajaan Wiyagra Malela. Tapi jika kamu berbuat macam-macam, aku pastikan kamu akan hidup dalam penderitaan. Paham?!"
"Ya. Aku siap menanggung segala resikonya, kalau aku memang berbohong."
__ADS_1
"Baik. Kita berangkat besok pagi. Sebelum subuh. Jangan tinggalkan tempat ini. Karena jika kalian berada di luar, aku tidak bisa lagi menjamin keselamatan kalian."
"Ya. Terimakasih."