
Semakin banyak perpecahan yang terjadi di antara para pendukung Patri Asih. Apalagi Patri Asih sudah tidak mau lagi mendengarkan nasehat dari para pendukungnya. Para pendukung dan juga pengikut setianya tidak setuju, kalau sampai Intan Senggani harus bergabung dengan mereka. Karena Intan Senggani adalah orang yang keras kepala dan susah untuk diajak bicara. Setelah Patri Asih sampai di wilayah yang dihuni oleh Intan Senggani, Patri Asih merasa begitu terkejut, karena Intan Senggani sudah berada di sana menunggu kedatangannya. Intan Senggani juga sama-sama ingin membuktikan kepada semua orang, kalau dia jauh lebih hebat daripada Patri Asih.
"Sudah lama aku menunggu kedatanganmu di tempat ini. Aku akan buktikan kepada semua orang, siapa yang pantas untuk mendapatkan tahta Kerajaan Wiyagra Malela. Dan akan aku buktikan kepada para pendukungmu ini, kalau aku lebih hebat daripada dirimu." Ucap Intan Senggani kepada Patri Asih.
"Jangan sombong dulu kamu, Intan Senggani. Ayo kita bertarung."
"Baiklah."
Patri Asih lalu turun dari kudanya. Dia mengeluarkan pedang kesayangannya, dan langsung menghunuskan pedang itu kepada Intan Senggani. Intan Senggani dengan mudah bisa menghindari serangan yang diberikan oleh Patri Asih. Dia melompat ke sana kemari, untuk membuat Patri Asih kelelahan. Intan Senggani sebenarnya sudah paham, kalau Patri Asih jauh lebih sakti dari dirinya. Hingga saat ini, Intan Senggani masih belum bisa mendapatkan kesaktian dari iblis pujaannya, karena dia belum bisa memenuhi syarat yang iblis itu berikan. Sehingga kekuatan Intan Senggani tidak pernah bertambah. Selama ini, kesaktian yang ia dapatkan, itu semua berkat meditasi yang ia lakukan. Sedangkan dari bis pujaannya itu, Intan Senggani belum mendapatkan apa-apa.
"Ayo serang aku!" Ucap Patri Asih.
"Kenapa? Apa kamu sudah kelelahan? Patri Asih?"
"Kurang ajar!"
Patri Asih kembali mengerahkan kekuatannya untuk menyerang Intan Senggani. Tapi karena gerakan menghindar Intan Senggani jauh lebih cepat daripada serangan yang ia berikan, maka tidak ada satupun serangan dari Patri Asih yang mengenai tubuh Intan Senggani. Hal itu membuat Patri Asih semakin kesal. Dan sudah tidak bisa lagi mengendalikan amarahnya. Dia lalu mengeluarkan Ajian Brajamusti, yang digabungkan dengan ilmu pukulan yang ia miliki.
__ADS_1
"Khyaaatt!!"
Seketika tanah yang ada di sekitar Intan Senggani langsung mengalami keretakan. Sedangkan serangan Ajian Brajamusti tidak berhasil mengenai tubuh Intan Senggani. Bahkan serangan itu meleset, dan mengenai sebuah pohon. Yang membuat pohon tersebut langsung terbakar habis. Intan Senggani tertawa kegirangan, karena Patri Asih gagal melakukan serangan kepada dirinya. Tak ingin hanya menghindari serangan saja, Intan Senggani lalu mengeluarkan Ajian Gelap Ngampar. Sebuah ilmu kesaktian yang hampir mirip dengan Ajian Brajamusti. Tapi memiliki daya serang yang jauh lebih besar. Namun, Patri Asih dengan cepat menghindari serangan dari Intan Senggani. Sehingga dia berhasil selamat dari serangan ajian tersebut.
Ajian Gelap Ngampar benar-benar memiliki daya sarang yang sangat luar biasa. Sekalipun Patri Asih bisa menghindari ajian tersebut. Tapi bukan berarti dia selamat begitu saja. Patri Asih bisa merasakan getaran tanah yang ada di bawah kakinya. Bahkan Patri Asih juga mendapatkan sebuah bunyi lengkingan, yang membuat kedua telinganya merasakan sakit yang luar biasa.
"Akhh! Gila! Ilmu apa ini!" Jerit Patri Asih, sembari memegangi kedua telinganya.
"Rasakan itu Patri Asih!" Ucap Intan Senggani.
Tidak mau menyerah, Patri Asih mengeluarkan ilmunya yang lain. Begitu juga dengan Intan Senggani, yang sama-sama mendorong tenaga dalamnya ke arah Patri Asih. Mereka berdua sama-sama tidak mau kalah. Mereka bertarung demi harga diri mereka masing-masing, sebagai sesama pendekar sakti yang ada di Tanah Jawa ini. Namun, pertarungan kedua pendekar yang sama-sama berasal dari aliran hitam tersebut, tidak berlangsung lama. Karena saat mereka sedang beradu ilmu, tiba-tiba Patri Asih dan Intan Senggani mendapatkan sebuah serangan tenaga dalam, dari arah yang mereka berdua tidak ketahui.
"Daaaarrrr!!!"
Sebuah letakkan menghantam tubuh mereka berdua. Membuat mereka berdua terlempar, dan jatuh tersungkur ke tanah. Seketika suasana pun hening. Hanya menyisakan ketakutan dan kebingungan di antara para pasukan Patri Asih. Mereka semua bingung, sekaligus takut, karena mereka tidak melihat siapa yang telah menyerang Patri Asih dan Intan Senggani. Tidak ada siapa-siapa di hutan tersebut, selain Intan Senggani, dan Patri Asih, peserta para pasukan yang ia bawa. Sampai kemudian, sebuah kabut tebal menyelimuti dan mengelilingi setiap tempat yang ada di hutan itu. Mereka semua yang ada di sana menjadi semakin kebingungan. Karena mereka tidak tahu, apa yang akan terjadi kepada mereka selanjutnya. Tidak lama dari itu, mereka semua mendengar langkah kaki sekelompok orang. Yang sepertinya, jumlahnya lebih dari dua puluhan.
Ternyata, yang datang ke tempat itu adalah Prabu Jabang Wiyagra beserta para pasukannya. Yaitu Pasukan Maha Wira dan Pasukan Bara Jaya. Tak hanya mereka saja yang ikut bersama dengan Prabu Jabang Wiyagra, tapi ada juga Prabu Putra Candrasa, Prabu Sura Kalana, Maha Patih Kumbandha, Prabu Bujang Antasura, Maha Patih Bala Antasura, Prabu Bagas Candramawa dan ada juga Maha Patih Widhala. Mereka semua mendatangi tempat tersebut untuk menyerang Patri Asih dan Intan Senggani. Dalam keadaan yang sudah lemah, Patri Asih dan Intan Senggani masih bisa melihat dengan jelas, sosok Prabu Jabang Wiyagra. Yang datang dengan bala tentaranya.
__ADS_1
Mereka berdua benar-benar terkejut dengan hadirnya Prabu Jabang Wiyagra di tempat itu. Mereka sama sekali tidak menyangka, kalau Prabu Jabang Wiyagra mengetahui pertarungan tersebut. Padahal, tidak ada satupun orang yang membeberkan tentang pertarungan mereka berdua. Tapi siapa lagi kalau bukan Bajur yang telah memberitahu Prabu Jabang Wiyagra. Bajur sudah mengatakan semua agenda yang akan dilakukan oleh Patri Asih, kepada Prabu Jabang Wiyagra. Sehingga Prabu Jabang Wiyagra bisa mengetahui tentang pertarungan mereka berdua. Dan memutuskan untuk mendatangi tempat ini. Dengan membawa banyak sekali pasukan.
"Jabang Wiyagra. Aku tidak akan menyerah kepadamu begitu saja." Ucap Patri Asih yang masih dalam keadaan lemah.
"Siapa juga yang akan menangkapmu? Patri Asih. Aku datang ke tempat ini untuk membunuhmu. Bukan untuk memenjarakanmu. Manusia seperti dirimu ini, sudah tidak pantas hidup lagi." Jawab Prabu Jabang Wiyagra.
"Membunuhku? Apa kamu sudah yakin Jabang Wiyagra? Kamu pikir, kamu bisa dengan mudah mengalahkanku? Hah?"
"Sudahlah. Kita mulai saja semuanya sekarang." Ucap Prabu Jabang Wiyagra.
Seluruh pasukan Patri Asih pun ketar-ketir, karena mereka tidak memiliki pilihan lain, selain melawan para abdi Prabu Jabang Wiyagra. Tidak ada jalan bagi mereka, untuk lari dari tempat ini. Mau tidak mau, mereka tetap harus menghadapi Prabu Jabang Wiyagra dan seluruh pasukan yang beliau bawa. Prabu Jabang Wiyagra langsung memerintahkan para pasukannya, untuk menyerang pasukan Patri Asih. Beliau juga memerintahkan kepada para abdinya, untuk menyerang Patri Asih dan Intan Senggani. Seketika, suasana di hutan tersebut menjadi sangat ricuh. Semua pasukan Patri Asih berusaha keras untuk bisa menyelamatkan diri mereka dari serangan Pasukan Bara Jaya, dan Pasukan Maha Wira. Mereka mencoba berlari ke sana kemari mencari jalan keluar.
Tapi semua tempat yang ada di hutan ini sudah ditutupi kabut tebal. Dan itu semua dilakukan oleh Prabu Jabang Wiyagra. Agar tidak ada satupun orang yang bisa kabur dari tempat ini. Prabu Jabang Wiyagra ingin membersihkan semuanya, hari ini juga. Patri Asih dan Intan Senggani yang dalam kondisi lemah, tidak bisa menghalau serangan dari para abdi Prabu Jabang Wiyagra. Apalagi Prabu Putra Candrasa dan yang lainnya, adalah orang-orang yang sakti mandraguna. Mereka berdua tidak diberi kesempatan sedikitpun untuk memberikan perlawanan. Justru, Prabu Putra Candrasa dan yang lainnya, terus menerus menghantam tubuh Patri Asih dan Intan Senggani. Dengan segala kekuatan yang mereka miliki.
Sedangkan Prabu Jabang Wiyagra hanya mengawasi pertarungan tersebut. Prabu Jabang Wiyagra seperti sedang menunggu sesuatu. Entah apa itu, yang pasti Prabu Jabang Wiyagra sedang mempersiapkan dirinya untuk satu hal yang sangat penting. Prabu Jabang Wiyagra seperti tidak mau membuang tenaganya untuk saat ini. Prabu Jabang Wiyagra lalu duduk bersila di bawah sebuah pohon. Kemudian beliau mulai membaca sebuah doa di dalam hatinya. Hingga tak lama kemudian, muncullah dua ekor harimau putih, yang menjaga Prabu Jabang Wiyagra. Karena saat itu, Prabu Jabang Wiyagra memilih untuk melakukan meditasi. Para pasukannya juga berusaha Prabu Jabang Wiyagra, agar tidak terkena serangan dari musuh-musuhnya.
Entah apa yang telah direncanakan oleh Prabu Jabang Wiyagra saat ini. Yang pasti, Prabu Jabang Wiyagra tidak akan sampai melakukan meditasi, kalau bukan untuk menghadapi sesuatu yang jauh lebih besar dari dirinya.
__ADS_1