DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 240


__ADS_3

"Aku hanya khawatir dengan keadaan Prabu Jabang Wiyagra, Patih Kepila. Karena sudah lama aku tidak turun tangan langsung dalam pertempuran. Mendengar kalau Prabu Jabang Wiyagra berhasil membunuh Nyi Dwi Sangkar, aku menjadi semakin khawatir dengan keadaannya." Ucap Prabu Putra Candrasa.


"Kenapa Gusti Prabu?"


"Nyi Dwi Sangkar bukanlah satu-satunya orang yang membenci Prabu Jabang Wiyagra. Dan setahuku, dia tidak sendirian Patih. Aku pernah mendengar kalau dia juga memiliki banyak sekali murid di beberapa daerah. Walaupun keberadaan mereka belum bisa dibuktikan sampai sekarang, tapi hal itu patut kita waspadai."


"Gusti Prabu Putra Candrasa benar. Tapi hamba yakin Gusti, kalau Gusti Prabu Jabang Wiyagra juga sudah memikirkan hal tersebut. Dia pasti sudah mempersiapkan segalanya jauh-jauh hari. Hamba sangat tahu bagaimana Gusti Prabu Jabang Wiyagra. Dia orang yang selalu siap siaga dengan segala hal."


"Ya. Tapi semua manusia memiliki titik lemah dan lengahnya sendiri, Patih Kepila. Kita sebagai para abdi Prabu Jabang Wiyagra, tetap harus memastikan kalau semuanya dalam keadaan baik-baik saja. Dan jika kita menghadapi peperangan seperti ini, maka kita juga harus mempersiapkan segala kemungkinan."


"Nggih Gusti Prabu."


Setelah perbincangan yang cukup lama, Patih Kepila lalu meminta izin untuk kembali ke Kerajaan Wiyagra Malela. Prabu Putra Candrasa menitipkan salamnya untuk Prabu Jabang Wiyagra. Sudah lama sekali, sejak Maha Patih Putra Candrasa diangkat menjadi seorang raja, dia sangat jarang bertemu dengan Prabu Jabang Wiyagra. Mereka berdua sibuk dengan urusan pemerintahan mereka masing-masing.


Meskipun Kerajaan Putra Malela berada di bawah kepemimpinan Prabu Jabang Wiyagra, tapi tetap saja semua hal yang ada di dalam istana harus mereka urus sendiri-sendiri, sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan oleh Prabu Jabang Wiyagra. Jika salah satu kerajaan yang ada di bawah kepemimpinan Prabu Jabang Wiyagra memiliki masalah, barulah mereka diwajibkan meminta bantuan kepada Prabu Jabang Wiyagra.

__ADS_1


Tetapi jika para raja yang ada di bawah kepemimpinan Prabu Jabang Wiyagra bisa mengatasi masalah mereka, maka mereka hanya melaporkannya kejadiannya saja, tanpa harus untuk meminta bantuan dari Kerajaan Wiyagra Malela. Sedangkan untuk obat disendiri akan dikirimkan setiap setahun sekali. Obat yang dikirimkan bisa berbentuk berbagai hal sesuai dengan pendapatan utama di kerajaan masing-masing.


Prabu Putra Candrasa sedang berusaha keras untuk mendapatkan simpati lebih banyak dari semua rakyatnya. Dia membangun berbagai fasilitas publik yang bisa berguna untuk rakyatnya. Para rakyat yang belum memiliki pekerjaan, akan diberikan pekerjaan sesuai dengan keahlian mereka masing-masing. Tetapi kebanyakan rakyat Kerajaan Putra Malela lebih memilih untuk bertani.


Walaupun Masih banyak orang yang membencinya, Prabu Putra Candrasa tetap berusaha untuk menyantuni rakyatnya dengan baik. Prabu Putra Candrasa bisa memaklumi keadaan rakyatnya yang masih merasa trauma. Karena pada masa kepemimpinan Prabu Bawesi, mereka sudah banyak mengalami peristiwa yang sangat menyakitkan, yang membuat mereka takut dengan seorang raja.


*


*


*


"Mohon maaf Gusti Prabu, untuk apakah benteng tersebut? Bukankah kekuatan kita sudah lebih dari cukup Gusti?"


"Tidak Maha Patih. Kekuatan kita belum ada apa-apanya. Kita harus terus melakukan pembangunan, di dalam semua lapisan yang ada di kerajaan ini. Mulai dari persenjataan, pasukan dan juga benteng pertahanan. Aku baru saja diberitahu oleh Patih Kepila, kalau kita akan menghadapi musuh yang jauh lebih besar dan jauh lebih kuat."

__ADS_1


Maha Patih Galangan menarik nafas panjang. Dia sama sekali tidak suka dengan peperangan, yang seakan tidak pernah ada akhirnya. Setelah dia lepas dari kepemimpinan mendiang Prabu Bawesi, Maha Patih Galangan lebih suka menggunakan cara yang damai dan cara yang aman. Bukan menggunakan kekerasan. Bahkan Maha Patih Galangan sering menjadi penengah bagi kerajaan-kerajaan yang ada di bawah kepemimpinan Prabu Putra Candrasa.


"Mohon ampun Gusti Prabu. Kalau hamba boleh tahu, siapa lagi musuh yang akan menyerang wilayah kekuasaan Maha Raja? Gusti?"


"Banyak. Masih sangat banyak musuh yang harus kita hadapi Maha Patih. Aku tahu, kamu sudah berubah dari sikapmu yang dulu. Tetapi, ada kalanya kita pun harus berbuat kejam untuk menciptakan kedamaian. Tidak semua masalah bisa diselesaikan dengan mulut, Maha Patih."


"Mohon maafkan hamba Gusti Prabu. Sekarang ini hamba sudah terlalu lemah untuk berbuat kejam kepada musuh-musuh hamba. Sejujurnya hamba sangat tidak menyukai peperangan ini, Gusti. Mohon maaf."


"Tidak apa-apa Maha Patih. Aku justru senang mendengarnya. Sejujurnya aku pun sependapat dengan dirimu. Begitu juga dengan Maha Raja Gusti Prabu Jabang Wiyagra. Dia pun sebenarnya tidak menyukai peperangan. Dia orang yang sangat cinta damai. Tetapi keadaanlah yang memaksanya untuk melakukan hal ini. Kalau kita diam dan tidak melakukan apa-apa, maka akan banyak korban berjatuhan."


"....Lihatlah keluar sana, Maha Patih. Banyak rakyat yang menaruh harapan besar kepada kita semua. Mereka semua sudah trauma dengan penderitaan yang pernah mereka dapatkan. Kalau musuh-musuh kita dibiarkan berkeliaran begitu saja, maka rakyat yang tidak bersalah yang akan menjadi korban. Dan kita akan menanggung rasa bersalah seumur hidup kita."


"Baik Gusti Prabu. Hamba memahaminya. Bagaimanapun keadaannya nanti, hamba akan tetap mendukung Gusti Prabu. Hamba akan menemui Ki Singo Rogo untuk meminta bantuannya. Semoga saja dia bisa membantu kita Gusti Prabu."


"Ya. Berangkatlah sekarang ke Jaya Pancana. Ini, gunakanlah cincin ini agar kamu bisa sampai ke tempat Panglima Kinjiri dengan cepat. Sekarang Panglima Kinjiri-lah yang memegang kekuasaan di wilayah itu. Kamu mintalah izin kepadanya terlebih dahulu, sebelum menemui Ki Singo Rogo." Kata Prabu Putra Candrasa sembari memberikan sebuah cincin mustika kepada Maha Patih Galangan.

__ADS_1


Maha Patih Galangan memakai cincin itu di jari tengah tangan kanannya. Selepas itu dia langsung berangkat ke Jaya Pancana, untuk menemui Ki Singo Rogo. Ki Singo Rogo sekarang menjadi abdi di Jaya Pancana. Kota yang dipegang oleh Panglima Kinjiri. Di bawah kepemimpinan Panglima Kinjiri, Kota Jaya Pancana berkembang dengan sangat pesat. Banyak sekali pabrik-pabrik persenjataan yang dibangun di sana.


Kota Jaya Pancana menjadi kota yang terkenal. Karena sebagai kota baru di wilayah Kerajaan Wiyagra Malela, Kota Jaya Pancana tidak pernah berhasil ditembus oleh musuh yang berusaha untuk menghancurkan kota tersebut. Terkadang terjadi pertarungan kecil di kota itu. Yang disebabkan oleh para bandit, dan juga para mantan prajurit musuh yang masih hidup. Tapi mereka tidak pernah berhasil dan selalu berakhir di penjara, ataupun dengan kematian.


__ADS_2