DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 307


__ADS_3

Karena masih banyak sekali korban yang harus diobati, Prabu Jabang Wiyagra lalu memerintahkan kepada para pasukannya untuk membuat tenda. Tenda-tenda itu nanti digunakan oleh para murid dari Padepokan Ageng Maja Lingga, yang sampai saat ini, banyak dari mereka yang belum sembuh dari luka yang mereka dapatkan. Lain lagi dengan para murid Padepokan Ageng Maja Lingga yang disembuhkan oleh Prabu Jabang Wiyagra. Mereka semua sudah bisa berjalan dan menggenggam dengan baik.


Pimpinan Padepokan Ageng Singo Negoro, yaitu Ki Jangkung Sapu Jagat diundang untuk datang ke istana Kerajaan Wiyagra Malela. Di sana Prabu Jabang Wiyagra minta maaf yang sebesar-besarnya Ki Jangkung Sapu Jagat, atas peristiwa tersebut. Prabu Jabang Wiyagra sama sekali tidak menyangka, kalau murid-murid dari Padepokan Ageng Maja Lingga akan nekat melakukan penyerangan tanpa seorang pimpinan. Ditambah lagi, dengan mereka yang membagi pasukan menjadi dua kelompok. Yang membuat para pasukan utusan Prabu Jabang Wiyagra, menjadi tertahan di tengah perjalanan.


"Hamba tidak menyalahkan Gusti Prabu atas semua peristiwa yang terjadi. Hanya saja hamba sangat menyayangkan dengan perilaku dua orang murid kesayangan Ki Gendalastra. Walaupun dulu hamba dengan Ki Gendalastra sempat bermusuhan, tetapi kami berdua sudah memutuskan untuk berdamai setelah kami menandatangani surat perjanjian yang dibuat oleh Gusti Prabu." Ucap Ki Jangkung.


"Aku juga tidak menyangka kalau semuanya akan terjadi seperti ini, Ki Jangkung. Awalnya aku sama sekali tidak menaruh curiga kepada Jiramani dan Mahendra. Karena mereka terlihat seperti orang yang tidak bermasalah. Aku fikie sifat jahat mereka sudah berubah. Tapi ternyata mereka masih saja memelihara sifat jahat mereka itu. Meskipun itu juga disebabkan karena didikan keras Ki Gendalastra, tapi seharusnya mereka mengikuti kesadaran yang dilakukan oleh Ki Gendalastra pada akhir hidupnya."


"Benar Gusti Prabu. Namun, dari yang hamba ketahui, Jiramani dan Mahendra memang sering terlibat perdebatan dengan Ki Gendalastra. Mereka bertiga seringkali memperdebatkan masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan cara yang baik. Hamba sudah sering mendengar nama mereka dari Ki Gendalastra. Namun Ki Gendalastra selalu mendoakan kebaikan untuk dua murid kesayangannya itu. Beliau tidak pernah sekalipun membenci mereka."

__ADS_1


"...Bahkan, Ki Gendalastra sangat-sangat menyayangi dan mencintai Jiramani dan Mahendra. Sekalipun Jiramani dan Mahendra sering sekali membuat Ki Gendalastra kecewa, karena tingkah laku mereka yang urakan, dan sangat sulit sekali untuk diatur. Ki Gendalastra sering bercerita tentang masalah yang dibuat oleh Jiramani dan Mahendra kepada hamba, Gusti Prabu. Hamba benar-benar dibuat terkejut, setelah mendengar kalau Ki Gendalastra telah tiada."


Selama ini, Ki Jangkung Sapu Jagat telah menjadi teman cerita untuk Ki Gendalastra. Karena setelah mereka berdua berdamai, mereka sering sekali saling mengunjungi satu sama lain. Ki Gendalastra bahkan sering sekali meminta maaf atas semua kesalahannya di masa lalu, yang pernah ia lakukan kepada Ki Jangkung. Ki Jangkung sudah dengan ikhlas memaafkan semua kesalahan yang pernah dilakukan oleh Ki Gendalastra kepada dirinya di masa lalu. Dan tidak sedikitpun dalam hati Ki Jangkung tersimpan rasa dendam kepada Ki Gendalastra. Bahkan Ki Jangkung sering mendoakan hal-hal baik untuk Ki Gendalastra.


Permusuhan antara Ki Gendalastra dan Ki Jangkung Sapu Jagat sudah menjadi cerita lama, yang secara perlahan telah hilang ditelan zaman. Namun yang menjadi masalah adalah, anak-anak didik Ki Gendalastra yang masih tidak bisa menerima keputusan yang diambil oleh Ki Gendalastra. Dulu Ki Gendalastra adalah seorang bandit yang sangat ditakuti. Dengan kekuatan yang ia miliki, Ki Gendalastra akhirnya mampu membuat sebuah padepokan sendiri. Yang dimana nantinya, semua murid yang ada di sana akan menjadi tenaga pendukung, dalam melancarkan setiap aksi yang ia lakukan.


Namun kekuasaan Ki Gendalastra tidak berlangsung lama. Karena setelah Prabu Jabang Wiyagra mendirikan Kerajaan Wiyagra Malela, Ki Gendalastra dan kelompoknya merasa sangat terhimpit. Yang pada akhirnya harus memaksa Ki Gendalastra untuk menyerah kepada Prabu Jabang Wiyagra dan pasukannya. Di lain sisi, Prabu Jabang Wiyagra mengetahui kalau adanya pertikaian antara dua padepokan besar. Yaitu Padepokan Ageng Singo Negoro, yang melindungi rakyat. Dan Padepokan Ageng Maja Lingga yang suka memeras rakyat.


Padepokan Ageng Singo Negoro dan Padepokan Ageng Maja Lingga harus berjanji untuk bekerja sama dalam melindungi semua orang yang ada di sekitar mereka. Dan mereka dilarang untuk mengambil imbalan sekecil apapun. Ki Jangkung Sapu Jagat yang memang sudah terbiasa dengan hal tersebut, jelas tidaklah terkejut. Namun berbeda dengan Ki Gendalastra peserta seluruh muridnya, yang harus mulai membiasakan diri mereka dengan bekerja. Setelah semuanya berjalan, Prabu Jabang Wiyagra akhirnya mencoba untuk meminta bantuan kepada kedua padepokan besar itu.

__ADS_1


Waktu itu Kerajaan Wiyagra Malela sebenarnya belumlah menjadi sebuah kerajaan yang resmi. Karena keberadaan Kerajaan Wiyagra Malela tidak diakui oleh raja-raja di Tanah Jawa. Namun Prabu Jabang Wiyagra kalau itu masih menjadi seorang pejuang, didukung oleh suara para pasukannya, akhirnya mau menerima keputusan pengangkatan dirinya sebagai raja. Dan berdirilah sebuah kerajaan kecil bernama Kerajaan Wiyagra Malela. Sebuah kerajaan yang tidak pernah diakui keberadaannya. Setidaknya sampai Prabu Jabang Wiyagra membuktikan kalau dia memang pantas menjadi seorang raja, di Tanah Jawa ini.


Prabu Jabang Wiyagra yang belum lama menjadi seorang raja, sering sekali mendapatkan masalah. Terutama pertikaian dengan kerajaan-kerajaan besar, yang sangat berseberangan dengan keyakinan yang dianut oleh Prabu Jabang Wiyagra. Prabu Jabang Wiyagra sangat menjunjung tinggi hak-hak rakyatnya. Dan tidak mau memeras upeti yang besar kepada rakyatnya sendiri. Sedangkan raja-raja besar kala itu sangatlah memeras rakyat mereka. Bahkan dengan tega akan memberikan hukuman kepada siapa saja, yang tidak memberikan upeti sesuai yang sudah ditetapkan oleh para raja-raja besar itu.


Hal itu akhirnya membuat banyak orang mulai berdatangan ke Kerajaan Wiyagra Malela, yang belum lama berdiri. Mereka meminta perlindungan kepada Prabu Jabang Wiyagra, dari penindasan yang sudah dilakukan oleh raja mereka sendiri. Karena jumlah pasukan Kerajaan Wiyagra Malela saat itu sangat terbatas, Prabu Jabang Wiyagra akhirnya meminta bantuan pasukan kepada Ki Gendalastra dan Ki Jangkung Sapu Jagat. Namun dengan sebuah perjanjian. Yaitu, Prabu Jabang Wiyagra diwajibkan mendatangi kedua padepokan besar tersebut, jika beliau mengunjungi Kota Maja Lingga dan Kota Singo Negoro. Bahkan Prabu Jabang Wiyagra juga harus mengunjungi padepokan-padepokan kecil yang ada di bawah pimpinan kedua padepokan besar itu.


Dan dari sinilah persaudaraan antara Padepokan Ageng Singo Negoro dan Padepokan Ageng Maja Lingga menjadi sangat erat. Ki Gendalastra dan Ki Jangkung Sapu Jagat menjadi sering melakukan pertemuan. Mereka banyak sekali membahas permasalahan yang terjadi di masyarakat. Tak hanya membahasnya saja, kedua orang paling berpengaruh itu juga mewujudkan apa yang sudah mereka bicarakan. Dan hasil yang ditimbulkan sangatlah luar biasa. Banyak rakyat yang merasa senang dengan bersatunya Padepokan Ageng Maja Lingga dan Padepokan Ageng Singo Negoro.


Namun kedua padepokan besar tersebut belum sepenuhnya bersatu. Karena masih banyak sekali murid-murid Padepokan Ageng Maja Lingga yang tidak setuju dengan keputusan yang diambil oleh Ki Gendalastra. Kebanyakan orang yang menjadi murid di Padepokan Ageng Maja Lingga, selalu memaksa Ki Gendalastra untuk kembali merampas wilayah kekuasaan mereka, dari tangan Prabu Jabang Wiyagra. Tetapi Ki Gendalastra selalu saja menolak permintaan dari sebagian besar tersebut. Karena dia ingin berubah menjadi orang yang lebih baik lagi.

__ADS_1


Dari sinilah Jiramani dan Mahendra mulai menjalankan peran mereka, sebagai seorang murid yang laknat. Jiramani dan Mahendra sedikit demi sedikit mulai mengumpulkan pasukan mereka dari Padepokan Ageng Maja Lingga. Mereka mulai melakukan penyerangan secara diam-diam, di wilayah-wilayah yang pernah diduduki oleh Ki Gendalastra. Karena mereka tidak mau bersusah payah mendapatkan uang dengan cara bekerja. Mereka ingin uang yang mendatangi mereka dengan sendirinya. Seperti sebelumnya, saat Ki Gendalastra masih menjadi seorang penjahat.


__ADS_2