
Karena kesalahpahaman yang terjadi di antara kedua belah pihak, akhirnya bentrokan antara Padepokan Ageng Singo Negoro dan Padepokan Ageng Maja Lingga pun tak bisa terhindarkan. Semua murid Padepokan Ageng Maja Lingga melakukan penyerangan tanpa seorang pimpinan, kepada para murid Padepokan Ageng Singo Negoro, yang dipimpin oleh seorang Guru Besar bernama Ki Jangkung Sapu Jagat. Ki Jangkung Sapu Jagat sudah berusaha keras menahan para murid dari Padepokan Ageng Maja Lingga, agar mereka tidak melakukan penyerangan.
Namun karena rasa kebencian yang ditanamkan oleh Jiramani dan Mahendra kepada mereka begitu besar, para murid dari Padepokan Ageng Maja Lingga itupun tidak menghiraukan ucapan Ki Jangkung Sapu Jagat. Ki Jangkung lahirnya dengan terpaksa harus menghadapi ratusan murid dari Padepokan Ageng Maja Lingga, yang sudah membawa senjata lengkap, berupa pedang dan busur panah, di tangan mereka masing-masing. Apa boleh buat? Dalam keadaan seperti itu Ki Jangkung dan murid-muridnya tidak memiliki pilihan lain, selain harus terpaksa melakukan perlawanan.
Karena para murid dari Padepokan Ageng Maja Lingga tidak memiliki seorang pemimpin dalam penyerangan itu, akhirnya banyak sekali dari mereka yang terluka parah. Beruntung Ki Jangkung dan murid-muridnya bisa menahan diri mereka untuk tidak membunuh satupun para murid dari Padepokan Ageng Maja Lingga. Karena Ki Jangkung juga sudah tahu kalau mereka hanyalah korban hasutan Jiramani dan Mahendra yang memang terkenal sering berbuat keonaran dan kerusuhan.
Pertarungan antar kedua kubu besar tersebut berlangsung dengan waktu yang sangat lama. Karena pihak Padepokan Ageng Maja Lingga terus menerus melakukan penyerangan demi penyerangan tanpa henti kepada Ki Jangkung dan murid-muridnya. Sedangkan Ki Jangkung dan murid-muridnya hanya bertahan dari serangan yang musuh mereka lakukan. Dari pihak Padepokan Ageng Singo Negoro pun sudah banyak sekali yang terluka parah. Sehingga Ki Jangkung terpaksa menggunakan ilmu kesaktiannya untuk melumpuhkan para murid dari Padepokan Ageng Maja Lingga. Agar mereka semua menghentikan penyerangan tersebut.
__ADS_1
Dengan Ajian Panglebur Rogo, Ki Jangkung berhasil melumpuhkan semua murid dari Padepokan Ageng Maja Lingga. Hingga mereka tidak sanggup lagi untuk membalas serangan Ki Jangkung. Mereka dengan terpaksa harus menyerah di bawah kekuatan yang dimiliki oleh Ki Jangkung dan murid-muridnya. Saat itu pasukan utusan Prabu Jabang Wiyagra datang terlambat, karena mereka juga mendapatkan serangan dari para murid Padepokan Ageng Maja Lingga. Yang ternyata sudah membagi dan memecah menjadi dua kelompok pasukan.
Kelompok yang pertama menyerang Ki Jangkung dan murid-muridnya. Sedangkan kelompok kedua melakukan serangan kepada para pasukan yang dikirimkan oleh Prabu Jabang Wiyagra. Sehingga pertempuran besar itu menyebabkan lima ratus orang murid Padepokan Ageng Maja Lingga terluka parah. Bahkan para murid dari kelompok kedua, yang berhadapan dengan para pasukan Prabu Jabang Wiyagra, banyak mengalami cacat pada fisik mereka. Dikarenakan kemampuan mereka tidak sebanding dengan para pasukan kerajaan.
Sudah jelaskan kemampuan mereka tidak ada apa-apanya di hadapan para pasukan Prabu Jabang Wiyagra. Para pasukan Prabu Jabang Wiyagra jauh lebih berpengalaman dalam hal pertarungan. Namun dengan adanya pasukan utusan dari Kerajaan Wiyagra Malela, akhirnya pertempuran itu pun bisa diakhiri. Walaupun banyak sekali orang yang harus terluka dalam pertempuran tersebut. Dan membuat perbatasan kota Maja Lingga dan Singo Negoro antara menjadi kacau balau. Semua orang yang ada di kedua kota besar tersebut untungnya sudah pergi ke tempat yang aman. Sehingga mereka tidak perlu menyaksikan pertempuran yang mengerikan itu.
Karena dari pertempuran itu, tidak sedikit orang yang kehilangan kaki dan tangan mereka. Para pasukan dari Kerajaan Wiyagra Malela terpaksa melakukan hal tersebut, agar para murid dari Padepokan Ageng Maja Lingga mau berhenti melakukan penyerangan kepada orang-orang dari Padepokan Ageng Singo Negoro. Hal itu bisa dimaklumi oleh Prabu Jabang Wiyagra sendiri. Keadaan dalam sebuah pertempuran jelas tidak bisa diprediksi sepenuhnya. Akan banyak sekali hal yang terjadi di luar perkiraan mereka. Yang tentu saja membuat kedua belah pihak sama-sama mendapatkan kerugian.
__ADS_1
Sedangkan Jiramani dan Mahendra sekarang masih berada dalam sel tahanan istana Kerajaan Wiyagra Malela. Untuk itu Prabu Jabang Wiyagra memberikan sebuah keputusan, kalau semua murid yang terluka akan dibawa ke Kerajaan Wiyagra Malela, untuk mendapatkan penanganan medis yang jauh lebih baik. Semua tabib dan juga tenaga medis di Kerajaan Wiyagra Malela akhirnya dibuat kerepotan dengan jumlah korban terluka parah, yang jumlahnya sangat banyak. Beruntung banyak sekali obat-obatan yang tersedia di Kerajaan Wiyagra Malela. Sehingga tidak ada satupun orang yang tidak diobati. Semua mendapatkan hal yang sama.
Yang kehilangan tangan dan kakinya, akan ditangani langsung oleh Prabu Jabang Wiyagra sendiri. Dengan ilmu kesaktian yang beliau miliki, Prabu Jabang Wiyagra mampu menggerakkan semua kaki dan tangan yang tak bertuan itu, untuk kembali kepada tuan mereka masing-masing. Jadi, tidak ada satupun orang yang cacat. Prabu Jabang Wiyagra sebenarnya terpaksa melakukan hal tersebut. Karena itu adalah resiko yang harus ditanggung oleh para murid dari Padepokan Ageng Maja Lingga. Namun melihat para orang tua dari murid-murid tersebut, Prabu Jabang Wiyagra akhirnya dengan terpaksa melakukannya. Yang sebenarnya hal itu sangat bertentangan dengan hukum alam.
Mengapa?
Karena setiap hal yang sudah lepas dari tubuh manusia secara permanen, apapun itu bentuknya, maka harus direlakan kepergiannya. Putusnya tangan dan kaki para murid dari Padepokan Ageng Maja Lingga, bisa diibaratkan dengan lepasnya nyawa seseorang. Yang seharusnya sudah memiliki jalan mereka sendiri-sendiri. Namun karena jumlah orang yang mengalami hal tersebut sangat banyak, apalagi mereka semua adalah korban dari hasutan, akhirnya Prabu Jabang Wiyagra dengan terpaksa harus membantah hukum alam tersebut, dengan menggunakan sebuah ilmu kesaktian yang beliau miliki.
__ADS_1
Prabu Jabang Wiyagra sempat memarahi para pimpinan pasukan, terutama dengan Patih Daraka, yang memberikan perintah kepada pasukannya untuk melakukan hal tersebut. Namun akhirnya Prabu Jabang Wiyagra bisa memahami dan mengerti apa yang terjadi di pertempuran. Mbah Kangkas selalu bisa meredam amarah Prabu Jabang Wiyagra. Karena setelah mendengar, kalau banyak sekali murid-murid dari Padepokan Ageng Maja Lingga yang kehilangan anggota tubuh mereka, Prabu Jabang Wiyagra langsung marah besar kepada Patih Daraka. Karena Patin Daraka-lah yang diberi tanggung jawab, untuk mengatur pasukan bantuan yang dikirimkan Prabu Jabang Wiyagra.
Prabu Jabang Wiyagra yang sempat marah besar pun akhirnya meminta maaf kepada Patih Daraka. Patih Daraka sendiri bisa memaklumi hal itu. Karena memang dia lah yang bertanggung jawab atas perlawanan yang dilakukan secara keji tersebut. Patih Daraka terpaksa memberikan perintah yang kejam kepada para pasukannya, agar semua murid dari Padepokan Ageng Maja Lingga berhenti melakukan penyerangan. Hal itu memang dibuktikan dengan para murid-murid Padepokan Ageng Maja Lingga yang tersisa. Mereka semua langsung menarik diri dari pertempuran setelah melihat anggota tubuh teman-teman mereka terpotong-potong.