
Keesokan harinya, Mbah Kangkas pergi ke Kerajaan Wiyagra Malela untuk bertemu dengan Prabu Jabang Wiyagra. Seperti biasanya, Mbah Kangkas menggunakan ilmu melipat bumi untuk sampai ke istana Kerajaan Wiyagra Malela. Karena Mbah Kangkas harus segera melaporkan apa yang terjadi di Kerajaan Bala Bathara.
Sesampainya di istana Kerajaan Wiyagra Malela, beberapa orang pengawal mengiring Mbah Kangkas masuk ke dalam ruangan singgasana. Di sana Prabu Jabang Wiyagra menyambutnya dengan hangat.
"Sudah lama rasanya Mbah Kangkas tidak berkunjung ke istanaku ini." Ucap Prabu Jabang Wiyagra sembari memeluk Mbah Kangkas.
"Mohon maaf Gusti Prabu, hamba harus mengurus banyak hal di padepokan." Jawab Mbah Kangkas dengan senyum lebar.
"Duduklah Mbah Kangkas. Aku yakin, Mbah Kangkas pasti ada sesuatu yang penting, karena datang secara tiba-tiba."
"Benar sekali Gusti Prabu. Hamba, dan juga para pendekar yang Gusti Prabu kirimkan, mengalami berbagai macam kesulitan, Gusti Prabu."
"Ya. Aku paham. Kita akan berbincang setelah kita makan. Sudah lama aku tidak makan bersama dengan Mbah Kangkas bukan? Bagaimana Mbah?"
Mbah Kangkas menganggukkan kepalanya. Walaupun dia tidak lapar, tapi mana mungkin dia bisa menolak permintaan Prabu Jabang Wiyagra. Lagi pula tidak setiap hari dia bisa makan bersama seorang raja. Makan bersama seorang raja adalah sebuah kehormatan besar. Apalagi Prabu Jabang Wiyagra adalah Raja Diraja.
*
*
Di ruang makan itu, sembari menikmati makanannya, Prabu Jabang Wiyagra banyak bercerita soal perkembangan Pasukan Bara Jaya yang dipimpin oleh Panglima Galang Tantra. Walaupun Mbah Kangkas tahu, kalau Prabu Jabang Wiyagra masih berduka atas kematian para pasukannya di Kota Karta Mulya, tapi nampak Prabu Jabang Wiyagra memaksakan dirinya tetap bisa tersenyum di hadapan Mbah Kangkas.
"Mbah Kangkas tahu? Pasukan Bara Jaya memiliki perkembangan yang sangat pesat di bawah kepemimpinan Panglima Galang Tantra. Bahkan aku juga mendengar kalau Panglima Galang Tantra telah mengangkat tiga orang terbaik dari Pasukan Bara Jaya."
"Itu hal yang bagus Gusti Prabu. Kalau boleh tahu, siapa tiga orang yang dimaksud?" Tanya Mbah Kangkas untuk menyambung pembicaraan mereka berdua.
Walaupun sebenarnya, Mbah Kangkas ingin sekali segera kembali ke padepokannya. Tapi melihat keadaan Prabu Jabang Wiyagra yang sepertinya sangat membutuhkan teman untuk mengobrol, Mbah Kangkas menjadi kasihan, dan tidak tega kalau cepat-cepat meninggalkan Prabu Jabang Wiyagra.
__ADS_1
"Panglima Galang Tantra bilang, kalau yang terbaik dari ketiganya adalah Gendam Wulung. Dua temannya lagi, Puger Satriya dan Arya Panunggul. Mereka bertiga memiliki ambisi yang sama. Mereka ingin menjadi yang terbaik dari yang terbaik. Mereka sangat ingin menjadi pengawal pribadiku."
"Itu hal yang sangat bagus Gusti Prabu. Mereka patut dijadikan contoh. Sekarang ini, tidak semua pemuda memiliki tekad yang kuat seperti mereka. Apalagi kalau tekadnya untuk membela bangsa dan negara. Gusti Prabu harus mempertahankan orang-orang seperti mereka."
"Ya. Mbah Kangkas benar. Aku memang sudah memikirkannya. Tapi aku ingin melihat dulu seberapa keras usaha mereka. Menjadi orang yang penting tidaklah mudah. Semakin banyak orang yang mencintai kita, maka semakin banyak pula orang yang membenci kita. Bukankah begitu Mbah Kangkas?"
"Benar Gusti Prabu. Semua yang Gusti Prabu katakan sesuai dengan apa yang terjadi. Hamba pun sama Gusti. Walaupun hamba ini bukan seorang raja, tapi ada saja orang yang menginginkan kematian hamba. Apalagi orang-orang luar biasa seperti Gusti Prabu Prabu Jabang Wiyagra."
"Ahhh... Mbah Kangkas terlalu melebih-lebihkan."
Mereka berdua tertawa bersama. Prabu Jabang Wiyagra mulai terhibur dan merasa beban pikirannya sedikit terkuras. Setelah beberapa waktu hanya memikirkan pemerintahan, hari ini dia akhirnya bisa makan bersama seseorang yang sama-sama luar biasa, seperti dirinya.
"Ya sudah. Lanjutkan dulu makannya, Mbah Kangkas. Nanti kita lanjutkan lagi obrolannya."
"Nggih Gusti."
Prabu Jabang Wiyagra masih harus fokus dengan pemerintahannya yang semakin hari semakin mengalami kemajuan. Dengan adanya kemajuan, maka akan semakin banyak pula ujian dan rintangan. Namun selalu saja ada keajaiban dan keberkahan yang datang kepada Prabu Jabang Wiyagra, yang dengan setia menyertai hari-harinya.
Karena hampir setiap hari Prabu Jabang Wiyagra dipertemukan dengan orang-orang yang luar biasa. Prabu Jabang Wiyagra dapat mengambil pelajaran dan pengalaman orang-orang yang ada di bawahnya, untuk ia jadikan motivasi dalam dirinya yang kerap merasakan kegelisahan dan kekhawatiran.
Dengan posisinya yang sekarang, Prabu Jabang Wiyagra tetap tidak berubah sedikitpun. Dia masih seorang raja bijaksana dan adil terhadap rakyatnya. Kedudukannya yang seakan di atas awan tidak membuatnya sombong dan angkuh. Dia tetap rendah hati dan suka bergaul dengan rakyatnya.
Walaupun banyak sekali masalah berdatangan menghampiri silih berganti, tetapi Prabu Jabang Wiyagra selalu berusaha untuk tetap tegar di hadapan semua orang. Dalam hatinya dia selalu berkata,
"Aku adalah seorang raja! Aku mampu! Aku bisa! Dan aku kuat!"
Kalimat itu selalu ia ucapkan setiap kali dirinya bangun di pagi hari. Tidak peduli bagaimanapun penderitaannya, Prabu Jabang Wiyagra ingin tetap menjadi sosok raja yang kuat dan tangguh, yang selalu membuat musuh-musuhnya takut, sekalipun hanya mendengar namanya.
__ADS_1
Ada sebuah pepatah mengatakan,
"Jika musuhmu tidak bisa menghormatimu, maka buatlah Mereka takut kepadamu."
Kalimat penguat itu selalu Prabu Jabang Wiyagra tanamkan dalam dirinya. Sekalipun terkadang dia merasa sangat bersalah karena telah membunuh musuh-musuhnya, tapi Prabu Jabang Wiyagra tetap akan melakukannya, karena demi keselamatan semua orang yang berada di bawah naungannya.
*
*
Setelah menghabiskan makanannya, mereka berdua kemudian berjalan menuju taman istana. Taman yang ditumbuhi dengan rerumputan hijau dan ditumbuhi bunga-bunga indah itu adalah rancangan Ratu Ayu Anindya. Yang dikerjakan oleh para prajurit dan para pelayan istana.
"Istriku sangat menyukai taman ini. Setiap kali dia bangun dari tidurnya di pagi hari, dia selalu menatap taman ini dari jendela kamarnya. Dan sudah lama sekali aku tidak melihat hal itu." Ucap Prabu Jabang Wiyagra menarik nafas berat.
Prabu Jabang Wiyagra menahan kerinduan yang terasa semakin berat. Sudah satu tahun lebih Prabu Jabang Wiyagra tidak bertemu dengan istrinya. Mereka hanya bertukar surat melalui para pelayan Ratu Ayu Anindya yang sesekali kembali ke istana untuk mengambil semua keperluan yang mereka butuhkan di tempat pengasingan.
Mbah Kangkas mencoba menenangkan dan menghibur hati Prabu Jabang Wiyagra yang sedang merindukan istrinya.
"Mohon maaf Gusti Prabu, bukan maksud hamba ingin ikut campur dengan urusan rumah tangga Gusti Prabu Jabang Wiyagra. Tapi cobalah sesekali Gusti Prabu melihat keadaan Gusti Ratu Ayu. Memang, maksud dari Gusti Prabu sangatlah baik, mengedepankan urusan pemerintahan daripada urusan pribadi."
"....Tapi Gusti, Gusti Prabu Jabang Wiyagra tetaplah manusia biasa seperti manusia-manusia yang lainnya. Hamba tahu dan paham betul apa yang sedang Gusti Prabu rasakan. Sekuat apapun Gusti Prabu Jabang Wiyagra, tidak bisa dipungkiri kalau Gusti Prabu Jabang Wiyagra tetap memiliki kelemahan sebagai seorang manusia."
Prabu Jabang Wiyagra menatap semua bunga-bunga indah yang ada di sana. Ratu Ayu Anindya suka sekali duduk di tempat ini dan melihat bunga-bunga yang ia rawat setiap hari, dengan penuh kasih sayang, layaknya anak sendiri. Prabu Jabang Wiyagra mulai memikirkan setiap ucapan dari Mbah Kangkas. Dia mulai menyadari kalau selama ini dia hanyalah seorang penipu.
Di hadapan semua orang, dia bisa tersenyum dan tertawa. Bahkan Prabu Jabang Wiyagra bisa menghibur setiap orang yang sedang merasakan kesedihan dan kesengsaraan. Namun di saat dirinya merasakan kesedihan dan kesengsaraan, dia tidak mampu menghibur dirinya sendiri. Hanya suasana sepi dan sunyi yang bisa menenangkan hatinya.
Tetapi Prabu Jabang Wiyagra pun sadar, kalau manusia dalam makhluk sosial, yang saling membutuhkan satu sama lain. Tidak semua orang mampu menyelesaikan masalahnya sendiri, dengan kedua tangannya sendiri. Apalagi seorang raja seperti Prabu Jabang Wiyagra. Sebagai seorang raja dia harus sering berinteraksi dengan orang-orang, baik yang ada di istananya, maupun orang-orang yang ada di luar.
__ADS_1
Karena tanpa melakukan usaha tersebut, tidak akan ada satu orang pun yang menaruh hormat, dan percaya kepadanya. Namun dengan menjadi seorang penipu suasana hati, bukanlah hal yang bagus. Hal itu akan membuat Prabu Jabang Wiyagra semakin tersiksa.