DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 122


__ADS_3

Maha Patih Putra Candrasa melakukan penaklukkan demi penaklukkan di wilayah kekuasaan Keraton Nyai Sukma Jaya. Kabar itu juga sudah disampaikan oleh Nyai Sukma Jaya kepada Prabu Kalarang. Dan Prabu Kalarang mengharapkan kehadirannya di istana Kerajaan Kalarang.


Satu rombongan iring-iringan pasukan yang jumlahnya seribu orang, turut mengawal kepergian Maha Patih Putra Candrasa ke istana Kerajaan Kalarang. Maha Patih Putra Candrasa menaiki kuda berwarna hitam bersama dengan seribu pasukannya.


Nyai Sukma Jaya juga ikut dalam rombongan tersebut dengan menaiki kereta kuda. Sekarang sudah banyak sekali tempat aman. Sudah sangat jarang ada kekacauan di tempat ini. Semua itu berkat kerja keras Maha Patih Putra Candrasa beserta pasukan yang dipimpinnya.


Sebagian besar wilayah Kerajaan Kalarang sudah berhasil direbut kembali dari kekuasaan jin aliran hitam. Sehingga banyak sekali tempat-tempat yang awalnya tidak terurus, sekarang sudah mulai dibangun, dan ditempati oleh para rakyat dan para abdi Prabu Kalarang.


Nama Maha Patih Putra Candrasa mendadak menjadi sangat tersohor. Dia menjadi orang paling dihormati nomor dua, di Kerajaan Kalarang. Saat sampai di istana Kerajaan Kalarang, Maha Patih Putra Candrasa dan Nyai Sukma Jaya disambut dengan sangat meriah oleh para abdi istana.


Para prajurit dan pelayan juga langsung mengamankan kuda dan semua barang bawaan mereka. Untuk pertama kalinya, setelah berbulan-bulan berada di tempat ini, Maha Patih Putra Candrasa akhirnya bisa bertatap muka secara langsung dengan Prabu Kalarang.


Ternyata Prabu Kalarang adalah bangsa jin beraliran putih. Tubuhnya tinggi besar, melebihi Maha Patih Putra Candrasa. Sehingga Maha Patih Putra Candrasa harus menengadahkan kepalanya saat dia menatap Prabu Kalarang.


Prabu Kalarang sangat senang, karena Maha Patih Putra Candrasa mau datang ke istana ini.


"Sudah lama aku mendengar soal sepak terjangmu, Maha Patih Putra Candrasa. Aku senang karena Prabu Jabang Wiyagra mengirimmu ke tempat ini. Dan sekarang, sebagian besar wilayahku sudah bisa diambil alih." Ucap Prabu Kalarang.


"Hamba hanya menjalankan tugas hamba Gusti Prabu. Sebagai tanda terima kasih hamba kepada semua orang yang sudah bersikap baik kepada hamba." Jawab Maha Patih Putra Candrasa.


"Ya. Aku pun harus berterima kasih kepada dirimu Maha Patih. Dan tujuanku mengundangmu untuk datang kemari, bukan hanya sebatas ucapan terima kasih saja. Tapi pertemuan ini juga karena permintaan dari putriku." Ucap Prabu Kalarang sembari menunjuk ke arah Nyai Sukma Jaya.

__ADS_1


Ternyata, Nyai Sukma Jaya adalah putri kandung satu-satunya dari Prabu Kalarang. Nyai Sukma Jaya sudah mengasingkan diri selama puluhan tahun. Karena Nyai Sukma Jaya memiliki tujuan yang sangat mulia, yaitu untuk menaklukkan seluruh musuh-musuh ayahandanya.


Di sisi lain, Nyai Sukma Jaya juga ingin memiliki seorang suami dari ras manusia utuh, bukan campuran seperti dirinya. Karena diketahui kalau Nyai Sukma Jaya dan juga kebanyakan orang di tempat ini berasal dari keturunan bangsa jin dan bangsa manusia.


Sehingga mereka semua yang ada di tempat ini, bisa hidup di dua alam, selama yang mereka mau. Mereka semua bisa datang pulang dan pergi ke dua dimensi yang berbeda ini, dengan sesuka hati.


"Aku menginginkan satu hal, Maha Patih. Dan aku berharap, engkau tidak menolaknya."


"Apakah gerangan yang Gusti Prabu inginkan dari hamba?"


"Aku ingin kau menikahi putriku."


Saat ini dia benar-benar tidak tahu harus menjawab apa. Karena sekarang, hanya dia sendiri yang bisa memutuskannya. Dia tidak bisa meminta pendapat siapapun. Karena semua orang yang ada disini, jelas mendukung keputusan Prabu Kalarang.


"Bagaimana Maha Patih? Aku yakin, diam-diam kau juga menyukai putriku, iyakan?"


Pertanyaan dari Prabu Kalarang membuat Maha Patih Putra Candrasa semakin panas dingin. Dia masih merasa ragu untuk menerima perjodohan tersebut. Tapi di sisi lain, Maha Patih Putra Candrasa memang diam-diam juga menyimpan perasaan kepada Nyai Sukma Jaya.


Dalam kebingungan itu, tiba-tiba saja Maha Patih Putra Candrasa seperti mendengar bisikan dari Prabu Jabang Wiyagra. Dan suara Prabu Jabang Wiyagra terdengar sangat jelas ditelinganya. Prabu Jabang Wiyagra membisikkan kepada Maha Patih Putra Candrasa, untuk menerima perjodohan itu.


Karena itu adalah bagian dari takdir kehidupan Maha Patih Putra Candrasa. Dan harus ia jalani. Sama seperti Lare Damar, yang menikahi perempuan yang jauh lebih tua dari dirinya. Maha Patih Putra Candrasa jelas tidak bisa mengelak dari perintah Prabu Jabang Wiyagra.

__ADS_1


Apalagi dia juga tidak mau terus-menerus menyimpan perasaannya kepada Nyai Sukma Jaya. Selama ini Maha Patih Putra Candrasa juga suka membayangkan bagaimana rasanya memiliki sebuah keluarga. Dan sekarang dia dihadapkan kepada jalannya.


Prabu Kalarang dan yang lainnya terus menatap ke arah Maha Patih Putra Candrasa yang sedang tertunduk sembari memejamkan matanya. Maha Patih Putra Candrasa kemudian menarik nafas panjang dan dalam. Dia mencoba menenangkan dirinya kembali, dan mengutarakan semuanya kepada Prabu Kalarang.


"Mohon maaf Gusti Prabu, kalau hamba lancang. Sebelum hamba menikahi Nyai Sukma Jaya, Bolehkah hamba mengajukan satu permintaan saja kepada Gusti Prabu?"


"Katakanlah saja apa permintaanmu, Maha Patih."


"Setelah menikah nanti, hamba ingin tetap mengabdikan diri hamba kepada Prabu Jabang Wiyagra. Karena Prabu Jabang Wiyagra-lah yang sudah sangat berjasa dalam perjalanan hidup hamba. Dan Kerajaan Wiyagra Malela, adalah hidup mati hamba, Gusti Prabu."


"Kalau itu permintaannya, maka aku akan mengabulkannya. Kau aku perbolehkan membawa putriku ke Kerajaan Wiyagra Malela. Tapi aku mohon kepadamu, sesekali berkunjunglah ke tempat ini, untuk melepas rindu bersamaku." Ucap Prabu Kalarang.


"Hamba menyanggupinya, Gusti Prabu." Jawab Maha Patih Putra Candrasa.


Nyai Sukma Jaya dan Prabu Kalarang Aku merasa sangat senang dengan jawaban itu. Begitu juga dengan semua orang yang hadir disana. Akhirnya, setelah bertahun-tahun menunggu jawaban dari doa-doanya, Nyai Sukma Jaya akhirnya mendapatkan jawaban dari doa-doanya tersebut.


Penantiannya selama ini tidaklah sia-sia. Nyai Sukma Jaya telah mendapatkan apa yang ia harapkan. Dia sangat ingin sekali memiliki suami dari bangsa manusia yang gagah perkasa, dan memiliki jiwa bertanggung jawab yang besar. Dan hal itu ia dapatkan dari Maha Patih Putra Candrasa.


Di hari esoknya semua orang yang ada di istana itu sibuk mempersiapkan pernikahan yang akan dilaksanakan pada malam harinya. Penjagaan di istana dan seluruh wilayah Kerajaan Kalarang diperketat. Terutama di Keraton Nyai Sukma Jaya. Karena hanya Keraton itu satu-satunya tempat yang ditinggalkan oleh pemimpinnya.


Ditambah lagi sebelumnya suasana pernah memanas di di wilayah Keraton Nyai Sukma Jaya. Sehingga penjagaan di tempat tersebut akan lebih diperketat lagi. Dan untuk sementara waktu Keraton milik Nyai Sukma Jaya akan diurus oleh salah satu Patih di Kerajaan Kalarang.

__ADS_1


__ADS_2