
"Aku memang sudah mencurigai kedatangan Maha Patih Galangan ke istana ini. Mereka pasti memiliki niat yang sangat buruk, untuk menggulingkan kekuasaanku, dan mengambil alih seluruh wilayah Kerajaan Wiyagra Malela."
"....Dan dengan terlukanya Prabu Bawesi, pasti akan memunculkan peperangan yang jauh lebih besar. Para pasukan Kerajaan Wesi Kuning pasti akan mendapatkan bantuan dari kerajaan-kerajaan besar lainnya, yang berpihak kepada Prabu Bawesi." Ucap Prabu Jabang Wiyagra.
"Benar Gusti Prabu. Namun hamba dan semua orang yang ada di sini, sudah siap untuk menghadapi mereka semua. Semua murid-murid hamba yang terbaik juga sudah hamba sebarkan ke seluruh wilayah Kerajaan Wesi Kuning, untuk memastikan semua keadaan disana." Ucap Mangku Cendrasih.
"Terima kasih semuanya. Aku harap perang besar yang aku takutkan tidak terjadi. Tapi kita tetap harus mempersiapkan segala sesuatunya. Kita harus sedia senjata sebelum berperang." Ucap Prabu Jabang Wiyagra.
Prabu Jabang Wiyagra juga memberitahukan kepada Maha Patih Putra Candrasa dan juga Pangeran Rawaja Pati untuk tetap berada di tempat mereka. Pangeran Rawaja Pati tetap berada di kerajaan Rawaja Pati, dan Maha Patih Putra Candrasa tetap berada di dalam wilayah istana Kerajaan Wiyagra Malela.
Maha Patih Putra Candrasa merasa tidak enak hati kepada Prabu Jabang Wiyagra, karena dia-lah yang membuat Prabu Bawesi terluka parah. Namun Prabu Jabang Wiyagra sangat memakluminya. Kalau saja Maha Patih Putra Candrasa tidak menggunakan Ajian Rengkah Gunung, mungkin dialah yang hari ini terluka parah, atau bahkan mati.
Andaikan saja Maha Patih Putra Candrasa dalam pertarungan tersebut dan mati di Kerajaan Wesi Kuning, sudah pasti Prabu Jabang Wiyagra akan melakukan serangan secara besar-besaran, ke seluruh wilayah kekuasaan Kerajaan Wesi Kuning. Dan hasilnya akan jauh lebih mengerikan dari apa yang akan terjadi kali ini.
__ADS_1
Karena bisa dipastikan, Prabu Jabang Wiyagra akan marah besar, dan menyerang Kerajaan Wesi Kuning secara membabi buta. Saat sudah marah, Prabu Jabang Wiyagra tidak akan peduli kepada siapapun yang menjadi lawannya. Dan selama menjadi seorang raja, Prabu Jabang Wiyagra tidak pernah benar-benar sampai ke puncak amarahnya.
Dan pada dasarnya, tidak ada satu pun orang yang tahu bagaimana tingkat kesaktian yang dimiliki oleh Prabu Jabang Wiyagra, kecuali Sang Maha Guru dan Eyang Badranaya. Bahkan Maha Patih Putra Candrasa juga tidak bisa memperkirakan secara pasti bagaimana kesaktian yang dimiliki oleh Prabu Jabang Wiyagra.
Tetapi yang pasti, Prabu Jabang Wiyagra selalu bisa mengalahkan musuh-musuhnya dengan mudah. Dan semua yang diperkirakan oleh Prabu Jabang Wiyagra tidak pernah seakan tidak pernah meleset sedikit pun. Prediksinya selalu saja tepat sasaran. Karena itulah Prabu Jabang Wiyagra selalu berhasil memenangkan pertempuran.
Sedangkan di istana Kerajaan Wesi Kuning, Prabu Bawesi masih terus diobati oleh para tabib-tabib istana. Prabu Bawesi masih belum sadarkan diri sampai saat ini. Dan yang aneh adalah, tubuh Prabu Bawesi sedikit demi sedikit seperti semakin menyusut. Perutnya yang besar dan kekar seakan mengecil.
Yang paling susah adalah bagaimana caranya memasukkan makanan dan minuman ke dalam mulut Prabu Bawesi. Karena mulut Prabu Bawesi masih terus mengatup, tidak mau membuka sedikit pun. Sehingga selama beberapa hari ini, Prabu Bawesi tidak memakan atau meminum apa pun.
Keadaan Prabu Bawesi dan juga Maha Patih Galangan yang sangat parah, membuat semua orang khawatir dan ketar-ketir. Apalagi Prabu Bawesi tidak memiliki seorang pewaris tahta. Kalau Prabu Bawesi tiada, maka hancurlah sudah kekuasaan Kerajaan Wesi Kuning. Sudah pasti seluruh wilayahnya akan diperebutkan oleh semua kerajaan.
Pasti banyak terjadi perang saudara yang tidak akan ada habisnya. Selama ini hanya Prabu Bawesi yang bisa meredam setiap pemberontakan di wilayah kerajaannya sendiri. Tidak ada satu pun orang yang mampu melakukan hal itu, karena wilayah Kerajaan Wesi Kuning kebanyakan dihuni oleh orang-orang licik.
__ADS_1
Sikap Prabu Bawesi yang tegas dan tidak pernah mau kalah, membuat semua orang yang ada di bawah kekuasaannya ketakutan. Namun dengan keadaannya yang seperti ini, pasti akan membuat orang-orang yang membenci Prabu Bawesi merasa senang. Maka dari itu, para raja dan juga semua orang yang tahu tentang keadaan Prabu Bawesi, berusaha untuk menutup-nutupinya.
Saat mereka kembali ke kerajaan mereka masing-masing, mereka bahkan tidak mau mengatakan apa pun tentang Prabu Bawesi dan juga Maha Patih Galangan. Semua hal yang terjadi di istana Kerajaan Wesi Kuning mereka tutup rapat-rapat. Dan sampai saat ini, tidak ada satu pun orang yang tahu mengenai keadaan Prabu Bawesi yang sebenarnya.
Lain lagi dengan Prabu Jabang Wiyagra. Prabu Jabang Wiyagra sekarang sudah mulai mengerahkan para pasukannya untuk menyerang seluruh wilayah Kerajaan Wesi Kuning. Kekalahan Prabu Bawesi di tangan Maha Patih Putra Candrasa, menjadi kesempatan besar untuk Prabu Jabang Wiyagra menaklukkan kerajaan besar itu.
Sebagian besar pasukan khusus Kerajaan Wiyagra Malela dikirimkan kesana. Hal itu juga didukung oleh kerajaan-kerajaan besar yang ada di bawah kekuasaan Kerajaan Wiyagra Malela. Seperti Kerajaan Batih Reksa, Kerajaan Rawaja Pati, Kerajaan Candramawa, Kerajaan Antasura, Kerajaan Ciung Wanara, dan juga Kerajaan Cakra Buana.
Karena Prabu Bawesi sudah kalah di tangan Maha Patih Putra Candrasa, Sang Maha Guru dan juga Maha Patih Putra Candrasa sendiri, menyarankan Prabu Jabang Wiyagra untuk tidak turun tangan langsung dalam peperangan ini. Penyerangan itu dipimpin oleh Lare Damar sebagai pimpinan utama dari keseluruhan pasukan yang ada.
Baik pasukan asli dari Kerajaan Wiyagra Malela, atau pun pasukan bantuan dari kerajaan-kerajaan yang lain. Sedangkan untuk pertahanan wilayah, Prabu Jabang Wiyagra sendirilah yang akan memegang kendali penuh. Semua pasukan yang ada di Padepokan Ageng Reksa Pati dikerahkan untuk menjaga seluruh wilayah kekuasaan Kerajaan Wiyagra Malela.
Karena jumlah pasukan yang sangat besar, semua pendukung Prabu Bawesi pun berusaha untuk bersatu, dengan memusatkan satu kekuatan di wilayah istana Kerajaan Wesi Kuning. Termasuk dua kerajaan besar, yaitu Kerajaan Bala Bathara dan juga Kerajaan Putra Bathara. Dua kerajaan yang kakak beradik itu memang sangat bersahabat baik dengan Prabu Bawesi.
__ADS_1
Dikatakan kalau dua kerajaan besar itu masih memiliki hubungan keluarga dengan Prabu Bawesi. Dua kerajaan besar itu memberikan pengaruh yang cukup besar kepada Prabu Bawesi dan Kerajaan Wesi Kuning. Kerajaan Bala Bathara ahli dalam persenjataan. Kerajaan Putra Bathara ahli dalam mengolah perekonomian. Sehingga dua kerajaan itu memberikan dukungan yang kuat untuk Kerajaan Wesi Kuning.