
Di tempat pengasingan Ratna Malangi...
Maha Patih Galangan menahan sakit di seluruh tubuhnya. Luka yang ia dapatkan begitu parah. Dia juga memuntahkan banyak darah dari mulutnya. Sedangkan Maha Patih Lare Damar masih berdiri tegak menghadapi Suma Gara dan para mantan anggota Kelompok Satria Luhur yang lainnya. Tidak jauh dari posisi Maha Patih Lare Damar berdiri saat ini, terlihat ada Kencana Wangsa dan Rana Wangsa yang tergeletak, tidak sadarkan diri. Mereka berdua telah melewati pertarungan sengit dengan orang-orang yang ia anggap sebagai saudara.
"Kecurigaanku selama ini ternyata benar. Tidak ada satupun dari kalian yang bisa dipercaya. Kalian semuanya memang tikus busuk!" Ucap Maha Patih Lare Damar kepada mereka.
Suma Gara dan teman-temannya hanya tertawa terbahak, mendengar ucapan Maha Patih Lare Damar. Para mantan anggota Kelompok Satrio Luhur ini, ternyata sudah beralih haluan. Mereka semua bahkan dengan tega menyerang saudara mereka sendiri. Yaitu Kencana Wangsa dan Rana Wangsa. Padahal mereka pernah melewati masa-masa sulit bersama-sama. Tetapi hari ini, mereka semua benar-benar menunjukkan taring mereka yang sebenarnya, di hadapan Maha Patih Lare Damar dan Maha Patih Galangan.
"Seharunya aku membunuh kalian semua, sejak pertama kali aku menginjakkan kakiku di tempat ini."
"Lalu kenapa kamu tidak melakukannya bocah?" Ejek Suma Gara disusul dengan suara tawanya yang lantang.
"Baiklah. Aku akan turun tangan untuk menghabisi kalian semua." Ucap Maha Patih Lare Damar, dengan langsung melompat ke arah mereka.
Mereka semua langsung mengeroyok Maha Patih Lare Damar. Dan berusaha agar bisa membunuhnya saat itu juga. Namun Maha Patih Lare Damar adalah orang yang sangat sakti. Dia sanggup menandingi kekuatan para pengkhianat ini. Suma Gara merasa takjub dengan kemampuan yang dimiliki oleh Maha Patih Lare Damar. Karena di masa sekarang ini, tidak semua orang bisa menguasai kesaktian sampai ke tingkat tinggi, seperti Maha Patih Lare Damar. Kebanyakan orang lebih mengandalkan jabatan dan kedudukan untuk menakut-nakuti lawan-lawan mereka.
Seperti halnya Maha Patih Galangan. Meskipun dia sempat berguru langsung kepada Prabu Putra Candrasa, tetapi kemampuannya belum apa-apa, jika dibandingkan dengan para mantan anggota Kelompok Satrio Luhur. Beruntungnya Maha Patih Galangan masih bisa bertahan sampai sekarang. Meskipun dengan luka yang sangat parah di sekujur tubuhnya. Maha Patih Galangan berusaha untuk bangkit kembali. Dia ingin membantu Maha Patih Lare Damar, yang sedang diserang ramai-ramai oleh para baji-ngan itu. Hal itu membuat Maha Patih Galangan kesal, dan ingin melawan mereka.
Sekeras apapun Maha Patih Galangan bangkit, dia tetap saja jatuh berkali-kali. Tubuhnya benar-benar menolak untuk bangkit kembali. Bahkan rasanya dia seperti sudah sekarat dan akan mati. Karena banyaknya luka dalam yang ia dapatkan. Terpaksa, Maha Patih Galangan hanya bisa menonton Maha Patih Lare Damar yang sedang menghajar para pengkhianat itu. Sampai akhirnya, tibalah seseorang di antara mereka. Yang tidak lain adalah Pangeran Rawaja Pati. Dia datang bersama dengan para pasukan siluman naga. Seperti biasanya, Pangeran Rawaja Pati selalu datang dengan membawa kejutan.
__ADS_1
Kehadiran Pangeran Rawaja Pati di tengah-tengah pertarungan, membuat semua orang terkejut. Termasuk Maha Patih Lare Damar sendiri. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Pangeran Rajawa Pati akan datang ke tempat ini. Padahal Maha Patih Lare Damar sama sekali tidak memberitahukan apa yang terjadi di tempat ini, kepada siapapun. Karena Maha Patih Lare Damar tidak mau membebani siapapun. Apalagi kalau sampai Prabu Jabang Wiyagra tahu, beliau pasti akan sangat murka. Dan pasti akan mengirimkan pasukan.
"Dasar anjing gila. Sudah diberi madu malah meminta racun." Ucap Pangeran Rajawa Pati kepada Suma Gara dan teman-temannya.
"Hey siluman! Pergilah! Ini bukan urusanmu!" Gertak Suma Gara.
Pangeran Rawaja Pati sama sekali tidak takut dengan gertakan Suma Gara. Dia justru tertawa gembira, karena melihat tingkah Suma Gara, yang sepertinya panik atas kedatangannya di tempat ini.
"Kenapa tua bangka? Apakah kamu takut kepadaku?"
"Takut?! Cuih!"
Suma Gara lalu menyerang Pangeran Rawaja Pati, karena tidak terima mendapatkan ejekan.
Namun semua yang ia lakukan tetap saja sia-sia. Karena dengan cepat, Pangeran Rawaja Pati mampu mengembalikan keadaan. Suma Gara terkena pukulan di perutnya. Dan rasanya sangat menyakitkan. Padahal Suma Gara kebal terhadap segala macam serangan, kecuali sebuah ajian. Sedangkan Pangeran Rawaja Pati hanya menggunakan pukulan tangan biasa. Tanpa menggunakan ilmu apa-apa. Kalau Pangeran Rawaja Pati sudah benar-benar menggunakan kemampuannya, pasti Suma Gara akan sangat mudah untuk dikalahkan. Tetapi Pangeran Rawaja Pati masih ingin bermain-main dengan Suma Gara. Dia masih ingin melihat secara gamblang wajah Suma Gara, sebelum dia membunuhnya.
"Hey! Kamu mencoba mempermainkanku ya?! Hah?!" Ucap Suma Gara yang merasa tidak terima, karena dia hanya dipermainkan oleh Pangeran Rawaja Pati.
"Menurutmu?"
__ADS_1
"Kurang ajar!"
Suma Gara kembali melayangkan pukulan dan tendangan kepada Pangeran Rawaja Pati. Tapi lagi-lagi, Pangeran Rawaja Pati bisa menghindarinya. Dan setelah puas mempermainkan Suma Gara, barulah Pangeran Rawaja Pati menunjukkan taringnya kepada mereka semua, dengan merubah wujudnya menjadi sosok naga raksasa. Semua orang pun menjadi ketar-ketir. Karena naga raksasa itu sangatlah besar. Bahkan bisa dengan mudah terbang di atas kepala mereka. Suma Gara dan teman-temannya, yang tidak bisa merubah wujud menjadi apa-apa, hanya mampu melawan sebisanya. Mereka mencoba menyerang dengan berbagai ilmu kanuragan yang mereka miliki. Tapi kenyataannya, Pangeran Rawaja Pati jauh lebih sakti dari mereka-mereka ini.
Satu persatu dari mereka mulai diserang oleh Pangeran Rawaja Pati menggunakan ekornya. Gandhara yang sedang melawan Maha Patih Lare Damar juga terkena sabetan ekor Pangeran Rawaja Pati. Hingga membuatnya terlempar, dan jatuh tepat di hadapan Suma Gara. Seketika, tulang-tulang di dadanya pun hancur. Bahkan semua orang yang ada di sana bisa melihat dengan jelas, bagaimana kedua kaki Gandhara sudah hampir putus. Akhirnya Gandhara pun tewas saat itu juga. Setelah itu, Pangeran Rawaja Pati menyerang Sura Dipati, dengan menggigit tangan kanannya. Sura Dipati pun langsung panik dan berteriak, setelah melihat tangan kanannya putus begitu saja. Tak sampai disitu, Pangeran Rawaja Pati dengan cepat juga langsung melahap tubuh Sura Dipati.
Sekali telan, tubuh Sura Dipati langsung masuk ke dalam perut Pangeran Rawaja Pati. Entah apa yang dirasakan oleh Pangeran Rawaja Pati saat dia melakukan hal itu. Namun Pangeran Rawaja Pati benar-benar sudah mengganas. Dia juga mulai menyemburkan api dari mulutnya. Api yang keluar dari mulutnya itu, membentuk sebuah lingkaran di tanah. Tujuannya adalah untuk melindungi Maha Patih Lare Damar dari serangan para pengkhianat ini. Meskipun terlindungi dari musuh-musuhnya, Maha Patih Lare Damar juga bisa merasakan hawa panas yang luar biasa di sekitar tempatnya berdiri sekarang. Kekuatan Pangeran Rawaja Pati benar-benar tidak bisa dianggap remeh. Bahkan dengan ganasnya Pangeran Rawaja Pati langsung menghantam mereka semua dengan ekor dan tubuhnya yang bersisik.
Merasa kalau keadaannya sudah kacau balau, Suma Gara dan Arjuna Soma berusaha melarikan diri dari tempat itu. Namun buru-buru Maha Patih Lare Damar langsung melompat, melewati kobaran api yang mengelilinginya. Maha Patih Lare Damar langsung mencegat Suma Gara dan Arjuna Soma.
"Mau kemana kalian?"
"Kurang ajar! Kita tidak bisa ke mana-mana sekarang!" Ucap Suma Gara.
"Apa boleh buat? Kita habisi saja baji-ngan ini."
"Pangeran Rawaja Pati! Cari di mana Ratna Malangi! Biar aku yang habisi mereka semua!" Kata Maha Patih Lare Damar kepada Pangeran Rawaja Pati.
Pangeran Rawaja Pati kemudian mengelilingi tanggal dari tempat tersebut, untuk mencari keberadaan Ratna Malangi. Sedangkan Maha Patih Lare Damar melanjutkan pertarungannya dengan Arjuna Soma dan Suma Gara.
__ADS_1
"Sampai kapanpun, kalian tidak akan pernah menemukan keberadaan Ratna Malangi." Ujar Arjuna Soma sembari tertawa.
"Kita buktikan saja." Jawab Maha Patih Lare Damar.