DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 210


__ADS_3

"Selamat datang kembali di rumah Gusti Patih." Ucap Ki Singo Rogo kepada Patih Kinjiri.


"Terima kasih Ki Singo. Dan juga semuanya." Jawab Patih Kinjiri sembari menjabat tangan semua orang yang menyambutnya.


Setelah sembuh dari luka akibat pertarungannya dengan Maha Patih Baruncing, Patih Kinjiri kembali ditugaskan oleh Prabu Jabang Wiyagra di benteng pertahanan. Selain itu, Patih Kinjiri juga diangkat menjadi seorang Panglima, karena kegigihannya membela Kerajaan Wiyagra Malela. Sampai dia mengorbankan nyawanya sendiri.


"Sebelumnya aku minta maaf, karena sudah meninggalkan kalian semua terlalu lama."


"Tidak perlu khawatir Gusti Patih. Semuanya aman terkendali selama Gusti Patih pergi." Kata Ki Joko Gondol.


Benteng pertahanan yang sebelumnya hanya sebuah benteng kecil, sekarang sudah menjadi benteng yang sangat besar. Bahkan Prabu Jabang Wiyagra juga memberikan nama untuk benteng pertahanan dan juga wilayah sekitarnya, yang terbentuklah sebuah kota besar bernama Kota Jaya Pancana. Sekaligus pengangkatan Patih Kinjiri sebagai seorang Panglima.


Sekarang Patih Kinjiri dipanggil dengan sebutan Panglima Kinjiri. Jabatan Panglima adalah jabatan tertinggi yang melebihi seorang Patih, tapi tetap berada di bawah kepemimpinan seorang Maha Patih. Perbedaannya, seorang Panglima memegang satu wilayah sepenuhnya, dan tidak diperbolehkan meninggalkan wilayah tersebut sampai kapanpun.


Kecuali mendapatkan panggilan dari Prabu Jabang Wiyagra, ataupun ada sebuah berita penting yang harus segera disampaikan. Panglima Kinjiri diberi kekuasaan untuk memimpin ketujuh pendekar. Yaitu Arsanti, Pramusita, Utari Gita, Bamantara, Ki Singo Rogo, Ki Joko Gondol, dan juga Wangkal. Sekarang ketujuh pendekar itu akan menerima perintah dari Panglima Kinjiri.

__ADS_1


Tujuan Prabu Jabang Wiyagra mengangkat Patih Kinjiri menjadi seorang Panglima adalah, agar benteng pertahanan bisa mengalami perkembangan yang pesat. Sekaligus untuk memperkokoh pertahanan di seluruh wilayah kekuasaan Kerajaan Wiyagra Malela. Dengan diangkatnya Patih Kinjiri menjadi seorang Panglima, jarak panakan semakin banyak perkembangan di benteng pertahanan yang sekarang sudah memiliki nama, yaitu Kota Jaya Pancana.


"Kami semua merasa senang karena Gusti Patih sudah diangkat menjadi seorang Panglima. Itu artinya kami semua akan mendapatkan perintah dari Panglima." Ucap Ki Singo Rogo.


"Benar. Selamat datang Panglima Kinjiri. Kami semua siap menerima perintahmu." Ucap Ki Singo Rogo sembari berlutut, yang diikuti oleh kedua orang sahabatnya, Wangkal dan Ki Joko Gondol.


"Sudahlah, tidak perlu berlebihan. Aku ini tetaplah sahabat kalian semua. Tanpa bantuan kalian, aku tidak mungkin bisa bertahan sampai sekarang. Aku seharusnya mengucapkan terima kasih, dan memberikan hadiah yang besar untuk kalian semua."


"Panglima Kinjiri, hadiah terindah untuk para pendekar seperti kami adalah sebuah keluarga. Kami semua di sini sudah menganggap Panglima sebagai keluarga kami sendiri. Apalagi dengan jabatan yang Panglima pegang sekarang, maka kami wajib untuk tunduk dan patuh kepada perintah Panglima."


Kemudian Panglima Kinjiri membeberkan semua agenda tugasnya kepada mereka bertiga. Yang salah satunya adalah membangun benteng pertahanan ini menjadi jauh lebih besar lagi. Tapi yang paling penting adalah, membangun sebuah pabrik senjata, sesuai dengan keinginan Prabu Jabang Wiyagra. Karena dialah yang merancang pabrik senjata tersebut.


Prabu Jabang Wiyagra akan mengirimkan para ahli pembangunan yang ada di istana Kerajaan Wiyagra Malela, untuk membantu Panglima Kinjiri beserta pasukannya. Tapi senjata itu nantinya menjadi sebuah ikon baru di wilayah kekuasaan Prabu Jabang Wiyagra. Rencananya, pabrik tersebut akan dibuat sangat-sangat besar. Karena akan menampung berbagai macam alat dan juga senjata-senjata kelas berat.


Salah satunya adalah senjata meriam, karena itu sudah menjadi ciri khas dari Kerajaan Wiyagra Malela. Prabu Jabang Wiyagra ingin Panglima Kinjiri mengembangkan kembali senjata tersebut agar daya ledak dan jarak tembaknya menjadi jauh lebih baik. Karena dengan berkembangnya persenjataan di Kerajaan Wiyagra Malela, maka akan mengurangi jumlah musuh yang bisa kapan saja melakukan penyerangan.

__ADS_1


Dengan berkembangnya senjata meriam, dan juga senjata-senjata yang lain, maka akan membuat musuh berfikir ribuan kali untuk menyerang Kerajaan Wiyagra Malela dan juga wilayah kekuasaan Prabu Jabang Wiyagra. Musuh akan semakin dibuat kebingungan jika ingin menyerang Kerajaan Wiyagra Malela, karena persenjataannya sudah semakin kuat dan semakin canggih.


Bukan hanya itu saja, kalau Kota Jaya Pancana mengalami perkembangan, maka Prabu Jabang Wiyagra ingin membuat beberapa Padepokan beladiri untuk mendukung kekuatan prajuritan. Prabu Jabang Wiyagra membuat pasukan-pasukan khusus yang lain, layaknya Pasukan Bara Jaya yang dipimpin oleh Panglima Galang Tantra. Dan hal itu jelas membutuhkan waktu yang lama.


Untuk membangun sebuah kota yang besar, perlu sebuah penataan ulang dan juga penyatuan desa-desa kecil yang ada di bawahnya. Karena terkadang yang menjadi penghalang adalah adat di setiap desa yang berbeda-beda. Walaupun memang tidak saling bermusuhan, tetapi perbedaan adat istiadat di tiap-tiap desa akan menimbulkan kerancuan jika tetap dipaksakan.


Panglima Kinjiri harus mendapatkan informasi yang jelas terlebih dahulu apakah para warga masyarakat yang ada di desa-desa kecil setuju atau tidak jika mereka disatukan dengan peraturan adat istiadat yang berbeda-beda. Panglima Kinjiri lalu menyebarkan pasukannya ke tiap-tiap desa yang ada di wilayah kekuasaannya.


Para prajurit di Kota Jaya Panca diharuskan untuk memberikan pengumuman kepada semua orang tentang perencanaan pembangunan Kota Jaya Pancana yang akan diperluas hingga ke wilayah desa yang paling pelosok. Desa-desa kecil itu nantinya juga akan mendapatkan pembangunan yang sama. Desa-desa mereka akan dikembangkan menjadi lebih baik lagi.


Jalanan yang rusak dan sepi Akan diperbaiki dan dijaga oleh para prajurit Panglima Kinjiri. Panglima Kinjiri benar-benar berubah menjadi orang yang progresif, berkat pengarahan dan bimbingan dari Prabu Jabang Wiyagra. Prabu Jabang Wiyagra memang selalu menekankan kepada siapapun untuk berpikiran maju dengan tidak kembali lgi ke masa lalu.


Fokus dengan apa yang menjadi tujuan, tidak ke sana kemari tanpa maksud yang jelas, berpikir terlebih dahulu sebelum bertindak, dan jangan pernah mendengarkan kata-kata orang lain yang menjerumuskan, meremehkan, ataupun menjatuhkan. Karena segala apa yang kita usahakan adalah hak kita sendiri, berdasarkan versi kita sendiri.


Sama halnya dengan yang Panglima Kinjiri alami saat ini. Panglima Kinjiri sekarang memegang tanggung jawab besar, yang tidak semua orang sanggup untuk mendapatkannya. Prabu Jabang Wiyagra ingin Panglima Kinjiri tidak menggubris suara-suara angin yang mengganggu kedua telinganya. Karena memang, Panglima Kinjiri sering mendapatkan kalimat yang tidak mengenakkan, karena dia adalah mantan abdi Prabu Ditya Kalana.

__ADS_1


Beberapa pasukannya memang sering membicarakan tentang dirinya di belakang. Tapi Panglima Kinjiri selalu berpura-pura tidak tahu. Walaupun sebenarnya dia marah dan juga sedih, karena terus-menerus menjadi bahan perbincangan. Panglima Kinjiri hanya bisa memakluminya, dan mengakui kalau dia memang dulunya benar-benar seorang penjahat.


__ADS_2