DARAH TANAH JAWA

DARAH TANAH JAWA
DARAH TANAH JAWA : EPISODE 179


__ADS_3

Dengan kudanya, Prabu Putra Candrasa mulai melakukan serangan kepada para pasukan Prabu Barajang, yang sekarang sudah menguasai beberapa desa. Semua pasukannya diperintahkan untuk mundur ke lokasi Maha Patih Galangan. Sendirian, seperti dulu, Prabu Putra Candrasa memegang pedangnya erat-erat.


Ribuan pasukan dengan pedang ditangan mereka, sudah siap untuk mengepung Prabu Putra Candrasa yang sekarang sendirian tanpa membawa pasukan. Kuda kesayangannya ia taruh di depan sebuah rumah warga, untuk diamankan. Sedangkan dia kembali masuk ke tengah-tengah ribuan pasukan Prabu Barajang yang sekarang sedang mengepungnya.


Banyak sekali busur panah yang diarahkan kepadanya. Tetapi Prabu Putra Candrasa tidak merasa takut sedikitpun.


"Serang!" Perintah salah seorang Patih kepada pasukannya.


Ribuan pasukan itu pun langsung menyerang secara bersamaan. Prabu Putra Candrasa langsung menyabetkan pedangnya. Menyerang ribuan pasukan Prabu Barajang dengan sangat mudah. Prabu Putra Candrasa seperti kembali ke masa lalu. Dulu, dia terkenal suka menghadapi musuh sendirian tanpa pasukan. Dan sekarang, dia sedang mengenang masa-masa kejayaannya.


Suara patahan-patahan pedang dan teriakan-teriakan para prajurit yang tewas, begitu berisik dan sangat menusuk telinga. Pedang yang digunakan oleh Prabu Putra Candrasa sangat-sangat tajam. Sekali sayatan, maka siapa saja akan tewas. Bahkan pedangnya mampu menembus baju baja yang digunakan oleh para Patih, yang ada di sana. Sehingga banyak sekali pasukan yang tewas.


Pasukan Prabu Barajang sama sekali tidak mau menyerah. Karena mereka yakin, kalau mereka bisa mengalahkan Prabu Putra Candrasa. Namun kepercayaan diri mereka itu sama sekali tidak dilandasi dengan modal yang cukup. Ujung-ujungnya, mereka malah mati konyol. Karena setiap kali Prabu Putra Candrasa mengayunkan pedangnya, dua sampai empat orang pasti akan langsung mati.

__ADS_1


Para Patih yang ada di belakang pasukan, merasa sudah tidak akan mampu lagi menghadapi Prabu Putra Candrasa yang semakin lama semakin menggila. Bahkan sekarang, Prabu Putra Candrasa mulai menggunakan ilmu pukulan yang ia miliki. Prabu Putra Candrasa bahkan mampu membuat pedang di tangannya terbang dengan sendirinya.


Hal itu semakin membuat para pasukan Prabu Barajang panik tidak karuan. Menghadapi orang yang badannya kekar dan tinggi besar saja mereka tidak mampu, apalagi harus menghadapi sebilah pedang yang terbang sendiri di atas kepala mereka. Pedang milik Prabu Putra Candrasa semakin mengganas, seperti tuannya.


Entah sudah berapa kepala yang terkena penggalan pedang sakti itu. Yang pasti, sekarang di tempat itu sudah dibanjiri dengan darah dan mayat. Tak jauh dari sana, ribuan pasukan yang entah dari mana, tiba-tiba datang untuk membantu Prabu Putra Candrasa. Semua pasukan Prabu Barajang yang ada di sana tambah panik.


Kecuali Prabu Putra Candrasa. Karena dia tahu, kalau pasukan itu adalah bangsa jin yang dikirim oleh istrinya sendiri. Walaupun pertempuran itu dalam waktu siang hari, tapi para bangsa jin itu tetap bisa terlihat. Mereka bahkan menjelma menjadi orang-orang seperti pada umumnya. Hanya saja ukuran tubuh mereka jauh lebih besar.


Walaupun gerakan tubuh mereka lebih lambat daripada orang-orang pada umumnya, tetapi tubuh mereka sangatlah kuat. Bahkan pedang-pedang yang digunakan oleh para pasukan Prabu Barajang, tidak mempan kepada mereka. Justru sering kali serangan-serangan mereka meleset. Padahal mereka sudah sangat yakin kalau mereka mengenai tubuh orang-orang itu.


Tanpa disadari oleh para pasukan Prabu Barajang, sedari tadi mereka sudah dibawa mundur oleh Prabu Putra Candrasa, ke sebuah pertambangan emas yang tempatnya cukup luas untuk mereka. Dan lokasi pertambangan emas itu adalah lokasi di mana Maha Patih Galangan berkumpul dengan para bandit. Dan setelah cukup berada di tempat yang ditentukan, Prabu Putra Candrasa langsung menarik seluruh pasukannya dari sana.


Bersamaan dengan para pasukan bandit yang mulai menyerbu para pasukan Prabu Barajang. Dan di sinilah waktu di mana Prabu Putra Candrasa memerintahkan para pasukan meriam, untuk menggempur habis mereka semua yang ada di pertambangan itu. Para pasukan meriam itu langsung bersiap, dengan mengarahkan senjata mereka ke arah pasukan Prabu Barajang dan juga para bandit.

__ADS_1


"Sekarang!" Perintah Prabu Putra Candrasa.


Suara dentuman dan ledakan seketika memenuhi pertambangan emas tersebut. Dalam waktu singkat, semua pasukan Prabu Barajang dan juga para bandit, sudah banyak sekali yang tewas dan terluka parah. Walaupun sudah banyak dari mereka yang mati, tetapi pasukan meriam terus-menerus menggempur mereka tanpa henti. Bahkan tidak satupun dari mereka yang dibiarkan lolos.


Para pasukan Prabu Barajang mencoba mencari jalan keluar untuk pergi dari tempat itu. Tetapi semuanya sia-sia saja, karena para pasukan meriam tidak melewatkan kesempatan sedikitpun. Para pasukan meriam menggempur mereka semua yang ada di sana dengan sangat ganas. Mereka semua yang ada di sana benar-benar terpanggang hidup-hidup. Karena tidak ada jalan keluar dari pertambangan itu.


Semua tempat di sekitarnya sudah dipenuhi dengan ledakan dan juga api yang berkobar-kobar. Karena para pasukan Prabu Putra Candrasa yang ada di sana, sudah melempari mereka dengan kantung minyak. Sehingga kebakaran di tempat itu semakin hebat. Tak ada yang bisa mereka lakukan, selain pasrah dengan keadaan mereka saat ini. Mereka dikirim ke tempat ini hanya untuk mati.


Setelah beberapa waktu berlalu, Prabu Putra Candrasa akhirnya memberikan perintah untuk menghentikan serangan senjata meriam. Dan juga memerintahkan para prajuritnya untuk pergi ke sana, memastikan tidak ada yang hidup satupun. Dalam kobaran api itu, terlihat ada beberapa orang yang masih berusaha untuk bangkit kembali. Begitu pula dengan para bandit.


Tidak ada satupun dari para bandit itu yang hidup. Mereka semua tewas saat itu juga. Emas-emas yang mereka dapatkan dari Prabu Putra Candrasa, langsung diambil kembali oleh para prajurit. Semua emas itu sudah membutakan mata mereka. Mereka sama sekali tidak tahu kalau pertambangan itu adalah kuburan massal, untuk diri mereka sendiri.


Begitu pula dengan para pasukan Prabu Barajang. Mereka yang berusaha untuk bangkit dan lari dari tempat itu, langsung ditebas kepalanya. Setelah mereka semua tumbang seperti itu, barulah terlihat dengan jelas, betapa besarnya jumlah pasukan Prabu Barajang yang dikirim ke tempat ini, hanya untuk mati di tangan Prabu Putra Candrasa dan pasukannya.

__ADS_1


Kalau dihitung-hitung dengan benar, mungkin jumlah mereka mencapai empat sampai enam ribu orang. Atau bahkan bisa lebih. Karena ada banyak juga pasukan yang mati terlebih dahulu di dekat wilayah perbatasan. Prabu Putra Candrasa merasa sangat puas melihat mereka semua tewas di tempat itu. Dia akan berharap kalau Prabu Barajang juga ada di sana. Sehingga tidak ada lagi orang yang mengganggu kenyamanan wilayah Kerajaan Wiyagra Malela, beserta semua kerajaan-kerajaan yang berada di bawahnya.


__ADS_2