
Kekuasaan Gabah Lanang atau Prabu Tunggal Digdaya semakin hari semakin berkembang. Dia terus menerus melakukan penaklukkan demi penaklukkan kepada kerajaan-kerajaan kecil yang berada dibawah kepemimpinan Prabu Bujang Antasura.
Masalah ini membuat Prabu Bujang Antasura menjadi murka. Dalam waktu dua bulan, sudah ada empat kerajaan yang diserang dan dikuasai oleh Prabu Tunggal Digdaya. Dan nama Kerajaan Jalukan Paksa semakin dikenal banyak orang.
Banyak kerajaan yang mulai ketar-ketir karena Prabu Tunggal Digdaya sudah terkenal dengan kesaktiannya. Dalam waktu kurang dari satu malam, dia berhasil menaklukkan semua tempat yang ia inginkan.
Ditambah dengan pasukannya yang sekarang sudah bertambah banyak dan semakin bertambah kuat. Prabu Tunggal Digdaya dengan gencar melakukan pembangunan. Baik ekonomi atau pun infrastruktur. Sehingga kerajaannya mengalami perkembangan yang sangat pesat.
Sedangkan kekuatan Kerajaan Antasura semakin hari semakin melemah. Setiap kali Prabu Bujang Antasura mengirimkan pasukan untuk menyerang wilayah Kerajaan Jalukan Paksa, pasti hasilnya selalu kalah. Bahkan pasukan yang ia kirim direkrut menjadi pasukan Kerajaan Jalukan Paksa.
“Aku tidak mau kerajaanku hancur untuk kedua kalinya! Setelah kita kalah dari Prabu Jabang Wiyagra di malam itu, aku sudah bersumpah untuk tidak kalah dari siapa pun!” Ucap Prabu Bujang Antasura.
Namun ucapan Prabu Bujang Antasura belum cukup untuk meyakinkan para abdinya, dan juga para raja-raja yang berada dibawah kekuasaannya. Banyak yang mulai meragukan kepemimpinan Prabu Bujang Antasura sejak kejadian pembantaian di malam itu.
Maha Patih Bala Antasura juga tidak bisa diandalkan dengan baik. Bukannya membantu Prabu Bujang Antasura, dia justru memilih untuk berfoya-foya dan berpesta dengan seluruh pasukannya. Sehingga Prabu Bujang Antasura menjatuhkan hukuman berat kepadanya.
Sekarang jabatan Maha Patih tidak diisi. Dan dibiarkan kosong begitu saja. Kekuatan sepenuhnya ada ditangan Prabu Bujang Antasura. Memang, sekarang Kerajaan Antasura sempat mengalami perkembangan, tapi tidak dengan kekuatan militer mereka yang masih terlalu lemah untuk berhadapan dengan Prabu Tunggal Digdaya.
__ADS_1
Prabu Bujang Antasura sudah tidak tahu lagi harus berbuat apa. Cara satu-satunya adalah bergabung kembali dengan Prabu Suta Rawaja. Namun jelas itu akan ditolak oleh Prabu Bagas Candramawa, yang masih berhubungan baik dengannya.
Prabu Bagas Candramawa juga sudah tidak mau lagi berurusan dengan Prabu Suta Rawaja yang sudah mengecewakannya. Sekali dikecewakan, Prabu Bagas Candramawa tidak akan lagi memberikan kesempatan. Dia juga sudah memblokir semua akses dengan Kerajaan Rawaja Pati.
Dan kabarnya, Prabu Bagas Candramawa sudah mulai berhubungan baik dengan Prabu Jabang Wiyagra. Bahkan dikatakan kalau mereka berdua memiliki hubungan yang cukup dekat. Dan mulai membangun jalur perekonomian dan persenjataan.
“Mohon maaf Gusti Prabu, bagaimana kalau kita bergabung saja dengan Prabu Jabang Wiyagra. Dan melupakan peristiwa itu untuk sementara waktu, setidaknya sampai kita berhasil mengalahkan Prabu Tunggal Digdaya.” Ucap salah satu Patih.
“Apa maksudmu Patih?! Aku tidak akan pernah bergabung dengan baji-ngan itu! Apa pun alasannya! Mau aku taruh dimana wajahku?!”
“Tapi Gusti Prabu, kita tidak bisa terus menerus seperti ini, karena semakin hari kekuatan kita semakin melemah.” Ucap Patih yang satunya lagi.
“Maaf Gusti Prabu! Kalau begitu saya dengan sahabat-sahabat saya akan pergi dari tempat ini. kami tidak akan lagi mencampuri urusan Gusti Prabu Bujang Antasura! Permisi!” Ungkap salah seorang raja yang kemudian pergi bersama dengan ketiga temannya dari sana.
Prabu Bujang Antasura sama sekali tidak melarang kepergian mereka. Dia justru membiarkan mereka pergi begitu saja. Karena dia tidak mau memohon kepada orang yang ia anggap derajatnya berada dibawahnya.
Namun setelah itu, Prabu Bujang Antasura memberikan perintah kepada semua abdi setianya untuk mengumpulkan pasukan dan persenjataan. Dia ingin setiap tempat yang ada di wilayah Kerajaan Jalukan Paksa diserang dengan kekuatan penuh.
__ADS_1
Semua persiapan dilakukan di hari itu juga. Semua pasukan yang ada dikumpulkan. Baik dari kerajaan yang masih mendukung Prabu Bujang Antasura, atau pun pasukan dari Kerajaan Antasura itu sendiri.
Jumlah mereka tidak terhitung karena terlalu banyak. Mereka semua sudah dilengkapi dengan berbagai macam persenjataan. Tidak lupa Prabu Bujang Antasura juga membawa ketapel raksasa dan juga senjata pelontar panah.
Pasukannya juga bermacam-macam. Ada pasukan yang membawa kapak, pedang, panah, dan juga tombak. Serta pasukan yang menggunakan ketapel raksasa dan pelontar panah.
Dari semua pasukan itu. Ada yang menggunakan kuda, dan ada yang berjalan kaki. Semua tergantung dari pangkat yang mereka miliki. Semakin tinggi pangkat yang mereka miliki, maka akan semakin bagus juga peralatan yang mereka gunakan dalam peperangan.
Setelah satu hari persiapan, akhirnya semuanya pun sudah siap untuk diberangkatkan ke medan perang. Dan untuk mencegah kedatangan pasukan musuh, Prabu Bujang Antasura juga sudah mengirimkan pasukan berani mati ke wilayah Kerajaan Jalukan Paksa.
Pasukan itu ia kerahkan hanya untuk menghambat pergerakan musuh. Agar musuh tidak memiliki waktu untuk persiapan untuk menyambut mereka. Karena tidak menutup kemungkinan kalau Prabu Tunggal Digdaya tahu soal penyerangan ini.
Lagi pula perlu perjalanan panjang untuk sampai ke wilayah Kerajaan Jalukan paksa, karena wilayah mereka yang sangat jauh.
“Dengan jumlah pasukan sebesar ini, aku yakin kalau raja kepa-rat itu pasti akan kelimpungan menghadapi pasukanku. Belum lagi dengan persenjataanku yang lengkap. Pasti dia kocar-kocir mencari tempat untuk sembunyi.” Ucap Prabu Bujang Antasura dalam hatinya.
Memang, jumlah pasukan Prabu Bujang Antasura tidak terhitung jumlahnya. Mereka juga jauh lebih kuat jika mereka bersatu dan menggabungkan kekuatan mereka. Karena sekarang, semua yang memiliki hubungan dengan Kerajaan Antasura berangkat ke medan perang.
__ADS_1
Semua rakyat di Kerajaan Antasura sudah mempersiapkan jalur persembunyian dan pelarian bawah tanah. Jika terjadi sesuatu, seperti penyusupan atau yang lainnya, maka mereka sudah siap dengan semua itu.