
Prabu Suta Rawaja semakin kewalahan menghadapi Prabu Jabang Wiyagra. Prabu Jabang Wiyagra benar-benar sakti mandraguna. Dengan mudah, Prabu Suta Rawaja bisa dihajar dengan beberapa kali serangan saja.
Prabu Suta Rawaja yang sudah tua itu mencoba untuk tetap bertahan. Dia juga tidak mau mundur dari pertempuran itu, sekali pun para pasukannya sudah banyak yang tewas ditangan pasukan yang berpakain serba hijau itu.
Prabu Suta Rawaja tidak menyangka kalau Prabu Jabang Wiyagra memiliki pasukan yang benar-benar kuat. Bahkan, dengan jumlah mereka yang tidak sebanding dengan jumlah pasukannya, Prabu Jabang Wiyagra dan pasukannya bisa menyaingi kekuatan lawan.
Prabu Jabang Wiyagra sekarang yang memegang kendali atas pertarungannya dengan Prabu Suta Rawaja. Prabu Suta Rawaja dibuat kewalahan menghadapinya. Karena banyak ilmu kanuragan tingkat tinggi yang dimiliki oleh Prabu Jabang Wiyagra.
Padahal, seorang Prabu Suta Rawaja saja belum pernah mempelajari atau pun melihat ada orang yang menggunakan ilmu seperti yang digunakan oleh Prabu Jabang Wiyagra. Yang artinya, diusianya yang lebih dari Prabu Suta Rawaja, Prabu Jabang Wiyagra sudah menguasai banyak sekali ilmu kanuragan.
Dalam hatinya, Prabu Suta Rawaja mulai khawatir karena dia takut dikalahkan. Namun disinilah semua rencana Prabu Jabang Wiyagra dimulai. Prabu Jabang Wiyagra sengaja mengorbankan dirinya agar terluka oleh ilmu Prabu Suta Rawaja.
Walau pun pada dasarnya luka yang ia dapat tidaklah seberapa. Namun hal itu cukup untuk membuat Prabu Suta Rawaja merasa bangga karena telah berhasil melukainya. Tak lama dari itu, Prabu Jabang Wiyagra menarik mundur seluruh pasukannya dari pertempuran.
Prabu Jabang Wiyagra berpura-pura kesakitan sembari memegangi dadanya. Padahal, dia hanya merasakan sakit yang sedikit sekali, itu pun dibagian kaki, bukan dibagian dada. Prabu Jabang Wiyagra dan Maha Patih Putra Candrasa langsung pergi dari sana dengan seluruh pasukannya yang ada.
Ada beberapa dari pasukan Prabu Jabang Wiyagra yang pada akhirnya harus tewas di tempat itu. Sebenarnya Prabu Jabang Wiyagra tidak tega mengorbankan pasukan yang ada di barisan belakang. Namun itulah rencana satu-satunya untuk menjebak Prabu Suta Rawaja agar masuk ke dalam perangkapnya.
Seluruh pasukan dari Kerajaan Rawaja Pati pun bergegas mengejar para pasukan Kerajaan Wiyagra Malela. Mereka semua menyerang sembari bersorak kegirangan, karena mereka berfikir, kalau mereka sebentar lagi akan mendapatkan kemenangan yang mereka impikan.
Padahal, itu adalah rencana jebakan. Karena sudah begitu semangatnya, para pasukan Prabu Suta Rawaja mengejar mereka semua sampai ke perbatasan Kerajaan Wiyagra Malela. Dan disanalah mereka semua baru sadar, kalau itu adalah jebakan. Karena mereka semua langsung disergap dan diserang oleh pasukan pemanah yang sudah bersiap di perbatasan.
Para Patih yang memimpin pasukan untuk mengejar Prabu Jabang Wiyagra dan pasukannya pun mulai memberikan perintah untuk mundur, karena beberapa orang Patih juga ada yang mati akibat panah-panah itu. Prabu Suta Rawaja dan Maha Patih Raseksa juga langsung putar arah untuk kembali ke arah jalan pulang.
Prabu Suta Rawaja dan Maha Patih Raseksa memacu kuda mereka dengan sangat cepat, bersama dengan para pasukan mereka yang masih tersisa dalam pertempuran itu. Mereka semua sudah tidak peduli lagi dengan para pasukan yang ada di belakang. Para Patih banyak yang tewas karena jebakan dari pasukan pemanah Prabu Jabang Wiyagra.
__ADS_1
Dari jumlah pasukan yang awalnya lima puluh ribu orang, sekarang berkurang menjadi empat puluh ribu orang. Dan hanya menyisakan dua belas orang Patih. Sehingga beberapa pasukan yang kehilangan pimpinan mereka pun menjadi kacau. Mereka juga ketakutan hebat, karena banyak sekali dari mereka yang mati.
Di tengah perjalanan, Prabu Suta Rawaja bersama pasukannya tiba-tiba disergap oleh ribuan pasukan yang muncul dari arah kanan dan kiri mereka. Dari arah depan dan belakang mereka juga sudah banyak sekali pasukan yang mulai menyerangi mereka semua. Dan tidak ada cara lain selain melawan mereka semua.
Dari kejauhan, ada seseorang yang berteriak kepada Prabu Suta Rawaja.
"Suta Rawaja! Kau kalah untuk kedua kalinya!" Teriak orang itu sembari melemparkan kepala seorang pimpinan pasukan Layang Pati.
Ternyata, orang yang berteriak kepadanya itu adalah Mangku Cendrasih. Prabu Suta Rawaja juga terkejut, karena melihat Mangku Cendrasih ada disana. Apalagi setelah dia tahu kalau kepala yang dilemparkan Mangku Cendrasih adalah kepala salah satu pimpinan pasukan Layang Pati, yang berjaga di istana.
"Maaf aku tidak membawa semuanya. Para pasukanmu itu benar-benar payah. Mereka bahkan meminta ampun berkali-kali kepadaku agar tidak dibunuh." Ucap Mangku Cendrasih kepada Prabu Suta Rawaja.
"Kepa-rat kamu Mangku Cendrasih! Kamu hanya berani melawan orang yang kekuatannya dibawahmu saja. Kalau berani, ayo lawan aku!" Ucap Prabu Suta Rawaja yang sudah dikuasai amarah.
"Omong kosong! Aku tidak percaya! Kamu hanyalah pembual!"
"Tidak percaya? Lalu bagaimana dengan ini?" Ucap Mangku Cendrasih sembari menunjukkan Pusaka Rawaja Pati.
Prabu Suta Rawaja pun kaget setengah mati. Karena Mangku Cendrasih dengan entengnya sudah memegang Pusaka Rawaja Pati yang sangat sakti mandraguna itu. Dan itu benar-benar Pusaka Rawaja Pati yang asli, bukan sebuah tipuan.
Karena benda pusaka berbentuk keris yang memiliki dua belas bengkokan (LUK) itu bukanlah pusaka sembarangan. Satu-satunya orang yang mampu menggenggam pusaka itu hanyalah Prabu Suta Rawaja sendiri.
Namun sekarang, keris pusaka sakti itu sudah berada digenggaman Mangku Cendrasih. Bahkan Mangku Cendrasih juga bisa mengendalikan Pusaka Rawaja Pati dengan sangat baik. Dibuktikan dengan Pusaka Rawaja Pati yang secara tiba-tiba menyerang Prabu Suta Rawaja.
Padahal keris pusaka itu tidak pernah sekali pun menyerangnya. Bahkan Keris Pusaka Rawaja Pati dulu berperan penting dalam membangun kekuatan Kerajaan Rawaja Pati, pada saat Kerajaan Rawaja Pati pertama kali didirikan.
__ADS_1
Entah apa sudah dilakukan oleh Mangku Cendrasih, sehingga sekarang Keris Pusaka Rawaja Pati berbalik menyerangnya. Hal yang mengejutkan pun terjadi, yang dimana Keris Pusaka Rawaja Pati berubah bentuk menjadi seseorang yang gagah perkasa. Tapi memiliki sisik naga di seluruh tubuhnya.
"Prabu Suta Rawaja, kamu sudah mengkhianati sumpahmu sendiri. Sekarang, terimalah hukumanmu!" Ucap orang itu.
Orang yang bersisik itu langsung menyerang Prabu Suta Rawaja. Dan satu pukulan sudah membuat tangan Prabu Suta Rawaja terasa terbakar. Sungguh keris pusaka yang sangat-sangat sakti. Dan pemuda bersisik itu bernama Pangeran Rawaja Pati.
Dia adalah seorang pangeran dari bangsa siluman naga. Ayahnya adalah seorang pendekar sakti mandraguna yang memiliki seorang istri dari bangsa siluman naga. Sehingga melahirkan pangeran yang tubuhnya dipenuhi dengan sisik.
Pangeran Rawaja Pati memutuskan untuk mengabdikan dirinya kepada manusia yang berhati tulus. Yang kemudian dia dipertemukan dengan Prabu Suta Rawaja, karena dulu Prabu Suta Rawaja bukanlah orang yang rakus.
Dan dia sudah berjanji akan menggunakan Keris Pusaka Rawaja Pati untuk hal-hal yang bajik. Tapi setelah dia menjadi seorang raja, Prabu Suta Rawaja melupakan janji-janjinya itu.
Prabu Suta Rawaja sudah diberi peringatan berkali-kali oleh Pangeran Rawaja Pati, tapi dia tidak juga menyadari kesalahannya. Sehingga hal tersebut membuat Pangeran Rawaja Pati marah besar.
Setelah Pangeran Rawaja Pati melihat kedatangan Mangku Cendrasih, dia pun memutuskan untuk berpihak kepada Mangku Cendrasih dan membelot kepada Prabu Suta Rawaja. Bahkan dia juga membantu Mangku Cendrasih untuk mengalahkan seluruh pasukan penjaga istana.
Hanya saja Pangeran Rawaja Pati melarang Mangku Cendrasih untuk menghancurkan istananya untuk yang kedua kalinya. Karena nama kerajaan milik Prabu Suta Rawaja diambil dari namanya.
"Kau adalah budakku! Seharusnya kau berpihak kepadaku! Bukan para baji-ngan ini!" Ucap Prabu Suta Rawaja dengan suara gemetar karena takut berhadapan Pangeran Rawaja Pati.
"Dasar! Manusia tidak tahu terimakasih!" Bentak Pangeran Rawaja Pati.
Pangeran Rawaja Pati pun akhirnya bertarung dengan Prabu Suta Rawaja. Mereka berdua bertarung dengan sangat sengit, ditengah-tengah pertempuran itu. Dan Prabu Suta Rawaja berusaha keras agar bisa menaklukkan Pangeran Rawaja Pati.
Namun Pangeran Rawaja Pati bukanlah sebuah benda pusaka buatan tangan, tapi sebuah perwujudan dari seorang pangeran. Jadi pada dasarnya, Pangeran Rawaja Pati tidak pernah bisa dikendalikan oleh siapa pun. Kecuali dia sendiri yang memutuskan untuk mengabdi.
__ADS_1